Bentengi Anak dari Gempuran Media Sosial, Dosen UMY Berikan Edukasi Pola Asuh Islami bagi Warga Merdikorejo

Sleman — Di tengah masifnya paparan konten digital yang kian sulit terbendung, peran orang tua dalam membentuk karakter anak menjadi tantangan yang semakin kompleks. Merespons kondisi tersebut, tim pengabdian masyarakat dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menggelar pelatihan pola asuh Islami bagi pengurus Pimpinan Ranting Muhammadiyah dan Aisyiyah di lingkungan Merdikorejo, Kapanewon Tempel, Sleman.

Kegiatan yang berlangsung di Aula SD Muhammadiyah Gondanglegi ini diikuti oleh 60 peserta. Fokus utama pelatihan adalah memberikan panduan praktis bagi orang tua agar mampu menjaga kualitas mental dan spiritual anak di era disrupsi informasi. Hal ini dipandang krusial karena tanpa arahan yang jelas, anak-anak berisiko lebih banyak menyerap nilai-nilai dari media sosial dibandingkan didikan orang tua.

Dosen Prodi Manajemen UMY, Siti Syah Handayani, menekankan bahwa dalam pandangan Islam, anak merupakan titipan sekaligus ujian keimanan yang harus dijaga dengan penuh kehati-hatian. Menurutnya, orang tua memiliki kewajiban utama untuk memberikan asupan nilai yang tepat pada pemikiran anak sejak dini, terutama mengenai ketauhidan, adab, dan sopan santun.

“Anak adalah ladang pahala sekaligus perhiasan dunia bagi orang tua. Di tengah gempuran media sosial yang bertubi-tubi, orang tua harus ekstra waspada dalam memberikan input pada pemikiran anak. Kita harus membangun karakter mereka dengan nilai kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab agar mereka memiliki filter yang kuat terhadap konten-konten yang tidak jelas arahnya,” ujar Siti Syah Handayani di hadapan para orang tua.

Selain aspek pola asuh, penguatan ideologi organisasi juga menjadi poin penting dalam pertemuan tersebut. Dosen Hubungan Internasional UMY, Sugeng Riyanto, memaparkan strategi pengenalan Muhammadiyah sejak dini sebagai langkah awal pengkaderan yang natural. Ia menyarankan penggunaan media audio visual, pemasangan simbol organisasi di rumah, hingga mengajak anak mengunjungi amal usaha Muhammadiyah agar mereka merasa memiliki kedekatan emosional dengan gerakan tersebut.

Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Merdikorejo, Ida Eri Kurniawati, menyambut baik inisiatif akademisi UMY ini dan berharap kolaborasi serupa dapat terus berlanjut di masa depan. Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap aktivitas dakwah di tingkat ranting, pihak UMY juga menyerahkan hibah berupa pengeras suara aktif dan sejumlah gulung tikar untuk menunjang kegiatan rutin warga Muhammadiyah dan Aisyiyah setempat.

Sinergi antara dunia perguruan tinggi dan organisasi masyarakat ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan keluarga yang tangguh secara spiritual dan adaptif secara sosial. Dengan pembekalan yang tepat, para orang tua di Merdikorejo diharapkan dapat menjadi benteng pertama bagi anak-anak mereka dalam menghadapi tantangan zaman yang kian dinamis. (Arief Hartanto/KIM Kertomandiri)




Saring Talenta Sains Terbaik, UNY Gelar Seleksi Tahap II Kontingen ONMIPA-PT 2026

Sleman — Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) tancap gas mempersiapkan delegasi terbaiknya untuk berlaga di ajang bergengsi Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Perguruan Tinggi (ONMIPA-PT) tahun 2026. Sebanyak 41 mahasiswa terpilih mengikuti pembinaan intensif sekaligus seleksi tahap II yang dipusatkan di Gedung Magister-Doktor FMIPA UNY, Sabtu (4/4/2026).

Para peserta yang lolos hingga tahap ini terbagi dalam empat bidang keilmuan utama, yakni Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi. Kegiatan ini merupakan bagian dari proses panjang penjaringan dan pemantapan kualitas akademik mahasiswa sebelum diterjunkan ke tingkat nasional yang dijadwalkan berlangsung di Universitas Airlangga, Surabaya, di bawah naungan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Koordinator ONMIPA-PT UNY, Tsania Nur Diyana, menegaskan bahwa seleksi tahap kedua ini bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan instrumen krusial untuk mengukur kesiapan mental dan ketajaman analisis mahasiswa. Menurutnya, persaingan di tingkat nasional menuntut standar kemampuan pemecahan masalah yang sangat tinggi.

“Melalui pembinaan ini, kami berupaya menguatkan pemahaman konsep, kemampuan analisis, serta ketajaman problem solving mahasiswa pada masing-masing bidang. Seleksi tahap II menjadi bagian penting untuk memastikan bahwa kontingen yang dikirim benar-benar siap bersaing dan membawa pulang prestasi di tingkat nasional. Kami ingin memastikan setiap mahasiswa memiliki mental juara sebelum berangkat ke Surabaya,” ujar Tsania Nur Diyana di sela-sela kegiatan.

Mekanisme pembinaan dilakukan dengan pola yang ketat, mencakup pendalaman materi lanjutan, latihan soal berbasis standar olimpiade internasional, hingga evaluasi performa secara berkala. Tsania menambahkan bahwa ajang ONMIPA-PT yang telah rutin digelar sejak 2009 ini merupakan wadah strategis bagi universitas untuk mencetak generasi saintifik yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki integritas dan daya saing global.

Partisipasi aktif UNY dalam ajang ini juga selaras dengan semangat “Kampus Berdampak” yang terus digaungkan oleh pihak rektorat. Dengan penguatan riset dan kompetisi ilmiah, UNY berharap dapat melahirkan inovator-inovator muda yang mampu berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia.

“ONMIPA menciptakan atmosfer berkompetisi dan berprestasi yang sehat, serta mendorong tumbuh kembangnya budaya silih asuh di lingkungan pendidikan tinggi. Kami percaya bahwa dengan persiapan yang matang, kontingen UNY mampu memberikan performa terbaiknya dan menunjukkan kualitas riset serta keilmuan saintifik yang kita miliki di kancah nasional,” pungkas Tsania. (Athiful/KIM Depok)




Jagawarga Sardonoharjo Sleman, Transformasi Jaga Keamanan Jadi Penggerak Ekonomi Jahe Merah

Sleman — Organisasi Jagawarga di Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, membuktikan bahwa peran penjaga keamanan lingkungan kini telah bertransformasi menjadi motor penggerak kemandirian ekonomi. Tidak sekadar melakukan piket ronda rutin, para personel Jagawarga di Padukuhan Jetis Baran kini sukses mengembangkan budidaya jahe merah skala industri di lereng Gunung Merapi, Jumat (3/4/2026).

Langkah inovatif ini dimotori oleh kelompok tani Jagawarga milenial di bawah kepemimpinan Suparjan. Sebanyak pohon jahe merah telah ditanam dengan sistem pengelolaan modern. Menariknya, proyek pertanian ini telah menjalin kemitraan strategis dengan salah satu perusahaan jamu terbesar di Indonesia. Kerja sama tersebut mencakup penyediaan bibit unggul, pendampingan teknis, hingga jaminan serapan hasil produksi untuk industri farmasi nasional.

Ketua Jagawarga Sardonoharjo, Suparjan, menegaskan bahwa inisiatif ini lahir dari keinginan warga untuk memiliki organisasi yang tidak hanya konsumsi, tetapi juga produktif. Melalui pemberdayaan lahan, para anggota Jagawarga kini memiliki sumber penghasilan tambahan yang berkelanjutan sembari tetap menjalankan fungsi pengamanan wilayah.

“Kami ingin Jagawarga menjadi organisasi yang mandiri dan memiliki manfaat ekonomi nyata bagi anggotanya. Penanaman pohon jahe merah ini adalah langkah awal untuk membuktikan bahwa pemuda dan warga senior bisa berkolaborasi di bidang agrobisnis. Dukungan bibit dan pembinaan dari perusahaan jamu nasional memastikan bahwa produk yang kami hasilkan memenuhi standar kualitas industri,” ujar Suparjan di Rumah Jagawarga Jetis Baran.

Pemerintah Kalurahan Sardonoharjo memberikan apresiasi tinggi terhadap model ketahanan sosial berbasis ekonomi ini. Jagabaya Sardonoharjo sekaligus Kepala Bagian Pemerintahan Kalurahan, Cahyo Wening, menyatakan kesiapan pemerintah desa untuk memfasilitasi penggunaan tanah kalurahan bagi pengembangan usaha pertanian warga tersebut. Selain itu, ia mengungkapkan bahwa sinergi dengan sektor swasta di wilayah Sardonoharjo telah membuka sekitar lowongan pekerjaan baru bagi masyarakat setempat.

“Atas nama pemerintah kalurahan, kami sangat bangga melihat kemandirian Jagawarga. Ini adalah bentuk nyata ketahanan sosial di mana warga mampu menjaga keamanan sekaligus membangun ekonomi. Kami siap mendukung melalui akses lahan kalurahan agar skala produksi jahe merah ini bisa terus diperluas, sehingga kesejahteraan warga benar-benar meningkat,” ungkap Cahyo Wening.

Dari sisi keamanan, eksistensi Jagawarga tetap menjadi tulang punggung ketertiban wilayah. Ketua LPMKal Unit Padukuhan Jetis Baran, Agus Istiyadi, menjelaskan bahwa koordinasi keamanan selalu terintegrasi dengan Bhabinkamtibmas dan Babinsa. Silaturahmi rutin di Rumah Jagawarga menjadi kunci utama dalam meredam potensi konflik dan menjaga kondusivitas lingkungan di wilayah penyangga Yogyakarta ini.

“Kunci kekuatan kami adalah kekompakan dan komunikasi yang tidak pernah putus. Sinergi dengan aparat TNI dan Polri memastikan setiap jengkel wilayah terpantau aman, sementara program ekonomi memastikan warga tetap bersemangat dan solid dalam berorganisasi. Kami ingin model Jagawarga di Sardonoharjo ini menjadi percontohan nasional dalam membangun ketahanan masyarakat yang adaptif dan berkelanjutan,” tutur Agus Istiyadi. (ESK/KIM DSN)




Amankan Ibadah Paskah, 25 Personel Satlinmas Sumbersari Disiagakan di Titik Rawan dan Gereja

Sleman — Pemerintah Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman, mengerahkan 25 personel Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas) untuk mengawal rangkaian ibadah Paskah 2026. Penyiagaan personel ini bertujuan untuk memberikan jaminan keamanan, kenyamanan, serta kekhidmatan bagi umat Kristiani yang merayakan peringatan Kebangkitan Yesus Kristus di wilayah Sumbersari dan sekitarnya.

Pengerahan puluhan personel ini dilakukan secara terencana mulai tanggal 2 hingga 4 April 2026. Para anggota Satlinmas dibagi ke dalam beberapa kelompok tugas yang ditempatkan di titik-titik strategis, termasuk jalur utama yang dilalui jemaah menuju rumah ibadah serta pengamanan langsung di area gereja. Sebelum diterjunkan ke lapangan, seluruh personel mengikuti apel kesiapan di Pendopo Kalurahan Sumbersari guna menerima arahan teknis operasional.

Jogoboyo Sumbersari, Novi Kuntansari Hadiningroem, dalam arahannya menekankan bahwa peran Linmas sangat krusial dalam menjaga ketentraman dan ketertiban umum sesuai dengan mandat regulasi yang berlaku. Ia menginstruksikan seluruh anggota untuk waspada dan sigap dalam memantau situasi lingkungan, baik di jalan raya maupun di lokasi perayaan ibadah agar tidak terjadi gangguan keamanan sekecil apa pun.

“Kami menugaskan kalian untuk memastikan seluruh rangkaian ibadah Paskah berjalan aman. Fokus pengamanan tidak hanya pada rumah ibadah, tetapi juga kelancaran arus lalu lintas bagi warga yang akan beribadah. Kehadiran Satlinmas di tengah masyarakat harus menjadi representasi negara yang hadir memberikan perlindungan tanpa memandang perbedaan,” ujar Novi Kuntansari Hadiningroem di hadapan personel.

Senada dengan hal tersebut, Babinkamtibmas Sumbersari, Endri Destana, menegaskan bahwa tugas ini merupakan bentuk pengabdian nyata bagi masyarakat. Selain menjaga lokasi gereja, Satlinmas juga diminta untuk memperhatikan keamanan lingkungan pemukiman, terutama rumah-rumah yang ditinggalkan warga saat melaksanakan ibadah di gereja. Langkah preventif ini dilakukan untuk mengantisipasi potensi tindak kriminalitas di wilayah tersebut.

“Marilah kita berikan pelayanan terbaik demi menjamin ketentraman warga. Kita bantu amankan rumah-rumah yang kosong ditinggal beribadah maupun area gereja agar saudara-saudara kita bisa menjalankan perayaan Paskah dengan penuh khidmat. Satlinmas sudah dibagi dalam jadwal dan ploting tempat yang jelas, saya minta semua menjalankan tugas sesuai instruksi agar kondisi wilayah tetap kondusif,” tutur Endri Destana.

Operasi pengamanan swakarsa ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antara unsur TNI, Polri, dan perangkat keamanan desa dalam menciptakan ekosistem wilayah yang harmonis. Dengan pengawalan ketat dari personel Satlinmas, diharapkan seluruh rangkaian perayaan hari besar keagamaan di wilayah Moyudan dapat berlangsung lancar dan damai hingga selesai. (Giek/KIM Moyudan)




Perkuat Sinergi Pendidikan Karakter, Forkopim Ngaglik Sambangi Sejumlah Pondok Pesantren

Sleman — Pemerintah melalui Forum Koordinasi Pimpinan Kapanewon (Forkopim) Ngaglik mempertegas komitmennya dalam merangkul lembaga pendidikan keagamaan sebagai mitra strategis pembangunan sumber daya manusia. Langkah ini diwujudkan melalui rangkaian kegiatan silaturahmi maraton ke sejumlah pondok pesantren besar di wilayah Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Rabu (1/4/2026).

Rombongan yang dipimpin oleh Panewu Ngaglik Wawan Widyantoro bersama Kapolsek Ngaglik Luki Dariyawan dan Danramil Ngaglik Mustofa ini mengawali kunjungan ke Pondok Pesantren Hidayatullah Donoharjo yang disambut oleh Ketua Yayasan Syamsul Ma’arif. Perjalanan dilanjutkan menuju Pondok Pesantren Sunan Pandanaran untuk berdialog dengan pimpinan pondok Mu’thasim Billah, dan diakhiri di Pondok Pesantren Al Anshor Wonosalam Sukoharjo yang diterima langsung oleh Ketua Yayasan Syarifuddin.

Kunjungan ini bukan sekadar seremoni formal, melainkan ruang dialog terbuka untuk memetakan tantangan yang dihadapi dunia pesantren saat ini. Dalam pertemuan tersebut, pihak pemerintah mendengarkan langsung aspirasi pengelola pondok terkait kebutuhan dukungan fasilitas pendidikan hingga penguatan pembinaan santri agar selaras dengan standar nasional. Kehadiran unsur kesehatan dari Puskesmas 1 dan 2 Ngaglik serta Kepala KUA Ngaglik Handoyo semakin memperlengkap cakupan koordinasi lintas sektor dalam kunjungan tersebut.

Panewu Ngaglik, Wawan Widyantoro, menegaskan bahwa kehadiran jajaran Forkopim merupakan bukti nyata bahwa negara hadir di tengah institusi pendidikan berbasis agama. Menurutnya, pemerintah memiliki tanggung jawab moral dan administratif untuk memastikan setiap kebijakan dari pusat dapat terimplementasi dengan baik di tingkat lokal, termasuk dalam mendukung kemajuan yayasan pendidikan pesantren.

“Melalui silaturahmi ini, kami ingin memastikan komunikasi antara pemerintah dan ulama tetap terjalin dengan baik. Hal ini sangat penting agar setiap kebijakan pemerintah dapat berjalan sejalan dan saling mendukung dengan kebutuhan pengembangan lembaga pendidikan keagamaan. Kami ingin pesantren di Ngaglik menjadi motor penggerak lahirnya generasi yang unggul dan berkarakter,” ujar Wawan Widyantoro di sela kunjungannya.

Kegiatan ini diharapkan mampu menciptakan sinergi yang lebih solid antara aparatur keamanan, kesehatan, dan keagamaan dengan lingkungan pesantren. Dengan komunikasi yang intensif, potensi kendala di lapangan dapat dideteksi lebih dini, sehingga kolaborasi dalam mencetak generasi muda yang berakhlak mulia dan memiliki wawasan kebangsaan yang kuat dapat terwujud secara berkelanjutan di wilayah Sleman. (ESK/KIM DSN)