Menilik Penyelamatan Ratusan Benda Cagar Budaya Terbesar di Sleman

Sleman — Ratusan batu andesit tersusun rapi di sebuah halaman luas di Padukuhan Gondang, Kalurahan Margoagung, Kapanewon Seyegan, Sleman. Di lokasi ini, sebanyak 543 Benda Cagar Budaya (BCB) yang menjadi saksi bisu sejarah peradaban masa lampau dirawat dengan penuh ketelitian. Penampungan Benda Cagar Budaya Seyegan kini tercatat sebagai situs penampungan terbesar di Kabupaten Sleman, yang membawahi wilayah kerja meliputi lima kapanewon yakni Godean, Moyudan, Minggir, Tempel, dan Seyegan.

Secara kelembagaan, penampungan ini berada di bawah naungan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X dengan jangkauan wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Meski terdapat dua lokasi penampungan serupa di Kapanewon Mlati dan Turi, situs Seyegan memegang peran vital karena jumlah koleksinya yang paling melimpah. Keberadaan situs ini menjadi sangat penting di tengah kaya dan beragamnya warisan budaya di Yogyakarta, baik yang bersifat bergerak maupun tidak bergerak.

Sebagian besar koleksi yang tersimpan di situs ini merupakan hasil laporan aktif dari masyarakat. Petugas akan menindaklanjuti setiap laporan dengan pengecekan lapangan sebelum melakukan proses evakuasi. Koleksi yang berhasil diselamatkan mayoritas berbahan batu andesit, mencakup arca Durga, arca Nandi, arca Ganesha, arca Buddha, lingga patok, yoni, makara, hingga bagian-bagian candi. Temuan terakhir yang masuk ke penampungan ini adalah sebuah Yoni yang ditemukan di wilayah Gunung Gedang pada tahun 2023 silam.

Tanggung jawab besar menjaga struktur sejarah ini berada di pundak tiga orang Juru Pelihara (Jupel). Mereka bertugas memastikan ratusan koleksi tersebut tetap bersih dari kerusakan alami. Perawatan dilakukan secara manual dengan peralatan sederhana seperti sikat ijuk, sapu lidi, kuas, dan air. Metode tradisional ini dipilih karena dianggap paling aman untuk menjaga struktur batu purbakala agar tidak terkikis oleh bahan kimia atau alat berat.

Salah satu Juru Pelihara, Tri Suharyono, mengungkapkan bahwa tantangan terberat muncul saat cuaca ekstrem. Menurutnya, kelembapan tinggi menjadi musuh utama bagi batu-batu andesit tersebut karena memicu pertumbuhan lumut yang sangat cepat. Ketelatenan menjadi kunci utama agar detail-detail bersejarah pada permukaan batu tidak tertutup oleh organisme pengganggu.

“Musim penghujan seperti ini hampir setiap hari kami lakukan pembersihan, karena lumut dan mikroorganisme cepat sekali tumbuh. Kami harus memastikan setiap celah batu bersih agar proses pelapukan bisa dicegah sedini mungkin. Ini bukan sekadar membersihkan batu, tapi menjaga identitas sejarah kita agar tidak hilang dimakan waktu,” ujar Tri Suharyono di sela kesibukannya membersihkan benda cagar budaya, Sabtu (21/2/2026).

Selain menjaga kebersihan fisik, para Juru Pelihara juga berfungsi sebagai penyambung informasi bagi publik. Situs ini sering menjadi tujuan riset bagi pelajar dan mahasiswa yang tengah menyusun karya ilmiah mengenai arkeologi. Juru Pelihara lainnya, Subagyo, yang pernah terlibat dalam restorasi Candi Prambanan, menjelaskan bahwa para petugas dibekali dengan literatur teknis seperti Kamus Kecil Arkeologi untuk memberikan penjelasan akurat kepada pengunjung mengenai istilah-istilah perlindungan benda sejarah.

“Kami juga dibekali dengan Kamus Kecil Arkeologi untuk dapat menjelaskan istilah-istilah perlindungan dan pembinaan peninggalan sejarah dan purbakala kepada setiap pengunjung yang datang. Kami ingin tempat ini menjadi ruang belajar terbuka bagi siapa saja, baik warga lokal maupun masyarakat luar daerah seperti dari Bandung hingga Surabaya yang sengaja datang ke sini untuk belajar,” kata Subagyo menjelaskan peran edukasi situs tersebut.

Dengan tata ruang yang representatif, Situs Penampungan Cagar Budaya Seyegan kini bukan lagi sekadar gudang penyimpanan batu kuno. Tempat ini telah bertransformasi menjadi laboratorium sejarah yang memberikan gambaran nyata mengenai jejak peradaban masa lalu bagi generasi mendatang. Di tangan para Juru Pelihara ini, ratusan artefak tersebut tetap hidup dan terjaga sebagai warisan abadi bangsa. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Antisipasi Dampak Negatif Gawai, Masjid Jami’ Darussalam Wedomartani Gelar Pengajian Bareng Ki Jenggot Kucir

Sleman — Mengisi kegiatan di bulan suci Ramadan, Takmir Masjid Jami’ Darussalam Pajangan, Wedomartani, Ngemplak, menggelar kegiatan pengajian sore atau ngabuburit rohani pada Sabtu (21/2/2026). Acara yang berlangsung di serambi masjid tersebut secara khusus menyoroti tantangan berat orang tua di era digital, yakni pesatnya perkembangan teknologi informasi yang mulai mengikis adab dan perilaku generasi muda jika tidak difilter dengan baik.

Ketua Takmir Masjid Jami’ Darussalam, Gunadi, mengungkapkan bahwa inisiatif mengundang pakar dalam pengajian ini didasari atas keprihatinan pengurus takmir terhadap ketergantungan remaja pada gawai. Menurutnya, arus informasi yang tanpa batas saat ini bisa menjadi bumerang bagi tumbuh kembang anak jika tidak dibarengi dengan benteng spiritual yang kokoh. Ia berharap kegiatan ini menjadi pembekalan penting bagi orang tua di wilayah Pajangan agar lebih bijak dalam mendampingi aktivitas digital anak-anak mereka.

“Pesatnya perkembangan teknologi informasi saat ini memberikan dampak besar bagi seluruh lapisan masyarakat, terutama para remaja. Informasi yang tidak terbatas bisa berdampak positif, namun seringkali justru membawa pengaruh negatif jika tidak ada filter khusus. Kami mengundang ahli di bidangnya agar para jamaah bisa lebih memahami peran strategis orang tua dalam menyikapi fenomena gadget dewasa ini. Semoga ilmu yang disampaikan memberikan manfaat nyata bagi ketahanan keluarga kita,” ujar Gunadi di hadapan para jamaah.

Hadir sebagai narasumber utama, Nyadi Kasmoredjo, yang lebih dikenal dengan sapaan Ki Jenggot Kucir. Sosok yang juga dikenal sebagai wartawan dan pegiat sastra di Paguyuban Pasbuja Kawi Merapi ini memberikan analogi bahwa telepon pintar atau gawai diibaratkan seperti pisau bermata dua. Di satu sisi, teknologi ini sangat membantu manusia untuk mencari ilmu pengetahuan dan media dakwah, namun di sisi lain bisa menjadi alat perusak jika digunakan untuk menipu, merundung atau bullying, hingga mengakses konten pornografi.

Nyadi Kasmoredjo menekankan bahwa penggunaan gawai yang salah arah akan sangat merusak mental remaja yang secara psikologis masih labil. Ia mengingatkan para orang tua bahwa pengawasan tidak boleh dilakukan secara otoriter, melainkan melalui pendekatan pendidikan akhlak dan empati yang dimulai dari rumah. Masjid dan sekolah harus menjadi pendukung utama dalam membiasakan adab islami dalam berinteraksi di dunia maya agar teknologi tetap menjadi sarana peningkatan iman dan takwa.

“Penggunaan gawai yang negatif memberikan dampak buruk bagi mental remaja yang masih labil, sehingga diperlukan pengawasan khusus dari orang tua dan lingkungan. Dalam pandangan Islam, teknologi seharusnya digunakan untuk hal yang bermanfaat seperti silaturahmi dan mencari ilmu, bukan untuk bergibah atau melakukan perundungan digital. Kunci pencegahannya adalah penguatan pendidikan akhlak serta meningkatkan keimanan anak melalui pembiasaan adab yang baik di rumah maupun di masyarakat,” tegas Nyadi Kasmoredjo dalam tausiyahnya.

Kegiatan ini ditutup dengan tanya jawab interaktif antara jamaah dan narasumber mengenai tips praktis membatasi durasi penggunaan gawai pada anak. Melalui pengajian ini, Takmir Masjid Jami’ Darussalam berkomitmen untuk terus menjadikan masjid sebagai pusat edukasi sosial bagi warga, tidak hanya sebagai tempat ibadah ritual, tetapi juga sebagai ruang solusi atas problematika kemasyarakatan yang berkembang di era modern. (Kusnadi/KIM Berbah)




“Pelan-Pelan Menuju Tuhan”, Buku dari Anggota KIM Depok yang Tegaskan Spiritualitas Islam Humanis

Sleman — Di tengah percepatan ritme kehidupan modern yang sering kali membuat masyarakat merasa tertekan dan hampa, sebuah karya reflektif berjudul “Pelan-Pelan Menuju Tuhan” resmi hadir sebagai oase spiritual. Buku karya Athiful Khoiri dan Tsania Nur Diyana ini diluncurkan pada Sabtu (21/2/2026) di Sleman, Yogyakarta, dengan mengusung misi besar memperkuat spiritualitas Islam yang humanis, kontekstual, dan relevan bagi masyarakat kontemporer. Penulis mencoba merespons kegelisahan masyarakat yang saat ini terjebak dalam praktik keberagamaan yang cenderung formalistik dan kehilangan esensi batiniahnya.

Buku ini merupakan kumpulan esai reflektif yang mengajak pembaca untuk menapaki jalan spiritual secara sadar dan perlahan. Menariknya, penulis tidak menggunakan pendekatan doktrinal yang kaku atau retorika normatif yang berat. Sebaliknya, pengalaman hidup sehari-hari diposisikan sebagai ruang perjumpaan utama dengan nilai-nilai keimanan. Iman dipahami bukan sebagai sebuah lompatan drastis, melainkan sebuah proses pertumbuhan yang muncul dari kesadaran-kesadaran kecil yang dijalani secara konsisten dalam kehidupan nyata.

Athiful Khoiri, yang juga aktif sebagai Sekretaris Forum Komunikasi Informasi Masyarakat (KIM) Depok Raya, menjelaskan bahwa spiritualitas sejati seharusnya tercermin dalam sikap sosial yang beretika dan berkeadilan. Baginya, iman yang matang tidak akan berhenti pada ritual personal semata, namun harus termanifestasikan dalam tanggung jawab sosial dan relasi yang harmonis antarmanusia. Ia menekankan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta melalui momen-momen paling sederhana sekalipun dalam keseharian mereka.

“Jalan menuju Tuhan tidak selalu ditempuh melalui peristiwa besar atau pencapaian yang megah, melainkan melalui kesadaran-kesadaran sederhana yang terus dipelihara dalam keseharian. Memaafkan, misalnya, bukan hanya bentuk kebaikan kepada orang lain, tetapi juga merupakan proses penyembuhan yang mendalam bagi diri sendiri. Kami ingin menunjukkan bahwa agama adalah kekuatan moral yang sangat dekat dengan realitas hidup kita,” ujar Athiful Khoiri saat memberikan keterangan pada sela peluncuran buku tersebut.

Kekuatan buku ini terletak pada ulasan isu sosial yang sangat aktual dan menyentuh berbagai lapisan masyarakat. Tema-tema seperti fenomena generasi sandwich, realitas anak jalanan, dinamika relasi keluarga, etika dalam politik, hingga integritas individu di ruang digital dibahas secara mendalam. Seluruh isu tersebut diletakkan sebagai medium pembelajaran iman, sehingga agama benar-benar hadir sebagai panduan praktis dalam menghadapi kompleksitas zaman yang semakin menantang.

Kolaborasi antara kedua penulis memberikan perspektif yang kaya dan seimbang. Athiful Khoiri membawa kedalaman refleksi spiritual dan nilai kemanusiaan, sementara Tsania Nur Diyana yang berlatar belakang akademisi sains menyumbangkan pendekatan rasional. Sinergi ini berhasil menautkan antara keyakinan iman dengan nalar ilmiah, menghasilkan sebuah narasi yang mampu menyentuh sisi batin sekaligus memuaskan kejernihan intelektual pembacanya.

Hadirnya buku “Pelan-Pelan Menuju Tuhan” diharapkan menjadi rujukan literasi keislaman kontemporer yang penting bagi keluarga, komunitas literasi, serta lembaga pendidikan. Karya ini tidak hanya bertujuan memperkuat kesadaran spiritual individu, tetapi juga memupuk empati sosial dan pembentukan karakter bangsa. Buku ini menjadi pengingat bahwa keberagamaan yang matang adalah yang tumbuh dengan tenang, sadar, dan selalu berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan yang universal. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Cegah Komplikasi Persalinan, Puskesmas Depok II Perkuat Peran Kader Posyandu Condongcatur

Sleman — Upaya menekan angka kematian ibu dan bayi terus diperkuat di wilayah Kalurahan Condongcatur melalui penguatan kapasitas tenaga sukarela kesehatan. Sebanyak 40 kader Posyandu mengikuti kegiatan koordinasi dan pemantapan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) di Aula Puskesmas Depok II pada Sabtu (21/2/2026). Pertemuan ini menjadi krusial untuk memastikan setiap ibu hamil di wilayah tersebut mendapatkan pendampingan yang tepat dan terencana sejak awal masa kehamilan hingga periode nifas.

Dalam pertemuan tersebut, para kader dibekali pemahaman mendalam mengenai teknis pendataan ibu hamil secara menyeluruh. Fokus utama program ini adalah memastikan pemantauan rutin melalui pelayanan Antenatal Care (ANC) terpadu dapat berjalan maksimal. Deteksi dini terhadap faktor risiko kehamilan menjadi prioritas agar setiap potensi komplikasi saat persalinan dapat diantisipasi sedini mungkin oleh tenaga medis dan lingkungan sekitar.

Pengampu Program P4K Puskesmas Depok II, Lilis Rohani, menekankan bahwa pemeriksaan kehamilan minimal harus dilakukan sebanyak enam kali yang tersebar pada trimester pertama hingga ketiga. Selain pemeriksaan fisik, kader juga diminta aktif memantau kondisi gizi ibu guna mencegah anemia dan Kekurangan Energi Kronis (KEK). Hal ini termasuk memastikan pemberian Multi Micronutrient Supplement (MMS) dikonsumsi dengan baik oleh ibu hamil untuk menunjang kesehatan janin.

“Kader adalah ujung tombak kami di lapangan yang bersentuhan langsung dengan warga. Kami ingin para kader memastikan setiap ibu hamil melakukan skrining lengkap, mulai dari preeklamsia, pencegahan penularan HIV dan hepatitis, hingga pemantauan kesehatan jiwa pada ibu nifas. Peran kader sangat strategis dalam membangun kesadaran masyarakat agar tidak ada lagi ibu hamil yang luput dari pengawasan kesehatan,” ujar Lilis Rohani di hadapan para peserta.

Kegiatan yang berlangsung interaktif ini juga menjadi ajang berbagi pengalaman bagi para kader mengenai tantangan yang mereka temui di lapangan. Beberapa kader mengungkapkan dinamika dalam memberikan pemahaman kepada keluarga mengenai pentingnya persalinan di fasilitas kesehatan yang memadai. Diskusi ini diharapkan dapat menghasilkan solusi bersama agar pendampingan ibu hamil di 18 padukuhan yang ada di Condongcatur semakin solid dan terintegrasi.

Melalui penguatan program P4K ini, kapasitas kader Posyandu diharapkan semakin meningkat dalam mendukung keberhasilan layanan kesehatan ibu dan anak. Kontribusi aktif para kader dalam mendeteksi risiko dan mendampingi rujukan persalinan menjadi faktor penentu dalam menciptakan generasi yang sehat serta menekan angka komplikasi persalinan di tingkat kalurahan. (Tri Suhartati/KIM Depok)




Pererat Silaturahmi, Pemerintah Kalurahan Condongcatur Awali Safari Tarawih Keliling di Masjid Baiturohim Gejayan

Sleman — Pemerintah Kalurahan Condongcatur resmi memulai rangkaian program tahunan Safari Tarawih Keliling (Tarling) untuk menyemarakkan bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Putaran perdana kegiatan ini dilaksanakan di Masjid Baiturohim, Padukuhan Gejayan, pada Jumat (20/2/2026) malam. Aksi jemput bola ini dilakukan sebagai sarana mempererat silaturahmi antara aparatur pemerintahan dengan warga, sekaligus menjadi media penyampaian informasi program pembangunan dan wadah menyerap aspirasi masyarakat secara langsung.

Kegiatan Tarling perdana ini diikuti oleh tim gabungan yang terdiri dari jajaran Pamong, Badan Permusyawaratan Kalurahan (BPKal), lembaga kalurahan seperti PKK, LPMK, dan Karang Taruna, serta didampingi unsur DMI, Forum TPA, hingga Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Dalam kesempatan tersebut, Pemerintah Kalurahan menyerahkan dana infak sebesar kepada takmir masjid, ditambah paket bingkisan berisi Al-Qur’an, kaos, dan peci dari Real Masjid untuk mendukung operasional marbot di 18 titik safari yang telah dijadwalkan.

Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji, menjelaskan bahwa program ini merupakan strategi untuk memastikan komunikasi antara pemerintah dan rakyat tetap terjaga di bulan mulia. Mengingat luasnya wilayah Condongcatur yang memiliki 83 masjid dan 20 musholla, safari di 18 padukuhan ini diharapkan mampu mewakili suara masyarakat dari berbagai sudut wilayah. Reno menegaskan bahwa momentum ini sangat krusial untuk melaporkan perkembangan berbagai forum keagamaan dan seni yang telah dibentuk oleh pemerintah kalurahan.

“Program utama kami di bulan Ramadan adalah berkeliling di 18 masjid padukuhan untuk memastikan silaturahmi tetap terjaga. Saat ini, kami juga telah memperkuat peran Forum TPA, Dewan Masjid Indonesia (DMI) ranting Condongcatur, hingga Forum Rois yang mendapatkan pembekalan langsung dari Kementerian Agama. Selain itu, kami tetap konsisten mendukung sekitar 40 kelompok kesenian religi Hadroh melalui pemberian insentif tahunan agar syiar agama tetap hidup,” ujar Reno Candra Sangaji di hadapan jamaah Masjid Baiturohim.

Dalam dialog bersama warga, Reno juga menginformasikan adanya penyesuaian jam pelayanan Kantor Kalurahan selama Ramadan, yakni Senin sampai Kamis pukul hingga WIB, serta Jumat pukul hingga WIB. Meski ada penyesuaian waktu, ia menjamin kualitas pelayanan tetap prima, salah satunya melalui inovasi program “Semanis Madu” (Selasa Melayani Semua, Mudah, dan Terpadu) yang menghadirkan layanan perpanjangan SIM, Samsat, BPJS, hingga konsultasi hukum di satu tempat.

“Kami ingin memberikan pelayanan yang memudahkan, mendekatkan, dan cepat kepada masyarakat. Melalui program Semanis Madu, berbagai layanan instansi terkait kami bawa langsung ke tengah warga agar masyarakat tidak perlu jauh-jauh mengurus administrasi. Di momen Tarling ini pula, kami membuka ruang seluas-luasnya bagi bapak dan ibu untuk menyampaikan saran maupun kritik membangun demi peningkatan kualitas pelayanan publik kami ke depan,” tambah Reno menekankan pentingnya transparansi.

Rangkaian Safari Tarling 2026 ini akan berlanjut menyisir masjid-masjid di berbagai padukuhan, di antaranya Masjid Al Fattah Prayan Wetan, Darut Taqwa Pringwulung, Sultan Agung Babadan Baru, hingga Real Masjid Gandok. Safari Ramadan ini direncanakan akan ditutup di Masjid Baitussalam Tiyasan, yang dijadwalkan akan dihadiri pula oleh tim dari Kapanewon Depok sebagai bentuk sinergi lintas level pemerintahan di Kabupaten Sleman. (Wasana/KIM Depok)