Teknologi Peramalan Kemenan Berhasil Tekan Hama Tikus dan Dongkrak Produksi Padi di Sleman

Sleman — Program Kampung Peramalan atau Forecasting Smart Eco Village (FSEV) yang digagas Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) terbukti efektif melindungi produksi pangan nasional. Keberhasilan ini ditunjukkan melalui hasil panen raya di Bulak Ngaglik, Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman, Sabtu (7/3/2026), yang mencatatkan peningkatan produktivitas padi secara signifikan.
Wilayah Sumbersari yang sebelumnya dikenal sebagai daerah endemis hama tikus kini berhasil membalikkan keadaan. Berdasarkan data hasil ubinan di lokasi percontohan Disruptive Agriculture Technology (DAT), produktivitas padi varietas Inpari 32 mampu mencapai 7,53 ton per hektare. Angka ini meningkat tajam dibandingkan hasil sebelumnya yang hanya berkisar pada angka 6,8 ton per hektare. Keberhasilan ini tidak lepas dari implementasi teknologi pengamatan dan pengendalian hama yang dilakukan secara berkelanjutan.
Kepala BBPOPT Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Yuris Tiyanto, menegaskan bahwa sektor pertanian memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045. Menurutnya, pertanian bukan sekadar penyedia pangan, melainkan motor pertumbuhan ekonomi dan penyedia lapangan kerja. Namun, tantangan seperti perubahan iklim, penurunan kualitas sumber daya manusia, hingga berkurangnya tenaga pengendali hama menuntut adanya terobosan teknologi yang masif.
“Pembangunan pertanian saat ini menghadapi tantangan beragam, mulai dari perubahan iklim hingga fenomena petani yang didominasi usia tua. Dalam rangka mendukung swasembada pangan berkelanjutan, pengendalian organisme pengganggu tumbuhan memiliki peran strategis untuk mengawal produksi. Kami telah mengembangkan Kampung Peramalan sebagai solusi untuk mengimplementasikan teknologi pertanian disruptif di daerah-daerah endemis hama,” ujar Yuris Tiyanto saat meninjau lokasi panen.
Yuris menjelaskan bahwa kunci utama dari keberhasilan ini adalah penggunaan aplikasi SIFORTUNA yang telah terintegrasi dengan sistem pemantauan di Kantor Staf Presiden (KSP). Aplikasi ini mempercepat diseminasi informasi mengenai prakiraan serangan hama, sehingga petani dan petugas di lapangan dapat mengambil keputusan pengendalian secara cepat dan tepat sebelum populasi hama meledak. Dengan sistem peringatan dini ini, risiko gagal panen dapat ditekan sekecil mungkin.
Data terakhir menunjukkan penurunan serangan hama yang sangat drastis di lokasi tersebut. Serangan hama tikus yang sebelumnya mencapai 27,33 persen berhasil ditekan menjadi 9,98 persen. Demikian pula dengan serangan Penggerek Batang Padi (PBP) yang turun dari 15,46 persen menjadi hanya 1,4 persen, serta Wereng Batang Cokelat (WBC) yang kini hanya tersisa 0,02 persen dari sebelumnya 5,2 persen. Penurunan ini menjadi bukti nyata bahwa pengelolaan hama terpadu berbasis data mampu menyelamatkan hasil jerih payah petani.
“Saat ini kami telah bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memperluas manfaat SIFORTUNA agar masuk ke dasbor pemantauan nasional. Melalui teknologi ini, peran peramalan dalam pengendalian hama menjadi lebih optimal. Kami yakin akselerasi informasi ini akan mempercepat langkah antisipasi di lapangan sehingga swasembada padi, jagung, dan komoditas unggul lainnya dapat terus terjaga,” tegas Yuris Tiyanto.
Program FSEV yang telah sukses dilaksanakan di Indramayu, Pekalongan, dan Lamongan pada tahun sebelumnya, kini menjadikan Kabupaten Sleman sebagai model keberhasilan baru di wilayah Yogyakarta. Melalui sinergi antara teknologi digital dan praktik lapangan yang konsisten, pemerintah berharap produktivitas pertanian nasional dapat terus meningkat demi kesejahteraan rumah tangga petani dan ketahanan pangan penduduk Indonesia. (Giek/KIM Moyudan)



