Bangun Komunikasi Vertikal, Ratusan Warga Keditan Dalami Esensi Batiniah Puasa

Sleman — Ratusan warga Dusun Keditan, Kalurahan Trihanggo, Kapanewon Gamping, Sleman, memadati Mushola As-Salam untuk mengikuti agenda buka puasa bersama pada Minggu (22/2/2026). Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang mempererat tali silaturahmi antarwarga, tetapi juga menjadi sarana pendalaman spiritual melalui tausiyah yang menyoroti hakikat puasa sebagai media komunikasi paling intim antara manusia dengan Sang Pencipta.
Acara yang dipandu oleh pengurus takmir, Suharjono, dihadiri oleh sejumlah tokoh masyarakat setempat, di antaranya Kepala Padukuhan Salakan Suyana, Ketua RW 26 Sukirdi, serta Ketua RT 01 Prihatin Al-Taufik. Kehadiran warga dari berbagai lintas generasi ini menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat dalam mengisi bulan suci Ramadan dengan kegiatan yang memperkaya wawasan keagamaan sekaligus memperkuat kebersamaan di lingkungan tempat tinggal.
Dalam ceramah keagamaannya, sosok pendakwah dari kampung pesantren Mlangi, Dalwaludin, memaparkan materi mengenai perbedaan mendasar antara ibadah puasa dan ibadah lahiriah lainnya seperti sholat. Ia menekankan bahwa puasa memiliki karakter yang sangat unik karena sifatnya yang personal dan tersembunyi dari pandangan manusia lain. Menurutnya, puasa adalah bentuk ibadah yang paling jujur karena hanya individu tersebut dan Tuhan yang mengetahui kebenarannya.
“Ibadah puasa adalah media komunikasi vertikal yang sangat intim. Berbeda dengan sholat yang gerakannya dapat disaksikan secara langsung, puasa berlangsung dalam dimensi batiniah. Seseorang bisa saja tampak seperti tidak berpuasa di hadapan orang lain, namun sejatinya ia sedang menjalankan ibadah tersebut dengan penuh keikhlasan. Inilah yang menjadikan puasa sebagai sarana paling autentik untuk mencerminkan integritas spiritual seorang hamba,” ujar Dalwaludin di hadapan para jamaah.
Lebih lanjut, ia mengingatkan agar warga tidak terjebak pada ritual menahan lapar dan dahaga semata. Jika puasa hanya dijalankan tanpa pemaknaan spiritual yang dalam, maka esensi utama untuk mendekatkan diri kepada Allah akan hilang. Kualitas puasa, menurutnya, sangat bergantung pada sejauh mana niat dan kesungguhan batin itu dipelihara selama satu bulan penuh, yang nantinya diharapkan mampu membentuk karakter manusia yang lebih bertaqwa.
Kepala Padukuhan Salakan, Suyana, menyambut positif kegiatan ini sebagai pondasi kerukunan warga. Ia menilai bahwa momentum berbuka bersama adalah waktu terbaik untuk menyatukan warga dalam suasana yang hangat. Suyana berharap tradisi ini tidak hanya berhenti pada pemenuhan kebutuhan fisik saat berbuka, tetapi juga membawa perubahan perilaku yang lebih harmonis dalam kehidupan sosial bermasyarakat di Keditan.
“Kami sangat bersyukur melihat kerukunan warga yang begitu kental sore ini. Buka puasa bersama ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi rutin, tetapi juga menjadi momentum penting untuk memperkuat nilai-nilai spiritual dan kebersamaan di tengah masyarakat. Harapannya, kegiatan seperti ini dapat terus kita laksanakan secara rutin setiap tahun agar hubungan antarwarga semakin erat dan iman kita semakin kokoh,” tutur Suyana.
Saat adzan Maghrib berkumandang, ratusan warga kemudian melaksanakan buka puasa bersama dengan penuh kesederhanaan namun kental dengan nuansa kekeluargaan. Momentum ini menjadi refleksi kolektif bagi masyarakat Dusun Keditan bahwa ibadah di bulan Ramadan memiliki dua dimensi penting, yakni memperbaiki hubungan vertikal dengan Tuhan dan mempermanis hubungan horizontal dengan sesama manusia. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)



