Rayakan 80 Tahun Yuswa Dalem Sri Sultan HB X, Puluhan Ribu Pamong Se-DIY Padati Jantung Kota Yogyakarta

Sleman — Kawasan sumbu imajiner Yogyakarta berubah menjadi lautan manusia saat sekitar pamong kalurahan dan unsur Lembaga Kemasyarakatan Kalurahan (LKK) se-DIY mengikuti Kirab dan Pisowanan Mangayubagya 80 Tahun Yuswa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X, Kamis (2/4/2026). Acara yang berlangsung khidmat ini dipusatkan mulai dari kawasan Monumen Serangan Umum 1 Maret hingga Pagelaran Keraton Yogyakarta sebagai bentuk penghormatan atas hari lahir Raja Yogyakarta yang jatuh pada 2 April 1946 tersebut.
Pemerintah Kalurahan Condongcatur turut ambil bagian dengan mengirimkan 23 personel yang bergabung dalam barisan Kapanewon Depok kontingen Kabupaten Sleman. Para pamong ini tampil serasi mengenakan busana tradisional yang telah ditentukan, berbaur dengan ribuan peserta lain dari berbagai kabupaten dan kota di DIY. Setiap kontingen membawa hasil bumi dan produk lokal sebagai simbol rasa syukur masyarakat kepada Ngarsa Dalem.
Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji, menegaskan bahwa kehadiran jajarannya dalam kirab ini merupakan manifestasi dari komitmen pemerintah tingkat paling bawah dalam menjaga kelestarian budaya dan pengabdian kepada masyarakat. Selain membawa hasil bumi, Condongcatur secara khusus mempersembahkan produk UMKM unggulan sebagai bentuk pisungsung atau persembahan kepada Sultan.
“Kami hadir bukan sekadar mengikuti kegiatan, tetapi sebagai wujud tanggung jawab dan pengabdian. Ini adalah bagian dari komitmen kami untuk terus nguri-uri budaya, memperkuat kebersamaan, dan mendukung kepemimpinan Ngarsa Dalem. UMKM adalah kekuatan kami, dan apa yang kami persembahkan hari ini adalah bukti bahwa masyarakat mampu bergerak mandiri serta memberikan kontribusi nyata bagi Yogyakarta,” ujar Reno Candra Sangaji di sela-sela prosesi kirab.
Rangkaian kirab diatur secara sistematis berdasarkan wilayah, dimulai dari kontingen Kota Yogyakarta pada pukul WIB, disusul Kabupaten Sleman, Bantul, Gunungkidul, hingga Kulon Progo. Total terdapat 438 kalurahan dan kelurahan yang terlibat, di mana masing-masing mengirimkan 20 hingga 30 orang perwakilannya. Kemeriahan pun semakin terasa dengan kehadiran 80 angkringan di kawasan Alun-Alun Utara yang disiapkan khusus bagi para peserta Nayantaka pada pagi hari.
Kepala Dinas Pariwisata DIY, Imam Pratanadi, menjelaskan bahwa perayaan ini dirancang dalam dua bagian utama untuk merangkul seluruh lapisan masyarakat. Jika pagi hari difokuskan pada prosesi formal pamong kalurahan dan abdi dalem, maka sore harinya suasana bergeser menjadi pesta rakyat yang terbuka untuk umum di sepanjang kawasan Malioboro. Masyarakat luas dapat menikmati hidangan angkringan gratis sambil menyaksikan berbagai pertunjukan seni di ruang terbuka.
Menutup rangkaian kegiatan di Bangsal Pagelaran, para pemimpin wilayah menyampaikan doa terbaik bagi pemimpin tertinggi di Yogyakarta tersebut. Harapan akan keberlanjutan kepemimpinan yang bijaksana menjadi poin utama dalam refleksi peringatan 80 tahun usia sang Sultan.
“Mugi Ngarsa Dalem tansah pinaringan sehat, panjang umur, lan kawilujengan, serta terus membimbing Yogyakarta dengan kebijaksanaan. Kami di tingkat kalurahan memastikan bahwa semangat dari kegiatan ini akan ditindaklanjuti secara konkret melalui pemberdayaan masyarakat yang selaras dengan nilai budaya,” pungkas Reno Candra Sangaji. (Wasana/KIM Depok)



