UMKM Berbah Ikuti Bimtek Pemasaran, Dinkop Sleman Tekankan Strategi Marketing Mix 4P

Sleman – Sebaik apa pun sebuah produk, jika salah dalam strategi pemasaran maka hasilnya bisa sia-sia. Untuk itu, marketing atau pemasaran menjadi ujung tombak keberhasilan suatu usaha.

Hal tersebut disampaikan Fasilitator Perdagangan Dinas Koperasi Kabupaten Sleman, Diaz Aprila Kurniawan, dalam kegiatan bimbingan teknis (bimtek) pemasaran bagi UMKM Kapanewon Berbah, Selasa (10/2/2026), di Ruang Pertemuan Gumregah Lantai 2 Kantor Kapanewon Berbah, Sleman.

Menurut Diaz, salah satu strategi pemasaran yang penting dipahami pelaku usaha adalah marketing mix atau bauran pemasaran. Marketing mix merupakan strategi yang terdiri dari beberapa elemen untuk membangun respons target market (konsumen) dengan menghadirkan produk yang tepat, pada waktu dan tempat yang tepat.

“Dalam konsep bauran pemasaran terdapat empat komponen yang dikenal dengan 4P, yaitu Product, Price, Place, dan Promotion,” jelas Diaz.

Kegiatan tersebut dihadiri Panewu Anom Berbah, Nor Bramantyo, Kawat Kemakmuran, Ringgo Anthoni Suryo, Ketua Forkom UMKM Berbah, Sri Andayani, beserta pengurus dan anggota.

Diaz menjelaskan, komponen pertama adalah product atau produk, yakni barang atau jasa yang ditawarkan kepada target pasar untuk memenuhi kebutuhan mereka.

“Produk harus memiliki fungsi dan keunggulan yang jelas agar mampu bersaing dan diterima konsumen,” jelasnya.

Komponen kedua adalah price atau harga. Penetapan harga harus direncanakan dengan mempertimbangkan kesesuaian dengan target market, serta tetap memberikan keuntungan bagi pelaku usaha.

Selanjutnya, komponen ketiga adalah place atau tempat. Aspek ini mencakup lokasi produksi, sistem distribusi, hingga bagaimana produk sampai dan diterima konsumen.

Adapun komponen keempat adalah promotion atau promosi. Promosi menjadi sarana untuk menarik perhatian target market hingga akhirnya menjadi konsumen loyal. Karena itu, promosi perlu digencarkan secara konsisten.

“Promosi suatu produk bisa dilakukan secara langsung maupun melalui media sosial, baik media cetak maupun media online,” ujar Diaz.

Melalui bimtek ini, pelaku UMKM Berbah diharapkan semakin memahami pentingnya strategi pemasaran yang tepat, sehingga mampu merencanakan, mengembangkan, dan melaksanakan pemasaran secara lebih efektif. Selain itu, penerapan marketing mix juga dinilai dapat membantu pelaku usaha menghemat biaya, meminimalkan risiko, serta memastikan produk yang ditawarkan benar-benar sesuai kebutuhan pasar. (Kusnadi KIM Berbah)




Dinsos Sleman Salurkan Bantuan Kursi Roda untuk Lansia Rentan di Condongcatur

Sleman – Dinas Sosial Kabupaten Sleman kembali menunjukkan komitmennya dalam memberikan pelayanan dan perlindungan sosial melalui penyaluran bantuan kursi roda kepada lansia rentan di wilayah Karangasem Gempol, Kalurahan Condongcatur, Rabu (11/2/2026). Bantuan tersebut diberikan kepada Suwarto sebagai penerima manfaat.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut anggota DPRD Kabupaten Sleman, Dedie Kesuma, perwakilan Dinas Sosial Kabupaten Sleman, Tenaga Pelopor Sosial Kecamatan (TPSK), Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), pemangku wilayah setempat, serta para kader masyarakat yang selama ini aktif mendampingi warga. Kehadiran berbagai unsur ini menjadi wujud sinergi dan kolaborasi dalam pelayanan sosial kepada masyarakat.

Kegiatan penyaluran berlangsung tertib, lancar, dan penuh rasa kepedulian. Bantuan kursi roda ini merupakan bentuk perhatian Pemerintah Kabupaten Sleman, dalam meningkatkan kualitas hidup lansia, khususnya yang mengalami keterbatasan mobilitas dan membutuhkan sarana penunjang untuk aktivitas sehari-hari.

Dalam kesempatan tersebut, Dedie Kesuma berharap bantuan kursi roda yang diberikan dapat dimanfaatkan secara optimal.

“Sehingga Suwarto dapat menjalankan aktivitas sehari-harinya dengan nyaman dan mandiri,” katanya.

Melalui sinergi antara Dinas Sosial, DPRD, unsur kewilayahan, dan kader masyarakat, pelayanan sosial bagi warga yang membutuhkan, khususnya lansia rentan, diharapkan terus meningkat. Bantuan ini tidak hanya menjadi sarana penunjang mobilitas, tetapi juga menjadi wujud kepedulian bersama dalam mewujudkan lansia yang lebih mandiri, nyaman, dan berdaya. (Tri Suhartati KIM Depok)




Kader IMP Sleman Perkuat Komitmen Turunkan Stunting, Angka Turun Jadi 4,21 Persen

Sleman – Pertemuan kader Institusi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan (IMP) Kabupaten Sleman berlangsung penuh semangat dan komitmen dalam mendukung program pembangunan keluarga serta percepatan penurunan stunting. Kegiatan tersebut digelar di Aula Kencana Dinas P3AP2KB Kabupaten Sleman, Rabu (11/2/2026).

Pertemuan ini dihadiri Kepala Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga Dinas P3AP2KB Kabupaten Sleman, Daroji. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh kader IMP atas dedikasi dan peran aktif dalam mendukung Program Bangga Kencana serta percepatan penurunan stunting di Kabupaten Sleman.

Daroji mengungkapkan, berkat sinergi dan kerja keras seluruh pihak, angka stunting di Kabupaten Sleman berhasil menurun dari 4,51% menjadi 4,21%. Capaian tersebut menjadi bukti nyata kontribusi kader IMP di lapangan melalui pendampingan keluarga berisiko stunting, edukasi, serta intervensi berbasis masyarakat.

“Keberhasilan ini tidak lepas dari kerja keras dan komitmen para kader IMP. Semoga semangat ini terus terjaga dalam mewujudkan generasi sehat, berkualitas, dan menyongsong Indonesia Emas 2045,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu juga disampaikan penguatan terkait peran dan fungsi IMP sebagai wadah partisipasi masyarakat dalam pengelolaan Program Kependudukan, Keluarga Berencana, dan Pembangunan Keluarga (Bangga Kencana). Kader IMP memiliki fokus tugas pada kegiatan Tribina dan UPPKA, verifikasi dan validasi (verval) keluarga berisiko stunting, serta dukungan program Quick Win dalam percepatan penurunan stunting.

Pertemuan dihadiri kader IMP perwakilan dari masing-masing kapanewon se-Kabupaten Sleman. Kehadiran para kader menunjukkan komitmen bersama dalam memperkuat peran IMP sebagai garda terdepan pembangunan keluarga di tingkat desa dan kelurahan.

Materi pertemuan disampaikan Dyah Cahyaning, yang memberikan penguatan terkait fokus tugas kader IMP, termasuk pentingnya pendataan akurat, pendampingan keluarga berisiko stunting secara berkelanjutan, serta strategi intervensi yang tepat sasaran.

Melalui pertemuan ini diharapkan koordinasi dan sinergi antar kader semakin solid, sehingga program percepatan penurunan stunting di Kabupaten Sleman dapat terus berjalan optimal dan berkelanjutan demi terwujudnya keluarga berkualitas dan generasi unggul. (Tri Suhartati KIM Depok)




Perkuat Urban Farming, BUMKal Sari Dewi Maguwoharjo Lakukan Penanaman Perdana Melon

Sleman – Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) Sari Dewi Sembego, Kalurahan Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman melaksanakan penanaman perdana bibit melon, pada Rabu (11/2/2026).

Penjabat Lurah Maguwoharjo, Isti Fajaroh, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan keluarga, khususnya di wilayah perkotaan seperti Kalurahan Maguwoharjo dan Kapanewon Depok.

“Penanaman melon ini sangat penting untuk meningkatkan ketahanan pangan keluarga, terutama di kawasan perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan. Melalui pengembangan pertanian produktif, kami mendorong masyarakat agar lebih mandiri dan berdaya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, komoditas melon dipilih karena proses budidayanya relatif mudah, perawatannya tidak rumit, cukup tahan terhadap hama, serta memiliki cita rasa manis yang diminati masyarakat. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari pengembangan urban farming di tingkat kalurahan.

“Kami ingin menghadirkan model pertanian perkotaan yang produktif dan mampu menarik minat petani milenial di Kabupaten Sleman. Pertanian harus dilihat sebagai sektor yang modern dan memiliki prospek ekonomi,” tegasnya.

Direktur BUMKal Sari Dewi Maguwoharjo, Sumaryono, menambahkan bahwa pengembangan budidaya melon direncanakan secara bertahap. Ke depan, BUMKal menargetkan penanaman hingga bibit melon di lahan seluas meter persegi sebagai bagian dari penguatan unit usaha pertanian.

“Penanaman perdana ini menjadi tahap awal. Ke depan, kami menyiapkan pengembangan hingga bibit melon. Selain itu, BUMKal juga akan mengembangkan usaha ayam petelur serta greenhouse tanaman selada dan komoditas hortikultura lainnya,” jelasnya.

Ia juga membuka peluang pengembangan komoditas lain seperti brambang serta perintisan kawasan wisata edukatif berbasis pertanian yang ramah anak dan keluarga.

Menurutnya, melalui kegiatan ini, Pemerintah Kalurahan Maguwoharjo bersama BUMKal Sari Dewi menegaskan komitmennya untuk mengoptimalkan potensi lokal dalam mendukung ketahanan pangan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta penguatan urban farming secara berkelanjutan di wilayah Kapanewon Depok.

Sementara Anggota DPRD Kabupaten Sleman, Budi Sanyoto, mengapresiasi langkah BUMKal Sari Dewi dalam mengoptimalkan potensi desa untuk mendukung ketahanan pangan dan penguatan ekonomi masyarakat.

“Kami mendukung penuh inisiatif pengembangan urban farming ini. Program seperti ini sejalan dengan upaya Pemerintah Kabupaten Sleman dalam memperkuat kemandirian pangan dan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat, termasuk generasi muda,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kolaborasi antara pemerintah kalurahan, BUMKal, dan pemangku kepentingan lainnya perlu terus diperkuat agar program berjalan berkelanjutan dan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan warga. (Athiful/KIM Depok)




Dinas Koperasi Sleman Optimalkan Kemitraan UMKM dan Koperasi Merah Putih untuk Dukung Program MBG

Sleman — Dinas Koperasi Kabupaten Sleman menyelenggarakan kegiatan optimalisasi kemitraan Forum Komunikasi (Forkom) UMKM Kabupaten Sleman dengan Koperasi Desa Merah Putih, sebagai mitra Satuan Pelayan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Kegiatan itu berlangsung pada Selasa (10/2/2026), di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman.

Kegiatan tersebut dihadiri Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman, Agung Armawanta, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman, Makwan, Kepala Dinas Koperasi Kabupaten Sleman Sutiasih, Asosiasi Mitra SPPG DIY, Nurcholis, Koordinator Ketua SPPG, Malik, Ketua SPPG se-Kabupaten Sleman, Ketua Forkom UMKM Sleman, H. Ardi Sehami, dan Ketua Forum UMKM Kapanewon se-Kabupaten Sleman.

Kepala Dinas Koperasi Sleman, Sutiasih, menyampaikan bahwa pertemuan ini merupakan forum strategis untuk mempertemukan Forkom UMKM sebagai gabungan pelaku usaha, baik produsen produk, jasa, pertanian, maupun peternakan, dengan pengurus Koperasi Desa Merah Putih dalam membangun kemitraan bersama SPPG selaku penggerak program MBG di Kabupaten Sleman.

“Harapannya akan terjadi kolaborasi yang saling menguntungkan dalam upaya mempercepat pelaksanaan program MBG di Kabupaten Sleman,” ujar Sutiasih.

Ia menambahkan, sesuai arahan Bupati Sleman, Harda Kiswaya, sinergi antara UMKM, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), dan MBG diharapkan mampu memperkuat ekonomi masyarakat.

“Harapannya akan banyak pihak yang terlibat dalam program MBG,” jelasnya.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman, Agung Armawanta, yang juga menjabat sebagai Ketua Percepatan Pelaksanaan Program MBG Kabupaten Sleman, mengungkapkan bahwa belanja kebutuhan bahan dapur MBG oleh SPPG DIY mencapai sekitar Rp2 miliar per hari.

Menurutnya, dana tersebut diupayakan dapat berputar di wilayah DIY, bahkan lebih diprioritaskan berputar di kabupaten atau wilayah sekitar lokasi pelaksanaan MBG. Dengan demikian, program MBG tidak hanya meningkatkan gizi masyarakat, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

“Modelnya adalah memanfaatkan UMKM atau koperasi yang ada di sekitar MBG untuk memberikan kemanfaatan, mengurangi pengangguran, serta menaikkan kesejahteraan masyarakat sekitar,” pesan Agung.

Sementara itu, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman, Makwan menyoroti program prioritas Bupati Sleman yakni Sleman Dalalane Alus, Dalane Padang, dan Sleman Resik sebagai bagian dari upaya mendorong perekonomian masyarakat.

Menurutnya, infrastruktur jalan yang halus dan penerangan yang memadai akan memperlancar mobilitas barang dan distribusi usaha, termasuk pengiriman bahan kebutuhan MBG, bahkan pada malam hari.

“Dengan pembangunan jalan yang halus dan terang akan menjadikan ekonomi terus berjalan siang dan malam. Sehingga peluang usaha semakin terbuka dan kesejahteraan lebih meningkat,” terangnya.

Pada kesempatan yang sama, perwakilan Asosiasi Mitra SPPG DIY, Nurcholis meluruskan anggapan masyarakat terkait sulitnya prosedur menjadi mitra pemasok SPPG. Ia menegaskan bahwa SPPG terbuka menerima pasokan dari berbagai pihak selama memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan, terutama standar gizi sesuai Angka Kebutuhan Gizi (AKG) yang berbeda untuk tiap sasaran, seperti siswa maupun ibu hamil dan menyusui.

Selain itu, bahan yang dipasok harus memenuhi ketentuan perizinan dari dinas terkait serta harga yang sesuai dengan ketetapan SPPG.

“Bila semua ketentuan sudah sesuai akan diterima oleh pihak SPPG, dengan pembayaran cash tidak tempo,” tutur Nurcholis.

Melalui forum ini, diharapkan terbangun kemitraan yang kuat antara pemerintah daerah, UMKM, koperasi, dan SPPG. Sehingga program MBG di Kabupaten Sleman tidak hanya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga menjadi penggerak utama ekonomi kerakyatan. (Kusnadi KIM Berbah)