Perkuat Pendidikan Humanis, Mohammad Yasfi Kandias Dorong Kesehatan Mental sebagai Fondasi Sistem Sekolah

Sleman – Kabupaten Sleman terus mendorong penguatan kualitas pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada kesejahteraan jiwa peserta didik. Komitmen tersebut tercermin dalam kiprah Mohammad Yasfi Kandias, pegiat psikologi pendidikan yang menempatkan kesehatan mental sebagai fondasi utama sistem pendidikan.

Ketertarikannya pada psikologi berawal dari pengalaman personal saat menempuh pendidikan di pesantren. Ia menyaksikan seorang kawan yang mengalami tekanan psikologis akibat perundungan yang terselubung dalam praktik pendisiplinan kolektif.

“Pengalaman itu menyadarkan saya bahwa sistem, sekuat apa pun secara spiritual dan struktural, akan menjadi tumpul jika kehilangan sensitivitas membaca kebutuhan jiwa yang paling subtil,” ungkapnya, di Fakultas Psikologi UGM, Jum’at (13/2/2026).

Pengalaman tersebut membentuk orientasi akademiknya. Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Psikologi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan melanjutkan studi S-2 di Magister Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), dengan fokus pada psikologi pendidikan dan psikometri.

Pilihan tersebut, menurutnya, lahir dari kegelisahan terhadap sistem pendidikan yang kerap terlalu menekankan capaian intelektual, namun abai terhadap dinamika psikologis individu.

Baginya, apa yang tidak terukur secara akurat sering kali dianggap tidak ada oleh sistem. Karena itu, psikometri diposisikan bukan sekadar instrumen statistik, melainkan alat validasi empiris untuk membaca dinamika jiwa secara presisi.

“Psikometri bukan hanya angka. Ia adalah cara memaksa sistem melihat apa yang selama ini tersembunyi,” ujarnya.

Dalam konteks generasi muda, ia menyoroti fenomena krisis identitas yang ditandai kebingungan arah hidup dan kecemasan eksistensial dini. Banyak remaja, menurutnya, berada pada kondisi languishing, yaitu tidak mengalami gangguan klinis yang jelas, namun juga tidak berkembang secara optimal. Kondisi ini kerap luput dari perhatian karena dampaknya bersifat laten dan jangka panjang.

Sebagai kontribusi konkret, ia mengembangkan instrumen Adaptive Leadership bagi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK). Instrumen ini dirancang untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data (data-driven decision making) dalam proses seleksi, rekrutmen, hingga pengembangan karier tenaga pendidik.

“Melalui pendekatan ini, lembaga pendidikan saya harap mampu mengidentifikasi fleksibilitas kognitif dan ketangguhan tenaga pendidik dalam menghadapi disrupsi pembelajaran,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa penguasaan alat ukur merupakan tanggung jawab moral. Data harus menjadi sarana memuliakan martabat manusia, bukan sekadar alat klasifikasi. “Jangan berhenti pada angka atau label diagnosis. Gunakan data untuk memvalidasi narasi mereka yang terpinggirkan oleh sistem,” pesannya.

Kiprah ini memperkuat arah pembangunan pendidikan di Kabupaten Sleman yang semakin menempatkan kesehatan mental sebagai bagian integral dari mutu layanan pendidikan. “Integrasi antara sains, empati, dan data menjadi langkah strategis untuk membangun ekosistem belajar yang humanis, adaptif, dan berkelanjutan,” pungkasnya. (Athiful/KIM Depok)




Nurul Chotimah Kembali Pimpin FORKOM UMKM Sukoharjo 2026–2029, Perkuat Sinergi dan Pemberdayaan Pelaku Usaha

Sleman – Nurul Chotimah kembali dipercaya memimpin Forum Komunikasi UMKM (FORKOM UMKM) Sukoharjo untuk masa bakti 2026–2029. Ia resmi dilantik dan dikukuhkan bersama jajaran pengurus baru dalam acara pelantikan yang berlangsung di Aula kalurahan Sukoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, pada Kamis (12/2/2026).

Pelantikan tersebut dihadiri Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Makwan, Ketua FORKOM UMKM Kabupaten Sleman, Ardi Suhemi, perwakilan pemerintah kalurahan, pengurus FORKOM UMKM, dan pelaku UMKM dari berbagai sektor usaha. Acara berlangsung khidmat dan menjadi momentum penguatan organisasi UMKM di tingkat kalurahan.

Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Makwan, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat kepada pengurus FORKOM UMKM Sukoharjo yang baru saja dilantik. Ia menegaskan bahwa peran UMKM sangat strategis dalam menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi daerah.

“Selamat kepada pengurus FORKOM UMKM Sukoharjo periode 2026–2029. Saat ini adalah waktu yang sangat tepat untuk mulai mempersiapkan diri, karena dalam waktu dekat kita akan menghadapi momentum besar, yakni bulan suci Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri,” kata Makwan.

Menurut Makwan, Ramadan dan Idul Fitri selalu menjadi pengungkit utama aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya sektor UMKM. Oleh karena itu, ia mendorong para pelaku usaha agar mampu membaca peluang pasar dan meningkatkan kapasitas produksi sejak dini.

“Momentum Ramadan dan Idul Fitri ini harus- dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Pelaku UMKM harus siap, baik dari sisi produk, kualitas, maupun distribusi. Ekonomi di Sleman harus terus bergerak dan tidak boleh berhenti,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua FORKOM UMKM Kabupaten Sleman, Ardi Suhemi, menyampaikan bahwa peluang pengembangan UMKM ke depan semakin terbuka, seiring dengan keterlibatan UMKM dalam program-program pemerintah berskala besar.

Ardi mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil rapat koordinasi program UMKM, FORKOM UMKM bersama KDMP (Koperasi Desa Merah Putih) akan digandeng dalam pengadaan makanan kering untuk mendukung Program MBG (Makan Bergizi Gratis).

“Program Makan Bergizi Gratis ini melayani ribuan penerima manfaat setiap hari. UMKM akan dilibatkan sebagai penyedia makanan kering. Potensi omsetnya sangat besar, bisa mencapai miliaran rupiah setiap hari. Ini merupakan peluang nyata bagi UMKM untuk naik kelas,” ujar Ardi Suhemi.

Ia menambahkan, keterlibatan UMKM dalam program tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi, memperluas jaringan pemasaran, serta menciptakan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.

Ketua FORKOM UMKM Sukoharjo terlantik, Nurul Chotimah, dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih atas kepercayaan yang kembali diberikan kepadanya untuk memimpin FORKOM UMKM Sukoharjo. Ia menegaskan komitmennya untuk memperkuat peran FORKOM sebagai wadah komunikasi, pendampingan, dan pengembangan UMKM.

“Terima kasih atas amanah yang kembali diberikan kepada saya dan seluruh pengurus. Ini merupakan tanggung jawab bersama untuk mendorong UMKM Sukoharjo agar semakin berdaya dan mandiri,” ungkap Nurul Khotimah.

Nurul menekankan bahwa FORKOM UMKM Sukoharjo akan fokus pada penguatan kapasitas pelaku usaha, peningkatan kualitas produk, serta perluasan akses pasar, baik melalui kegiatan pelatihan maupun kolaborasi dengan berbagai pihak.

“Kami akan memperkuat sinergi dengan pemerintah, lembaga pendamping, dan pelaku usaha lainnya. Tantangan ke depan semakin besar, tetapi peluang juga terbuka lebar, UMKM Sukoharjo harus siap agar tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh menjadi besar,” katanya.

Ia juga menyambut baik rencana keterlibatan UMKM dalam Program Makan Bergizi Gratis, yang dinilai dapat menjadi langkah strategis untuk meningkatkan skala usaha pelaku UMKM lokal.

“Kami melihat program ini sebagai peluang besar bagi UMKM Sukoharjo.

 Dengan pendampingan yang tepat, kami optimistis pelaku UMKM mampu memenuhi standar dan kebutuhan program, sehingga manfaat ekonominya bisa dirasakan secara berkelanjutan,” pungkas Nurul.

Dengan kepengurusan baru tersebut, FORKOM UMKM Sukoharjo diharapkan mampu memperkuat jejaring usaha, meningkatkan daya saing produk lokal, serta berkontribusi nyata dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sleman. (Upik wahyuni/ KIM Ngaglik)




Sekretariat DPRD dan ASN Sleman Semarakkan Pasar Cebongan melalui Program GEMPAR

Sleman — Aksi belanja bersama sebagai implementasi Gerakan Meramaikan Pasar Rakyat (GEMPAR) digulirkan Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Aparatur Sipil Negara (ASN) dan unsur perangkat daerah, Jumat (13/2/2026). Kegiatan berlangsung pukul – WIB di Pasar Cebongan, Kapanewon Mlati.

Berdasarkan Surat Edaran Sekretaris Daerah Sleman Nomor 0090 Tahun 2026 tentang GEMPAR tertanggal 11 Februari 2026, Sekretariat DPRD, Dinas Pemuda dan Olahraga, dan Kapanewon Mlati dijadwalkan berbelanja di Pasar Cebongan.

Edaran tersebut juga menginstruksikan seluruh perangkat daerah dan BUMD untuk menggerakkan ASN maupun non-ASN agar berbelanja di pasar rakyat sesuai jadwal yang ditentukan, mengajak masyarakat, serta mempublikasikan kegiatan melalui media sosial dengan tagar #Gempar #Pasar #PasarTradisional #SlemanSembada #JogjaIstimewa #Perindag #PerindagSleman.

Pantauan di lapangan menunjukkan antusiasme ASN, terutama dari Sekretariat DPRD Sleman, yang membeli berbagai kebutuhan pokok seperti sayur-mayur, telur, cabai, dan bumbu dapur dari lapak pedagang. Suasana tawar-menawar berlangsung hangat dan menciptakan atmosfer pasar yang lebih ramai pada jam-jam pagi. Sejumlah pedagang mengaku merasakan peningkatan transaksi dibandingkan hari biasa.

“Sejak pagi pembeli berdatangan sehingga dagangan cepat habis. Semoga kegiatan seperti ini berkelanjutan agar perputaran uang di pasar tradisional tetap hidup,” ungkap salah satu pedagang.

Kehadiran ASN sebagai pembeli dinilai memberi efek psikologis positif karena menumbuhkan kepercayaan masyarakat untuk kembali berbelanja di pasar rakyat. Program GEMPAR pun tidak sekadar bersifat seremonial, melainkan menjadi kebijakan konkret untuk menjaga ekosistem pasar tradisional. Dengan belanja institusional yang terjadwal, pemerintah daerah berupaya menciptakan lonjakan permintaan terencana agar omzet pedagang meningkat, UMKM bergerak, serta produk dalam negeri terserap optimal.

Perwakilan Sekretariat DPRD Sleman, Arief Hartanto melaporkan bahwa Pasar Cebongan memiliki posisi strategis sebagai simpul ekonomi warga Mlati sehingga perlu terus dirawat dan ditingkatkan daya tariknya.

Sementara itu, Sekretaris DPRD Sleman, Muhamad Aji Wibowo, menegaskan dukungan kelembagaan terhadap program GEMPAR.

“Instruksi Sekda jelas berbelanja di pasar rakyat, mengajak masyarakat, dan mempublikasikan. Kami patuh karena ini bagian dari upaya P3DN dan penguatan UMKM lokal. Kehadiran kami hari ini adalah bentuk keberpihakan pada ekonomi kerakyatan,” ujarnya.

Ia juga mendorong agar setiap perangkat daerah melakukan evaluasi dampak kegiatan, termasuk memetakan komoditas yang paling laris guna memperkuat rantai pasok lokal.

Secara kebijakan, GEMPAR dirancang untuk menjawab tantangan penurunan trafik pasar tradisional akibat pergeseran perilaku belanja masyarakat. Melalui konsolidasi belanja ASN pada hari tertentu, Pemkab Sleman berharap pasar rakyat tetap menjadi pusat aktivitas ekonomi yang diandalkan masyarakat, sekaligus memperkuat reputasinya sebagai ruang transaksi yang aman, nyaman, dan berdaya saing. (Arief Hartanto KIM Kertomandiri)




Semarak Songsong Ramadan, Siswa SD Muhammadiyah Kayen Gelar Pawai dan Bagikan 50 Paket Sembako

Sleman – Lima hari menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 H, sejumlah sekolah mulai menggelar berbagai kegiatan untuk menyambut bulan penuh berkah tersebut. Salah satu tradisi yang rutin dilaksanakan adalah pawai taaruf atau pawai Ramadan dengan membawa poster bertuliskan “Marhaban Ya Ramadan” dan pesan-pesan kebaikan.

Seperti terlihat pada Jumat (13/2/2026), ratusan siswa SD Muhammadiyah Kayen, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, menggelar Pawai Songsong Ramadan 1447 H dengan penuh semangat.

Barisan paling depan diisi tim drumband sekolah yang menambah semarak suasana. Para siswa membawa berbagai poster bertema Ramadan sekaligus menyebarkan pesan kebaikan kepada masyarakat di sepanjang rute yang dilalui. Dalam kegiatan tersebut, siswa juga membagikan 50 paket sembako kepada warga yang ditemui atau yang menyaksikan pawai.

Kepala SD Muhammadiyah Kayen, Estri Rukmiyanti menjelaskan bahwa kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap tahun menjelang Ramadan.

“Kegiatan ini bertujuan untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan, sebagai syiar Islam dan syiar sekolah, serta memberikan semangat kepada siswa-siswi untuk menanamkan nilai-nilai agama dan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya bulan Ramadan,” jelas Estri.

Pawai diikuti seluruh siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 dengan jumlah total 288 siswa, didampingi 21 guru dan karyawan. Para siswa mengenakan seragam sesuai jenjang kelas masing-masing. Kelas 1 memakai kaos olahraga, kelas 2 seragam IPM, kelas 3 seragam Tapak Suci lengkap dengan sabuk, kelas 4 seragam Hizbul Wathan (HW). Sedangkan kelas 5 dan 6 mengenakan busana muslim berupa gamis untuk putri dan baju koko beserta peci untuk putra.

Estri menambahkan, melalui pawai ini anak-anak dapat merasakan bahwa Ramadan adalah bulan istimewa yang berbeda dari bulan lainnya. Mereka juga belajar memahami pentingnya ibadah puasa dan bagaimana mempersiapkan diri menyambut Ramadan dengan sebaik-baiknya.

Sementara itu, salah satu guru SD Muhammadiyah Kayen, Dhuhana Salsabila, menyampaikan bahwa rute pawai mengelilingi Kampung Kayen dan berakhir di kawasan Green Kayen.

“Di Green Kayen siswa akan mendapatkan edukasi dan pembekalan pengetahuan tentang Ramadan, seperti hafalan doa salat (doa iftitah), pengetahuan tentang hal-hal yang membatalkan puasa, salat tarawih, tadarus Al-Qur’an, serta dilanjutkan dengan makan pagi bersama di Pendopo Green Kayen,” jelasnya.

Melalui kegiatan tersebut, diharapkan para siswa tidak hanya meramaikan syiar Ramadan, tetapi juga semakin memahami makna ibadah dan nilai kepedulian sosial sejak usia dini. (Wasana / KIM Depok)




Guyup Rukun Sambut Ramadan, Warga Prayan Gelar Tradisi Nyadran di Masjid Prayan Raya

Sleman – Ratusan warga Prayan Wetan dan Prayan Kulon, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman berkumpul di Masjid Prayan Raya untuk mengikuti kegiatan “Prayan Nyadran”, Kamis (12/2/2026).

Mengusung tema “Guyup Rukun, Nglestarekake Budaya”, tradisi ini menjadi momentum penting masyarakat dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 H. Acara diisi dengan doa bersama dan ditutup dengan tradisi kembul bujono atau makan bersama sebagai simbol kebersamaan dan gotong royong.

Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji, dalam sambutannya memberikan apresiasi atas inisiatif warga yang terus melestarikan tradisi leluhur tersebut.

“Nyadran berasal dari bahasa Sanskerta, yakni sraddha yang berarti keyakinan. Awalnya tradisi ini berkaitan dengan kepercayaan animisme, kemudian mengalami akulturasi dengan budaya Islam setelah masuknya ajaran Islam ke Pulau Jawa melalui Wali Songo. Transformasi ini menjadikan nyadran sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas berkah yang diberikan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, seiring perkembangan zaman, nyadran tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga sarana pelestarian nilai sosial dan budaya. Tradisi ini menjaga keharmonisan antarwarga melalui kegiatan gotong royong, seperti membersihkan makam leluhur dan makan bersama sebagai simbol kebersamaan.

“Nyadran adalah warisan budaya turun-temurun yang membuktikan bahwa kearifan lokal mampu bertahan dan tetap relevan di tengah masyarakat, termasuk di wilayah Kalurahan Condongcatur,” tambahnya.

Sementara itu, Dukuh Soropadan, Shalahudin Kamal, menegaskan bahwa kegiatan tersebut memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar seremonial tahunan.

“Kegiatan ini bukan hanya ritual tahunan, melainkan wujud nyata dari kerukunan dan keguyuban warga Prayan yang harus selalu kita jaga erat,” ujarnya.

Sebagai simbol rasa syukur dan permohonan keberkahan, puncak acara ditandai dengan prosesi pemotongan tumpeng oleh Lurah Condongcatur yang kemudian diserahkan kepada perwakilan tokoh masyarakat. Prosesi ini menjadi tanda dimulainya persiapan batin warga dalam memasuki bulan puasa.

Pembacaan doa dan tahlil bersama dipimpin oleh rois setempat dengan lantunan doa untuk arwah para leluhur serta permohonan keselamatan dan keberkahan bagi seluruh lingkungan Prayan.

Rangkaian kegiatan “Prayan Nyadran” ditutup dengan kenduri sederhana. Seluruh warga tanpa memandang status sosial duduk melingkar menikmati hidangan bersama. Hadir pula para pemangku wilayah, antara lain Dukuh Kaliwaru, para Ketua RT dan RW se-wilayah Prayan, serta rois Soropadan dari Prayan Wetan dan Prayan Kulon.

Tradisi makan bersama tersebut semakin mempertegas suasana kekeluargaan yang kental, memastikan tali silaturahmi antarwarga Prayan tetap solid menjelang datangnya Ramadan. (Wasana KIM Depok)