Mukerprov PMI DIY 2026: Perkuat Sinergi Kemanusiaan dan Tuntaskan Target Strategis

Sleman — Palang Merah Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (PMI DIY) menggelar Musyawarah Kerja Provinsi (Mukerprov) Tahun 2026 di Grha Sarina Vidi, Sleman, pada Minggu (8/2/2026). Pertemuan ini menjadi momentum krusial bagi organisasi tersebut untuk mengevaluasi kinerja serta memantapkan program kerja kemanusiaan menjelang berakhirnya masa bakti kepengurusan periode 2021-2026. Acara ini dihadiri oleh jajaran pengurus PMI se-DIY, perwakilan Pemerintah Daerah DIY, serta Ketua Bidang Organisasi PMI Pusat yang bergabung secara daring.

Ketua PMI DIY, Prabukusumo, menyampaikan bahwa Mukerprov kali ini memiliki makna istimewa. Hal ini dikarenakan agenda tersebut merupakan musyawarah kerja terakhir sebelum masa kepengurusan saat ini resmi berakhir pada 8 Oktober 2026 mendatang. Oleh karena itu, PMI DIY berkomitmen untuk menyelesaikan seluruh target indikator kinerja yang telah ditetapkan dalam Rencana Operasional lima tahunan, termasuk penguatan sistem manajerial dan pengembangan kapasitas personel.

“Menjelang masa periode kepengurusan berakhir, kami terus berupaya meningkatkan sumber daya, baik dari segi manusia melalui pendidikan dan pelatihan personel, maupun pengembangan sistem manajerial. Kami juga fokus menggalang jejaring kerja sama untuk menyelesaikan target-target kinerja sesuai rencana operasional yang ada. PMI DIY harus terus menjalankan fungsi sebagai mitra pemerintah dengan koordinasi yang solid,” ujar Prabukusumo di sela-sela kegiatan.

Dalam laporannya, Prabukusumo memaparkan capaian signifikan sepanjang tahun 2025, di mana PMI DIY telah menjangkau lebih dari dua juta jiwa penerima manfaat. Layanan tersebut mencakup respons bencana di berbagai wilayah, mulai dari distribusi air bersih saat banjir di Bantul dan Bali, hingga pengiriman personel untuk bantuan sanitasi dan psikososial di Sumatera. Selain itu, program pemberdayaan masyarakat aman dan tangguh bencana (MANTAB) telah berhasil membentuk tim siaga bencana berbasis masyarakat (SIBAT) di empat wilayah DIY sebagai ujung tombak pertolongan pertama di tingkat lokal.

Kepercayaan masyarakat terhadap PMI DIY juga tercermin dari besarnya donasi yang dikelola. Per 29 Januari 2026, donasi masyarakat untuk bencana banjir di Sumatera terkumpul lebih dari 451 juta rupiah dan telah disalurkan ke Provinsi Aceh, Sumatera Utara, serta Sumatera Barat. Prabukusumo menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh lapisan masyarakat, korporasi, hingga Pemerintah Daerah DIY yang telah mendukung kerja kemanusiaan selama ini. Ia menegaskan bahwa SDM yang terlatih dan memiliki integritas tinggi adalah kunci utama untuk memberikan respons cepat dalam pelayanan.

“Sepanjang tahun lalu, kami memberikan pelayanan pertolongan pertama dan ambulans, baik kedaruratan maupun non-kedaruratan, secara maksimal. Kami sangat berterima kasih kepada masyarakat dan para mitra yang menyalurkan bantuannya melalui PMI DIY. Kepercayaan ini akan kami jaga dengan terus mengedepankan profesionalitas dan transparansi dalam setiap misi kemanusiaan yang kami jalankan,” tegas Prabukusumo.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Bidang Organisasi PMI Pusat, Sudirman Said, dalam sambutannya berharap PMI DIY dapat menjaga efektivitas organisasi agar tetap produktif dan kompak. Ia mengapresiasi PMI DIY yang sering menjadi inspirasi bagi PMI di seluruh Indonesia, terutama dalam penanganan medis dan program diklat. Sudirman mengingatkan agar seluruh komponen PMI senantiasa menghayati prinsip dasar gerakan, yakni kemanusiaan, kesamaan, kenetralan, kemandirian, kerelawanan, kesatuan, dan kesemestaan dalam setiap tindakan di lapangan.(Kusnadi/KIM Berbah)




Kawal Program Makan Bergizi Gratis, Muhammad Fakhri Avaqo Jadi Ujung Tombak Pemenuhan Gizi di Gamping

Sleman — Kabupaten Sleman terus memperkuat implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui optimalisasi kinerja Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Di barisan terdepan operasional dapur gizi yang melayani ribuan penerima manfaat tersebut, muncul sosok muda yang memegang tanggung jawab besar, yaitu Muhammad Fakhri Avaqo. Sebagai Kepala SPPG Gamping Banyuraden 2, pria yang akrab disapa Avaqo ini menjadi motor penggerak utama dalam memastikan ribuan porsi makanan sampai ke tangan siswa dengan kualitas dan keamanan pangan yang terjamin.

Unit layanan yang dipimpinnya berlokasi di Banyuraden, Kapanewon Gamping, dengan kapasitas layanan yang mampu mencapai penerima manfaat. Saat ini, SPPG Gamping Banyuraden 2 telah melayani penerima manfaat dengan dukungan 30 relawan. Tantangan logistik menjadi makanan sehari-hari, mengingat jangkauan distribusi mencapai enam kilometer dengan standar waktu pengantaran maksimal dua jam setelah produksi guna menjaga kesegaran makanan.

Avaqo mengungkapkan bahwa ketangguhan mental dan kedisiplinan yang ia terapkan di dapur gizi merupakan hasil tempaan pendidikan militer dan manajerial selama tiga bulan di Rindam IV Diponegoro, Magelang. Fondasi integritas dan loyalitas tersebut ia terjemahkan ke dalam manajemen operasional yang sangat ketat. Baginya, setiap detail proses, mulai dari pemilihan bahan baku hingga distribusi, harus berjalan presisi karena menyangkut kesehatan generasi masa depan.

“Saya sangat menyadari bahwa posisi kepala SPPG adalah ujung tombak keberhasilan program ini. Setiap porsi makanan yang disajikan merupakan amanah besar dari negara untuk menyiapkan generasi Indonesia Emas 2045. Kami ditempa secara fisik dan mental di Rindam agar memiliki kedisiplinan tinggi, dan bekal itulah yang menjadi fondasi dalam memimpin unit layanan ini di daerah,” ujar Muhammad Fakhri Avaqo pada Minggu (8/2/2026).

Operasional harian SPPG bukannya tanpa hambatan. Avaqo mengakui bahwa tantangan utama terletak pada koordinasi relawan yang mayoritas merupakan warga sekitar, bukan tenaga profesional di bidang kuliner. Untuk mengatasinya, ia terus melakukan penyempurnaan sistem kerja agar tidak terjadi keterlambatan distribusi yang bisa berdampak domino pada jadwal makan siswa. Selain itu, seluruh menu disusun secara ketat oleh ahli gizi sesuai pedoman Badan Gizi Nasional (BGN) dengan pengawasan berlapis.

“Kami terus melakukan evaluasi sistem kerja agar setiap divisi dapat bekerja presisi. Selain memastikan standar gizi, kami juga mengedukasi penerima manfaat untuk melakukan cek mandiri secara organoleptik guna memastikan makanan benar-benar aman sebelum dikonsumsi. Kepuasan batin terbesar adalah saat mendengar langsung ucapan terima kasih dari anak-anak yang mendapatkan manfaat dari program ini,” tambah alumnus Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga tersebut.

Selain fokus pada pemenuhan gizi, SPPG Gamping Banyuraden 2 juga berperan sebagai penggerak ekonomi lokal di Kabupaten Sleman. Avaqo menegaskan komitmennya untuk menggandeng pelaku UMKM di Pasar Gamping guna memasok kebutuhan beras dan sayuran, serta bekerja sama dengan petani salak di wilayah Turi dan Tempel. Dengan skema ini, manfaat ekonomi dari program Makan Bergizi Gratis diharapkan dapat berputar dan dirasakan langsung oleh masyarakat serta petani lokal di Bumi Sembada. (Athiful/KIM Depok)




Usung Target Juara, Akademisi UNY Gembleng Mental dan Disiplin Ratusan Peserta OlympicAD DIY

Sleman — Kesiapan mental dan kedisiplinan menjadi fondasi utama bagi Kafilah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang akan berlaga di ajang bergengsi Olimpiade Ahmad Dahlan (OlympicAD) VIII Tingkat Nasional 2026. Dalam sesi pembekalan yang berlangsung pada Sabtu (7/2/2026), akademisi dari Universitas Negeri Yogyakarta, Sarjilah, memberikan motivasi khusus kepada ratusan peserta untuk memastikan mereka siap menghadapi tekanan kompetisi di level tertinggi. Penekanan pada aspek psikologis ini dinilai krusial karena penguasaan materi teknis saja dianggap tidak cukup tanpa dibarengi dengan ketangguhan mental.

Sarjilah menegaskan bahwa keberhasilan dalam sebuah perlombaan berskala nasional sangat dipengaruhi oleh cara peserta mengelola ketenangan dan fokus mereka. Menurutnya, panggung kompetisi sering kali memicu kecemasan yang dapat menghambat potensi maksimal siswa. Oleh karena itu, membangun rasa percaya diri yang berakar pada persiapan yang matang merupakan harga mati bagi setiap anggota kafilah. Ia berharap para pelajar Yogyakarta tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter yang tidak mudah goyah di bawah tekanan.

“Mental yang kuat akan membantu peserta tetap konsisten, tidak mudah goyah, dan mampu mengendalikan diri dalam situasi apa pun. Tekanan kompetisi harus dihadapi dengan sikap tenang, fokus, dan percaya diri agar potensi terbaik yang sudah dilatih selama ini dapat ditampilkan secara optimal di hadapan para juri dan peserta dari seluruh Indonesia,” ujar Sarjilah saat memberikan materi pembekalan di Sleman.

Selain faktor mental, kedisiplinan disoroti sebagai pilar yang membentuk etos kerja berkelanjutan. Mantan Kepala Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Seni dan Budaya (BBPPMPV-SB) periode 2019–2025 ini menjelaskan bahwa prestasi tidak pernah lahir secara instan, melainkan melalui proses panjang yang dijalani dengan penuh tanggung jawab. Disiplin dalam waktu, latihan, dan menjaga pola hidup selama masa kompetisi akan menjadi pembeda kualitas antara seorang peserta biasa dengan seorang juara sejati.

“Prestasi lahir dari proses yang dijalani dengan disiplin. Dari situlah tumbuh kepercayaan diri dan kualitas diri yang sesungguhnya. Saya ingin kalian memahami bahwa nilai utama tetap terletak pada proses, integritas, dan sikap sportif yang ditunjukkan sepanjang kegiatan. Apa pun hasilnya nanti, pengalaman ini akan membentuk karakter, kedewasaan, dan sikap profesional yang sangat berguna bagi masa depan kalian,” kata Sarjilah menambahkan.

Kekuatan kolektif atau kebersamaan dalam satu kafilah juga menjadi pesan penting yang disampaikan dalam pertemuan tersebut. Soliditas antarpeserta dan pendamping dipercaya mampu menciptakan suasana positif yang menenangkan. Dengan menjaga kekompakan, setiap individu akan merasa memiliki dukungan moral yang kuat sehingga mereka lebih berani mengeksplorasi kemampuan terbaiknya. Melalui penguatan mental dan disiplin ini, Kafilah DIY diharapkan mampu membawa pulang prestasi gemilang sekaligus menjunjung tinggi nilai-nilai luhur selama berlaga di tingkat nasional. (Athiful/KIM Depok)




Sasar Pecinta Buah Sultan, Gudang Durian Madding Perkuat Magnet Wisata Kuliner di Sleman

Sleman — Kabupaten Sleman terus bersolek memperkuat daya tarik wisata kulinernya melalui optimalisasi potensi buah lokal. Salah satu destinasi yang kini tengah mencuri perhatian para pecinta buah “Sultan” adalah Gudang Durian Madding yang berlokasi di Sempu, Wonokerto, Turi. Kehadiran pusat durian ini tidak hanya menjadi surga bagi para pemburu rasa, tetapi juga mempertegas posisi Sleman sebagai wilayah dengan pilihan kuliner khas yang beragam, kompetitif, dan memiliki standar kualitas tinggi.

Sejak memasuki area gudang, pengunjung langsung disuguhi aroma durian yang tajam dan menggoda, sebuah penanda alami bahwa buah yang tersedia merupakan hasil pilihan yang matang sempurna. Pengamat kuliner sekaligus akademisi dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Husnaini, menilai bahwa fenomena ramainya pusat durian seperti ini memberikan dampak positif bagi ekosistem ekonomi kreatif di Yogyakarta. Menurutnya, pengalaman menyantap durian telah bergeser dari sekadar konsumsi buah menjadi sebuah gaya hidup dan bagian dari budaya kuliner masyarakat.

“Durian bukan sekadar buah, tetapi bagian dari pengalaman budaya dan selera masyarakat kita. Tempat seperti Gudang Durian Madding ini memberi ruang bagi masyarakat untuk menikmati durian secara nyaman dengan jaminan kualitas yang transparan. Keberadaannya secara langsung menggerakkan roda ekonomi lokal dan memperkuat identitas Sleman sebagai destinasi wisata rasa,” ujar Husnaini pada Minggu (8/2/2026).

Gudang Durian Madding menawarkan berbagai varietas unggulan yang sangat lengkap, mulai dari Durian Montong, Bawor, Musang King, hingga varietas Durian Sultan. Menariknya, pengunjung diberikan kebebasan untuk memilih sendiri buah yang diinginkan atau meminta bantuan petugas ahli untuk mendapatkan karakter rasa yang sesuai, apakah itu manis legit atau manis pahit. Dari segi harga, tempat ini menawarkan rentang yang cukup lebar mulai dari hingga per kilogram, dengan berat buah yang bervariasi dari 1,5 kilogram hingga mencapai 10 kilogram per butir.

Satu hal yang menjadi pembeda utama sekaligus nilai tambah bagi konsumen adalah adanya sistem garansi penukaran. Jika durian yang dibuka di tempat ternyata kualitasnya kurang memuaskan atau busuk, pengelola berkomitmen untuk langsung menggantinya dengan buah yang baru. Kebijakan ini dinilai sebagai praktik usaha yang sangat sehat karena mengutamakan kepercayaan dan kepuasan pelanggan di atas segalanya.

“Jaminan kualitas dan keterbukaan harga menjadi nilai yang sangat penting dalam bisnis kuliner saat ini. Pendekatan ini menunjukkan profesionalisme pelaku usaha dalam menjaga standar layanan dan mutu produk. Inilah yang membuat pelanggan merasa aman dan tidak ragu untuk kembali berkunjung,” tambah Husnaini menjelaskan pentingnya layanan purna jual bagi UMKM kuliner.

Bagi wisatawan maupun warga lokal yang ingin berkunjung, Gudang Durian Madding beroperasi setiap hari mulai pukul hingga WIB. Lokasinya yang berada di kawasan sejuk Turi menjadikannya tempat yang ideal untuk bersantai sambil menikmati legitnya durian langsung di lokasi atau dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Dengan manajemen yang rapi dan varietas yang komplet, pusat durian ini menjadi contoh sukses pengembangan potensi lokal yang mampu bersaing di pasar nasional. (Athiful/KIM Depok)




Dukung Ekonomi Kerakyatan, Menteri Koperasi Dorong KDKMP Sleman Ciptakan Produk Lokal Unggulan

Sleman — Menteri Koperasi Republik Indonesia, Ferry Juliantono, mendorong para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang tergabung dalam koperasi untuk berani melahirkan produk lokal unggulan. Langkah ini dinilai strategis guna memperkuat identitas wilayah sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi desa. Hal tersebut ditekankannya saat menghadiri peluncuran produk Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) untuk Koperasi Desa Kalurahan Merah Putih (KDKMP) di Tamanmartani, Kalasan, Sleman, pada Sabtu (7/2/2026).

Ferry Juliantono menjelaskan bahwa program KDKMP merupakan inisiatif strategis nasional yang dirancang sebagai peluang besar bagi anggota koperasi dalam memasarkan hasil kreativitas mereka. Menurutnya, pemanfaatan bahan baku dari daerah setempat harus menjadi prioritas, baik dalam bentuk produk makanan maupun kebutuhan lainnya. Pengolahan produk tersebut dapat dilakukan dengan cara sederhana maupun sentuhan teknologi tinggi guna menghasilkan kualitas dan penampilan yang mampu bersaing di pasar modern.

“KDKMP memberikan peluang besar untuk pemasaran produk lokal unggulan anggota koperasi. Kami ingin membangkitkan ekosistem perekonomian yang sepenuhnya ditujukan bagi kesejahteraan masyarakat sendiri. Oleh karena itu, kehadiran produk lokal yang otentik menjadi sangat krusial,” ujar Ferry Juliantono di hadapan para pengurus koperasi dan pelaku usaha.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Koperasi yang juga putra daerah Yogyakarta ini memberikan perhatian khusus bagi pengembangan KDKMP di wilayah Sleman. Ia menegaskan bahwa kementerian akan mengalokasikan sumber dana untuk memberikan ruang gerak bagi koperasi yang memiliki visi membangun produk lokal. Salah satu arah kebijakan baru yang ia tekankan adalah mendorong koperasi untuk mulai beralih dari sekadar unit simpan pinjam menuju unit usaha produktif yang memberikan nilai tambah nyata.

“Saya berharap koperasi mulai mengurangi fokus pada unit simpan pinjam dan dialihkan kepada unit koperasi yang bernilai produktif. Kementrian Koperasi akan mendukung sepenuhnya koperasi yang berniat membangun produk lokal dengan daya saing kuat. Contohnya di Jawa Timur, sudah ada koperasi yang berencana membangun pabrik kecap berbahan gula aren dan kedelai karena memiliki nilai kesehatan dan keunikan rasa yang lebih tinggi dibandingkan kecap biasa,” tambahnya.

Ferry menilai Kabupaten Sleman memiliki potensi luar biasa untuk melahirkan produk-produk khas yang belum digali secara optimal. Ia menantang pengurus koperasi dan pelaku UMKM setempat untuk menemukan formula produk unggulan yang mampu menjadi ikon wilayah. Dengan dukungan penuh dari pemerintah, diharapkan gerai-gerai KDKMP, terutama unit sembako, nantinya tidak lagi didominasi produk pabrikan besar, melainkan diisi oleh karya tangan anggota koperasi sendiri.

“Mestinya Sleman juga memiliki banyak produk lokal lain yang bisa memberikan kekhasan tersendiri. Ini merupakan tantangan bagi koperasi untuk menampilkan produk lokal sebagai unggulan. Harapannya, gerai KDKMP unit sembako di masa depan akan berisi penuh dengan produk lokal UMKM anggota koperasi yang berkualitas,” tutur Ferry Juliantono menutup penjelasannya. (Kusnadi/KIM Berbah)