Pemkab Sleman Perkuat Ketahanan Pangan Berbasis Data Lewat Instumen FSVA

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman menegaskan komitmennya dalam memperkuat ketahanan pangan melalui penyusunan Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan atau Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA). Instrumen ini dinilai krusial sebagai dasar perencanaan pembangunan berbasis data dalam menjamin ketersediaan dan akses pangan bagi masyarakat.

FSVA menjadi alat analisis yang mampu memetakan kondisi ketahanan dan kerentanan pangan secara lebih terukur di setiap kapanewon. Melalui pendekatan ini, pemerintah daerah dapat mengidentifikasi wilayah yang memiliki risiko tinggi terhadap kerawanan pangan, sehingga intervensi kebijakan dapat dilakukan secara lebih cepat dan tepat sasaran.

Hal tersebut dijelaskan oleh Ketua Tim Kerja Ketahanan Pangan Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman, Aninda Ayu Arizka dalam pembinaan organisasi masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat, yang digelar Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Sleman, di Ruang Semeru Hotel Prima SR, Kamis (16/4/2026).

Dalam implementasinya, penyusunan FSVA di Kabupaten Sleman melibatkan lintas sektor, mulai dari perangkat daerah hingga pemangku kepentingan di bidang pertanian, kesehatan, dan sosial. Sinergi ini penting untuk menghasilkan data yang komprehensif dan mencerminkan kondisi riil di tingkat kapanewon dan kalurahan.

“Peta yang dihasilkan tidak hanya menampilkan aspek ketersediaan pangan, tetapi juga mencakup dimensi aksesibilitas, pemanfaatan, serta stabilitas pangan. Dengan demikian, FSVA memberikan gambaran utuh mengenai sistem pangan daerah yang dapat digunakan sebagai acuan dalam pengambilan kebijakan strategis,” ucap Aninda.

Selain itu, keberadaan FSVA juga menjadi langkah antisipatif terhadap berbagai tantangan, seperti perubahan iklim, bencana alam, serta fluktuasi harga pangan. Dengan data yang akurat, Pemerintah Kabupaten Sleman dapat melakukan mitigasi risiko sejak dini guna mencegah terjadinya krisis pangan.

Aninda mengatakan, hasil pemetaan FSVA diharapkan mampu mendukung perumusan program intervensi yang lebih efektif, seperti penyaluran bantuan pangan, penguatan cadangan pangan pemerintah daerah, hingga pengembangan potensi pangan lokal. Program-program tersebut dapat disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing kapanewon.

Tidak hanya itu, FSVA juga berperan dalam meningkatkan efisiensi penggunaan anggaran daerah. Dengan adanya prioritas wilayah berbasis data, alokasi sumber daya dapat difokuskan pada daerah yang benar-benar membutuhkan penanganan serius terkait kerentanan pangan.

Indikator yang digunakan dalam penyusunan FSVA meliputi rasio luas lahan pertanian terhadap jumlah penduduk, rasio jumlah sarana dan prasarana penyedia pangan terhadap jumlah rumah tangga, rasio penduduk dengan tingkat kesejahteraan terendah terhadap total jumlah penduduk, kalurahan yang tidak memiliki akses penghubung memadai, rasio rumah tangga tanpa akses air bersih, serta rasio tenaga kesehatan terhadap jumlah penduduk.

Pemerintah Kabupaten Sleman turut mendorong partisipasi masyarakat dalam proses penyusunan FSVA. Keterlibatan masyarakat dalam penyediaan data dan informasi dinilai penting untuk meningkatkan akurasi serta membangun kesadaran kolektif terhadap pentingnya ketahanan pangan. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Banyurejo Jalani Verifikasi Desa Mandiri Budaya 2026, Perkuat Pembangunan Berbasis Kearifan Lokal

Sleman — Komitmen desa dalam menjaga dan mengembangkan budaya lokal terus diperkuat sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan. Hal ini tercermin dalam pelaksanaan verifikasi lapangan Desa/Kalurahan Mandiri Budaya Tahun 2026 di Kalurahan Banyurejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, Kamis (16/4/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Balai Kalurahan Banyurejo ini merupakan bagian dari proses penilaian oleh Tim Penilai dan Monitoring Evaluasi (Monev) Pemerintah Daerah DIY. Tim tersebut dipimpin oleh perwakilan Biro Administrasi Perekonomian dan Sumber Daya Alam Setda DIY, Eling Priswanto, dan melibatkan sejumlah organisasi perangkat daerah lintas sektor, antara lain Dinas Pariwisata, Dinas Kebudayaan, DP3A2KB, PMK, serta Dinas Koperasi Kabupaten Sleman.

Lurah Banyurejo, Saparjo, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kehadiran tim penilai dari tingkat provinsi. Ia menegaskan bahwa keikutsertaan Banyurejo dalam program Desa Mandiri Budaya telah memasuki tahun ketiga, dengan berbagai pembenahan yang terus dilakukan.

“Kami sangat mengapresiasi kehadiran tim penilai. Ini merupakan keikutsertaan kami yang ketiga kalinya dan menjadi proses pembelajaran yang berharga. Harapan kami, tahun ini dapat memberikan hasil yang optimal,” ujarnya.

Sementara itu, Eling Priswanto menekankan bahwa verifikasi dilakukan secara menyeluruh berdasarkan indikator yang telah ditetapkan. Menurutnya, status desa mandiri budaya tidak hanya dilihat dari aktivitas budaya, tetapi juga dari dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.

“Penilaian mencakup berbagai aspek yang menunjukkan sejauh mana desa mampu mengelola potensi budaya secara terintegrasi dan berkelanjutan,” jelasnya.

Eling menambahkan, terdapat sepuluh aspek utama dalam penilaian, meliputi kelembagaan budaya, pelestarian tradisi dan adat istiadat, pengembangan seni dan ekspresi budaya, pengelolaan warisan budaya, ekonomi berbasis budaya, penyediaan ruang dan infrastruktur budaya, partisipasi masyarakat, regulasi dan dukungan kebijakan, keberlanjutan program, serta jejaring dan kemitraan.

Seluruh aspek tersebut diverifikasi melalui peninjauan lapangan, dialog dengan pemangku kepentingan, serta pencocokan dokumen pendukung yang telah disiapkan oleh Pemerintah Kalurahan Banyurejo.

Program Desa/Kalurahan Mandiri Budaya merupakan upaya strategis untuk mendorong desa menjadi subjek pembangunan berbasis kearifan lokal. Pendekatan ini dinilai mampu memperkuat identitas budaya sekaligus membuka peluang ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Dengan pengalaman dan pembenahan yang terus dilakukan, Kalurahan Banyurejo menatap proses penilaian tahun ini dengan optimisme. Lebih dari sekadar capaian, upaya ini menjadi bagian dari langkah panjang menjadikan budaya sebagai kekuatan utama dalam pembangunan desa yang berdaya dan berkelanjutan. (SBD KIM SENYUM TEMPEL)




Lewat Kunjungan Edukatif, Pemkal Condongcatur Ajak Anak Kenal Perpustakaan hingga Karawitan

Sleman – SPS Asparagus II Babadan Baru Kentungan mengadakan kunjungan edukatif ke Perpustakaan “Pustaloka” Kalurahan Condongcatur sekaligus menyaksikan kegiatan karawitan rutin Kamis Pon di Pendopo Kromorejan, Kamis (16/4/2026).

Kegiatan ini diikuti oleh 25 murid SPS Asparagus II yang didampingi guru serta beberapa orang tua. Dalam kunjungan tersebut, anak-anak diajak berkeliling mengenal lingkungan Kantor Kalurahan Condongcatur, termasuk berbagai fasilitas yang tersedia.

Di Perpustakaan Pustaloka, anak-anak dikenalkan pada dunia literasi melalui kegiatan interaktif seperti ice breaking, melihat koleksi buku, hingga bermain Alat Permainan Edukatif (APE) indoor.

Setelah itu, rombongan melanjutkan kegiatan ke pendopo untuk menyaksikan secara langsung latihan karawitan yang pada hari tersebut diisi oleh Paguyuban Karawitan Pringo Budoyo Laras. Anak-anak tidak hanya melihat, tetapi juga diperkenalkan berbagai alat musik gamelan serta diberi kesempatan mencoba memainkannya.

Selain itu, mereka juga diajak mengunjungi posko kebencanaan untuk melihat dari dekat fasilitas penanggulangan bencana, termasuk armada ambulans.

Kepala SPS Asparagus II Babadan Baru Kentungan, Muflichah, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan mengenalkan perpustakaan sebagai sarana belajar sekaligus memperluas wawasan anak terhadap fasilitas publik di kalurahan.

“Selain itu, kami juga ingin mengenalkan budaya Jawa, khususnya melalui musik gamelan dan tarian tradisional, agar anak-anak semakin mencintai budaya sendiri,” ujarnya.

Ia menambahkan, SPS Asparagus II merupakan sekolah berbasis budaya yang dalam proses pembelajarannya mengangkat tema-tema kearifan lokal Jawa. Hal ini diwujudkan melalui program “Selasa Budaya”, di mana anak-anak dikenalkan pada tarian, bahasa, lagu, hingga makanan tradisional Jawa, serta nilai-nilai seperti sopan santun, keramahan, dan gotong royong.

Sejalan dengan kegiatan tersebut, Pemerintah Kalurahan Condongcatur juga membuka kesempatan bagi paguyuban PAUD untuk melakukan kunjungan budaya setiap Kamis Pon. Program ini menjadi bagian dari upaya mengenalkan seni dan budaya, khususnya karawitan, sejak usia dini.

Kamituwa Condongcatur, Al Thouvik Sofisalam, menyampaikan bahwa pihaknya telah menjadwalkan empat paguyuban karawitan untuk tampil secara bergilir setiap Kamis Pon sepanjang tahun 2026, yakni Ngesti Laras, Sekar Budaya, Pringo Budoyo Laras, dan Laras Budaya UNY.

“Kami memberikan ruang bagi paguyuban karawitan untuk tampil sekaligus membuka kesempatan bagi PAUD dan SPS melakukan kunjungan budaya. Harapannya, anak-anak dapat meningkatkan minat dan apresiasi terhadap seni musik tradisional Jawa serta mengembangkan kreativitas mereka,” jelasnya.

Ia menambahkan, melalui kegiatan ini anak-anak tidak hanya belajar seni, tetapi juga dikenalkan pada lingkungan pelayanan publik serta edukasi kebencanaan sejak dini.

“Dengan pengalaman langsung, anak-anak dapat memahami budaya Jawa, menumbuhkan minat baca melalui kunjungan perpustakaan, mengenal pelayanan publik, serta memahami dasar-dasar penanganan bencana,” pungkasnya. (Wasana / KIM Depok)




Wamen Ekraf RI Tinjau Kampung Pringwulung dan Pringgodani, Soroti Ekosistem Ekonomi Kreatif Berbasis Komunitas

Sleman — Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Irene Umar, melakukan kunjungan kerja ke Kampung Pringwulung, Kalurahan Condongcatur, dan Kampung Pringgodani, Kalurahan Caturtunggal, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Rabu (15/4/2026).

Kunjungan tersebut didampingi tim Kementerian Ekonomi Kreatif dan disambut oleh jajaran pemerintah kalurahan, dukuh, PKK padukuhan, tokoh masyarakat, serta para pelaku ekonomi kreatif setempat.

Dalam kesempatan itu, Irene meninjau langsung sejumlah potensi unggulan yang mengintegrasikan ekonomi kreatif, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat. Di antaranya urban farming melalui Kelompok Wanita Tani (KWT) dengan budidaya jamur tiram, microlibrary sebagai ruang literasi berbasis komunitas, serta inovasi perikanan KPI Mina Wulung yang memanfaatkan air wudhu masjid untuk budidaya lele terintegrasi dengan sistem hidroponik.

Selain itu, rombongan juga meninjau kawasan UMKM di bantaran sungai yang dikembangkan sebagai ruang publik produktif, pos pantau banjir berbasis komunitas di Sungai Gadjah Wong, serta pengolahan limbah melalui produksi eko enzim dan pupuk organik cair di TPS Condongcatur.

Penataan kawasan dengan konsep 3M yang menjadikan sungai sebagai halaman depan, serta pengelolaan sanitasi berbasis Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal, turut menjadi perhatian dalam kunjungan tersebut.

Dalam arahannya, Irene Umar menyampaikan apresiasi atas inisiatif masyarakat bersama pemerintah kalurahan dan pihak terkait dalam mentransformasi kawasan yang sebelumnya kurang tertata menjadi ruang hidup yang lebih inklusif, produktif, dan bernilai ekonomi.

“Di Kampung Pringwulung dan Pringgodani ini terlihat nyata ekosistem ekonomi kreatif berbasis komunitas. Inovasi yang lahir dari kolaborasi warga, pemerintah, dan kampus di sekitarnya sangat sejalan dengan arah kebijakan kami untuk mendorong ekonomi kreatif yang inklusif dan berkelanjutan,” ujarnya.

Sementara itu, Pemerintah Kalurahan Condongcatur menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut dan berharap adanya pendampingan lanjutan, khususnya dalam pendaftaran kekayaan intelektual (KI), penguatan branding, serta digitalisasi pemasaran produk unggulan masyarakat.

Dukuh Pringwulung, Sahid Fahrudin, berharap produk UMKM lokal dapat memiliki daya saing yang lebih kuat di pasar.

“Harapannya produk unggulan masyarakat dapat berkembang dari skala lokal menjadi merek nasional, dengan perlindungan kekayaan intelektual yang memadai,” ungkapnya.

Kunjungan kerja diakhiri dengan dialog bersama warga, penyerahan cendera mata berupa produk unggulan lokal kepada Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, serta sesi foto bersama.

(Wasana / KIM Depok)




Panti Asuhan Daarut Taqwa Ihsaniyya, Jejak Dakwah Sosial dari Mahasiswa untuk Negeri

Sleman — Sebuah gedung megah berlantai tiga bercat putih berdiri kokoh di Padukuhan Jarakan, Kalurahan Sendangrejo, Kapanewon Minggir, Sleman. Namun, lebih dari sekadar bangunan fisik, Panti Asuhan Daarut Taqwa Ihsaniyya menjadi saksi perjalanan panjang dakwah sosial yang dibangun atas dasar keikhlasan, kerja keras, dan kepedulian.

Panti asuhan ini didirikan oleh para mahasiswa lintas perguruan tinggi di Yogyakarta, di antaranya STIKES Aisyiyah (kini UNISA), UMY, UAD, UIN, UII, dan UGM, serta alumni Pesantren Mahasiswa At-Taqwa Suronatan yang tergabung dalam Lembaga Dakwah At-Taqwa (ELDATA). Para mahasiswa dari berbagai daerah tersebut memiliki kesamaan visi dalam membangun lembaga sosial bagi anak-anak yang membutuhkan.

Di bawah pembinaan Ustaz Syukri Fadholi dan Ustaz Khaedar Waluyo, panti ini dirintis oleh sejumlah pendiri, di antaranya Ustaz Romi Pelani, Ustazah Elly Handayani, Ustazah Fitri, dr. Veby, Ryan Hartopo, Nur Akhlia, Ustaz Tyan, Ustazah Endah, Ustaz Najar, dan Ustazah Lida. Mereka didukung para pengasuh, seperti Eri Wahyuningsih, Ais, dan Tatik, serta tim lainnya.

Dengan semangat kemanusiaan, panti ini kini menjadi rumah bagi 124 anak dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Yogyakarta, Magelang, Kebumen, Banjarnegara, Pekalongan, Tegal, Pemalang, Bengkulu, Nusa Tenggara Timur, hingga Papua.

“Awalnya Daarut Taqwa hanya memiliki empat anak asuh, yang merupakan korban gempa Yogyakarta tahun 2006,” tutur Nur Akhlia.

Dari jumlah kecil tersebut, perjalanan panjang panti asuhan pun dimulai. Dalam perjalanannya, panti sempat beberapa kali berpindah lokasi sebelum akhirnya menetap di tanah wakaf milik almarhum Bapak Subagyo di wilayah Jarakan pada 2008. Seiring waktu, lembaga ini terus berkembang hingga pada tahun 2010 resmi menjadi Yayasan Daarut Taqwa Ihsaniyya.

Perkembangan signifikan terjadi ketika gedung panti yang berdiri saat ini diresmikan pada 15 Januari 2023. Pembangunan gedung tersebut merupakan hasil dukungan dan amal jariyah masyarakat, termasuk dari donatur di Singapura.

“Gedung ini menjadi bukti kepedulian banyak pihak yang ingin anak-anak memiliki tempat tinggal yang layak,” ujarnya.

Tak hanya menyediakan tempat tinggal, yayasan ini juga mengembangkan layanan pendidikan mulai dari kelompok bermain, RA, SD, SMP, hingga SMA yang dirintis oleh Ustazah Sri Martini Mutmainnah, ., bersama tim. Untuk anak berkebutuhan khusus, yayasan juga menjalin kerja sama dengan SLB Minggir agar mendapatkan layanan pendidikan yang sesuai.

Selain itu, Daarut Taqwa mengembangkan berbagai unit usaha mandiri, seperti air minum isi ulang, konveksi, kios jilbab, les baca tulis, pendopo Al-Qur’an (tahsin metode Ummi), budidaya ternak kambing, hingga klinik herbal dan spa bayi yang sedang dirintis. Para anak asuh dilibatkan dalam kegiatan tersebut sebagai bagian dari pendidikan karakter dan kemandirian.

“Anak-anak kami ajarkan untuk mandiri, termasuk ikut merawat ternak sepulang sekolah,” tambahnya.

Dukungan masyarakat dan orang tua juga menjadi kekuatan penting bagi keberlangsungan panti. Dari donasi yang terkumpul, yayasan telah memiliki fasilitas penunjang seperti mobil ambulans dan kendaraan operasional. Selain itu, kerja sama dengan berbagai fasilitas kesehatan, seperti RSUP Sardjito, RSUD Sleman, Puskesmas Minggir, serta sejumlah klinik, turut memperkuat layanan kesehatan bagi anak-anak.

Tidak hanya fokus pada anak asuh yang tinggal di panti, Daarut Taqwa juga memberikan santunan kepada puluhan anak kurang mampu di luar panti dalam bentuk bantuan uang, beras, dan sembako.

Di tengah berbagai keterbatasan, Panti Asuhan Daarut Taqwa Ihsaniyya terus hadir sebagai simbol harapan. Kepedulian yang dirintis dari langkah kecil kini tumbuh menjadi kekuatan besar yang memberi dampak nyata bagi masa depan anak-anak Indonesia. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)