Siapkan Keberangkatan 181 Calon Jamaah, Kementerian Haji dan Umrah Gelar Manasik Terintegrasi di Sleman

Sleman — Persiapan keberangkatan menuju Tanah Suci untuk musim haji 1447 Hijriyah mulai memasuki tahapan krusial di Kabupaten Sleman. Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia resmi menggelar Manasik Haji Terintegrasi tingkat Kabupaten/Kota yang dipusatkan di Aula MAN 2 Sleman pada Sabtu (14/2/2026). Sebanyak 181 calon jamaah haji asal Kapanewon Depok mengikuti pembekalan intensif ini sebagai langkah awal memastikan kelancaran rukun Islam kelima tersebut.
Pembekalan ini menjadi sangat penting mengingat ibadah haji menuntut kesiapan yang matang, baik dari sisi pemahaman tata cara ibadah maupun ketahanan fisik. Jamaah asal Kapanewon Depok sendiri terdiri dari 170 jamaah reguler ditambah 11 jamaah mutasi dari luar wilayah. Melalui kegiatan ini, pemerintah berupaya menyatukan persepsi dan memberikan gambaran riil mengenai situasi di Arab Saudi, terutama dengan adanya koordinasi di bawah kementerian yang baru dibentuk, yaitu Kementerian Haji dan Umrah.
Panewu Depok, Djoko Muljanto, dalam arahannya menekankan bahwa ibadah haji adalah momentum besar untuk memperkuat ketaatan dan persatuan umat. Ia mengingatkan para jamaah bahwa pelayanan maksimal dari pemerintah harus diimbangi dengan kedisiplinan pribadi, terutama dalam menjaga kesehatan selama masa tunggu hingga pelaksanaan di Tanah Suci. Kesiapan mandiri dinilai menjadi kunci utama agar jamaah dapat menjalankan seluruh rangkaian wajib dan sunnah haji dengan sempurna.
“Ibadah haji adalah rukun Islam yang wajib bagi yang mampu. Ibadah ini mengajarkan ketaatan, pengorbanan, dan memperkuat persatuan umat. Kami sangat berharap, jika berangkat 181 jamaah, maka pulang juga harus 181 jamaah dalam kondisi sehat. Jamaah harus menjaga diri dan kesehatan masing-masing. Pemerintah sudah maksimal dalam pelayanan, dan itu harus diimbangi dengan persiapan mandiri yang baik agar semua berjalan lancar,” ujar Djoko Muljanto di hadapan para jamaah.
Kepala KUA Depok, Abu Hanifah, menjelaskan bahwa manasik kali ini dirancang dengan metode yang sangat komprehensif selama lima hari. Rinciannya, empat hari pertama jamaah akan menerima materi klasikal berupa teori mendalam, dan pada hari terakhir akan dilaksanakan praktik lapangan di Tempelsari, Maguwoharjo. Materi yang diberikan disusun secara kronologis berdasarkan tahapan lokasi pelaksanaan haji, mulai dari pemberangkatan hingga prosesi di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
“Setiap materi kami susun sesuai lokasi pelaksanaan haji, sehingga jamaah mendapatkan gambaran utuh terkait rangkaian ibadah di Tanah Suci. Penyelenggaraan tahun ini terasa lebih spesial karena adanya embarkasi baru di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan tagline ‘Berangkat dari Tanah Istimewa menuju Tanah Suci’. Kami ingin memastikan para tamu Allah ini mendapatkan pelayanan yang paling optimal dan pembekalan yang benar-benar matang,” kata Abu Hanifah menjelaskan inovasi layanan haji tahun ini.
Melalui manasik terintegrasi ini, Kementerian Haji dan Umrah berkomitmen untuk mengawal jamaah sejak dini agar tidak mengalami kendala teknis saat berada di Arab Saudi. Keberadaan kementerian baru ini diharapkan membawa perubahan signifikan dalam tata kelola haji yang lebih responsif dan inklusif. Pemerintah memastikan bahwa setiap calon jamaah mendapatkan hak informasi dan bimbingan yang layak demi mewujudkan haji yang mabrur dan penyelenggaraan yang bermartabat. (Athiful/KIM Depok)



