Rawat Harmoni Sosial, Jaga Warga Sedogan Jadikan Musyawarah sebagai Benteng Konflik di Masyarakat

Sleman — Penguatan ketahanan sosial di tingkat paling dasar kembali ditegaskan melalui pertemuan ramah tamah kelompok Jaga Warga tingkat padukuhan yang digelar di Sedogan, Sleman, pada Senin (26/1/2026). Pertemuan yang berlangsung di Sekretariat Jaga Warga Sedogan ini bukan sekadar ajang silaturahmi rutin, melainkan ruang dialog strategis untuk merawat budaya musyawarah sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat yang damai, inklusif, dan bebas dari gesekan sosial.

Kegiatan ini dihadiri oleh Dukuh Sedogan Aisyah Putri Wulansari, Ketua LPMKAL Sedogan Sutardi, serta jajaran pengurus dan anggota kelompok Jaga Warga. Dalam suasana yang terbuka dan partisipatif, forum ini mendiskusikan berbagai potensi tantangan sosial di lingkungan padukuhan. Model penguatan berbasis komunitas ini dinilai sangat relevan di tengah dinamika masyarakat saat ini yang memerlukan saluran komunikasi efektif untuk mencegah munculnya prasangka antarwarga.

Dukuh Sedogan, Aisyah Putri Wulansari, menekankan bahwa musyawarah dan mufakat merupakan kebutuhan sosial yang tidak bisa ditawar. Menurutnya, sebagian besar konflik yang terjadi di masyarakat sering kali dipicu oleh komunikasi yang terputus atau tersumbat, bukan karena persoalan yang besar. Oleh karena itu, kehadiran kelompok Jaga Warga diharapkan mampu menjadi jembatan dialog sebelum sebuah masalah berkembang menjadi konflik yang lebih luas.

“Musyawarah dan mufakat itu sangat penting agar tidak muncul prasangka yang tidak diinginkan di tengah warga. Apalagi jika menyangkut kepentingan banyak pihak, sebaiknya dibicarakan bersama sejak awal agar semua jelas. Kami ingin memastikan setiap suara didengar sehingga keputusan yang diambil benar-benar menjadi kesepakatan kolektif yang dihargai oleh semua pihak,” ujar Aisyah Putri Wulansari di sela-sela pertemuan.

Sejalan dengan hal tersebut, Ketua LPMKAL Sedogan, Sutardi, menambahkan bahwa transparansi merupakan kunci utama dalam menjaga kepercayaan publik di tingkat lokal. Ia mencontohkan aktivitas pembangunan yang bersinggungan dengan fasilitas umum sebagai hal yang sensitif jika tidak dikomunikasikan dengan baik. Kesepakatan yang lahir dari meja musyawarah dipercaya dapat meminimalkan dampak sosial jangka panjang dan mempererat solidaritas antarwarga.

“Kalau sudah ada kesepakatan bersama, biasanya tidak akan menimbulkan dampak berkepanjangan karena semua sudah paham rasionya. Misalnya, ada warga yang hendak melakukan pembangunan yang berkaitan dengan fasilitas umum, sangat penting dibicarakan dulu. Komunikasi terbuka seperti inilah yang membuat semua warga merasa dihargai dan dilibatkan dalam menjaga ruang bersama,” jelas Sutardi.

Ketua Jaga Warga Sedogan, Gatot Yulianto, menegaskan komitmen lembaganya untuk menjadi ruang netral dalam menampung aspirasi masyarakat. Ia menekankan bahwa fungsi utama kelompok ini adalah mencari solusi yang adil bagi seluruh pihak yang terlibat, tanpa harus memojokkan salah satu sisi. Dengan pendekatan dialogis ini, Jaga Warga berupaya menciptakan lingkungan yang kondusif dan aman bagi seluruh lapisan warga.

“Kami ingin Jaga Warga menjadi tempat warga merasa aman untuk berdiskusi tentang apa saja terkait lingkungan mereka. Tujuannya bukan untuk mencari siapa yang benar atau salah secara mutlak, tetapi mencari solusi yang adil bagi semua. Kami adalah mitra warga dalam menjaga ketenangan dan ketertiban di wilayah ini agar kebersamaan tetap terjaga,” tegas Gatot Yulianto.

Model penguatan sosial berbasis komunitas yang diterapkan di Sedogan ini mencerminkan semangat pembangunan nasional yang menempatkan partisipasi aktif masyarakat sebagai pilar utama. Melalui semangat kebersamaan dan keterbukaan, kelompok Jaga Warga kini bertransformasi menjadi benteng terdepan dalam menjaga persatuan serta mengajarkan nilai-nilai gotong royong yang tetap relevan bagi masyarakat Indonesia. (SBD/KIM Senyum Tempel)




Wajah Baru Lapangan Sidomoyo, Fasilitas Jogging Track Resmi Beroperasi

Sleman — Kalurahan Sidomoyo kini memiliki ruang publik baru yang representatif bagi para pencinta olahraga dan rekreasi keluarga. BUMKal Sidomoyo Makmur secara resmi meluncurkan fasilitas jogging track yang mengelilingi Lapangan Sepakbola Kalurahan Sidomoyo pada Minggu (25/1/2026). Peresmian ini dihadiri oleh Lurah Sidomoyo Hariyadi serta Kepala Jawatan Kemakmuran Godean Dani Subiyanto, yang menandai babak baru optimalisasi aset desa untuk kesehatan masyarakat.

Lintasan lari sepanjang kurang lebih 450 meter tersebut langsung diserbu ratusan warga sejak pukul WIB. Acara dimulai dengan senam bersama yang menciptakan suasana meriah, disusul dengan prosesi potong tumpeng sebagai simbol rasa syukur. Pembangunan lintasan ini merupakan bagian dari visi pemerintah kalurahan untuk menyediakan ruang publik yang ramah bagi seluruh kalangan, mulai dari anak-anak hingga lansia.

Direktur BUMKal Sidomoyo Makmur, Supriyadi, menjelaskan bahwa kehadiran jogging track ini merupakan jawaban atas kebutuhan warga akan tempat olahraga yang aman dan nyaman. Dengan adanya fasilitas ini, warga tidak lagi harus berbagi jalan dengan kendaraan bermotor saat ingin berolahraga pagi atau sore hari. Ia berharap masyarakat dapat menjaga sarana yang telah dibangun dengan biaya yang tidak sedikit ini agar tetap berfungsi dalam jangka panjang.

“Saat ini Kalurahan Sidomoyo telah resmi memiliki fasilitas olahraga untuk umum berupa jogging track. Kami ingin warga memanfaatkannya sebaik mungkin untuk menjaga kebugaran. Ke depan, kami juga merencanakan pengembangan lebih lanjut agar area lapangan ini menjadi pusat kegiatan positif bagi seluruh lapisan masyarakat,” ujar Supriyadi di sela-sela peresmian.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Jawatan Kemakmuran Godean, Dani Subiyanto, memberikan apresiasi atas langkah inovatif BUMKal Sidomoyo Makmur. Ia menekankan bahwa sebuah fasilitas publik akan memberikan dampak ekonomi jika dikelola secara berkelanjutan. Dani berharap ke depan pemerintah kalurahan dapat menambah fasilitas pendukung olahraga lainnya guna melengkapi area lapangan sepakbola tersebut.

Kehadiran lintasan lari ini pun disambut antusias oleh warga setempat. Lina, salah satu pengunjung asal Sidomoyo, mengungkapkan rasa senangnya karena kini memiliki tempat olahraga yang aman dari lalu lalang kendaraan. Menurutnya, konsep lintasan yang menyatu dengan area hijau lapangan sangat cocok untuk berolahraga bersama keluarga karena aman bagi anak-anak dan cukup nyaman bagi orang tua.

“Saya senang sekali dengan adanya fasilitas ini. Sekarang kalau mau lari atau sekadar jalan santai tidak perlu takut lagi dengan kendaraan di jalan raya. Selain ramah anak dan lansia, lokasinya juga asyik untuk berkumpul bersama teman sebaya sambil menikmati udara pagi,” kata Lina saat mencoba lintasan baru tersebut.

Geliat ekonomi lokal juga mulai tampak di sekitar area jogging track dengan kehadiran Bazar UMKM Sidomoyo. Berbagai jenis kuliner dan minuman segar tersedia bagi para pengunjung, sehingga mereka yang berolahraga dapat langsung bersantap tanpa harus mencari tempat jauh. Saat ini, setidaknya terdapat delapan pelaku UMKM yang rutin membuka lapak setiap akhir pekan, dan jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah seiring meningkatnya popularitas fasilitas olahraga baru tersebut. (Joko Yugiyanto/KIM Godean)




Sasar Aparatur Desa, Kalurahan Condongcatur Bedah KUHP Baru Guna Cegah Korupsi dan Konflik Sosial

Sleman — Pemerintah Kalurahan Condongcatur mengambil langkah proaktif dalam membekali jajaran aparatur kewilayahan menghadapi transisi hukum nasional. Menyusul mulai berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP Nasional) secara efektif pada 2 Januari 2026, Pemkal Condongcatur menggelar sosialisasi mendalam bertajuk pemahaman delik pidana modern di Ruang Wacana Loka, Senin (26/1/2026).

Kegiatan yang diikuti oleh carik, kepala seksi, kepala urusan, hingga dukuh se-Condongcatur ini menghadirkan pakar hukum dari DUAZ & Co. Building & Law, yakni Angela Febranti Silaban dan Joko Susilo. Sosialisasi ini menjadi krusial mengingat KUHP baru membawa paradigma hukum yang berbeda dari warisan kolonial, dengan menitikberatkan pada keadilan restoratif dan pemulihan keseimbangan sosial di tingkat masyarakat paling bawah.

Dalam paparannya, Joko Susilo membedah sejumlah aturan baru yang bersinggungan langsung dengan dinamika sosial di pedesaan, seperti delik mengenai pengakuan kekuatan gaib atau santet serta perluasan delik aduan pada perkara kohabitasi atau kumpul kebo. Penjelasan ini dinilai penting bagi para dukuh yang sering menjadi penengah konflik di tengah warga.

“Di dalam undang-undang yang baru ini, terdapat aturan terkait praktik santet. Jadi, siapa pun yang mengaku memiliki kekuatan gaib untuk mencelakakan orang, menyembuhkan, atau membuat kaya, dapat dikenakan pasal pidana. Hal ini untuk mencegah tindak pidana lanjutan seperti penipuan atau pemerasan. Selain itu, terkait kohabitasi, kini orang tua atau anak kandung juga dapat melapor, berbeda dengan aturan lama yang hanya membolehkan pasangan sah,” ujar Joko Susilo di hadapan para perangkat desa.

Selain isu sosial, materi antikorupsi menjadi sorotan utama bagi keberlangsungan tata kelola dana desa dan tanah kas desa. Angela Febranti Silaban memperingatkan bahwa pasal-pasal dalam KUHP baru kini secara spesifik dapat menjerat lurah maupun perangkat desa yang secara melawan hukum memperkaya diri atau menyalahgunakan kewenangan jabatan. Ia menegaskan bahwa meskipun telah dikodifikasi dalam KUHP, penanganan korupsi tetap mengacu pada undang-undang tindak pidana korupsi sebagai aturan khusus.

“Pasal-pasal dalam KUHP baru ini menegaskan bahwa pengelolaan keuangan dan aset desa berada dalam pengawasan hukum pidana antikorupsi yang ketat. Pemilik hewan peliharaan pun kini bisa dipidana jika lalai menjaga hewannya hingga membahayakan orang lain di jalan umum. Ini adalah bentuk perlindungan hukum yang lebih menyeluruh bagi warga,” jelas Angela Febranti Silaban.

Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji, menekankan bahwa pemahaman hukum yang matang bagi perangkat kalurahan adalah fondasi utama untuk mewujudkan tertib administrasi. Ia berharap melalui sosialisasi ini, para pamong desa lebih teliti dalam menjalankan prosedur kerja guna menghindari kesalahan administratif yang berujung pada kerugian negara.

“Tujuan utama kami adalah membekali perangkat kalurahan agar lebih teliti dan sesuai prosedur dalam bekerja. Dengan administrasi yang tertib, kita dapat mencegah potensi terjadinya kesalahan hukum. Selain itu, jika masyarakat dan aparatur paham aturan baru ini, partisipasi dalam penegakan hukum akan meningkat dan konflik antara warga dengan aparat dapat diminimalisir,” kata Reno Candra Sangaji.

Forum yang berlangsung interaktif ini diakhiri dengan sesi tanya jawab mengenai batasan hukum dalam pelayanan sehari-hari. Kesadaran hukum yang dibangun dari tingkat kalurahan ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan masyarakat yang lebih kondusif, aman, dan sadar akan pentingnya penegakan hukum dalam pembangunan nasional. (Wasana/KIM Depok)




GP Ansor Sleman Gandeng DPRD Susun Peta Jalan SDM Menuju Indonesia Emas 2045

Sleman — Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Sleman mengambil langkah strategis dalam menyiapkan kader-kadernya menghadapi tantangan global. Melalui kegiatan Stadium General yang digelar di Pendapa Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sleman pada Minggu (25/1/2026), organisasi pemuda di bawah naungan Nahdlatul Ulama ini secara resmi merumuskan peta jalan atau roadmap pengembangan sumber daya manusia guna menyongsong visi Indonesia Emas 2045.

Kegiatan ini mempertemukan seluruh pengurus harian serta ketua bidang kaderisasi dari 17 kapanewon se-Kabupaten Sleman. Forum tersebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga ruang dialektika untuk merespons dinamika zaman, mulai dari transformasi digital hingga bonus demografi yang tengah dihadapi bangsa. Kehadiran perwakilan legislatif dalam forum ini mempertegas posisi GP Ansor sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam pembangunan karakter pemuda di tingkat lokal.

Ketua Bidang Kaderisasi GP Ansor Sleman, Walgiyanto, menegaskan bahwa kualitas sumber daya manusia adalah variabel kunci bagi keberlangsungan organisasi dan kemajuan bangsa. Menurutnya, kader Ansor harus memiliki kemampuan yang melampaui standar tradisional agar mampu mengisi pos-pos strategis di berbagai sektor pembangunan. Ia berharap roadmap ini menjadi panduan dalam mencetak generasi muda yang memiliki kompetensi teknis sekaligus integritas moral yang kokoh.

“Penguatan kualitas sumber daya manusia menjadi kunci utama agar Ansor mampu berkontribusi nyata dalam pembangunan bangsa. Indonesia Emas hanya dapat diwujudkan apabila generasi mudanya memiliki kompetensi, integritas, dan karakter kebangsaan yang kuat. Kami ingin melahirkan kader yang adaptif dan siap mengambil peran strategis di berbagai bidang, mulai dari ekonomi hingga teknologi,” ujar Walgiyanto di hadapan para kader.

Transformasi organisasi juga ditunjukkan dengan pengenalan platform digital Sahabat Indonesia Applications (SIApps). Ketua Dewan Penasihat GP Ansor Sleman, Ariyanto Nugroho, dalam kesempatan tersebut menekankan pentingnya digitalisasi data kader guna memastikan proses kaderisasi berjalan akuntabel dan terstruktur. Aplikasi ini dirancang untuk mendokumentasikan riwayat keorganisasian hingga kompetensi anggota secara sistematis, sehingga pemetaan potensi kader dapat dilakukan secara presisi untuk kebutuhan program pengembangan di masa depan.

“Pentingnya mekanisme kaderisasi melalui aplikasi SIApps terletak pada upaya modernisasi sistem agar lebih terstruktur dan berkelanjutan di tengah perkembangan teknologi. Melalui aplikasi ini, pendataan anggota dan jenjang kaderisasi terdokumentasi dengan baik, sehingga kita bisa melakukan pemetaan potensi kader secara tepat sasaran demi pelayanan yang lebih luas kepada masyarakat,” jelas Ariyanto Nugroho.

Stadium general ini juga menghadirkan Anggota Komisi A DPRD Kabupaten Sleman, Wahyudi Kurniawan, yang memberikan perspektif luas mengenai arah kebijakan pembangunan sumber daya manusia secara nasional. Kehadiran legislator ini membuka ruang dialog terbuka, di mana kader muda Ansor dapat menyampaikan aspirasi secara langsung kepada pembuat kebijakan. Kolaborasi ini menunjukkan komitmen GP Ansor untuk tetap relevan dalam diskursus pembangunan daerah dan nasional.

Melalui konsolidasi pemikiran ini, GP Ansor Sleman berharap dapat melahirkan kader-kader yang tidak hanya cakap secara organisatoris, tetapi juga unggul dalam literasi digital dan kewirausahaan. Gerakan ini diharapkan menjadi motor penggerak bagi kemandirian generasi muda di wilayah Sleman dalam menghadapi persaingan global yang semakin kompetitif menuju abad ke-21. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




1.428 Calon Jamaah Haji Sleman Pererat Silaturahmi Lewat Ta’aruf

Sleman — Sebanyak calon jamaah haji asal Kabupaten Sleman mulai mempersiapkan diri menuju tanah suci dengan mengikuti kegiatan ta’aruf massal pada Minggu (25/1/2026). Bertempat di Masjid Agung dr. Wahidin Sudirohusodo, kegiatan ini menjadi momentum penting bagi para calon jamaah untuk saling mengenal dan membangun solidaritas sebelum diberangkatkan ke Arab Saudi. Pertemuan ini tidak hanya sekadar perkenalan, tetapi juga menjadi wadah konsolidasi awal mengenai kesiapan fisik dan mental para jamaah.

Bupati Sleman, Harda Kiswaya, yang hadir dan membuka langsung acara tersebut menekankan bahwa hubungan emosional yang baik antarjamaah adalah kunci kelancaran ibadah di tanah suci. Ia menilai bahwa tantangan selama menjalankan rukun Islam kelima tersebut akan terasa lebih ringan jika para jamaah memiliki rasa persaudaraan yang kuat. Dengan saling mengenal sejak dini, diharapkan timbul sikap saling peduli, terutama bagi jamaah yang berusia lanjut atau membutuhkan bantuan khusus selama berada di makkah dan Madinah.

“Kegiatan ta’aruf ini sangat perlu dilakukan untuk menciptakan ruang silaturahmi agar terjalin keakraban satu sama lain sehingga melahirkan rasa kebersamaan yang kuat. Dengan rasa kebersamaan, akan tercipta sikap saling menghormati dan saling membantu, sehingga jamaah dapat menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan khusyuk dan pulang membawa predikat haji mabrur,” ujar Harda Kiswaya di hadapan ribuan jamaah.

Selain aspek sosial, Harda juga menitipkan pesan mendalam terkait kedisiplinan dan kesehatan. Ia meminta seluruh jamaah untuk tidak mengabaikan setiap instruksi dalam rangkaian manasik haji yang akan segera dilaksanakan. Menurutnya, pemahaman mengenai tata cara ibadah dan regulasi di Arab Saudi harus dikuasai dengan baik sejak di tanah air agar tidak terjadi kendala saat pelaksanaan di lapangan. Ia juga mewanti-wanti para jamaah untuk mulai menjaga pola makan dan kebugaran tubuh mengingat cuaca di tanah suci yang kerap ekstrem.

Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Sleman, Wiyato Widodo, menambahkan bahwa dalam forum ta’aruf ini, para jamaah mendapatkan sosialisasi komprehensif mengenai teknis pelaksanaan ibadah. Informasi yang disampaikan meliputi jadwal keberangkatan, aturan barang bawaan, hingga protokol kesehatan. Hal ini dilakukan agar para jamaah memiliki gambaran yang jelas mengenai apa saja yang harus dipersiapkan sebelum masuk ke asrama haji.

Salah satu informasi krusial yang disampaikan dalam pertemuan tersebut adalah perubahan lokasi embarkasi bagi jamaah asal Kabupaten Sleman. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, mulai tahun 2026 ini keberangkatan jamaah haji akan dialihkan melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA). Perubahan ini menjadi catatan penting bagi para jamaah agar dapat menyesuaikan rencana transportasi dan koordinasi keluarga saat hari keberangkatan nanti.

“Kami memberikan penjelasan mendalam terkait embarkasi, di mana tahun ini mengalami perubahan lokasi ke Bandara Yogyakarta International Airport. Kami ingin memastikan seluruh jamaah memahami alur keberangkatan yang baru ini agar tidak terjadi kekeliruan koordinasi saat jadwal keberangkatan tiba,” tegas Wiyato Widodo dalam laporannya.