Bimtek Pengelolaan Sampah KPSM Berbah, Tekankan Nilai Ekonomi dan Inovasi Daur Ulang

Sleman – Pemerintah Kapanewon Berbah melalui Kepala Jawatan Kemakmuran, Ringgo Anthoni Suryo menyelenggarakan kegiatan bimbingan teknis (bimtek) pengelolaan sampah bagi Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM), Rabu (25/2/2026). Kegiatan berlangsung di Ruang Rapat Gumregah Lantai 2 Kantor Kapanewon Berbah, Sleman, Yogyakarta.

Bimtek ini diikuti para pengelola sampah dari berbagai kelompok di wilayah Berbah. Ketua Forum Lingkungan Hidup (FLH) Kapanewon Berbah, Kusnadi menyampaikan bahwa pertemuan tersebut bukan sekadar ajang silaturahmi relawan penggiat sampah. Tetapi juga momentum refleksi atas tragedi runtuhnya gunungan sampah di Leuwi Gajah, Cimahi, Jawa Barat, pada 2005 yang menewaskan 159 orang.

Peristiwa tersebut kemudian ditetapkan pemerintah sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) setiap 21 Februari. Tragedi itu menjadi pengingat pentingnya pengelolaan sampah yang benar demi mencegah dampak kemanusiaan dan lingkungan yang lebih besar.

“Di Kapanewon Berbah sendiri terdapat sekitar 30 kelompok pengelola sampah, baik berupa bank sampah, sedekah sampah, maupun TPS 3R. Sebagian dari mereka masih tergolong aktif, namun sisanya telah mati suri,” ungkapnya.

“FLH bersama pemerintah kapanewon terus mendorong agar kelompok tersebut tetap eksis dalam mewujudkan lingkungan Berbah yang bersih dan indah. Semoga apa yang kita lakukan untuk bumi dan lingkungan dicatat menjadi amal dan mendapatkan balasan pahala dari Allah SWT,” sambungnya.

Panewu Berbah, Djaka Sumarsono, dalam paparannya menegaskan bahwa pengelolaan sampah yang baik dan benar sejatinya dapat memberikan keuntungan ekonomi bagi pengelolanya. Namun, sering kali sampah dipandang sebagai barang yang menjijikkan dan tidak bernilai.

Menurutnya, agar memiliki nilai jual, sampah harus dipilah dengan baik sesuai jenis dan kebutuhan pabrik daur ulang. Sampah yang telah dipisahkan antara organik dan anorganik akan memiliki nilai lebih tinggi.

“Namun ketika sampah tercampur antara sampah organik dan anorganik, nilainya hilang dan menjadi residu yang tidak punya nilai jual,” jelasnya.

Djaka juga mendorong adanya inovasi pengelolaan dengan prinsip upcycle dan recycle. Upcycle merupakan upaya menaikkan nilai sampah tanpa mengubah bentuk dasarnya, seperti membuat kerajinan bunga, bros, tas, atau dompet dari limbah sachet. Sementara recycle adalah proses mengolah sampah dengan mengubah bentuk atau jenisnya, misalnya mengolah plastik menjadi bahan bakar melalui destilasi atau mencetak conblock dari plastik leleh.

“Apabila memerlukan pelatihan atau pengadaan alat, bisa membuat proposal pengajuan ke DLH dan akan kami dampingi,” pesan Djaka.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Jawatan Kemakmuran Kapanewon Berbah, Ringgo Anthoni Suryo didampingi Ketua Bank Sampah Klakah Elok, Yaya mengingatkan pentingnya pemanfaatan aplikasi Siosestu dalam pencatatan dan pelaporan hasil kegiatan pengelolaan sampah di masing-masing KPSM.

Menurutnya, aplikasi tersebut mempermudah administrasi sekaligus menjadi dasar pemberian bantuan selain Surat Keputusan (SK) dari pemerintah kalurahan.

“Sebagai pengingat, pelaporan melalui aplikasi Siosestu menjadi dasar pemberian bantuan selain SK dari pemerintah kalurahan,” tegasnya.

Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kapanewon Berbah berharap pengelolaan sampah tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga mampu meningkatkan nilai ekonomi dan kemandirian masyarakat. (Kusnadi KIM Berbah)




Berkah Ramadan, Pesanan Takjil Pelaku Usaha Rumahan di Moyudan Meningkat

Sleman – Bulan Ramadan kembali menyapa. Bulan suci yang penuh keberkahan ini tidak hanya dirasakan oleh umat Muslim, tetapi juga membawa dampak positif bagi masyarakat secara luas. Salah satunya terlihat dari meningkatnya aktivitas usaha rumahan yang menyediakan takjil dan aneka hidangan berbuka puasa.

Salah satu warga Sombangan, Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Marsiati yang sehari-hari berjualan sayur dan aneka makanan, mengaku memperoleh tambahan pesanan selama Ramadan.

“Alhamdulillah, hampir sepanjang bulan Ramadan ini saya sudah menerima pesanan takjil dan snack untuk buka puasa,” ungkapnya saat diwawancarai Rabu (25/2/2026).

Pesanan tersebut datang dari berbagai tempat, tidak hanya dari satu lokasi saja. Harga per porsi disesuaikan dengan anggaran pemesan dan jenis makanan yang dipesan, sehingga tetap terjangkau bagi masyarakat.

Hal senada disampaikan salah satu warga Nglahar, Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Haryati yang biasa berjualan tahu guling. Meskipun bukan Muslim, ia turut merasakan berkah Ramadan. Usaha yang ditekuninya mengalami peningkatan pesanan untuk kebutuhan takjil di berbagai tempat.

“Untuk takjil, kami memasang harga antara hingga per porsi, sudah lengkap dengan kemasan dan sendoknya,” ujarnya.

Sementara itu, Hari, seorang pedagang bakso yang menempati kios di wilayah Nasri, Sumbersari, juga menuturkan bahwa selama Ramadan ia rutin menerima pesanan untuk takjil di masjid-masjid maupun kegiatan buka bersama.

Kehadiran bulan Ramadan menjadi momentum yang membawa tambahan rezeki bagi pelaku usaha kecil dan rumahan. Peningkatan permintaan ini tidak hanya menggerakkan roda ekonomi lokal, tetapi juga membantu mencukupi kebutuhan keluarga serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. (Giek/KIM Moyudan)




Musyawarah Mufakat Warnai Pembentukan Pengurus Posyandu Banyuraden Periode 2026–2031

Sleman – Musyawarah untuk mufakat menjadi landasan utama dalam pembentukan kepengurusan baru Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) periode 2026–2031 yang digelar di ruang rapat Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Rabu (25/2/2026).

Forum tersebut dihadiri perangkat kalurahan, kader kesehatan, Tim Penggerak PKK, serta unsur masyarakat sebagai bagian dari komitmen memperkuat pelayanan kesehatan berbasis komunitas.

Kegiatan ini diselenggarakan untuk memastikan regenerasi kepengurusan Posyandu berjalan secara demokratis, partisipatif, dan akuntabel. Musyawarah menjadi instrumen penting dalam menentukan figur-figur yang tidak hanya memiliki kapasitas teknis. Namun juga dedikasi sosial dalam mendukung program kesehatan ibu dan anak di tingkat padukuhan.

Lurah Banyuraden, Sudarisman dalam sambutannya menegaskan bahwa prinsip musyawarah untuk mufakat mencerminkan nilai-nilai kearifan lokal yang selama ini menjadi fondasi tata kelola pemerintahan kalurahan.

“Pembentukan pengurus Posyandu bukan sekadar formalitas organisasi, melainkan bagian dari strategi pembangunan kesehatan jangka menengah di tingkat kalurahan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa Posyandu memiliki peran strategis dalam menekan angka stunting, meningkatkan cakupan imunisasi, serta memantau tumbuh kembang balita secara berkala. Karena itu, komposisi pengurus yang solid dan berintegritas menjadi prasyarat mutlak agar target indikator kesehatan dapat tercapai secara optimal pada periode 2026–2031.

Dalam forum tersebut, setiap peserta diberikan ruang untuk menyampaikan pandangan dan usulan nama calon pengurus. Proses dialog berlangsung dinamis namun tetap kondusif, mencerminkan kedewasaan berdemokrasi di tingkat akar rumput. Perbedaan pendapat diselesaikan melalui argumentasi rasional dan pertimbangan kemanfaatan bersama.

Ketua Tim Penggerak PKK Banyuraden, Kwintartiningsih Pospoputri menyampaikan harapan agar kepengurusan baru mampu meningkatkan inovasi layanan, termasuk pemanfaatan teknologi informasi untuk pencatatan dan pelaporan kegiatan. Digitalisasi administrasi dinilai penting untuk mendukung integrasi data kesehatan dengan sistem yang lebih luas di tingkat kapanewon maupun kabupaten.

Sementara itu, Carik Banyuraden, Hendy Indra Utama menekankan pentingnya komitmen moral dan kerja kolektif. Posyandu sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan preventif dan promotif sangat bergantung pada semangat voluntarisme kader. Oleh sebab itu, musyawarah dipandang sebagai sarana memperkuat rasa memiliki dan tanggung jawab bersama.

Hasil musyawarah akhirnya menetapkan Umaroh Nurjanah sebagai Ketua Posyandu Banyuraden yang baru secara mufakat tanpa melalui mekanisme voting. Keputusan tersebut disambut dengan apresiasi seluruh peserta rapat, karena mencerminkan kesepahaman bersama demi keberlanjutan program kesehatan masyarakat.

Dengan terbentuknya kepengurusan Posyandu Banyuraden periode 2026–2031, Pemerintah Kalurahan Banyuraden berharap kualitas pelayanan kepada ibu hamil, balita, dan lansia semakin meningkat. Musyawarah untuk mufakat tidak hanya menjadi metode pengambilan keputusan, tetapi juga simbol kohesi sosial dalam membangun masyarakat yang sehat, mandiri, dan berdaya saing. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




23 Tahun Menekuni Kerajinan Songkok, Trapsila Bertahan dengan Inovasi dan Ketekunan

Sleman – Selama 23 tahun, Trapsila setia menekuni profesinya sebagai pengrajin songkok atau peci. Perjalanannya dimulai dari membantu menjualkan songkok dan bekerja sama dengan produsen merek Serambi Mekah yang kala itu laris di pasaran. Dari pengalaman tersebut, ia tergerak untuk terjun langsung menjadi pengrajin.

“Awalnya saya hanya ikut menjualkan. Karena permintaannya bagus, saya berpikir kenapa tidak mencoba produksi sendiri,” ujar Trapsila saat ditemui di rumahnya, Rabu (25/2/2026).

Keputusan itu menjadi titik balik dalam hidupnya. Kini, dengan tiga karyawan, ia mampu menerima pesanan hingga buah songkok. Sistem produksi dilakukan secara home industry, dengan proses utama dikerjakan di Kebumen sebagai rumah produksi.

“Ongkos produksinya terlalu mahal kalau dikerjakan di Jogja. Jadi untuk jahit dan perakitan kami kerjakan di Kebumen,” jelasnya.

Rumah tinggalnya di Padukuhan Barak I, RT 5 RW 15, Kalurahan Margoluwih dimanfaatkan sebagai tempat finishing dan pengepakan. Sementara itu, proses bordir dilakukan di wilayah Tempel.

Dalam proses produksi, bahan yang digunakan meliputi kain bludru, rajangan (karton), SAB, dan saringan. Setiap pengrajin mampu menghasilkan sekitar lima kodi atau 100 buah per minggu. Tinggi songkok umumnya 8–9 sentimeter, dengan ukuran 1–4 sentimeter untuk anak-anak dan 5–12 sentimeter untuk dewasa. Namun, Trapsila juga melayani pesanan ukuran khusus.

“Kalau ada permintaan ukuran tertentu, kami sesuaikan. Biasanya untuk satu kodi butuh waktu sekitar 10 hari,” katanya.

Trapsila memproduksi dua merek, yaitu Nur Imam dan Khasanah. Untuk merek Nur Imam, ia menggunakan bludru impor dari Korea. Sedangkan merek Khasanah menggunakan bludru asal Cirebon.

“Untuk Nur Imam, kami pakai bahan yang kualitasnya lebih premium. Kalau Khasanah lebih menyesuaikan pasar menengah, tapi tetap kami jaga kualitasnya,” ungkapnya.

Produk-produknya dipasarkan di berbagai toko di wilayah Sleman, Yogyakarta, Bantul, dan Wates. Bahkan, songkok produksinya pernah dikirim hingga Halmahera, Maluku, untuk kebutuhan anak sekolah.

Dengan rentang harga hingga , baik polos maupun bermotif bordir, songkok buatan Trapsila cukup diminati pasar. Penjualan meningkat signifikan saat bulan Ramadan, bahkan bisa mencapai dua kali lipat dibanding bulan biasa. Pada periode tersebut, omzetnya dapat menembus Rp20 juta.

“Kalau Ramadan, pesanan bisa dua kali lipat. Alhamdulillah, omzet bisa sampai Rp20 juta,” tuturnya.

Di tengah persaingan produk sejenis, Trapsila tetap mampu bertahan. Baginya, kunci utama adalah ketekunan dan kemampuan membaca selera pasar.

“Kita harus tekun dan mengikuti selera konsumen. Model dan motif harus terus menyesuaikan. Itu bagian dari inovasi supaya tetap diminati,” pungkasnya.  (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Kajian Seroja Banyuraden Ungkap Rahasia Kesehatan di Balik Ibadah Puasa

Sleman – Kajian Sehat Rohani Jasmani (Seroja) yang digelar di Pendhapa Kekandhangan, Banyuraden, Gamping, Sleman, Rabu (25/2/2026), menghadirkan pesan kuat tentang peran bulan suci Ramadan dalam menyembuhkan hati dan tubuh manusia. Kegiatan ini diikuti puluhan jama’ah dari berbagai kalangan yang antusias menyimak pemaparan materi kesehatan berbasis spiritual.

Dalam kajian tersebut, Bambang Edi Susyanto selaku penceramah menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar momentum ibadah ritual, melainkan menjadi sarana pemulihan kesehatan secara menyeluruh. Menurutnya, puasa memiliki dampak signifikan terhadap keseimbangan fisik dan psikologis manusia.

“Secara medis, puasa membantu proses detoksifikasi alami tubuh. Sistem pencernaan yang beristirahat selama beberapa jam memberikan kesempatan bagi organ tubuh untuk melakukan regenerasi sel dan memperbaiki fungsi metabolisme,” jelasnya.

Lebih lanjut, Bambang menyebut bahwa manfaat puasa juga berpengaruh pada kesehatan jantung, kadar gula darah, hingga pengendalian berat badan. Dengan pola makan yang teratur saat sahur dan berbuka, tubuh dapat kembali pada ritme biologis yang lebih stabil.

Dari sisi rohani, Ramadan menjadi ruang refleksi diri yang mendalam. Ia menekankan bahwa ibadah puasa melatih kesabaran, mengendalikan emosi, serta membersihkan hati dari berbagai penyakit batin seperti iri, dengki, dan amarah.

“Ketika hati bersih, maka tubuh pun ikut merespons secara positif. Banyak penyakit fisik yang sebenarnya berakar dari kondisi psikis yang tidak sehat,” ungkapnya di hadapan peserta kajian.

Selain itu, Bambang juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara ibadah dan pola hidup sehat selama bulan Ramadan. Asupan nutrisi yang cukup, tidur yang teratur, serta tetap beraktivitas secara proporsional menjadi kunci agar manfaat puasa dapat dirasakan secara optimal.

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram,” tutur Bambang mengutip Surat Ar-Ra’d ayat 28 dalam kitab suci Al-Qur’an.

Ayat tersebut mengandung pesan mendalam tentang hubungan antara keimanan, zikir, dan ketenangan batin manusia. Secara makna, menegaskan bahwa ketenangan hati (thuma’ninah) bukan berasal dari faktor eksternal seperti harta, jabatan, atau kondisi duniawi, melainkan dari kedekatan spiritual dengan Allah SWT.

“Orang yang beriman akan merasakan ketenangan ketika hatinya dipenuhi dengan zikir, yakni mengingat Allah dalam berbagai bentuk, seperti doa, membaca Al-Qur’an, maupun kesadaran batin,” sambungnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, implementasi ayat ini dapat berupa membiasakan zikir, menjaga kualitas salat, serta menghadirkan kesadaran akan Allah dalam setiap aktivitas. Dengan demikian, ketenangan tidak lagi bergantung pada situasi, tetapi menjadi kondisi batin yang stabil.

Dengan terselenggaranya kajian ini, diharapkan masyarakat semakin menyadari bahwa bulan Ramadan adalah momentum penyembuhan holistik. Tidak hanya mendekatkan diri kepada Allah SWT, tetapi juga memperbaiki kualitas kesehatan tubuh dan ketenangan jiwa secara berkelanjutan. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)