Pengurus PPY Tempel Dibekali Prinsip Profesionalisme Leres, Laras, dan Laris

Sleman — Peran panatacara atau pembawa acara adat Jawa kini tidak lagi sekadar dipandang sebagai pemandu seremonial biasa, melainkan sebagai penjaga martabat budaya dan penata suasana kebangsaan yang berbasis kearifan lokal. Hal tersebut ditegaskan dalam acara Pengukuhan Pengurus Dewan Pimpinan Cabang Paguyuban Panatacara Yogyakarta (DPC PPY) Kapanewon Tempel yang berlangsung khidmat di Pendopo Kapanewon Tempel, Sleman, pada Senin (9/2/2026). Peristiwa ini menjadi momentum penguatan profesi panatacara agar tetap relevan dan berwibawa di tengah arus modernisasi.

Dalam rangkaian pengukuhan tersebut, para pengurus baru mendapatkan pembekalan strategis mengenai etika dan profesionalisme. Wakil Ketua DPD PPY Kabupaten Sleman Bidang Organisasi dan Hukum, Tri Sarjuli, memaparkan materi mendalam bertema pentingnya menjadi panatacara yang “Leres, Laras, ugi Laris”. Prinsip ini menekankan bahwa seorang penata acara harus memiliki ketepatan dalam aturan bahasa dan adat, keselarasan dengan situasi lingkungan, hingga akhirnya mampu menjadi sosok yang dicari masyarakat karena kualitasnya yang mumpuni.

Tri Sarjuli menegaskan bahwa seorang panatacara memikul beban moral sebagai representasi nilai budaya, etika, dan tata krama Jawa. Oleh karena itu, kemampuan berbicara yang lancar bukan satu-satunya tolok ukur keberhasilan. Seorang panatacara harus mampu menghadirkan kewibawaan dan keteduhan dalam setiap acara yang dipandunya, baik dalam agenda adat, sosial, maupun pemerintahan. Ia mengingatkan bahwa penguasaan bahasa dan pemahaman hukum kelembagaan adalah bekal wajib agar profesi ini tidak kehilangan jati diri di masa depan.

“Panatacara itu bukan hanya soal lancar berbicara. Ia adalah representasi nilai budaya, etika, dan tata krama. Harus leres secara aturan, laras dengan situasi, sehingga mampu menghadirkan kewibawaan dan keteduhan dalam setiap acara. Panatacara harus senantiasa belajar, mengamati, dan meneladani agar tidak hanya pintar berucap, tetapi juga pantas dan layak dalam bersikap,” ujar Tri Sarjuli saat memberikan paparan di hadapan para pengurus.

Selain aspek teknis, penguatan organisasi juga menjadi fokus utama dalam pertemuan tersebut. Tri Sarjuli mengingatkan seluruh anggota PPY agar menjadikan organisasi sebagai ruang untuk saling mengasah kemampuan dan menjaga marwah profesi. Semangat gotong royong dan kemauan untuk terus belajar dinilai menjadi kunci agar profesi panatacara tetap dihormati dan mampu menjawab tantangan zaman yang semakin dinamis.

Acara pengukuhan ini dihadiri langsung oleh Ketua DPD PPY Kabupaten Sleman Agus Wiranto, Panewu Tempel Dakiri, serta unsur pimpinan kepolisian dan militer di wilayah Kapanewon Tempel. Kehadiran para pemangku kepentingan ini mempertegas dukungan pemerintah terhadap pelestarian tradisi melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia di bidang kebudayaan.

Dengan dikukuhkannya kepengurusan baru ini, DPC PPY Tempel diharapkan menjadi motor penggerak bagi lahirnya panatacara yang cerdas, santun, dan bermartabat. Sinergi antara organisasi budaya dan pemerintah daerah ini ditujukan agar tradisi tutur Jawa tetap lestari sebagai identitas masyarakat Sleman yang luhur dan tetap eksis di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial. (SBD/KIM Senyum Tempel)




Pengurus DPC PPY Tempel Resmi Dikukuhkan

Sleman — Peran panatacara sebagai pilar kebudayaan sekaligus penjaga tata nilai di masyarakat kembali diperkuat melalui pengukuhan pengurus Dewan Pimpinan Cabang Paguyuban Panatacara Yogyakarta (DPC PPY) Kapanewon Tempel. Prosesi yang berlangsung di Pendopo Kapanewon Tempel, Sleman, pada Senin (9/2/2026) ini menandai babak baru bagi organisasi profesi penata acara tersebut untuk masa bakti 2026–2029. Agenda ini menekankan pentingnya regenerasi dan profesionalisme panatacara dalam menjaga luhurnya bahasa serta sastra Jawa di tengah dinamika zaman.

Panewu Tempel, Dakiri, secara resmi mengukuhkan kepengurusan yang kini dinahkodai oleh Sih Budi Daryanto sebagai Ketua. Dalam arahannya, Dakiri menyoroti posisi panatacara yang hadir dalam hampir setiap fase kehidupan masyarakat, mulai dari upacara kelahiran hingga prosesi kematian. Menurutnya, panatacara bukan sekadar pembawa acara teknis, melainkan agen komunikasi yang memikul tanggung jawab moral untuk memberikan edukasi nilai budaya secara halus kepada publik.

“Panatacara hadir di hampir semua fase kehidupan masyarakat, dari kelahiran, pernikahan, hingga kematian. Di situlah nilai budaya disampaikan secara halus namun bermakna. Karena itu, panatacara harus terus diasah agar mampu menjadi teladan dalam berbahasa dan bersikap. Kami mendorong PPY untuk terus aktif bersinergi dengan pemerintah dalam pelestarian bahasa dan sastra melalui berbagai pendampingan di komunitas,” ujar Dakiri saat memberikan sambutan.

Ketua DPD PPY Kabupaten Sleman, Agus Wiranto, yang turut menyaksikan pengukuhan tersebut, memberikan pesan tajam terkait kemandirian organisasi. Ia mengingatkan para pengurus di tingkat kapanewon agar tidak menjadikan keterbatasan anggaran sebagai alasan untuk berhenti berkarya. Agus mendorong para pengurus baru untuk segera menyusun program kerja melalui Rapat Kerja Cabang (Rakercab) dengan fokus utama pada penjaringan bakat-bakat muda agar tradisi ini memiliki penerus yang kompeten.

“Organisasi jangan sampai loyo karena soal dana. Jika dana belum ada, jangan berhenti bergerak. Carilah alternatif, bangun jejaring, dan tetap jalankan program yang berdampak. Kita harus fokus pada regenerasi, karena masa depan panatacara sangat bergantung pada keterlibatan generasi muda. Perlu kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk media, agar panatacara tidak hanya lestari, tetapi juga tetap relevan dengan zaman,” tegas Agus Wiranto kepada pengurus baru.

Struktur kepengurusan DPC PPY Tempel periode ini diperkuat oleh sejumlah sosok berpengalaman, di antaranya Abdullah Shodiq sebagai Paranpara, Estri Putantri di posisi Sekretaris, serta Wakini sebagai Bendahara. Organisasi ini juga dilengkapi dengan bidang khusus pengembangan sumber daya manusia dan diklat untuk memastikan kompetensi para anggotanya tetap terjaga sesuai standar etika profesi yang berlaku di Yogyakarta.

Melalui kepengurusan yang baru dikukuhkan ini, PPY Tempel diharapkan bertransformasi menjadi wadah yang inklusif dan adaptif. Kehadiran organisasi ini diharapkan mampu mencetak panatacara profesional yang tidak hanya ahli secara teknis dalam memandu acara, tetapi juga memiliki karakter kuat sebagai pelestari budaya Nusantara yang bermartabat di wilayah Kapanewon Tempel dan sekitarnya. (SBD/KIM Senyum Tempel)




Dukung Gerakan Indonesia ASRI, Koramil Berbah Bersama Lintas Sektoral Bersihkan Pasar Tanjung

Sleman — Menindaklanjuti instruksi Presiden Republik Indonesia pada Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah tahun 2026, Koramil 10/Berbah Kodim 0732/Sleman menggelar aksi nyata peduli lingkungan melalui Karya Bakti pembersihan sampah pada Senin (9/2/2026). Kegiatan yang dipusatkan di Pasar Tanjung, Kalitirto, Berbah, Sleman, ini menyasar penumpukan sampah di area dalam maupun lingkungan sekitar pasar guna menciptakan ruang publik yang sehat dan nyaman bagi perputaran ekonomi masyarakat.

Aksi lingkungan ini merupakan bagian dari Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) yang dicanangkan sebagai gerakan nasional untuk menciptakan lingkungan bersih, tertata, dan berkelanjutan. Personel TNI bekerja sama dengan anggota Polsek Berbah, aparatur Kapanewon Berbah, Pemerintah Kalurahan Kalitirto, Linmas, serta relawan lingkungan untuk menyisir setiap sudut pasar yang menjadi titik timbulan sampah.

Wakil Danramil Berbah, Mustofa, menegaskan bahwa pembersihan fasilitas umum ini tidak akan berhenti pada satu momentum saja. Pihaknya telah merencanakan agenda rutin dengan lokasi yang berpindah-pindah di seluruh wilayah Kapanewon Berbah. Mustofa juga mengingatkan bahwa kesadaran lingkungan seharusnya dimulai dari setiap individu dan instansi, baik swasta maupun pemerintah, dengan cara menyisihkan sedikit waktu untuk menjaga kebersihan area kerja masing-masing.

“Sesuai instruksi presiden, kita harus bergerak bersama membersihkan fasilitas umum. Sebenarnya jika setiap instansi mau rutin mengerjakan pembersihan lingkungan secara mandiri selama 15 menit saja setiap hari, itu akan memberikan dampak luar biasa bagi kebersihan lingkungan kerja masing-masing. Kami ingin memulai langkah ini agar pasar sebagai jantung ekonomi warga tetap resik dan nyaman digunakan,” ujar Mustofa di sela-sela kegiatan.

Panewu Berbah, Djaka Sumarsono, menyambut positif inisiatif dari Koramil Berbah tersebut. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor ini menjadi teladan penting bagi instansi lain di wilayah Sleman. Ia berharap gerakan ini memicu kesadaran para pedagang dan pengunjung pasar untuk tidak lagi membuang sampah sembarangan, sehingga kebersihan yang sudah diupayakan bersama dapat terjaga dalam jangka panjang.

“Kami sangat mendukung ajakan dari Danramil dalam pembersihan pasar ini. Kegiatan seperti ini semoga bisa dilakukan terus menerus dan menjadi contoh nyata bagi instansi lainnya. Jika lingkungan pasar bersih, tentu kesehatan masyarakat di wilayah Berbah juga akan lebih terjamin,” kata Djaka Sumarsono.

Senada dengan hal tersebut, Lurah Kalitirto, Ariadi, mengerahkan personel Linmas dan relawan desa untuk mendukung penuh aksi tersebut. Ia menilai pemilihan pasar sebagai lokasi utama pembersihan sangatlah tepat karena padatnya aktivitas masyarakat di lokasi tersebut. Ariadi berharap kenyamanan yang tercipta setelah pembersihan dapat meningkatkan semangat para pedagang dalam beraktivitas.

“Pasar merupakan fasilitas umum yang menjadi pusat perputaran ekonomi masyarakat, sehingga kebersihannya harus menjadi prioritas. Ini adalah lokasi yang tepat untuk melakukan aksi bersama demi kenyamanan para pedagang dan pembeli. Kami akan selalu mendukung kegiatan positif seperti ini di lingkungan Kalitirto,” tutur Ariadi memungkasi penjelasannya. (Kusnadi/KIM Berbah)




Sempat Ditutup karena Pelanggaran SOP, SPBU Jalan Kaliurang KM 10 Kembali Beroperasi di Bawah Pertamina Retail

Sleman — Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang terletak di Jalan Kaliurang KM 10, Gondangan, Ngaglik, Sleman, resmi beroperasi kembali mulai Senin (9/2/2026). Pengoperasian ini menandai babak baru bagi unit layanan tersebut setelah sempat dijatuhi sanksi penutupan oleh PT Pertamina Patra Niaga sejak November 2024 akibat beroperasi tidak sesuai standar operasional prosedur (SOP). Kini, fasilitas pengisian bahan bakar tersebut dikelola melalui mekanisme Kerja Sama Operasi (KSO) oleh PT Pertamina Retail guna menjamin kualitas dan ketaatan prosedur.

Pembukaan kembali layanan ini dilakukan setelah pihak pengelola menuntaskan serangkaian uji tera dan mendapatkan izin operasional resmi dari UPTD Pelayanan Metrologi Legal Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sleman. Langkah teknis ini diambil untuk memastikan akurasi takaran serta memberikan perlindungan maksimal kepada konsumen. Peresmian operasional ini dihadiri oleh berbagai unsur pemerintahan dan kepolisian, termasuk perwakilan dari PT Pertamina Patra Niaga dan tokoh masyarakat setempat.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Sleman, Makwan, yang hadir mewakili Wakil Bupati Sleman, menekankan bahwa kehadiran SPBU di jalur strategis seperti Jalan Kaliurang memiliki peran vital bagi mobilitas masyarakat dan distribusi energi. Ia mengingatkan bahwa sanksi penutupan di masa lalu harus menjadi evaluasi mendalam bagi seluruh pengelola usaha di sektor energi agar tidak mengabaikan regulasi yang berlaku. Menurutnya, kepatuhan terhadap standar keselamatan dan kejujuran distribusi adalah kunci utama kepercayaan publik.

“Penutupan SPBU pada waktu lalu tentu menjadi pelajaran bersama bagi kita semua. Oleh karena itu, pembukaan kembali ini kami harapkan tidak hanya menjadi simbol beroperasinya kembali layanan, tetapi juga menjadi komitmen bersama untuk menjalankan usaha sesuai dengan peraturan, standar keselamatan, dan ketentuan yang berlaku tanpa kompromi,” ujar Makwan di sela-sela peresmian operasional tersebut.

Pemerintah Daerah Sleman memberikan apresiasi atas upaya perbaikan yang telah dilakukan pihak pengelola hingga akhirnya layak mendapatkan izin kembali. Makwan juga mengajak masyarakat untuk turut berperan aktif dalam mengawasi operasional SPBU ini. Ia berharap kehadiran kembali layanan ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal serta menjadi percontohan bagi unit usaha lain dalam hal ketaatan terhadap aturan dan orientasi pada pelayanan publik yang transparan.

“Kepada masyarakat, kami mengajak untuk bersama-sama mendukung operasional SPBU ini dengan mematuhi aturan serta melaporkan apabila terdapat hal-hal yang dirasa tidak sesuai dengan ketentuan di lapangan. Semoga dengan beroperasinya kembali SPBU ini dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat dan menjadi contoh usaha yang benar-benar taat aturan,” tambah Makwan menutup sambutannya.

Manajer Operasional SPBU , Susilo, menegaskan bahwa manajemen baru berkomitmen penuh untuk menjaga integritas pelayanan di bawah pengawasan PT Pertamina Retail. Pihaknya menyatakan kesiapan untuk dilakukan pengawasan ketat, termasuk uji tera berkala oleh pihak berwenang guna menjamin hak-hak konsumen. Upaya ini dilakukan untuk memastikan kelancaran aktivitas ekonomi warga Sleman yang sangat bergantung pada pasokan energi di jalur utama tersebut.

“Kami sangat bersyukur dapat kembali melayani masyarakat dan kami berjanji akan menaati serta mengoperasionalkan SPBU ini sesuai prosedur yang berlaku. Kami siap dilakukan pengujian tera secara berkala oleh UPTD Pelayanan Metrologi Legal untuk membuktikan transparansi kami. Fokus kami saat ini adalah mengembalikan kepercayaan konsumen melalui layanan yang jujur dan aman,” kata Susilo menegaskan komitmen pengelola. (Wasana/KIM Depok)




Realisasikan “Sleman Dalane Alus”, DPUPKP Gerak Cepat Perbaiki Jalan Berlubang di Moyudan

Sleman — Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPUPKP) melakukan aksi cepat dalam menindaklanjuti keluhan masyarakat terkait kerusakan infrastruktur jalan di wilayah Kapanewon Moyudan. Perbaikan berupa penambalan dan perataan jalan dilakukan pada ruas yang menghubungkan Padukuhan Moyudan dan Goser, Sumberrahayu, pada Senin (9/2/2026). Langkah ini menjadi bukti nyata komitmen pemerintah daerah dalam mewujudkan program unggulan “Sleman Dalane Alus, Sleman Dalane Padang”.

Ruas jalan yang diperbaiki tersebut memiliki peran strategis sebagai jalur alternatif utama menuju Kalurahan Sumbersari dan Kota Yogyakarta. Jalur ini kerap menjadi tumpuan ketika arus lalu lintas di jalan Klangon-Tempel mengalami kepadatan. Namun, kondisi jalan yang banyak berlubang sebelumnya sempat dikeluhkan warga karena mengancam keselamatan pengguna jalan dan menghambat mobilitas ekonomi di wilayah tersebut.

Panewu Moyudan, Agung Dwi Maryoto, memberikan apresiasi tinggi atas respon cepat yang ditunjukkan DPUPKP setelah menerima laporan dari pemerintah wilayah. Ia menilai bahwa sinergi antara warga yang aktif melapor dan pemerintah yang cepat bertindak adalah kunci keberhasilan pembangunan. Agung juga menekankan bahwa peran masyarakat tidak berhenti pada tahap pelaporan, melainkan berlanjut pada tanggung jawab bersama dalam menjaga kualitas infrastruktur yang telah diperbaiki.

“Dengan melaporkan kondisi jalan, berarti warga memiliki rasa tanggung jawab terhadap lingkungannya. Setelah aspirasi ini direalisasikan, tentu kami berharap warga ikut membantu dalam pemeliharaannya agar manfaat jalan yang bagus ini bisa dirasakan lebih lama. Gerak cepat dari DPUPKP ini sangat membantu memulihkan kenyamanan masyarakat,” ujar Agung Dwi Maryoto di sela-sela pemantauan lokasi.

Senada dengan hal tersebut, Lurah Sumberrahayu, Sigit Tri Susanto, mengungkapkan bahwa kerusakan jalan di wilayahnya diperparah oleh pengalihan arus kendaraan saat adanya perbaikan di jalur utama Klangon-Tempel beberapa waktu lalu. Menurutnya, banyak kendaraan berat yang melintas melampaui kapasitas beban jalan tersebut. Ia pun menyampaikan rasa terima kasih atas penanganan yang presisi dari dinas terkait karena ruas ini merupakan nadi utama aktivitas warga sehari-hari.

“Memang kondisi jalan tersebut sudah rusak dan semakin parah ketika menjadi jalur alternatif menuju Yogyakarta, bahkan kendaraan berat yang bukan kapasitasnya ikut melewati jalan tersebut. Kami sangat berterima kasih atas langkah taktis DPUPKP. Kami optimis dengan kondisi jalan yang kembali mantap, denyut ekonomi dan kesejahteraan warga di Sumberrahayu akan meningkat pesat karena akses distribusi yang kini lancar kembali,” tutur Sigit Tri Susanto menjelaskan kondisi di lapangan.

Program penambalan jalan ini merupakan bagian dari 16 program unggulan prioritas Pemerintah Kabupaten Sleman untuk memastikan kondisi jalan yang mantap, layak, dan terang. Melalui perbaikan ini, fungis jalan sebagai sarana distribusi dan mobilitas warga diharapkan kembali optimal. Pemerintah daerah berharap infrastruktur yang baik dapat menekan angka kecelakaan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang lebih dinamis di tingkat kapanewon maupun kalurahan. (Giek/KIM Moyudan)