Tangani Aduan Warga, Limbah Pakan Ikan KPI Ngupoyo Mino Berbah Dikubur Menggunakan Alat Berat

Sleman — Penanganan cepat dilakukan guna mengatasi aduan polusi bau yang bersumber dari fasilitas pembuatan pakan ikan Kelompok Peternak Ikan (KPI) Ngupoyo Mino di Dusun Sanggrahan, Kalurahan Tegaltirto, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (05/09/2026). Anggota Komisi D DPRD Kabupaten Sleman, Mbah Wanto, memimpin langsung proses penguburan limbah pakan organik menggunakan alat berat berupa ekskavator untuk meredam bau busuk yang meresahkan pemukiman sekitar.
Proses penanganan darurat tersebut dilakukan dengan membuat galian lubang sedalam dua meter dan lebar tiga meter dengan sepengetahuan pihak pengelola kelompok. Seluruh tumpukan limbah sampah organik dimasukkan ke dalam lubang, diberi penawar bau, kemudian ditutup rapat menggunakan tanah serta dipadatkan agar aroma tidak lagi menyebar ke udara bebas.
Anggota Komisi D DPRD Kabupaten Sleman, Mbah Wanto, menjelaskan bahwa langkah penguburan ini merupakan tindakan cepat untuk menghentikan sumber polusi udara secara langsung seraya menunggu pembenahan sistem produksi secara menyeluruh.
“Sebelum ditutup dengan tanah, limbah tersebut ditaburi kapur untuk mengurangi bau. Namun, tindakan mengubur limbah sampah organik ini hanya merupakan tindakan darurat untuk menghilangkan bau busuk. Yang harus diperhatikan dan dalam pengawasan ke depan adalah kegiatan pembuatan pakan ikan tidak boleh lagi menggunakan bahan yang menimbulkan bau,” ujar Mbah Wanto di lokasi pekerjaan.
Langkah darurat ini mengemuka pasca-kesepakatan rapat koordinasi Forum Komunikasi Pimpinan Kapanewon (Forkopim) Berbah pada Jumat (04/09/2026). Dalam berita acara kesepakatan tersebut, pihak KPI Ngupoyo Mino diberi tenggat waktu satu minggu untuk membersihkan area dari bahan penyebab bau, serta menyatakan bersedia menghentikan kegiatan produksi secara permanen jika masalah polusi udara masih berlanjut.
Berdasarkan keterangan seorang warga sekitar yang enggan disebutkan namanya, polusi bau tersebut dipicu oleh penampungan limbah organik berupa kepala ikan, sisa dapur, daging beku, hingga telur afkir dari industri pembibitan ayam yang disimpan dalam empat kolam bioflok berdiameter tiga meter. Pengiriman limbah pakan yang telah berlangsung sejak Hari Raya Idulfitri tersebut dilakukan rutin hingga tiga kali dalam seminggu, sehingga menimbulkan akumulasi busuk yang mengganggu kenyamanan warga. (Kusnadi/KIM Berbah)



