Posbindu Teratai Putih Dabag Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis Jelang Ramadan

Sleman – Pos Pelayanan Terpadu (Posbindu) Teratai Putih Padukuhan Dabag, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, menyelenggarakan pemeriksaan kesehatan gratis bagi warga usia 15 tahun ke atas, di Gedung Serbaguna Dabag, Minggu (15/2/2026).

Kegiatan yang diikuti 71 peserta ini menjadi bagian dari deteksi dini penyakit tidak menular (PTM), sekaligus persiapan kesehatan masyarakat menjelang bulan Ramadan 1447 Hijriyah.

Kader Posbindu Teratai Putih, Sri Wahyuni, mengatakan bahwa layanan yang diberikan meliputi penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan dan lingkar perut, pemeriksaan tekanan darah, kadar gula darah sewaktu (GDS), asam urat, dan kolesterol.

“Peserta juga memperoleh skrining kesehatan, pemeriksaan langsung oleh dokter Linda Rosita, dan pemberian vitamin untuk mendukung daya tahan tubuh,” ujar dia.

Sri Wahyuni menyampaikan bahwa momentum menjelang Ramadan dimanfaatkan untuk memastikan kondisi kesehatan warga dalam keadaan baik sebelum menjalankan ibadah puasa.

“Melalui pemeriksaan ini, warga dapat mengetahui kondisi kesehatannya lebih awal sehingga dapat mempersiapkan diri menjalani Ramadan dengan aman dan sehat,” ujarnya.

Ia menambahkan, kegiatan Posbindu dirancang sebagai layanan promotif dan preventif berbasis komunitas yang mudah diakses. Selain pemeriksaan fisik, peserta juga memperoleh edukasi terkait pola makan seimbang, pengaturan aktivitas, dan pengelolaan penyakit kronis selama berpuasa.

“Kami mendorong warga untuk rutin memantau kesehatannya agar tetap produktif dan mampu menjalankan ibadah dengan optimal,” katanya.

Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Pemerintah Kabupaten Sleman dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui layanan kesehatan komunitas yang inklusif dan berkelanjutan.

“Posbindu Teratai Putih akan terus melaksanakan pemeriksaan berkala, sebagai langkah preventif guna menjaga kesehatan warga secara menyeluruh,” tandasnya. (Athiful/KIM Depok)




Ubah Kaos Bekas Jadi Produk Bernilai, PKK Padukuhan Kayen Gelar Pelatihan Batik Sibori

Sleman — Kelompok Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Padukuhan Kayen, Condongcatur, menunjukkan komitmennya dalam pemberdayaan perempuan melalui kreativitas yang ramah lingkungan. Melalui Sekolah Keterampilan “Sekar Kemuning”, sebanyak 20 ibu rumah tangga mengikuti pelatihan pembuatan batik Sibori yang berfokus pada pemanfaatan kaos bekas. Kegiatan yang berlangsung di Joglo Suratno Kayen pada Sabtu (14/2/2026) sore ini menjadi langkah nyata dalam meningkatkan kemandirian ekonomi sekaligus menekan limbah tekstil di tingkat rumah tangga.

Inisiatif ini dirancang untuk memberikan bekal keterampilan baru bagi para ibu agar mampu menghasilkan karya yang memiliki nilai jual. Batik Sibori, yang dikenal dengan teknik ikat dan celupnya, dipilih karena prosesnya yang relatif sederhana namun mampu menghasilkan motif unik yang modis. Dengan sentuhan kreativitas, pakaian lama yang sudah tidak terpakai dapat diubah menjadi produk baru yang tampil beda dan memiliki karakter personal bagi pemakainya.

Ketua PKK Padukuhan Kayen, Maria Febriyani, menjelaskan bahwa sekolah keterampilan ini merupakan wadah bagi para ibu untuk tetap produktif di sela-sela waktu luang mereka. Selain untuk konsumsi pribadi, keterampilan ini diharapkan bisa menjadi peluang usaha mikro di tingkat padukuhan. Menurutnya, pemberdayaan yang efektif adalah yang mampu menyentuh langsung aspek keterampilan teknis yang bisa segera diterapkan oleh masyarakat di rumah masing-masing.

“Kami sangat berharap ibu-ibu PKK dapat memanfaatkan Sekolah Keterampilan Sekar Kemuning ini untuk memproduksi kerajinan batik yang berkualitas. Ke depannya, kami akan mengadakan berbagai pelatihan keterampilan lainnya yang memiliki nilai ekonomi. Ini adalah upaya pemberdayaan agar ibu-ibu bisa membantu pendapatan keluarga disamping mengisi waktu luang dengan kegiatan positif,” ujar Maria Febriyani di lokasi pelatihan.

Pelatihan ini dipandu oleh Suci Winarti dan Giyarti yang merupakan tenaga ahli dari Pokja II PKK Kalurahan Condongcatur. Para peserta diajarkan teknik dasar Sibori, mulai dari teknik mengikat kain secara mengerucut menggunakan karet hingga proses pencampuran warna dengan larutan air dan waterglass. Setelah kain diwarnai sesuai selera, peserta diminta mendiamkannya sejenak sebelum ikatan dibuka dan diangin-anginkan selama 24 jam untuk mengunci warna agar tidak luntur saat dicuci tanpa detergen.

Ketua Sekolah Keterampilan Sekar Kemuning, Muslikhah, mengungkapkan bahwa filosofi nama “Sekar Kemuning” menjadi penyemangat bagi organisasi tersebut. Meski secara fisik bunga kemuning berukuran kecil, namun aroma wanginya dapat menyebar luas. Semangat inilah yang ingin ditularkan kepada para peserta agar kreativitas dari Padukuhan Kayen dapat dikenal lebih luas oleh masyarakat melalui karya-karya yang inovatif dan orisinal.

“Setelah lebaran nanti, kami berencana mengadakan pelatihan keterampilan lain yang lebih inovatif. Harapan kami, sesuai filosofi Sekar Kemuning, meskipun kami kelompok kecil, harum prestasi dan kreativitas dari Kayen ini bisa semerbak dan dikenal luas oleh masyarakat melalui karya-karya nyata. Kami ingin meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui sentuhan seni yang unik,” ungkap Muslikhah dengan penuh optimisme.

Salah satu peserta pelatihan, Dwi Sukamti, mengaku sangat terbantu dengan adanya kegiatan ini. Baginya, mengubah kaos polos lama menjadi pakaian dengan motif Sibori yang keren memberikan kepuasan tersendiri. Ia menilai bahwa keterampilan ini sangat aplikatif dan bisa langsung ia praktikkan di rumah menggunakan barang-barang yang sudah ada. Melalui pelatihan ini, warga tidak hanya mendapatkan ilmu baru, tetapi juga kesadaran akan pentingnya mengolah kembali limbah pakaian menjadi barang yang fungsional dan modis. (Wasana/KIM Depok)




Komitmen Tanpa Henti, Andri Putranto Awasi Distribusi Makan Bergizi di Depok Sleman

Sleman – Di balik kelancaran distribusi program makan bergizi di wilayah Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, terdapat sosok yang bekerja memastikan seluruh proses berjalan sesuai standar. Ia adalah Andri Putranto, Asisten Lapangan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Krodan, Kalurahan Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman.

SPPG Krodan saat ini melayani penerima manfaat dari delapan sekolah. Operasional tersebut didukung oleh 50 relawan yang bekerja secara terkoordinasi di bawah pengawasan lapangan.

Adapun delapan sekolah penerima manfaat meliputi TK PKK Maguwoharjo, TK Annur III, TK Arif Rahman Hakim, SD Negeri Nanggulan, SD Negeri Tajem, SD Negeri Timbulharjo, SMP Negeri 3 Depok, dan SMK Negeri 1 Depok.

Dalam struktur pelaksana program, peran asisten lapangan menjadi ujung tombak operasional. Andri memastikan seluruh tahapan, mulai dari pengadaan bahan baku, proses pengolahan, hingga distribusi, berjalan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP).

“Setiap proses harus terpantau dengan baik. Kami memastikan bahan baku berkualitas, pengolahan sesuai standar keamanan pangan, dan makanan diterima siswa dalam kondisi aman serta bergizi,” ujarnya, Senin (16/2/2026).

Setiap hari ia melakukan pengecekan langsung terhadap ketersediaan dan kualitas bahan baku, sistem penyimpanan, sanitasi peralatan, serta kebersihan dapur. Pengawasan juga mencakup penggunaan air bersih dan kondisi kesehatan para karyawan dapur untuk mencegah risiko kontaminasi silang.

Bagi Andri, menjaga higienitas dan konsistensi mutu bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan komitmen profesional.

“Program ini menyangkut kebutuhan gizi anak sekolah. Karena itu, standar keamanan pangan harus ditegakkan tanpa kompromi,” tegasnya.

Selain pengawasan teknis, Andri mengatur jadwal kerja karyawan, mengelola logistik, serta mencatat penggunaan bahan baku sebagai bagian dari sistem pelaporan. Ketepatan waktu distribusi menjadi indikator penting dalam evaluasi harian.

“Distribusi tepat waktu menjadi komitmen kami. Itu semua untuk memastikan makanan tetap layak konsumsi saat diterima di sekolah,” katanya.

Koordinasi dengan pihak sekolah, ahli gizi, dan pemangku kepentingan lainnya juga menjadi bagian dari tanggung jawabnya. Laporan produksi, kendala operasional, dan rekomendasi perbaikan disusun secara berkala untuk mendukung perbaikan berkelanjutan.

Dalam praktik lapangan, Andri turut mendampingi proses pengiriman makanan dan memastikan penerimaan berjalan tertib. Ia juga mengawal pengumpulan kembali wadah makan siswa sebagai bagian dari tata kelola distribusi yang efisien.

Program makan bergizi yang dijalankan melalui SPPG tidak hanya berfokus pada pemberian makanan, tetapi juga pada sistem pengawasan mutu yang terukur dan akuntabel. Di titik inilah peran Andri menjadi strategis dengan menghubungkan kebijakan dengan pelaksanaan teknis di lapangan.

“Ini adalah amanah. Kami bekerja untuk memastikan anak-anak mendapatkan asupan yang sehat dan aman setiap hari,” tuturnya.

Melalui ketelitian, kedisiplinan, dan kemampuan koordinasi yang kuat, Andri menunjukkan bahwa keberhasilan program pemenuhan gizi nasional bertumpu pada profesionalisme pelaksana di lapangan. Di balik ribuan porsi yang tersaji setiap hari, terdapat kerja sistematis yang dijaga dengan integritas dan tanggung jawab. (Athiful/KIM Depok)




Nyadran Semingin Kidul Jelang Ramadan, Warga Panjatkan Doa untuk Leluhur

Sleman — Kegiatan doa bersama atau nyadran di Cungkup Makam Semingin Kidul, Sumbersari, Moyudan, Kabupaten Sleman berlangsung tertib, lancar, dan penuh kekhusyukan, Minggu (15/2/2026). Tradisi tahunan yang digelar menjelang bulan Ramadan ini kembali diikuti lebih dari 70 warga dari berbagai pedukuhan.

Doa bersama dipimpin oleh Ahmad Sahar di area pemakaman Semingin Kidul. Dalam pengantarnya, ia mengajak seluruh peserta untuk mendoakan para leluhur dengan penuh keikhlasan.

“Doa bersama ini merupakan manifestasi dari kita semua, anak cucu, cicit, buyut, canggah, dan seterusnya yang sholih dan sholihah. Kita mendoakan para leluhur yang telah damai di sisi-Nya. Mari kita laksanakan doa ini dengan khidmat, khusyuk, dan ikhlas,” ujarnya.

Sahar menegaskan, orang yang telah meninggal dunia tidak lagi membutuhkan harta benda, melainkan ketulusan dan keikhlasan doa dari keluarga serta keturunannya.

Sementara itu, Dukuh Nasri III, Zamzuri Latif, menyampaikan apresiasi atas partisipasi warga dalam menyukseskan acara. Menurutnya, nyadran bukan hanya mencerminkan kesalehan religi, tetapi juga kesalehan sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

“Kesalehan religi tampak dari pengamalan doa, yakni mendoakan arwah dan leluhur. Sementara kesalehan sosial terlihat dari kerja sama dan gotong royong warga saat menyiapkan maupun melaksanakan acara,” jelasnya.

Ia menambahkan, nilai-nilai seperti kerja sama, guyub rukun, saling membantu, peduli sesama, dan peduli lingkungan telah nyata ditunjukkan warga melalui kegiatan ini.

Selain memperkuat spiritualitas, nyadran juga menjadi ajang mempererat silaturahmi antarwarga. Tidak hanya warga Pedukuhan Nasri dan Semingin, kegiatan ini juga dihadiri warga dari luar kapanewon seperti Godean dan Seyegan yang memiliki ahli waris di pemakaman tersebut.

Latif berharap tradisi ini terus dilestarikan sebagai sarana menjaga keharmonisan dan kebersamaan di tengah masyarakat.

“Kerukunan, keharmonisan, dan kebersamaan dalam hidup bermasyarakat merupakan kunci meraih kesejahteraan bersama,” pungkasnya. (Edy – KIM Sumber Biwara Moyudan)




Sadranan Agung Nitiprojo Pererat Silaturahmi dan Lestarikan Tradisi Leluhur

Sleman — Tradisi Sadranan Agung Tumenggung Nitiprojo digelar dengan penuh khidmat di serambi Masjid Al Ittihad Gerjen. Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari, Jumat-Sabtu (13–14/2/2026). Acara tahunan ini menjadi momentum kebersamaan warga sekaligus wujud penghormatan kepada leluhur.

Rangkaian acara diawali pada Jumat (13/2/2026) dengan Tahlil dan Pengajian Birul Walidain yang disampaikan oleh KH. Nur Jamil. Selanjutnya pada Sabtu (14/2/2026), puncak Sadranan Agung diisi pengajian Birul Walidain oleh KH. Lubait Said dari Tempuran, Magelang.

Sadranan Agung merupakan tradisi Jawa yang dilaksanakan pada bulan Ruwah (Sya’ban) dalam kalender Hijriah. Tradisi ini bertujuan untuk menghormati leluhur, membersihkan makam, serta mempererat tali silaturahmi antarwarga. Di Nitiprojo, kegiatan ini menjadi agenda tahunan yang selalu diselenggarakan secara meriah dan sarat makna.

Selain pengajian sebagai kegiatan inti, rangkaian acara juga meliputi ziarah makam leluhur dan kebersamaan warga. Sesepuh warga, Sugeng Nugroho, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Sadranan Agung merupakan wujud syukur kepada Tuhan atas kesehatan sekaligus bentuk penghormatan kepada leluhur serta upaya nguri-uri budaya.

“Sadranan Agung ini bukan sekadar tradisi turun-temurun, tetapi juga sarana memperkuat rasa handarbeni antarwarga,” ujar Sugeng. Kalau bukan kita yang menjaga budaya ini, siapa lagi yang akan meneruskan kepada anak cucu kita,” ujar Sugeng.

Selanjutnya, Lurah Margomulyo, Eko Puji Mulyanto menuturkan bahwa mengusung tema “Ngaruat leluhur ngraketake paseduluran”, kegiatan ini menjadi simbol persatuan warga.

“Kegiatan ini menjadi simbol persatuan warga dan pelestarian kearifan lokal agar tidak tergerus arus modernisasi,” tandasnya.

Sementara itu, dalam tausiyahnya, KH. Lubait Said selaku penceramah menekankan bahwa makna silaturahmi dalam tradisi Sadranan atau Nyadran sangat mendalam.

“Silaturahmi dalam Sadranan ini adalah ikhtiar menyambung yang terputus, merekatkan yang renggang, dan menguatkan yang sudah terjalin. Ketika kita mendoakan leluhur, sesungguhnya kita sedang menanam kebaikan untuk generasi setelah kita,” jelasnya.

Tradisi ini menjadi ajang berkumpulnya kembali warga desa, baik yang menetap maupun yang merantau. Jika dahulu kebersamaan ditandai dengan kembul bujono atau makan bersama. Maka dalam beberapa tahun terakhir panitia menggantinya dengan pembagian berkat berupa bahan makanan seperti beras, telur, mi instan, dan gula pasir. Seluruhnya berasal dari swadaya masyarakat sebagai simbol persamaan derajat, gotong royong, dan berbagi rezeki.

Selanjutnya ziarah kubur atau besik juga menjadi bagian penting dalam tradisi ini. Warga membersihkan makam leluhur dan mendoakan arwah agar mendapat tempat mulia di sisi Tuhan, sekaligus sebagai pengingat akan kematian dan pentingnya menjaga amal kebaikan. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)