Lestarikan Kearifan Lokal, Kalurahan Banyuraden Tandai Pemasangan Atap Kantor Baru dengan Tradisi Munggah Molo

Sleman — Tahapan pembangunan gedung Kantor Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, memasuki fase krusial dengan dilaksanakannya tradisi “Munggah Molo” pada Jumat (27/2/2026). Ritual adat ini digelar bertepatan dengan dimulainya proses pemasangan kerangka atap utama bangunan sebagai bentuk pelestarian budaya sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kehadiran jajaran pamong kalurahan bersama para pekerja bangunan mempertegas komitmen pemerintah desa dalam menjaga jati diri masyarakat Jawa di tengah arus modernisasi.
Tradisi Munggah Molo merupakan kearifan lokal yang dilakukan masyarakat saat kerangka kayu atau besi penyangga atap paling atas akan dinaikkan. Bagi masyarakat setempat, prosesi ini bukan sekadar seremoni teknis, melainkan warisan luhur yang sarat akan makna filosofis. Di dalamnya terkandung rangkaian doa yang mencerminkan harapan kolektif akan keselamatan, kelancaran, serta keberkahan bagi bangunan yang nantinya akan menjadi pusat pelayanan publik tersebut.
Lurah Banyuraden, Sudarisman, menegaskan bahwa pelaksanaan tradisi ini merupakan bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur yang tetap relevan dipadukan dengan konstruksi modern. Menurutnya, pembangunan fisik gedung pemerintahan harus berjalan selaras dengan pembangunan mental dan spiritual masyarakat. Ia berharap melalui ritual ini, seluruh pihak yang terlibat dalam pembangunan diberikan perlindungan dan kekuatan untuk menyelesaikan tugas tepat waktu.
“Melalui prosesi ini, kita memohon keselamatan bagi seluruh pekerja, kelancaran proses pembangunan, serta keberkahan bagi bangunan yang sedang didirikan bersama. Pembangunan tidak boleh hanya dipandang sebagai aktivitas teknis semata, tetapi juga merupakan sebuah proses spiritual. Selain itu, kegiatan ini menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan dan semangat gotong royong antara pemerintah kalurahan dengan para pekerja di lapangan,” ungkap Sudarisman dalam sambutannya.
Rangkaian acara dipusatkan pada doa bersama yang dipandu oleh sesepuh desa, Sunaryadi. Dalam balutan suasana khidmat, doa dipanjatkan agar bangunan tersebut kelak membawa manfaat luas bagi kesejahteraan warga Banyuraden. Ritual ini juga dilengkapi dengan penyediaan berbagai sesaji simbolis yang masing-masing memiliki makna mendalam, mulai dari tumpeng sebagai simbol rasa syukur, hingga ingkung ayam yang melambangkan kepasrahan dan ketulusan hati dalam memohon perlindungan kepada Sang Pencipta.
Sunaryadi menjelaskan bahwa elemen sesaji lainnya seperti apem dimaknai sebagai simbol permohonan maaf, sementara jenang melambangkan harapan akan kehidupan yang harmonis. Penggunaan hasil bumi seperti pisang raja menjadi simbol kemakmuran, serta janur atau daun kelapa muda yang dipasang pada bagian molo menjadi penanda kesucian. Perpaduan elemen-elemen ini menunjukkan bahwa masyarakat Banyuraden masih memegang teguh prinsip harmonisasi antara manusia, alam, dan Tuhan.
“Nilai simbolik dari seluruh perlengkapan ritual ini memperlihatkan bahwa pembangunan di tanah Jawa selalu melibatkan aspek batiniah. Kami ingin memastikan bahwa setiap jengkal bangunan ini memiliki fondasi doa yang kuat. Dengan dipasangnya janur pada kerangka atap, itu adalah tanda bahwa kita telah melaksanakan kewajiban adat untuk menghormati bumi yang kita pijak dan langit yang kita junjung,” jelas Sunaryadi.
Para pamong kalurahan yang hadir menyatakan dukungannya terhadap keberlanjutan tradisi ini. Mereka menilai bahwa menjaga ritual Munggah Molo adalah cara efektif untuk memperkenalkan identitas budaya kepada generasi muda agar tidak hilang ditelan zaman. Dengan terlaksananya tradisi ini, pembangunan Kantor Kalurahan Banyuraden diharapkan dapat rampung tanpa hambatan berarti dan segera berfungsi sebagai pusat pengabdian bagi seluruh lapisan masyarakat. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)



