Teguhkan Bela Negara di Era Digital, Kesbangpol Sleman Gelar Latihan Dasar bagi Warga Sumberadi

Sleman — Upaya meneguhkan kembali semangat bela negara di tengah tantangan era digital terus dilakukan. Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Sleman menyelenggarakan Latihan Dasar Bela Negara dengan tema “Meneguhkan Kembali Bela Negara di Era Digital untuk Menjaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa”, di Kalurahan Sumberadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, mulai 11 hingga 13 Februari 2026 ini, diikuti oleh 75 peserta dari berbagai unsur masyarakat, antara lain Karang Taruna, Linmas, PKK, tokoh masyarakat, serta perwakilan organisasi kemasyarakatan di Kalurahan Sumberadi.

Lurah Sumberadi, Hadi Sunyoto, dalam sambutannya menegaskan bahwa bela negara tidak lagi dimaknai sebatas angkat senjata. Menurutnya, di era digital saat ini, bela negara diwujudkan melalui pengisian kemerdekaan, menjaga persatuan, serta berkontribusi positif bagi lingkungan dan masyarakat.

“Pelatihan ini akan berlangsung selama tiga hari. Saya berharap para peserta mengikuti dengan penuh semangat. Bela negara kini bukan hanya soal senjata, tetapi bagaimana kita mengisi kemerdekaan dan tetap setia pada nilai-nilai kebangsaan,” ujarnya, Rabu (11/2/2026).

Ia juga menyampaikan bahwa Kalurahan Sumberadi secara konsisten menjaga nilai persatuan dengan menghormati jasa para pahlawan dan pamong terdahulu melalui doa bersama dan ziarah makam. Doa dilakukan lintas agama sebagai wujud nyata persatuan di tengah keberagaman.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh salah satu Anggota DPRD Kabupaten Sleman, Fika Chusnul Chotimah. Dalam pemaparannya, ia menyampaikan materi tentang Peran DPRD dalam menumbuhkan rasa cinta Tanah Air. Ia menyinggung sejumlah peristiwa sejarah nasional, seperti kerusuhan tahun 1998 dan lepasnya Timor Leste, sebagai pelajaran penting bagi generasi saat ini.

“Melalui pelatihan ini, saya berharap peserta dapat mengambil ilmu dan menumbuhkan kesadaran bela negara. Terkait aspirasi masyarakat, silakan sampaikan program-programnya, kami siap membantu,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Bina Ideologi, Wawasan Kebangsaan, dan Karakter Bangsa Kesbangpol Sleman, Immawan Nur Syaifudin menyampaikan materi tentang Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 38 Tahun 2011 mengenai Pedoman Peningkatan Kesadaran Bela Negara di Daerah.

Selanjutnya, narasumber pertama, Hari Kusuma, Satria Negara dari Pusat Pengembangan Bela Negara UPN Veteran Yogyakarta, menekankan pentingnya menanamkan nilai-nilai bela negara sejak dini untuk menangkal masuknya ideologi asing dan paham ekstremisme. Nilai-nilai bela negara meliputi cinta tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara, setia pada Pancasila, rela berkorban, serta memiliki kemampuan awal bela negara.

Adapun narasumber kedua, Mayor Inf Mochklisin, Danramil 12/Mlati, menyampaikan materi terkait Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara, sebagai dasar hukum keterlibatan seluruh warga negara dalam upaya bela negara.

Melalui kegiatan ini, Kesbangpol Sleman berharap semangat bela negara dapat tumbuh dari diri sendiri, lingkungan terdekat, hingga masyarakat luas, demi menjaga Indonesia dengan cinta, aksi nyata, dan semangat gotong royong. (Andy Ahmad – KIM DSN NGAGLIK)




DLH Tegaskan Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Kunci Sleman Tuntas Sampah

Sleman – Perwakilan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman, Dias Oktri Raka Setiadi, menegaskan bahwa visi “Sleman Tuntas Sampah” hanya dapat terwujud melalui pengelolaan sampah sejak dari rumah tangga. Penegasan tersebut disampaikan dalam kegiatan di Gedung Sasana Anglocita Tama, Rabu (11/2/2026).

Dias menyampaikan bahwa sumber sampah terbesar berasal dari aktivitas rumah tangga. Karena itu, perubahan perilaku masyarakat dalam memilah dan mengelola sampah dari hulu menjadi kunci utama penyelesaian persoalan persampahan di Kabupaten Sleman.

“Mengelola sampah memang tidak mudah. Karena itu, kami mengajak seluruh warga untuk menangani permasalahan sampah ini secara bareng-bareng. Tanpa kebersamaan, masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan baik,” tegas Dias.

Menurutnya, pemerintah daerah telah menyiapkan infrastruktur pendukung berupa Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), antara lain TPST Tamanmartani Kalasan, TPST Sendangsari Minggir, dan TPST Donokerto Turi. Namun demikian, keberhasilan pengelolaan sampah tetap bergantung pada partisipasi aktif masyarakat sebagai penghasil sampah terbesar.

Dias juga mengingatkan pentingnya tata kelola tempat pengelolaan sampah, khususnya di kawasan padat penduduk. Keberadaan fasilitas tersebut harus dikelola secara profesional agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan maupun mengganggu kenyamanan warga sekitar.

“Visi Sleman Tuntas Sampah hanya bisa tercapai dengan keterlibatan semua pihak. Sampah terbesar berasal dari rumah tangga, sehingga kesadaran memilah dan mengelola sampah dari rumah menjadi sangat penting,” jelasnya.

Penguatan peran masyarakat dinilai semakin relevan bagi wilayah dengan kepadatan tinggi seperti Kapanewon Depok. Dengan jumlah penduduk yang besar dan aktivitas ekonomi yang dinamis, pengurangan dan pemilahan sampah dari tingkat rumah tangga menjadi langkah strategis untuk menekan beban pengolahan di hilir.

Dias mengatakan bahwa DLH Kabupaten Sleman berkomitmen terus melakukan edukasi dan sosialisasi secara berkelanjutan agar kesadaran kolektif masyarakat semakin meningkat. Pendekatan kolaboratif antara pemerintah, pengelola sampah, dan warga diharapkan mampu mempercepat pencapaian target pengurangan sampah secara signifikan.

“Dengan langkah kecil dari rumah tangga, masalah besar seperti sampah bisa lebih cepat kita atasi,” tandasnya.

Melalui penguatan pengelolaan sampah berbasis rumah tangga dan dukungan fasilitas TPST yang telah tersedia, Pemerintah Kabupaten Sleman menegaskan komitmennya untuk mewujudkan tata kelola persampahan yang berkelanjutan, bersih, dan ramah lingkungan, termasuk di Kapanewon Depok sebagai kawasan strategis penyangga perkotaan. (Athiful/KIM Depok)




Kunjungan Industri MAN 4 Sleman, Sudaryono Motivasi Siswa Tata Busana Tekuni Pendidikan dan Skills

Sleman – Sebanyak 31 siswa Kelas Tata Busana MAN 4 Sleman mengikuti kunjungan industri ke PT Damas Kencono Surakarta pada Selasa (10/2/2026). Dalam kesempatan tersebut, Direktur PT Damas Kencono, Sudaryono, berbagi pengalaman dan motivasi tentang pentingnya pendidikan, keterampilan, serta kegigihan dalam meraih kesuksesan.

“Setiap orang memiliki potensi untuk sukses di bidangnya masing-masing, tentu dengan proses dan ketekunan. Saya menyarankan kalian kuliah karena dengan kuliah akan memperluas pola pikir dan skills serta memiliki nilai lebih dibanding lulusan SMTA,” ujar Sudaryono di hadapan para siswa.

Ia menuturkan perjalanan hidupnya yang penuh liku. Berasal dari keluarga sederhana dan tanpa latar belakang konglomerat, Sudaryono memulai karier sebagai guru Bahasa Inggris selama satu semester dengan gaji terbatas. Tidak puas dengan kondisi tersebut, ia memberanikan diri melamar sebagai tenaga marketing di sebuah perusahaan batik ternama di Solo, bersaing dengan lulusan perguruan tinggi negeri.

Diterima di dunia kerja yang sama sekali baru baginya, Sudaryono harus belajar dari nol tentang industri batik dan garment. Ia mendalami berbagai jenis kain, pola batik, hingga sistem produksi. Berkat kegigihan dan kemauan belajar, ia mampu bekerja secara profesional hingga memperoleh gaji dan fasilitas yang lebih baik. Bahkan, sejumlah perusahaan besar sempat menawarinya posisi strategis.

Namun, di tengah kemapanan tersebut, Sudaryono memilih keluar dan mendirikan usaha sendiri, PT Damas Kencono. Keputusan itu diambil karena ia telah menguasai seluk-beluk industri batik dan garment. Perjalanan usahanya tidak selalu mulus. Tantangan terberat datang saat pandemi Covid-19 melanda.

“Tantangan terberat saat pandemi. Hampir saya gila, tapi alhamdulillah tetap bertahan dan survive hingga bisa berkembang,” ungkapnya.

Menurut Sudaryono, kunci sukses terletak pada kerja keras, kesungguhan, kemauan meningkatkan keterampilan, menjaga ketepatan waktu dengan pelanggan, mempertahankan kualitas, serta membangun komunikasi yang baik dengan mitra.

Saat ini, PT Damas Kencono mengoperasikan dua fasilitas pabrik, yakni skala besar dan kecil, dengan dukungan sekitar 70 tenaga kerja terampil. Perusahaan tersebut menjalankan dua lini produksi panjang untuk pesanan massal dan satu lini produksi kecil untuk pesanan khusus, dengan kapasitas produksi stabil antara hingga potong per bulan.

“Kami berkomitmen menjaga kualitas jahitan, ketepatan pola, dan efisiensi waktu demi kepuasan mitra bisnis,” tegasnya.

Para siswa tampak antusias mengikuti sesi motivasi dan diskusi. Beberapa di antaranya aktif bertanya seputar pengelolaan usaha, pentingnya modal dan keterampilan, hingga strategi menghadapi tantangan bisnis.

“Asik dan menarik mendapat penjelasan dari Pak Sudaryono. Bersyukur bisa bertemu langsung dengan beliau,” ujar Muhammad Riki, Ketua Kelas Tata Busana.

Ia menilai meskipun telah sukses, Sudaryono tetap rendah hati dan bersedia berbagi pengalaman serta kiat-kiat sukses yang inspiratif.

Kunjungan industri ini diharapkan mampu membuka wawasan siswa tentang dunia kerja dan kewirausahaan, sekaligus memotivasi mereka untuk merencanakan masa depan dengan lebih matang, baik melalui pendidikan tinggi maupun pengembangan keterampilan profesional. (Edy – KIM Sumber Biwara Moyudan)




Cegah Leptospirosis, Akademisi UGM Dorong Surveilans Aktif di Tingkat Masyarakat

Sleman – Akademisi Pusat Studi Kedokteran Tropis Universitas Gadjah Mada, Bayu Satria Wiratama, menegaskan pentingnya penguatan Surveilans Berbasis Masyarakat (SBM) sebagai sistem deteksi dini penyakit infeksius, Rabu (11/2/2026).

Menurut Bayu, SBM merupakan sistem pengamatan, pelaporan, dan respons dini yang dilakukan secara berkelanjutan oleh kader kesehatan dan relawan masyarakat untuk mendeteksi gejala penyakit atau faktor risiko kesehatan.

Sistem ini mempercepat identifikasi kasus, mencegah kejadian luar biasa (KLB), serta memfasilitasi respons cepat, termasuk melalui pelaporan berbasis aplikasi pesan singkat seperti WhatsApp.

“Surveilans berbasis masyarakat memungkinkan deteksi dini dan respons cepat terhadap potensi wabah. Keterlibatan aktif warga menjadi kunci dalam menekan risiko penyebaran penyakit, termasuk leptospirosis,” ujar Bayu.

Dalam konteks leptospirosis, SBM difokuskan pada deteksi dini, pemantauan faktor risiko lingkungan, serta pelaporan kasus suspek ke puskesmas. Penyakit ini berisiko meningkat pada wilayah dengan populasi tikus tinggi dan daerah rawan banjir.

Bayu memaparkan sejumlah komponen utama dalam pelaksanaan SBM untuk leptospirosis. Pertama, deteksi dini dan pelaporan berbasis masyarakat. Warga dan kader dilatih mengenali gejala klinis seperti demam, nyeri otot, dan mata merah, kemudian segera melaporkannya ke fasilitas layanan kesehatan terdekat.

Kedua, pemantauan faktor risiko melalui pemetaan partisipatif wilayah berisiko tinggi, termasuk area dengan sanitasi kurang baik atau genangan air pascabanjir.

Ketiga, surveilans berbasis kejadian atau event based surveillance, yakni pengumpulan informasi dari masyarakat mengenai kejadian tidak biasa, seperti kematian tikus secara massal, untuk ditindaklanjuti secara cepat.

Selain itu, SBM juga mencakup intervensi lingkungan berbasis masyarakat, seperti kerja bakti membersihkan saluran air, memperbaiki drainase, serta pengelolaan sampah untuk mengurangi habitat tikus.

“Penyuluhan kesehatan turut diperkuat melalui kampanye perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), termasuk penggunaan alat pelindung diri seperti sepatu bot dan sarung tangan saat terjadi banjir atau kontak dengan air tercemar,” katanya.

Menurutnya, penguatan kolaborasi antara puskesmas, kader, dan masyarakat menjadi faktor penentu keberhasilan program ini.

“Kolaborasi lintas sektor dan partisipasi aktif masyarakat sangat menentukan efektivitas surveilans. Dengan sistem yang berjalan baik, angka kesakitan dan kematian akibat leptospirosis dapat ditekan,” tegasnya. (Athiful/KIM Depok)




Dinkes Sleman Gelar FGD Pengendalian Penyakit Menular di Depok

Sleman – Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) pengendalian penyakit menular lintas sektor di Gedung Sasana Anglocita Tama, Rabu (11/2/2026). Kegiatan ini sebagai upaya memperkuat koordinasi dan strategi pencegahan penyakit menular, khususnya leptospirosis, di wilayah Kapanewon Depok.

Panewu Depok, Djoko Muljanto, menyampaikan bahwa Kapanewon Depok termasuk wilayah yang menghadapi permasalahan leptospirosis. Penyakit ini berpotensi menginfeksi manusia terutama pada saat banjir atau musim hujan.

Djoko menegaskan bahwa penanganan leptospirosis tidak mudah dan membutuhkan sinergi lintas sektor, baik dari unsur pemerintah, masyarakat, maupun kader kesehatan.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap pencegahan dan penanganan leptospirosis dapat dilakukan secara lebih baik dan terkoordinasi,” ujarnya.

Menurutnya, FGD ini bertujuan menyamakan persepsi, memperkuat mekanisme koordinasi lintas sektor, serta merumuskan langkah-langkah pencegahan dan penanggulangan penyakit menular yang efektif.

“Pendekatan kolaboratif dinilai penting untuk memastikan upaya edukasi, surveilans, dan respons cepat berjalan optimal di tingkat wilayah, terutama di Kapanewon Depok,” kata Djoko.

Ketua Tim Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Lina Nur Islamiyyah Yunus, menjelaskan bahwa Kapanewon Depok merupakan wilayah perkotaan yang padat, sehingga memerlukan pendekatan penanganan penyakit yang berbeda, terutama untuk leptospirosis.

Ia mengungkapkan bahwa pada awal 2026 telah terjadi kasus kematian di wilayah Kapanewon Depok yang berkaitan dengan penyakit tersebut.

“Kami berharap para peserta dapat mengedukasi warga secara tepat agar kejadian leptospirosis dapat ditekan, bahkan dihilangkan,” kata Lina.

Secara khusus, Lina juga menekankan peran Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) Depok dalam menyampaikan informasi yang positif, bijak, dan akurat kepada masyarakat sebagai bagian dari strategi edukasi publik.

Menurutnya, informasi yang tepat akan mendorong perilaku hidup bersih dan sehat serta meningkatkan kewaspadaan warga terhadap risiko penyakit.

Melalui FGD ini, Lina menegaskan, Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman menegaskan komitmen untuk terus memperkuat kolaborasi lintas sektor dan tindak lanjut program pengendalian penyakit menular secara berkelanjutan demi melindungi kesehatan masyarakat, khususnya di wilayah Kapanewon Depok. (Athiful/KIM Depok).