Perkuat Ketahanan Pangan, BUMKal Karya Manunggal Margoagung Jadi Pemasok Utama Tahu dan Tempe

Sleman — Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) Karya Manunggal Margoagung mulai mengambil peran strategis dalam rantai ketahanan pangan lokal. Dalam Musyawarah Kalurahan (Muskal) Laporan Pertanggungjawaban Tahun 2025 yang digelar di Ruang Rapat Kalurahan Margoagung pada Senin (2/3/2026), terungkap bahwa lembaga ekonomi desa ini kini resmi menjadi pemasok bahan baku tahu dan tempe untuk kebutuhan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Langkah ini menjadi salah satu terobosan penting di tengah upaya pemerintah kalurahan menjadikan BUMKal sebagai motor penggerak ekonomi warga. Lurah Margoagung, Djarwo Suharto, menegaskan bahwa orientasi BUMKal ke depan harus lebih tajam dalam menghasilkan laba. Menurutnya, keuntungan yang diraih bukan sekadar angka, melainkan instrumen untuk menaikkan Pendapatan Asli Desa (PAD) yang manfaatnya akan kembali kepada kesejahteraan masyarakat Margoagung.
“BUMKal sebagai lembaga ekonomi desa ke depan harus mampu memberikan profit dalam rangka menaikkan PAD yang muaranya pada kesejahteraan masyarakat Margoagung. Kami ingin unit usaha yang ada benar-benar menyentuh kebutuhan dasar dan memberikan dampak ekonomi nyata bagi warga,” ujar Djarwo Suharto dalam arahannya di depan jajaran BPKal dan tokoh masyarakat.
Direktur BUMKal Karya Manunggal, Sudarman, mengakui bahwa perjalanan lembaga yang dipimpinnya masih dalam tahap pembenahan internal. Pada masa transisi kepengurusan, BUMKal sempat menghadapi kendala kelembagaan dengan mundurnya pengawas. Namun, hal itu tidak menyurutkan langkah mereka untuk mengelola aset desa, mulai dari sewa kios di Pasar Srikaton, retribusi parkir, hingga pengelolaan Embung Krapyak.
“Kami menyadari bahwa hasil yang diperoleh belum optimal sehingga laba yang didapat juga belum besar. Namun, kami mencoba mengambil peran dalam ketahanan pangan dengan menjadi supplier tahu dan tempe untuk dapur SPPG. Ini menjadi salah satu fokus pengembangan usaha kami ke depan untuk memastikan pasokan pangan lokal terserap dengan baik,” jelas Sudarman saat memaparkan laporan keuangannya.
Hingga akhir tahun 2025, BUMKal Karya Manunggal tercatat mengelola total penyertaan modal mencapai , yang terdiri dari modal tunai serta aset tanah. Dari sisi performa keuangan, BUMKal berhasil membukukan laba bersih sebesar dari total pendapatan setelah dikurangi biaya operasional dan honor pengelola. Angka ini dinilai sebagai awal yang positif di tengah proses konsolidasi internal.
Memasuki tahun 2026, Sudarman memproyeksikan ekspansi usaha yang lebih luas. Selain menambah mitra dapur SPPG hingga enam unit, BUMKal berencana merealisasikan operasional kios sembako dan menjalin kerja sama lebih erat dengan pelaku UMKM di Margoagung. Optimalisasi Embung Krapyak sebagai destinasi lokal juga masuk dalam agenda prioritas untuk mendongkrak pemasukan desa.
Ketua BPKal Margoagung, Jumali, menyambut baik paparan tersebut namun memberikan catatan penting terkait payung hukum dan tata kelola. Ia menyarankan agar BUMKal fokus pada penguatan satu atau dua unit usaha unggulan terlebih dahulu agar manajemen tidak terpecah. Penunjukan pengawas definitif dan penyusunan Peraturan Kalurahan (Perkal) terkait pengelolaan Pasar Srikaton menjadi hal mendesak yang harus segera diselesaikan untuk menjamin legalitas usaha.
Musyawarah ini diakhiri dengan penandatanganan berita acara penerimaan laporan pertanggungjawaban oleh seluruh peserta. Melalui forum ini, Pemerintah Kalurahan Margoagung berkomitmen untuk segera mempertemukan seluruh pihak, mulai dari pedagang pasar hingga pengelola BUMKal, guna menyepakati aturan kerja sama yang harmonis demi kemajuan ekonomi desa yang berkelanjutan. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)



