Sambut Ramadan 1447 H, Ratusan Warga Suruh dan Jetis Suruh Gelar Nyadran Lintas Agama

Sleman — Ratusan warga Padukuhan Suruh dan Jetis Suruh, Donoharjo, Kapanewon Ngaglik, berkumpul di Area Makam Suruh pada Sabtu (31/1/2026) untuk melaksanakan tradisi Nyadran. Ritual tahunan menjelang bulan suci Ramadan 1447 Hijriah ini digelar sebagai bentuk persiapan spiritual sekaligus pelestarian budaya yang telah turun-temurun dijaga oleh masyarakat setempat. Peristiwa ini mencerminkan kuatnya akar budaya Jawa yang berpadu harmonis dengan nilai-nilai religius dalam menyongsong bulan puasa.
Acara yang berlangsung khidmat tersebut dihadiri oleh tokoh agama, tokoh masyarakat, serta warga dari berbagai lapisan usia. Hadir sebagai penceramah utama, Makmum Kholid, yang mengupas tuntas makna dan filosofi di balik tradisi Nyadran. Dalam tausiyahnya, ia menjelaskan bahwa Nyadran bukan sekadar ritual rutin, melainkan sebuah proses akulturasi budaya yang mengandung nilai sosial sangat kuat sebagai sarana pembersihan diri lahir maupun batin.
“Nyadran adalah salah satu ikhtiar untuk membersihkan diri agar saat memasuki bulan Ramadan kita berada dalam kondisi siap menjalankan ibadah puasa dengan lebih khusyuk. Mendoakan para leluhur adalah bagian dari ajaran kebaikan, sekaligus menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kehidupan di dunia ini bersifat sementara dan setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada sang pencipta,” ujar Makmum Kholid di hadapan para jamaah.
Lebih lanjut, Makmum Kholid menegaskan bahwa esensi Nyadran juga terletak pada penguatan harmoni sosial. Tradisi ini menjadi ruang perjumpaan yang mampu meluruhkan sekat-sekat perbedaan dan mempererat tali silaturahmi antarwarga melalui semangat gotong royong. Hal ini dibuktikan dengan kehadiran warga nonmuslim yang turut berpartisipasi aktif dalam rangkaian acara, menunjukkan bahwa Nyadran telah menjadi identitas budaya milik bersama di wilayah tersebut.
Kepala Dukuh Suruh, Agus Pranggono, menyatakan bahwa keterlibatan warga lintas agama dalam prosesi Nyadran merupakan pemandangan yang lazim dan menjadi bukti nyata toleransi di lingkungannya. Menurutnya, kerukunan yang terjaga selama ini merupakan warisan dari para leluhur yang harus terus dipelihara. Ia menilai bahwa ketika warga berkumpul di makam, fokus utama mereka adalah rasa hormat kepada pendahulu dan kebersamaan sebagai satu keluarga besar padukuhan.
“Tradisi Nyadran ini sudah menjadi milik bersama seluruh warga di sini, tanpa memandang perbedaan latar belakang. Semua terlibat mulai dari proses pembersihan hingga doa, karena tujuan utama kami adalah menjaga kebersamaan dan kerukunan yang sudah lama terjalin. Kami ingin memastikan nilai-nilai gotong royong ini tidak luntur dimakan zaman,” ungkap Agus Pranggono.
Rangkaian kegiatan diawali dengan tradisi besik, yaitu aksi gotong royong membersihkan nisan leluhur dan area pemakaman sebagai simbol penghormatan dan kepedulian lingkungan. Puncak acara ditutup dengan doa bersama dan tahlil yang dipimpin oleh tokoh agama setempat. Melalui pelaksanaan Nyadran ini, warga Suruh dan Jetis Suruh berharap nilai-nilai luhur tersebut dapat diwariskan kepada generasi muda sebagai pondasi karakter dalam bermasyarakat. (Upik Wahyuni/KIM Donoharjo)



