Satpol PP DIY Sosialisasikan Perda Trantibum di Condongcatur, Tekankan Tanggung Jawab Bersama

Sleman – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DIY menggelar sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2 Tahun 2017 tentang Penanganan Gangguan Ketertiban Umum (Trantibum) di Kalurahan Condongcatur, Rabu (11/2/2026). Kegiatan ini menjadi lokasi kedua dalam rangkaian sosialisasi di wilayah kalurahan se-DIY.

Sosialisasi dihadiri anggota DPRD DIY, Satpol PP DIY, Lurah Condongcatur, serta peserta dari unsur dukuh, Satlinmas, Jagawarga, dan tokoh masyarakat Condongcatur. Narasumber kegiatan menghadirkan anggota DPRD DIY dan Lurah Condongcatur.

Kepala Bidang Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat Satpol PP DIY, Loekman Hadi Noegroho Soempeno, dalam sambutannya menyampaikan bahwa sosialisasi ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga ketertiban umum guna mendukung kualitas hidup di wilayah kalurahan.

“Kami memfasilitasi sosialisasi ini karena Perda Nomor 2 Tahun 2017 berada dalam lingkup Satpol PP DIY. Kegiatan ini akan kami laksanakan secara maraton di seluruh kalurahan di DIY hingga November 2026. Hari ini merupakan jadwal kedua setelah sebelumnya dilaksanakan di Kalurahan Caturtunggal,” ungkapnya.

Ia berharap masyarakat memahami bahwa penanganan gangguan trantibum merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya aparat pemerintah.

Narasumber dari DPRD DIY, Yuni Satia Rahayu, menekankan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan sekitar sebagai bentuk perlindungan dan upaya menciptakan kenyamanan bagi masyarakat.

“Penting selalu diperhatikan masalah lingkungan di sekitar kita agar masyarakat dapat diberikan perlindungan dan kenyamanan,” ujarnya.

Yuni menjelaskan, Satpol PP DIY siap membantu masyarakat dalam menangani berbagai gangguan trantibum seperti kebisingan, persoalan sampah, dan gangguan lainnya. Masyarakat dapat melaporkan potensi gangguan melalui saluran resmi yang telah disediakan.

Sementara itu, Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji memaparkan bahwa penanganan trantibum merupakan fungsi pemerintahan wilayah untuk mewujudkan lingkungan yang aman, tertib, dan nyaman. Menurutnya, kalurahan menjadi ujung tombak dalam pelaksanaan upaya tersebut.

“Penanganan trantibum di tingkat kalurahan adalah kunci untuk menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. Kalurahan bersama Satlinmas dan Jagawarga dapat bekerja sama dengan Satpol PP DIY serta masyarakat,” jelasnya.

Ia menambahkan, aktor penanganan trantibum di Condongcatur meliputi lurah sebagai penanggung jawab wilayah beserta jajaran, RT/RW, Satlinmas sebagai ujung tombak di tingkat kalurahan, serta kelompok Jagawarga yang berperan dalam menjaga ketertiban lingkungan.

“Marilah kita bersama-sama menjaga lingkungan dari gangguan trantibum agar masyarakat dapat menikmati suasana yang aman, tertib, dan nyaman, sehingga produktivitas dan kesejahteraan meningkat,” tutupnya.

Kegiatan ditutup dengan dialog interaktif yang membahas berbagai potensi gangguan di masyarakat serta langkah antisipasi dan penanganannya. Peserta sepakat bahwa gangguan trantibum tidak hanya mengurangi kenyamanan, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan dan keselamatan warga, sehingga perlu ditangani secara sinergis dan berkelanjutan. (Wasana / KIM Depok)




Kenalkan Dunia Kampus, Siswa Riset MAN 4 Sleman Sambangi UIN Raden Mas Said

Sleman – Sebagai upaya memperluas wawasan belajar di perguruan tinggi, siswa Kelas XII Program Riset MAN 4 Sleman melaksanakan kunjungan ke Kampus UIN Raden Mas Said Surakarta.  Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (10/2/2026) ini, diikuti oleh 98 siswa-siswi kelas XII Program Riset.

Acara ini merupakan bagian dari program pengenalan perguruan tinggi yang dirancang untuk memberikan gambaran nyata tentang dunia akademik, serta mempersiapkan peserta didik dalam menentukan pilihan studi lanjut setelah lulus dari madrasah.

Rombongan MAN 4 Sleman tiba di kampus UIN Raden Mas Said Surakarta dan diterima secara resmi di Gedung SBSN oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan, Zainul Abbas. Penyambutan berlangsung dengan penuh kehangatan dan antusias. Hal itu mencerminkan hubungan baik dan sinergi antara madrasah dengan perguruan tinggi.

Kepala MAN 4 Sleman, Ahmad Arif Makruf menyampaikan bahwa kunjungan kampus ini secara khusus diikuti oleh peserta didik kelas XII Program Riset. 

“Kegiatan ini bertujuan untuk menambah wawasan siswa tentang dunia perguruan tinggi, memperkenalkan iklim akademik dan penelitian, memotivasi siswa agar memiliki kesiapan lebih matang dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,” ujarnya.

Sementara Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan, Zainul Abbas pada kesempatan tersebut mengucapkan selamat datang dan terima kasih atas kunjungan MAN 4 Sleman ke UIN Raden Mas Said Surakarta. Ia menyampaikan gambaran umum mengenai profil kampus, sistem akademik, dan pengembangan keilmuan.

“Selain itu ada peluang masuk ke UIN Raden Mas Said Surakarta tanpa tes bagi siswa MAN 4 Sleman sebagai bentuk kerja sama dan kemitraan pendidikan antara UIN Raden Mas Said Surakarta dengan MAN 4 Sleman,” tuturnya.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan tour pengenalan lingkungan kampus. Peserta didik diajak berkeliling area kampus untuk mengenal tata letak lingkungan UIN Raden Mas Said Surakarta. Kegiatan ini memberikan gambaran suasana kampus secara umum sebagai bekal bagi siswa dalam menentukan pilihan studi lanjut.

Siswa-siswi kelas XII ini sangat antusias dan terkesan karena mendapat informasi bermanfaat seperti mengenal lingkungan kampus UIN Raden Mas Said, informasi fakultas dan program studi, serta berbagai jalur masuk penerimaan mahasiswa baru. (Edy – KIM Sumber Biwara Moyudan)




Misja Maja Utama, Pengrajin Kandang Ayam Bambu dari Semingin yang Bertahan di Tengah Modernisasi

Sleman – Di sudut tenang Padukuhan Semingin, Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, suara ketukan bambu terdengar ritmis dari sebuah rumah sederhana. Di tempat itulah Misja Maja Utama menekuni pekerjaannya sebagai pengrajin kandang ayam berbahan bambu.

Sejak menetap di Semingin pada 2014 bersama keluarganya, Misja melihat potensi bambu yang melimpah di lingkungan pedesaan tersebut. Berawal dari hobi memelihara ayam bangkok, ia mencoba membuat kandang sendiri yang kokoh dan rapi. Tak disangka, hasil karyanya menarik perhatian tetangga dan sesama penghobi ayam.

“Awalnya saya membuat untuk kebutuhan sendiri. Banyak yang melihat kandangnya kokoh dan rapi, lalu minta dibuatkan. Dari situ saya tekuni,” tuturnya saat dijumpai di rumahnya, Selasa (10/2/2026).

Kini, setiap hari Misja mampu menyelesaikan dua kandang berukuran 0,8 meter x 0,8 meter dengan tinggi sekitar 0,9 meter. Untuk ukuran tersebut, ia membanderol harga Rp80 ribu per unit, menyesuaikan dengan ukuran dan tingkat kesulitan pesanan. Baginya, kualitas tetap menjadi prioritas utama.

Bambu yang digunakan dipilih secara cermat, memastikan material cukup tua dan kuat agar tahan lama. Seluruh proses dikerjakan secara manual, mulai dari pemotongan, perakitan rangka, hingga penganyaman dinding kandang. Ketelatenan menjadi kunci agar hasilnya rapi dan kokoh.

Produk kandang bambu buatannya dipasarkan secara langsung kepada pembeli perorangan dan juga disalurkan ke beberapa kios perlengkapan ternak di sekitar Moyudan dan wilayah sekitarnya. Bahkan, ia pernah menerima pesanan hingga 30 kandang dari satu kios dalam satu periode.

“Alhamdulillah, pernah dapat pesanan cukup banyak. Kalau ada pesanan besar, saya kerjakan bertahap supaya kualitas tetap terjaga,” katanya.

Di tengah maraknya kandang berbahan besi dan plastik pabrikan, produk bambu buatan Misja tetap memiliki pangsa pasar tersendiri. Selain lebih alami dan sejuk bagi ayam, kandang bambu dinilai lebih ramah lingkungan serta mudah diperbaiki jika mengalami kerusakan.

Bagi Misja, usaha ini bukan sekadar sumber penghasilan. Anyaman bambu yang ia susun satu per satu menjadi simbol ketekunan dan kemandirian. Dari hobi sederhana, kini usaha tersebut mampu menopang kebutuhan keluarga.

“Yang penting tekun dan menjaga kualitas. Selama orang masih memelihara ayam, insyaallah kandang bambu masih dibutuhkan,” ujarnya penuh keyakinan.  (Giek KIM Moyudan)




Rumpi Ah, Inovasi DLH Sleman Kurangi Botol Plastik Sekali Pakai

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus memperkuat upaya pengurangan sampah plastik melalui inovasi pengelolaan sampah yang mendorong perubahan perilaku masyarakat.

Salah satunya diwujudkan melalui pengembangan Rumah Pilah Sampah atau Rumpi ah, tempat sampah khusus botol plastik yang dirancang tidak hanya sebagai sarana pengumpulan, tetapi juga media edukasi pemilahan sampah di ruang publik.

Rumpi ah dikembangkan sebagai respons atas meningkatnya timbulan sampah plastik, khususnya botol sekali pakai yang sulit terurai dan berpotensi mencemari lingkungan.

Berbeda dengan tempat sampah konvensional, Rumpi ah didesain menarik menyerupai kandang burung dan dilengkapi beberapa kompartemen pemilahan.

Setiap bagian diperuntukkan secara spesifik bagi botol bening, botol berwarna, label, tutup botol, gelas bening, dan gelas berwarna, serta dilengkapi petunjuk visual yang memudahkan masyarakat melakukan pemilahan secara tepat.

Panewu Depok, Djoko Muljanto, menilai inovasi Rumpi ah sebagai langkah strategis dalam memperkuat pengelolaan sampah plastik dari hulu.

Menurutnya, keberadaan tempat sampah tematik ini mampu mendorong masyarakat untuk tidak sekadar membuang sampah, tetapi juga memahami pentingnya memilah sejak dari sumber.

“Rumpi ah dirancang khusus untuk mengumpulkan sekaligus memilah sampah botol plastik agar dapat diolah kembali menjadi bahan daur ulang yang lebih berguna. Pada saat yang sama, tempat ini juga berfungsi sebagai sarana edukasi dan peningkatan kesadaran lingkungan bagi masyarakat,” ujarnya, Rabu (11/2/2026).

Djoko menambahkan, pemilahan botol plastik sejak awal menjadi kunci untuk mengurangi beban lingkungan. Tanpa pemilahan, sampah plastik berpotensi tercampur dan kehilangan nilai guna. Melalui Rumpi ah, masyarakat diajak membangun kebiasaan baru dalam pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab.

“Kami ingin mengajak masyarakat lebih peduli terhadap sampah plastik. Dengan memilah sejak awal, botol plastik dapat diolah kembali menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat dan bernilai,” katanya.

Salah satu unit Rumpi ah saat ini telah ditempatkan di halaman kantor Kapanewon Depok Kabupaten Sleman sebagai contoh penerapan inovasi di ruang publik.

Penempatan tersebut diharapkan dapat menjadi pemantik replikasi di berbagai lokasi strategis lainnya, sekaligus memperluas dampak edukasi pemilahan sampah botol plastik di Kabupaten Sleman.

Djoko menyampaikan bahwa inovasi Rumpi ah memiliki nilai strategis dalam memperkuat literasi lingkungan di tingkat komunitas. Menurutnya, desain yang komunikatif dan fungsi edukatif Rumpi ah memudahkan pesan pemilahan sampah diterima masyarakat secara praktis.

“Inovasi Rumpi ah sangat relevan dengan pendekatan literasi lingkungan berbasis komunitas. Tempat sampah ini bukan hanya sarana teknis, tetapi juga media komunikasi publik yang mengajarkan masyarakat untuk memilah sampah botol plastik secara benar dan berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menambahkan, keberadaan Rumpi ah di ruang publik memberikan contoh nyata bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari hal sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Melalui pendekatan visual dan partisipatif, masyarakat didorong untuk terlibat aktif tanpa merasa digurui.

“Ketika masyarakat melihat, memahami, dan mempraktikkan langsung pemilahan sampah melalui Rumpi ah, maka kesadaran lingkungan akan tumbuh secara alami. Inilah kekuatan inovasi yang berbasis edukasi dan keteladanan,” tambahnya.

Menurutnya, melalui inovasi Rumpi ah, Pemerintah Kabupaten Sleman menegaskan pendekatan pengelolaan sampah yang tidak hanya berfokus pada penanganan akhir, tetapi juga pada pembentukan kesadaran dan kebiasaan masyarakat.

Dengan menggabungkan fungsi teknis dan edukatif, Rumpi ah diharapkan mampu menumbuhkan budaya pilah sampah botol plastik sebagai bagian dari upaya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan secara berkelanjutan. (Athiful/KIM Depok)




RAT Koperasi Desa Merah Putih Margorejo Tegaskan Peran sebagai Motor Ekonomi Kerakyatan

Sleman — Upaya penguatan ekonomi berbasis komunitas kembali ditegaskan melalui pelaksanaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun Buku 2025 Koperasi Desa Merah Putih Kalurahan Margorejo, Selasa (11/2/2026).

Forum tertinggi dalam struktur koperasi ini menjadi momentum evaluasi kinerja sekaligus penegasan arah strategis pengembangan koperasi desa sebagai pilar ekonomi rakyat.

Rapat yang dipimpin Ketua Sidang, Edy Triyanto dan didampingi Sekretaris RAT, Endah Dwi Astuti berlangsung dengan suasana partisipatif.

Lurah Margorejo, Abdul Azis Muh Ridwan menegaskan pentingnya tata kelola koperasi yang amanah, transparan, dan berdampak luas. Ia mengingatkan bahwa koperasi desa memiliki tanggung jawab moral karena sumber pendiriannya berkaitan dengan dukungan dana publik.

“Koperasi Merah Putih ini berasal dari dana desa, maka harus benar-benar bermanfaat bagi seluruh anggota dan masyarakat Kalurahan Margorejo,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa koperasi desa bukan sekadar lembaga usaha, melainkan instrumen pemberdayaan sosial ekonomi yang harus mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat. Mulai dari akses permodalan, penguatan UMKM, hingga stabilisasi ekonomi keluarga.

Hadir sebagai narasumber, perwakilan Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Sleman, Walyana, menyoroti posisi strategis koperasi desa dalam ekosistem ekonomi nasional. Menurutnya, penguatan koperasi di tingkat desa merupakan bagian dari strategi pembangunan inklusif yang menempatkan masyarakat sebagai subjek, bukan objek pembangunan.

Ia menekankan bahwa koperasi modern harus adaptif terhadap perubahan zaman, termasuk memanfaatkan digitalisasi, meningkatkan kapasitas manajemen, serta membangun jejaring usaha yang lebih luas.

“Koperasi yang sehat bukan hanya tertib administrasi, tetapi juga memiliki visi usaha yang berkelanjutan dan mampu bersaing,” jelasnya.

Pelaksanaan RAT Tahun Buku 2025 ini juga menandai konsolidasi kelembagaan Koperasi Desa Merah Putih yang telah mengantongi legalitas resmi melalui Surat Keputusan AHU Nomor Tahun 2025. Legalitas tersebut menjadi fondasi penting untuk meningkatkan kepercayaan anggota sekaligus membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak, baik pemerintah maupun sektor swasta.

Secara nasional, keberadaan koperasi desa semakin dipandang strategis dalam memperkuat ketahanan ekonomi akar rumput. Pemerintah terus mendorong revitalisasi koperasi sebagai soko guru perekonomian nasional, sejalan dengan amanat konstitusi yang menempatkan usaha bersama berdasar asas kekeluargaan sebagai landasan sistem ekonomi Indonesia.

Forum RAT di Margorejo mencerminkan praktik baik tata kelola koperasi yang akuntabel dan partisipatif. Tidak hanya menjadi agenda rutin tahunan, rapat anggota juga berfungsi sebagai ruang pendidikan demokrasi ekonomi bagi masyarakat. Di sinilah anggota belajar memahami laporan keuangan, menilai kinerja pengurus, serta menentukan arah kebijakan organisasi secara kolektif.

Semangat kebersamaan yang terlihat sepanjang kegiatan menjadi sinyal optimisme bahwa koperasi desa mampu menjadi lokomotif kemandirian ekonomi masyarakat. Dengan pengelolaan profesional dan dukungan anggota, koperasi di tingkat lokal berpotensi berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang berdampak regional bahkan nasional.

Melalui RAT ini, Koperasi Desa Merah Putih Margorejo menegaskan komitmennya untuk terus bertumbuh, meningkatkan pelayanan kepada anggota, dan memperluas manfaat bagi masyarakat. Langkah kecil dari desa tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana ekonomi gotong royong tetap relevan dan justru semakin dibutuhkan di tengah dinamika ekonomi modern. (SBD KIM Senyum Tempel)