Integritas dan Literasi, Muhammad Sulchan Fathoni Perkuat Standar Kepemimpinan Mahasiswa di Sleman

Sleman — Kabupaten Sleman terus melahirkan figur-figur muda yang membawa pembaruan dalam pola kepemimpinan organisasi kemahasiswaan. Muhammad Sulchan Fathoni, lulusan Program Studi Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan Universitas Gadjah Mada (UGM), kini menjadi representasi generasi baru yang menekankan pentingnya perpaduan antara integritas personal dengan sistem manajemen organisasi yang modern dan profesional.

Tumbuh di pusat aktivitas akademik Yogyakarta, Sulchan menapaki proses panjang pembentukan karakter yang dimulai dari nilai-nilai kejujuran sejak usia dini. Komitmen tersebut kemudian ia kristalisasi saat memasuki dunia perkuliahan melalui Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di lingkungan Bulaksumur. Bagi Sulchan, organisasi mahasiswa bukan sekadar wadah berkumpul, melainkan sebuah laboratorium batin yang menuntut konsistensi antara gagasan dan perbuatan nyata di tengah masyarakat.

Dalam pandangannya, pembentukan karakter pemimpin tidak boleh terjebak pada acara seremonial atau forum formal semata. Ia memperkenalkan konsep perkaderan sepanjang hayat yang menekankan bahwa proses pembelajaran sesungguhnya terjadi dalam dinamika harian organisasi. Melalui pendekatan ini, setiap tanggung jawab kecil dalam rapat maupun eksekusi program kerja diposisikan sebagai medium untuk menguji ketahanan mental dan kualitas kepemimpinan seorang mahasiswa.

“Perkaderan utama itu terjadi dalam keseharian kita, bukan hanya di forum resmi. Bagaimana kita bersikap dalam rapat, bagaimana kita mengeksekusi sebuah gagasan, hingga bagaimana kita memikul tanggung jawab yang diberikan, di situlah karakter asli seorang pemimpin diuji dan dibentuk secara konsisten,” ujar Muhammad Sulchan Fathoni saat memberikan keterangan pada Minggu (1/3/2026).

Selama memimpin IMM Cabang Bulaksumur–Karangmalang, Sulchan membawa perubahan signifikan dengan menerapkan mekanisme kerja berbasis sistem. Ia memperkenalkan budaya evaluasi mingguan atau weekly check-in, penggunaan indikator kinerja, serta penguatan kapasitas problem solving bagi para anggotanya. Pendekatan ini sengaja dirancang agar aktivis mahasiswa memiliki standar kompetensi profesional yang setara dengan manajemen modern, namun tetap berpijak pada nilai-nilai spiritual.

Sulchan juga dikenal sangat vokal dalam mendorong penguatan literasi di kalangan mahasiswa Sleman. Ia berkeyakinan bahwa kemampuan analisis dan penyusunan gagasan yang tajam hanya bisa tumbuh jika tradisi membaca tetap dijaga. Selain itu, ia membangun iklim organisasi yang egaliter dan bebas dari tekanan senioritas yang kaku, sehingga setiap kader memiliki ruang yang aman untuk berpikir kritis dan menyampaikan pendapat tanpa rasa takut.

“Visi saya sederhana namun tegas, mahasiswa harus memiliki kemampuan komunikasi, administrasi, dan kelincahan adaptif yang kuat. Kalau membaca saja jarang dilakukan, maka kemampuan analisis untuk menyusun solusi atas permasalahan sosial akan sulit tumbuh. Kita butuh pemimpin yang tidak hanya pandai bicara, tetapi juga memiliki kedalaman berpikir,” tegas Sulchan yang juga aktif menginisiasi pengajian kitab di lingkungan kampus.

Pengalaman Sulchan dalam menghadapi berbagai dinamika, termasuk saat menyelenggarakan forum diskusi publik yang menuai respons keras, semakin mematangkan ketahanan mentalnya. Baginya, tantangan di era digital saat ini menuntut mahasiswa untuk lebih cerdas dalam memilah informasi namun tetap teguh pada prinsip kebenaran. Melalui rekam jejaknya di Kabupaten Sleman, Sulchan menegaskan bahwa kepemimpinan yang berorientasi manfaat adalah hasil dari kerja panjang yang terencana dan konsisten. (Athiful/KIM Depok)




Teguhkan Integritas Mahasiswa, Buku ‘Menyemai Karakter’ Bedah Pola Kaderisasi di Sleman

Sleman — Kabupaten Sleman kembali mengukuhkan posisinya sebagai pusat lahirnya gagasan reflektif mengenai pendidikan karakter bagi generasi muda. Melalui karya literatur terbaru berjudul Menyemai Karakter, penulis Dedek Helida Pitra menghadirkan pandangan mendalam mengenai peran strategis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai kawah candradimuka pembentukan integritas dan tanggung jawab moral mahasiswa di tengah dinamika zaman yang kian pragmatis.

Buku ini berakar dari riset akademik yang disusun penulis saat menempuh studi Pascasarjana di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Karya tersebut berkembang menjadi sebuah refleksi ideologis mengenai pentingnya penanaman nilai dalam organisasi kemahasiswaan. Sleman, sebagai kawasan pendidikan yang menaungi berbagai perguruan tinggi ternama, dinilai memiliki ekosistem yang sangat strategis dalam merawat tradisi kaderisasi berbasis karakter tersebut.

Di tengah arus kehidupan mahasiswa yang cenderung instan, Dedek Helida Pitra menegaskan bahwa organisasi kemahasiswaan seperti IMM tidak boleh sekadar menjadi ruang aktivitas seremonial. Ia memandang organisasi tersebut sebagai sekolah kehidupan yang mampu membentuk manusia secara utuh, baik secara intelektual maupun spiritual. Hal ini menjadi antitesis terhadap budaya pasar yang kerap menggerus orientasi moral anak muda masa kini.

“IMM bukan sekadar organisasi untuk aktif-aktifan. Di dalamnya, mahasiswa belajar untuk jujur, disiplin, peduli, dan memahami makna kehadiran mereka sebagai manusia beriman di tengah masyarakat. Menyemai karakter adalah pekerjaan sunyi, namun jika tidak dimulai dari ruang kaderisasi, kita akan kehilangan fondasi moral generasi mendatang,” ujar Dedek Helida Pitra saat memberikan keterangan pada Sabtu (28/2/2026).

Dalam buku tersebut, Dedek memaparkan sistem perkaderan sebagai proses bertahap yang terstruktur, mulai dari jenjang dasar hingga paripurna. Setiap tahapan diposisikan bukan sebagai formalitas administratif, melainkan ruang internalisasi nilai-nilai kejujuran, etika, dan kepemimpinan yang rendah hati. Ia menekankan bahwa IMM memilih jalur pembinaan berbasis nilai dan keteladanan daripada sekadar mengejar popularitas atau kuantitas anggota.

Penulis juga menyoroti tantangan berat yang dihadapi organisasi kader saat ini, mulai dari disrupsi teknologi, polarisasi wacana digital, hingga fragmentasi sosial. Menurutnya, ketahanan nilai internal menjadi kunci agar mahasiswa tetap memiliki orientasi pengabdian yang jelas. Seorang intelektual sejati tidak cukup hanya memiliki kecerdasan akademik, tetapi juga dituntut memiliki kepekaan tajam terhadap realitas sosial di sekelilingnya.

“IMM mendidik karakter bukan dengan ceramah, melainkan melalui suasana, keteladanan, dan proses hidup bersama. Organisasi ini harus tetap menjadi rumah bagi mahasiswa yang ingin tumbuh sebagai pribadi yang jujur, berani, dan bertanggung jawab di tengah gempuran digitalisasi dan hegemoni budaya instan,” tegas Dedek dalam bukunya.

Gagasan yang diusung dalam buku ini menjadi sangat relevan bagi Kabupaten Sleman yang menyandang predikat pusat pendidikan. Pembentukan karakter dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi pembangunan daerah dan bangsa. Kehadiran buku ini diharapkan mampu memicu penguatan ekosistem mahasiswa di Sleman agar tidak hanya melahirkan lulusan yang kompeten secara teknis, tetapi juga insan yang memiliki integritas tinggi dan komitmen pada pengabdian masyarakat. (Athiful/KIM Depok)




Kusriyah Leather, Kisah Inspiratif Perajin Disabilitas Sleman Menakar Rejeki di Lapak Ramadan

Sleman — Keterbatasan fisik bukan menjadi penghalang bagi seseorang untuk berdaya dan menghidupi keluarga. Hal ini dibuktikan secara nyata oleh Kusriyah, seorang pelaku usaha kerajinan kulit kambing asal Purwokerto yang kini menetap di Sleman. Melalui brand “Kusriyah Leather”, ia menunjukkan bahwa kemandirian ekonomi dapat dibangun di atas landasan keikhlasan dan kerja keras, meskipun harus beraktivitas dalam ruang gerak yang terbatas.

Kusriyah menjadi salah satu peserta yang meramaikan kegiatan Lapak Ramadhan di Sleman (LARIS) 2026 yang digelar di halaman PLUT Sleman Unit 1, tepat di depan Rumah Dinas Bupati Sleman pada Jumat (27/2/2026). Di sela kesibukannya melayani pembeli, ia menceritakan bahwa semangatnya untuk bangkit muncul setelah ia berinteraksi dengan sesama penyandang disabilitas di Pusat Rehabilitasi Yayasan Kristen Untuk Kesejahteraan Umum (Yakkum). Di tempat itulah ia menemukan kepercayaan diri untuk menerima takdir dan mulai merintis usaha.

“Awalnya saya merasa terpukul dengan kondisi yang tidak seperti orang kebanyakan. Namun, saat bertemu dan berinteraksi dengan sesama disabilitas di Yakkum, saya mendapatkan semangat baru untuk berjuang dan menerima dengan ikhlas semua takdir yang diberikan Sang Pencipta. Dari sana saya mulai berani melangkah,” ujar Kusriyah saat ditemui di lokasi pameran.

Usaha kerajinan kulit ini ia rintis bersama suaminya, Purnomo Adi, yang sebelumnya memiliki pengalaman bekerja pada perajin kulit lain. Pasangan yang dipertemukan saat menjalani pelatihan rehabilitasi ini memutuskan untuk mandiri dengan memproduksi beragam barang ringan seperti dompet, tas, hingga slim bag berbahan kulit kambing. Kualitas produk mereka pun mulai diakui secara luas, terbukti dengan masuknya pesanan dari sektor perhotelan ternama.

“Alhamdulillah, saat ini kami sedang menyelesaikan pesanan puluhan dompet dari Hotel Amanjiwa Magelang. Selain produk kulit, saya juga memproduksi tas dan dompet rajut untuk menambah variasi produk. Sejak tahun 2024, kami bergabung menjadi binaan PLUT Dinas Koperasi Kabupaten Sleman dan mendapatkan banyak manfaat, mulai dari pelatihan manajemen usaha hingga pemasaran digital,” lanjut ibu dari tiga anak tersebut.

Kegigihan keluarga ini terlihat dari cara mereka menjemput rejeki setiap harinya. Setiap Jumat pagi, Kusriyah rutin berjualan di halaman PLUT Unit 1, sementara suaminya berjualan tiwul dan garang asem di Pasar Bela Negara, Lapangan Pemda Sleman. Untuk mendukung mobilitas keluarga, mereka menggunakan motor roda tiga hasil rancangan sendiri yang dimodifikasi khusus. Motor rakitan tersebut menjadi urat nadi transportasi mereka dalam mengantar anak sekolah maupun mengangkut barang dagangan.

“Semua usaha kami lakukan untuk menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak-anak. Anak pertama saya sekarang sudah kelas 3 SMA dan yang bungsu kelas 7 SD. Dengan motor roda tiga rakitan ini, mobilitas kami sekeluarga sangat terbantu. Kami ingin membuktikan bahwa dalam keterbatasan pun, kami tetap bisa bergerak maju,” tegas Kusriyah dengan penuh optimisme.

Kisah Kusriyah dan Purnomo Adi menjadi cermin ketangguhan pelaku UMKM disabilitas di Kabupaten Sleman. Kehadiran mereka di ajang LARIS 2026 tidak hanya sebagai pedagang, tetapi juga sebagai inspirasi bagi masyarakat luas bahwa martabat manusia diukur dari kegigihannya dalam berikhtiar. Dukungan dari pemerintah daerah melalui PLUT Sleman diharapkan terus berkelanjutan guna memastikan pelaku usaha seperti Kusriyah mendapatkan akses pasar yang lebih luas di masa depan. (Kusnadi/KIM Berbah)




Puskesmas Seyegan Prioritaskan Cek Kesehatan Gratis dan Integrasi Layanan pada 2026

Sleman — Pemerintah Kapanewon Seyegan bersama Puskesmas Seyegan resmi menetapkan penguatan pelayanan kesehatan yang inklusif sebagai agenda prioritas tahun 2026. Melalui forum Lokakarya Mini Lintas Sektor (Lokmin Linsek) yang digelar di Ruang Rapat Puntadewa Kapanewon Seyegan pada Kamis (26/2/2026), disepakati bahwa implementasi program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan Integrasi Layanan Primer (ILP) menjadi kunci utama dalam mewujudkan keadilan akses kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Pertemuan strategis ini dihadiri oleh jajaran pimpinan wilayah, mulai dari Panewu, perwakilan Polsek, Korwil Pendidikan, hingga para lurah dan kader kesehatan se-Kapanewon Seyegan. Fokus utama pembahasan adalah mengevaluasi capaian tahun sebelumnya sekaligus merumuskan solusi atas tantangan kesehatan wilayah, termasuk kewaspadaan terhadap potensi peningkatan kasus leptospirosis dan demam berdarah di tengah musim penghujan.

Panewu Seyegan, Agung Endarta, menegaskan bahwa pembangunan kesehatan tidak bisa hanya bertumpu pada pundak tenaga medis, melainkan membutuhkan peran aktif seluruh pemangku kepentingan. Koordinasi lintas sektor dipandang sebagai mesin penggerak untuk menyinkronkan program antara pemerintah kapanewon, kalurahan, hingga lembaga sosial masyarakat. Ia berharap forum ini menjadi wadah diseminasi yang efektif agar setiap kebijakan kesehatan dapat terimplementasi hingga tingkat dusun.

“Pembangunan kesehatan masyarakat membutuhkan peran aktif dari kita semua, mulai dari puskesmas, instansi pemerintah, hingga masyarakat luas. Pertemuan ini menjadi forum untuk mengidentifikasi permasalahan di lapangan dan merumuskan solusi bersama. Kami ingin memastikan sinergi antara kapanewon, kalurahan, dan para kader kesehatan berjalan harmonis demi meningkatkan kualitas hidup warga Seyegan,” ujar Agung Endarta dalam arahannya.

Kepala Puskesmas Seyegan, Reni Anjarasmarani, memaparkan bahwa visi puskesmas pada tahun 2026 adalah mewujudkan pelayanan yang adil dengan indikator capaian standar pelayanan minimal bagi kelompok rentan di atas 90 persen. Salah satu terobosan yang diunggulkan adalah program CKG, di mana masyarakat dapat melakukan pemeriksaan tekanan darah, gula darah, hingga indeks massa tubuh tanpa biaya. Program ini dilaksanakan secara jemput bola melalui skrining rutin di dalam gedung maupun layanan terpadu di tingkat dusun.

“Kami ingin memastikan seluruh masyarakat, termasuk kelompok rentan dan warga kurang mampu dengan akses terbatas, mendapatkan hak pemeriksaan kesehatan sejak dini. Melalui Cek Kesehatan Gratis, kita dapat mendeteksi lebih awal penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes, sehingga penanganannya bisa lebih cepat dan tepat sebelum menjadi kronis,” tutur Reni Anjarasmarani di hadapan para peserta lokakarya.

Selain deteksi dini, Puskesmas Seyegan mulai menerapkan Integrasi Layanan Primer (ILP) sebagai langkah transformasi sesuai arahan Kementerian Kesehatan. Melalui sistem ILP, pelayanan dikelompokkan berdasarkan siklus hidup, mulai dari bayi hingga lansia, sehingga proses medis menjadi lebih efisien dan terkoordinasi. Pendekatan ini memungkinkan pasien mendapatkan berbagai layanan sekaligus dalam satu kunjungan tanpa harus berpindah-pindah poli, yang secara langsung mengurangi ketimpangan akses bagi masyarakat.

Penerapan sistem baru ini diharapkan mampu memperkuat kolaborasi antarprogram kesehatan, mulai dari imunisasi, gizi, hingga layanan kesehatan ibu dan anak. Dengan komitmen yang telah disepakati dalam rencana kerja tindak lanjut tersebut, Puskesmas Seyegan diproyeksikan tetap menjadi garda terdepan dalam memberikan layanan kesehatan yang merata dan berorientasi pada pencegahan penyakit bagi seluruh masyarakat Seyegan. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Satuan Pelayanan Gizi Jogotirto Kantongi Sertifikasi Halal Resmi

Sleman — Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jogotirto secara resmi mengumumkan keberhasilan mereka dalam memperoleh sertifikasi halal untuk seluruh menu yang diproduksi. Langkah ini menjadi tonggak penting dalam pelaksanaan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Berbah, Sleman, guna menjamin bahwa setiap porsi makanan yang sampai ke tangan masyarakat tidak hanya sehat secara nutrisi, tetapi juga aman dan sesuai dengan syariat Islam.

Kepastian mengenai status kehalalan ini disampaikan langsung oleh penanggung jawab Yayasan Ma’had Sunan Kalijaga, Aris Nugroho Aji, saat melakukan peninjauan di Kantor SPPG Jogotirto pada Jumat (26/2/2026). Sertifikasi ini merupakan bentuk validasi dari Majelis Ulama Indonesia yang mencakup pemeriksaan menyeluruh mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan di dapur, hingga sistem distribusi dan pengemasan akhir.

Aris Nugroho Aji menegaskan bahwa aspek kehalalan merupakan prioritas utama yang tidak dapat ditawar dalam operasional SPPG Jogotirto. Bersama Kepala SPPG Jogotirto, Hanif Marmerindo Nugroho, pihak yayasan memastikan bahwa standar tinggi yang diterapkan bertujuan untuk memberikan ketenangan batin bagi para penerima manfaat. Dengan adanya sertifikat resmi ini, keraguan masyarakat terhadap kualitas gizi dan kebersihan menu MBG diharapkan dapat sepenuhnya terhapuskan.

“Kami berkomitmen untuk menjaga standar kehalalan, kualitas gizi, serta kebersihan dalam setiap tahapan produksi. Program Makanan Bergizi Gratis tidak hanya menghadirkan makanan bergizi untuk kesehatan fisik, tetapi juga memastikan setiap menu memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat secara spiritual. Hal ini adalah bentuk tanggung jawab moral kami kepada publik,” ujar Aris Nugroho Aji dalam keterangannya di hadapan jajaran SPPG Jogotirto.

Menu yang disajikan oleh SPPG Jogotirto sendiri dirancang dengan komposisi gizi seimbang yang terdiri dari nasi, lauk pauk seperti daging ayam dan telur rebus, sayuran segar, buah-buahan, susu, hingga tambahan kacang-kacangan dan kurma. Seluruh bahan tersebut dipasok oleh penyedia terpercaya yang juga telah memiliki jaminan halal. Tim di lapangan bekerja ekstra ketat untuk memastikan tidak ada kontaminasi bahan non-halal, baik dari segi bumbu tambahan maupun alat produksi yang digunakan sehari-hari.

Sertifikasi halal ini juga menjadi bukti nyata bahwa SPPG Jogotirto menerapkan sistem manajemen keamanan pangan yang profesional. Selain memenuhi standar keagamaan, menu yang disusun tetap mengacu pada prinsip diet seimbang guna mendukung aktivitas dan pertumbuhan para penerima manfaat. Upaya ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan publik di bidang pemenuhan gizi masyarakat Sleman.

Ke depannya, SPPG Jogotirto berjanji akan terus mempertahankan standar tinggi ini sebagai bagian dari dedikasi sosial mereka. Keberadaan dapur gizi yang tersertifikasi halal ini diharapkan dapat menjadi percontohan bagi satuan pelayanan serupa di wilayah lain dalam mengelola program makanan bergizi secara transparan dan akuntabel. Melalui integrasi antara kualitas nutrisi dan kepastian halal, pemerintah berharap derajat kesehatan masyarakat dapat meningkat secara menyeluruh. (Kusnadi/KIM Berbah)