BUMKal SEMAR Paparkan Laporan 2025, Fokus Ketahanan Pangan dan Rintis Agrowisata Desa

Sleman – Penguatan ekonomi desa berbasis usaha produktif terus menunjukkan arah yang menjanjikan. Hal itu tercermin dalam kegiatan Penyampaian Laporan Tahunan 2025 Program Reguler dan Ketahanan Pangan (Ketapang) yang digelar BUMKal SEMAR di ruang pertemuan Kalurahan Margorejo, Rabu (24/2/2026).
Forum tersebut dihadiri jajaran pengurus BUMKal SEMAR, Ketua Badan Permusyawaratan Kalurahan (BPKal), serta pamong kalurahan. Dalam struktur kelembagaan desa, BPKal memiliki peran strategis sebagai pemrakarsa sekaligus pengawas BUMKal, sehingga keberadaannya menjadi pilar penting dalam memastikan tata kelola badan usaha desa berjalan akuntabel dan berpihak pada kepentingan masyarakat.
Agenda ini bukan sekadar laporan rutin, melainkan pemaparan arah strategis badan usaha milik kalurahan dalam membangun kemandirian ekonomi warga.
Sekretaris BUMKal SEMAR, Edi Purwanto, menyampaikan bahwa sepanjang 2025 pihaknya menerima penyertaan modal sebesar Rp50 juta untuk pemeliharaan awal kebun klengkeng. Selain itu, BUMKal juga mendapat amanah mengelola dana program ketahanan pangan sebesar Rp334 juta guna melanjutkan pengembangan kebun serta merintis peternakan ayam petelur.
“Kami menempatkan ketahanan pangan sebagai prioritas jangka panjang. Kebun klengkeng seluas tiga hektare dengan 500 tanaman telah menunjukkan pertumbuhan yang seragam dan sehat, meski memang belum memasuki masa panen,” ujarnya.
Ia menjelaskan, berbagai tahapan teknis dilakukan secara terstruktur, mulai dari pengolahan lahan, pemasangan penutup gulma (weedmat), pemupukan, pengendalian hama, hingga pemangkasan rutin. Sementara itu, pembangunan kandang ayam petelur telah memasuki tahap konstruksi utama dengan target pemeliharaan awal 400 ekor ayam.
“Harapannya, setelah dua bulan operasional, biaya pemeliharaan dapat ditopang dari hasil penjualan telur sehingga unit usaha ini berkelanjutan,” tambahnya.
Lebih jauh, pengembangan kebun dan peternakan tidak berhenti pada produksi. BUMKal merancang kawasan tersebut menjadi embrio agrowisata berbasis edukasi dan rekreasi, seperti wisata petik buah, pengalaman memanen telur, hingga jogging track yang mengelilingi kebun. Inovasi ini dinilai mampu memperluas nilai tambah ekonomi desa sekaligus membuka peluang kemitraan dengan sektor swasta maupun pemerintah daerah.
Menanggapi laporan tersebut, Lurah Margorejo, Abdul Azis Muh Ridwan menegaskan pentingnya akuntabilitas dalam pengelolaan badan usaha desa.
“Laporan ini menunjukkan keseriusan pengurus dalam mengelola dana publik secara transparan dan terukur. BUMKal bukan hanya unit usaha, tetapi instrumen pemberdayaan masyarakat,” tegasnya.
Ia juga mendorong agar strategi 2026, meliputi kelanjutan pemeliharaan kebun tahun kedua, penyelesaian kandang ayam, serta perluasan jejaring kemitraan yang dapat dijalankan secara konsisten dan profesional.
Model pengembangan yang dijalankan BUMKal SEMAR dinilai sejalan dengan arah pembangunan yang menempatkan desa sebagai episentrum pertumbuhan ekonomi baru. Investasi pada sektor riil seperti pertanian dan peternakan, disertai visi wisata produktif, menjadi contoh konkret bagaimana desa membangun ekosistem ekonomi yang tangguh dan berdaya saing.
Dengan legalitas lengkap sebagai badan hukum serta kepemilikan NIB dan NPWP, BUMKal menunjukkan kesiapan kelembagaan untuk berkembang lebih luas. Penyampaian laporan tahunan ini pun menjadi penanda bahwa pembangunan desa kini bergerak semakin terencana, terukur, dan berorientasi masa depan, dari kebun klengkeng yang sedang tumbuh hingga kandang ayam yang segera beroperasi. Dengan begitu, diharapkan kemandirian ekonomi desa perlahan akan terwujud. (SBD KIM SENYUM TEMPEL)



