KIM Depok Raya Bekali Santri Nurul Ummah Pelatihan Kepenulisan

Sleman – Sekretaris Forum Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) Depok Raya Kabupaten Sleman, Athiful Khoiri memberikan pelatihan kepenulisan bagi santri Asrama Mahasiswa dan program Takhassus Pondok Pesantren Nurul Ummah Yogyakarta, Kamis (5/2/2026). Pelatihan ini diselenggarakan sebagai upaya memperkuat budaya literasi tulis, meningkatkan kemampuan menuangkan gagasan secara sistematis, serta menumbuhkan keberanian santri untuk menulis dan mempublikasikan karya.

Dalam pengantarnya, Athiful menegaskan bahwa menulis merupakan keterampilan dasar yang dapat dipelajari oleh siapa pun, termasuk santri, sepanjang disertai tekad, latihan, dan konsistensi. Menurutnya, persoalan utama yang sering dihadapi penulis pemula bukan terletak pada keterbatasan kemampuan, melainkan pada keberanian memulai dan kedisiplinan menjaga kebiasaan menulis.

“Menulis itu sebenarnya mudah dan menyenangkan. Kuncinya adalah tekad, menulis secara rutin, dan konsisten. Jika tiga hal ini dijaga, kemampuan menulis akan berkembang dengan sendirinya,” ujarnya.

Athiful mengajak peserta mengenali berbagai hambatan yang kerap menjadi alasan seseorang enggan menulis, seperti merasa tidak memiliki cukup waktu luang, kesulitan menuangkan ide dan gagasan, keterbatasan sarana, hingga rasa kurang percaya diri saat membaca ulang tulisannya sendiri.

Ia menekankan bahwa hambatan tersebut perlu disikapi secara realistis dan tidak dijadikan alasan untuk berhenti belajar. Menurutnya, keberanian menulis draf awal jauh lebih penting daripada tuntutan menghasilkan tulisan sempurna sejak awal.

Pada sesi berikutnya, Athiful memaparkan strategi menggali ide dengan menekankan pentingnya kebiasaan membaca, mendengar secara serius, berdiskusi, dan mengamati lingkungan sekitar. Ia menegaskan bahwa kualitas tulisan sangat dipengaruhi oleh kualitas bacaan.

“Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Semakin banyak membaca, semakin kaya sudut pandang dan pilihan kata dalam tulisan. Apa yang kita baca akan tersimpan dan memengaruhi cara kita menulis,” katanya.

Dalam pelatihan tersebut, peserta dibekali tahapan menulis secara runtut dan praktis. Athiful menjelaskan langkah-langkah menulis mulai dari menentukan tema, memilih waktu dan tempat yang kondusif, menyiapkan referensi, menuangkan gagasan ke dalam paragraf, menyunting dan merapikan kalimat, meneliti data, hingga menentukan judul. Ia menekankan bahwa proses penyuntingan merupakan bagian penting dalam menghasilkan tulisan yang rapi, akurat, dan layak dibaca publik.

Selain aspek teknis penulisan, Athiful juga menyampaikan materi mengenai etika dan strategi mengirimkan tulisan ke media massa. Ia mengingatkan pentingnya memahami karakter media tujuan, mempelajari tulisan yang pernah terbit, serta menyiapkan naskah yang rapi dan sesuai kaidah jurnalistik. Menurutnya, pemahaman tersebut akan membantu penulis pemula agar karyanya lebih mudah diterima redaksi.

Menutup pelatihan, Athiful memberikan sejumlah pesan motivatif agar santri tidak mudah menyerah dalam proses belajar menulis. Ia mengingatkan peserta untuk tidak takut menerima kritik, tidak membuang arsip tulisan yang belum berhasil terbit, serta tidak terjebak pada perfeksionisme berlebihan.

“Tulisan yang baik lahir dari proses panjang. Jangan menyerah hanya karena gagal sekali atau dua kali. Terus menulis dan memperbaiki,” tuturnya.

Melalui pelatihan kepenulisan ini, santri Asrama Mahasiswa dan Takhassus Pondok Pesantren Nurul Ummah Yogyakarta diharapkan semakin terampil menulis secara sistematis, berani menyampaikan gagasan keilmuan dan keislaman secara bertanggung jawab, serta mampu berkontribusi dalam penguatan literasi publik melalui karya tulis yang mencerahkan.  (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Outing Class MI Ma’arif Bego Kenalkan Manfaat Air Hujan sebagai Sumber Kehidupan

Sleman — Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ma’arif Bego, Sambego, Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, menggelar kegiatan outing class edukatif di Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Tempursari, Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Sleman, Kamis (5/2/2026). Kegiatan ini menekankan pentingnya pengelolaan air hujan sebagai sumber kehidupan yang bernilai maslahat bagi manusia dan lingkungan.

Sebanyak 77 siswa kelas IV mengikuti pembelajaran luar kelas tersebut dengan pendampingan guru dan wali murid. Melalui kegiatan ini, siswa diajak memahami bahwa air hujan merupakan karunia Allah SWT yang melimpah, bersih, dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan jika dikelola dengan benar.

Guru MI Ma’arif Bego, Suparti, dalam sambutan pengantar menyampaikan bahwa pengenalan pengelolaan air hujan sejak dini merupakan bagian dari pendidikan karakter dan kepedulian lingkungan. Menurutnya, anak-anak perlu dibiasakan untuk menghargai nikmat air serta tidak bersikap boros dalam penggunaannya.

“Air hujan bukan sekadar turun lalu terbuang. Jika dikelola dengan baik, air hujan dapat menjadi solusi untuk kebutuhan air bersih, sekaligus mengurangi ketergantungan pada air tanah,” ujarnya.

Kegiatan ini mendapat dukungan dari OISCA (Organization for Industrial, Spiritual and Cultural Advancement) International, organisasi nirlaba asal Jepang yang fokus pada pengembangan sumber daya manusia dan pelestarian lingkungan. Dukungan tersebut diwakili oleh Nur Partiningsih, yang selama ini aktif mendampingi berbagai program edukasi lingkungan berbasis masyarakat.

Rombongan siswa diterima langsung oleh pengelola Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Sri Wahyuningsih atau Bu Ning, yang juga menjadi pemateri. Ia menjelaskan bahwa air hujan merupakan sumber air dari langit yang kualitasnya sangat baik dan potensinya besar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Selama ini air hujan sering diabaikan, padahal semua orang bisa mengaksesnya secara gratis. Pemanfaatan air hujan dapat mengurangi eksploitasi air tanah yang berlebihan, menekan risiko krisis air, serta menjadi bagian dari upaya mengurangi bencana hidrometeorologi. Yang terpenting, ini adalah wujud rasa syukur kita atas anugerah Allah yang luar biasa,” kata Bu Ning.

Dalam sesi praktik, para siswa diajak mengukur kualitas air menggunakan alat TDS tester. Hasilnya menunjukkan air hujan yang dikelola dengan teknologi ISLAH di Banyu Bening memiliki tingkat Total Dissolved Solids (TDS) sekitar 7 ppm. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan air minum kemasan yang umum dikonsumsi, dengan kisaran 98–294 ppm. Sementara air hujan yang dibawa siswa dari rumah menunjukkan TDS sekitar 20–22 ppm.

Para siswa juga diajak meminum air hujan sebagai bagian dari pembiasaan, untuk mengenalkan bahwa air hujan aman dan layak dikonsumsi jika dikelola dengan tepat. Kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif yang menunjukkan antusiasme siswa dalam memahami manfaat air hujan bagi kehidupan.

Melalui outing class ini, MI Ma’arif Bego berharap para siswa tumbuh menjadi generasi yang peduli lingkungan, bijak memanfaatkan sumber daya alam, serta senantiasa mensyukuri nikmat air sebagai karunia Tuhan yang harus dijaga bersama. (Andy Ahmad – KIM DSN NGAGLIK)




Belajar Sambil Bermain, KB Pencarsari Gelar Outing Class Edukasi Kebakaran

Sleman – Kelompok Bermain (KB) Pencarsari Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, menggelar kegiatan outing class bertema edukasi penanggulangan kebakaran bagi anak usia dini, Kamis (5/2/2026). Kegiatan ini berlangsung di Lapangan Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman, dan diikuti puluhan anak-anak KB se-Kabupaten Sleman.

Kepala KB Pencarsari, Suharini menjelaskan bahwa outing class tersebut merupakan agenda rutin yang dirancang untuk memperkaya pengalaman belajar anak di luar kelas. Melalui kegiatan ini, anak-anak dikenalkan sejak dini pada profesi pemadam kebakaran serta pentingnya kewaspadaan terhadap bahaya kebakaran.

Outing class ke pemadam kebakaran memberikan banyak manfaat bagi anak PAUD, antara lain menumbuhkan rasa percaya diri, keberanian, serta kemampuan sosial anak karena mereka belajar langsung di lingkungan baru dan berinteraksi dengan petugas,” ujar Suharini.

Selain itu, kegiatan ini juga membantu anak mengenal profesi sejak dini, menanamkan nilai kepedulian, serta membangun pemahaman dasar tentang keselamatan diri dengan cara yang menyenangkan dan sesuai usia anak.

Dalam kegiatan tersebut, anak-anak diperkenalkan alat pelindung diri (APD) yang wajib digunakan oleh petugas pemadam kebakaran beserta fungsinya. Pengenalan ini bertujuan agar anak memahami pentingnya keselamatan dalam setiap tugas penanggulangan kebakaran.

Petugas pemadam kebakaran Kabupaten Sleman, Sumarjono menjelaskan bahwa tugas pemadam kebakaran tidak hanya memadamkan api, tetapi juga melakukan berbagai upaya penyelamatan.

“Penyelamatan tidak hanya manusia, tetapi juga hewan dan barang. Banyak kejadian unik yang kami tangani, seperti yang sering viral di media sosial,” katanya.

Pada sesi edukasi, Sumarjono juga menjelaskan konsep segitiga api yang terdiri atas tiga unsur utama, yakni bahan bakar, oksigen, dan panas. Ketiga unsur tersebut harus ada secara bersamaan agar api dapat menyala dan mempertahankan kebakaran. Jika salah satu unsur dihilangkan, maka api akan padam.

Kegiatan dilanjutkan dengan praktik memadamkan api sederhana menggunakan handuk basah yang diikuti guru dan siswa. Selain itu, peserta juga diperkenalkan alat pemadam api ringan (APAR) beserta tata cara penggunaannya secara aman dan benar.

Sebagai penutup, anak-anak diajak bermain air dengan semprotan dari mobil pemadam kebakaran. Anak-anak tampak antusias dan ceria mengikuti seluruh rangkaian kegiatan edukatif tersebut.

Melalui outing class ini, anak-anak PAUD tidak hanya memperoleh pengalaman belajar yang konkret dan menyenangkan, tetapi juga mendapatkan bekal pengetahuan dasar tentang keselamatan, keberanian, serta kepedulian sosial sejak usia dini. (Andy Ahmad – KIM DSN NGAGLIK)




Warjoko, Potret Cerah Petani Tulen yang Bekerja dengan Hati

Sleman – Di tengah hamparan sawah Pundong IV RT 01 RW 08, Kalurahan Tridadi, Kapanewon Mlati, Sleman, berdiri sebuah rumah sederhana yang menyatu dengan kehidupan pertanian. Di sanalah Warjoko menjalani hari-harinya sebagai petani dan peternak, pekerjaan yang telah ia tekuni lebih dari separuh hidupnya.

Ditemui di rumahnya yang berada di tengah sawah pada Kamis (5/2/2026), Warjoko menyambut dengan kesederhanaan khas petani. Meski usia tak lagi muda, semangatnya tetap menyala. Ia dengan lancar bercerita tentang jati dirinya sebagai petani tulen yang bekerja dengan hati.

“Saya ini dari dulu ya petani, mas. Hidup saya ya di sawah dan kandang,” ujarnya sambil tersenyum.

Perjalanan hidup Warjoko tidak langsung mulus. Ia memulai dari bawah sebagai buruh tani. Baru pada usia 35 tahun ia memutuskan untuk mandiri. Keputusan tersebut dilandasi kecintaannya pada dunia pertanian dan peternakan. Meski hanya mengenyam pendidikan hingga sekolah dasar, ketekunan dan konsistensinya mengantarkannya pada kehidupan yang cukup dan mandiri.

“Sekolah saya cuma SD, tapi kalau kerja itu harus sungguh-sungguh. Kalau ditekuni, insyaallah cukup,” tuturnya.

Di atas lahan seluas sekitar 750 meter persegi, rumah Warjoko berdiri sekaligus difungsikan sebagai kandang ternak. Ia memelihara sembilan ekor sapi, tujuh ekor kambing gibas, 21 ekor bebek, 14 ekor menthok, serta 20 ekor ayam Jawa.

Selain itu, Warjoko juga mengelola lahan pertanian seluas kurang lebih 800 meter persegi. Kepemilikan ternak dan lahan tersebut menjadi bukti kesuksesan yang ia raih dari kerja keras bertahun-tahun.

Di samping rumahnya, dua gerobak sapi terparkir rapi. Gerobak itu setia menemaninya saat membeli borongan padi maupun kacang tanah di sawah atau yang dikenal dengan istilah nebas. Aktivitas tersebut rutin dilakukan, selain kegiatan pagi hari menggiring bebek-bebeknya menyusuri sawah dan parit yang tak jauh dari rumah.

Dalam menjalankan rutinitas, Warjoko dibantu oleh istri, anak, menantu, dan cucunya. Pembagian tugas telah berjalan dengan baik dan dilakukan dengan penuh kebersamaan. Mulai dari mengurus ternak hingga mencari pakan berupa odot, kolonjono, damen, dan rendeng di sawah. Untuk kebutuhan komboran, Warjoko masih harus membeli sentrat, ampas ketela, dan bekatul dengan biaya sekitar Rp500 ribu per minggunya.

“Dikerjakan bareng-bareng itu rasanya ringan. Saya jalani senang saja, tidak pernah merasa berat,” katanya.

Soal pendapatan, Warjoko tidak pernah menghitung secara pasti. Perputaran uang dari penjualan sapi, kambing, menthok, telur bebek, dan ayam digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Jika ada kelebihan, ia manfaatkan untuk pengembangan usaha. Sikap menerima dan apa adanya membuat Warjoko tidak pernah bersentuhan dengan jasa perbankan.

Kepada generasi muda, Warjoko berpesan agar fokus dan tekun dalam bekerja. Menurutnya, pekerjaan harus dijalani dengan rasa senang agar bisa menjiwai prosesnya.

“Kalau kerja itu jangan cuma ikut keinginan. Begitu bosan, nanti ditinggal. Harus senang dulu sama pekerjaannya,” pesannya.

Selain bertani dan beternak, Warjoko juga memiliki aktivitas lain yang kini menjadi bagian dari pertunjukan wisata. Ia tergabung dalam kelompok gerobak wisata “Manunggal Lestari”, yakni kelompok pengendali gerobak sapi atau yang dikenal dengan istilah bajingan, akronim dari baguse jiwo angen-angen ing pangeran di wilayah Sleman Barat.

Kelompok tersebut menjalin kemitraan dengan destinasi wisata Rumah Kecebong di wilayah Mlati. Warjoko bersama anggota lainnya kerap membawa wisatawan domestik maupun mancanegara berkeliling menikmati keindahan alam pedesaan dengan menaiki gerobak sapi. Dengan difasilitasi busana surjan dan blangkon serta uang jasa dari pihak pengelola wisata, mereka rata-rata mendapat order sekitar empat kali dalam sebulan. Untuk menjaga kekompakan, Manunggal Lestari rutin menggelar pertemuan selapanan yang diisi dengan arisan dan rembug kelompok.

Warjoko adalah buku terbuka. Dari cara bertutur hingga caranya menjalani kehidupan, kita dapat membaca semangat, ketekunan, dan dedikasi seorang petani yang mencapai kesuksesan bukan dengan keluhan, melainkan dengan kerja keras dan ketulusan hati. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Forum WKSBM Sleman Ikuti Pembinaan Dinsos DIY untuk Perkuat Sinergi Layanan Sosial

Sleman — Guna meningkatkan peran serta Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat (WKSBM) dalam membangun sinergi lintas sektor, Forum WKSBM Sleman mengikuti kegiatan pembinaan dan rapat koordinasi yang digelar oleh Dinas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kegiatan tersebut berlangsung pada Kamis (5/2/2026), di edOtel, Jalan Kenari Nomor 4, Yogyakarta.

Kepala Bidang Kelembagaan Sosial Dinas Sosial DIY, Tri Susilastuti, dalam sambutannya menyampaikan bahwa WKSBM merupakan mitra strategis Dinas Sosial yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Berbagai keluhan dan persoalan sosial kerap disampaikan warga melalui WKSBM, sehingga lembaga ini dituntut mampu mengurai permasalahan sekaligus memberikan solusi yang tepat.

“Ketika WKSBM mampu memberikan solusi, masyarakat secara tidak langsung akan mempromosikan peran WKSBM melalui mulut ke mulut. Kuncinya adalah responsif dan memiliki jejaring yang kuat,” ungkapnya.

Ia menegaskan, kerja di lini bawah tidak dapat dilakukan sendiri. Oleh karena itu, sinergitas dengan seluruh pemangku kepentingan menjadi kebutuhan utama dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial. WKSBM yang tumbuh dari, oleh, dan untuk masyarakat juga dituntut mampu melibatkan seluruh potensi yang ada.

“Dengan melibatkan masyarakat, warga akan merasa memiliki dan ikut bertanggung jawab terhadap keberlangsungan WKSBM,” tandasnya.

Tri Susilastuti menambahkan, mengingat peran WKSBM yang sangat kompleks, Dinas Sosial DIY memandang perlu menggelar rapat koordinasi dan pembinaan bersama Forum WKSBM kabupaten dan kota se-DIY. Kegiatan ini mengusung tema Kolaborasi dan Sinergi Antar Sektor guna Meningkatkan Kapasitas WKSBM.

Materi utama disampaikan oleh Prih Wardoyo dari Balai Besar Kementerian Sosial dengan topik Strategi WKSBM Membangun Sinergi dengan Para Pihak dalam Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial. Dalam paparannya, Prih menekankan bahwa WKSBM memiliki peran penting dalam penanganan persoalan kesejahteraan sosial, sehingga diperlukan strategi membangun sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan.

“WKSBM harus mampu memetakan mitra yang ada. Mitra tersebut antara lain pemerintah seperti Dinas Sosial, kapanewon, kalurahan, serta Organisasi Perangkat Daerah lainnya,” jelasnya.

Selain itu, WKSBM juga perlu bersinergi dengan sumber daya sosial seperti Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), Karang Taruna, Taruna Siaga Bencana (Tagana), serta pendamping Program Keluarga Harapan (PKH). Tidak kalah penting, kemitraan dengan lembaga, dunia usaha, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta komunitas pemuda dan perempuan juga menjadi bagian dari penguatan jejaring.

“WKSBM tidak dituntut untuk serba bisa, tetapi harus pandai menghubungkan dan menggerakkan,” tegas Prih.

Ia menjelaskan bahwa sinergitas berarti memiliki tujuan yang sama dengan peran yang berbeda, saling melengkapi dan menguatkan. Kunci utamanya adalah memahami siapa melakukan apa, bukan mengerjakan semua hal sendiri.

Lebih lanjut, dalam membangun sinergi, WKSBM perlu memiliki identitas kelembagaan yang jelas, komunikasi yang aktif dan terbuka, kolaborasi berbasis permasalahan nyata, serta kemampuan berbagi peran dan sumber daya. Di samping itu, membangun kepercayaan publik menjadi faktor penting dalam keberlanjutan peran WKSBM.

“Sinergi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan agar penyelenggaraan kesejahteraan sosial benar-benar dirasakan manfaatnya oleh pemerlu pelayanan kesejahteraan sosial,” pungkasnya. (Giek/ KIM Moyudan)