Kekuatan Riset Jadi Kunci Penulisan Sastra

Sleman — Kualitas sebuah karya sastra, baik berupa cerita pendek (cerkak), novelet, maupun novel, sangat ditentukan oleh kedalaman riset yang dilakukan oleh penulisnya. Hal tersebut menjadi sorotan utama dalam workshop penulisan yang digelar oleh Paguyuban Sastra Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi pada Minggu (25/1/2026). Bertempat di Ruang Rapat Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, Yogyakarta, kegiatan ini bertujuan membekali para penulis lokal agar mampu menghasilkan karya yang lebih berbobot dan memiliki latar belakang cerita yang kuat.

Kepala Sekolah Sastra Sleman, Budi Sarjono, menegaskan bahwa riset mendalam mampu menghidupkan suasana cerita sehingga pembaca merasa terlibat di dalamnya. Ia memperkenalkan metode praktis bagi penulis dalam melakukan riset lapangan yang disebut dengan akronim ADIT, yakni amati, dengarkan, imajinasikan, dan tulis. Menurutnya, mendatangi lokasi yang menjadi latar cerita dan berinteraksi langsung dengan narasumber atau penduduk setempat akan memberikan detail-detail yang tidak bisa didapatkan hanya melalui imajinasi semata.

“Saat melakukan riset pada suatu tempat, yang harus dilakukan adalah mempergunakan metode ADIT. Amati lingkungan sekitar, dengarkan kisah dari narasumber atau penduduk setempat, lalu imajinasikan bagaimana kejadian itu berlangsung, setelah itu baru tulis menjadi cerita. Riset adalah fondasi agar cerita tidak terasa dangkal,” ujar Budi Sarjono di hadapan para peserta workshop.

Selain riset, Budi Sarjono yang telah menerbitkan puluhan buku ini mengingatkan pentingnya pembuatan kerangka karangan atau outline, terutama untuk tulisan panjang seperti novel. Kerangka tersebut berfungsi agar alur cerita tetap fokus dan tidak melebar ke mana-mana. Ia menyarankan agar penulis membagi naskah dalam sub-sub judul untuk mempermudah navigasi pembaca dan menjaga konsistensi penceritaan. Sastra yang baik, menurutnya, harus diawali dengan judul dan paragraf pertama yang mampu “menggigit” atau memikat perhatian pembaca sejak awal.

Senada dengan hal itu, sastrawan senior Nyadi Kasmoredjo yang akrab disapa Ki Jenggot Kucir menambahkan bahwa penulis sastra Jawa menghadapi tantangan khusus dalam penguasaan kosakata atau bausastra. Ia menekankan bahwa seorang penulis harus menjadi pembaca yang tekun terlebih dahulu guna memperkaya perbendaharaan kata. Khusus dalam bahasa Jawa, ketelitian dalam penulisan sangat krusial karena terdapat perbedaan antara bunyi pengucapan dengan ejaan tulisan yang bermakna beda.

“Ada perbedaan mendasar antara pengucapan dan tulisan dalam sastra Jawa yang harus dipahami penulis. Misalnya, untuk kata ‘loro’ yang berarti sakit dan ‘lara’ yang berarti dua, penulisannya harus tepat agar tidak mengubah makna. Seorang penulis harus rajin membaca karya orang lain dan membuka kamus agar tidak salah kaprah dalam memilih diksi,” kata Nyadi menjelaskan kompleksitas penulisan sastra daerah.

Workshop ini merupakan agenda pembekalan bagi anggota Pasbuja Kawi Merapi yang berencana menerbitkan tiga buku antologi cerkak pada tahun ini. Meski demikian, organisasi tetap mendorong para anggotanya untuk berani menerbitkan buku tunggal sebagai bentuk peningkatan kualitas individu. Melalui pembekalan ini, diharapkan lahir karya-karya sastra Jawa kontemporer yang tidak hanya menarik secara estetika, tetapi juga mengandung pesan moral yang kuat dan riset yang dapat dipertanggungjawabkan secara faktual. (Kusnadi/KIM Berbah)




Warga Nayan Maguwoharjo Gotong Royong Bangun Pondasi Balai Padukuhan

Sleman — Semangat kebersamaan warga di tingkat akar rumput kembali ditunjukkan oleh masyarakat Padukuhan Nayan, Kalurahan Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman. Pada Minggu (25/1/2026), ratusan warga turun ke lapangan untuk melaksanakan kerja bakti massal pembuatan pondasi Balai Padukuhan. Kegiatan ini merupakan langkah awal pembangunan fasilitas publik yang nantinya akan menjadi pusat interaksi dan pelayanan bagi warga setempat.

Pengerjaan pondasi ini dilakukan secara terencana dengan pembagian dua sif untuk menjaga efektivitas tenaga dan memastikan keterlibatan seluruh unsur masyarakat. Sif pertama dimulai pada pagi hari pukul hingga WIB yang melibatkan warga RT 01. Selanjutnya, pengerjaan diteruskan oleh warga RT 02 pada sif siang mulai pukul hingga WIB. Pola koordinasi ini sengaja diterapkan agar pembangunan tetap berjalan progresif tanpa harus mengorbankan waktu istirahat atau aktivitas personal warga secara berlebihan.

Pembangunan Balai Padukuhan ini merupakan proyek yang sudah lama dinantikan oleh masyarakat Nayan. Keberadaan gedung ini diproyeksikan tidak hanya sebagai kantor administrasi tingkat padukuhan, tetapi juga sebagai ruang multifungsi untuk pertemuan rutin, pelayanan sosial, hingga kegiatan keagamaan dan kepemudaan. Melalui kerja bakti ini, warga berupaya menekan biaya pembangunan sekaligus memastikan struktur bangunan memiliki ikatan emosional karena dibangun dengan tenaga mereka sendiri.

Ketua RW 24 Padukuhan Nayan, Triyono, mengungkapkan rasa bangganya terhadap antusiasme warga yang hadir membawa peralatan pertukangan secara sukarela. Menurutnya, partisipasi yang tinggi ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai tradisional gotong royong masih sangat kental dan menjadi modal utama dalam memajukan lingkungan di tengah modernisasi wilayah Depok yang semakin pesat.

“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh warga yang telah meluangkan waktu, pikiran, dan tenaga dalam kerja bakti besar ini. Gotong royong seperti inilah yang menjadi kekuatan utama pembangunan di tingkat padukuhan. Tanpa kebersamaan, sulit bagi kita untuk mewujudkan fasilitas publik yang representatif dan mandiri,” ujar Triyono di sela-sela memantau proses pengecoran pondasi.

Salah seorang warga yang ikut serta dalam kegiatan tersebut, menyambut positif pembangunan balai ini. Ia menuturkan bahwa warga merasa memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan Balai Padukuhan segera berdiri agar kegiatan kemasyarakatan memiliki wadah yang layak. Selama ini, sebagian kegiatan warga masih menumpang di rumah-rumah tokoh masyarakat atau fasilitas umum lainnya yang kurang memadai secara kapasitas.

“Kami senang bisa terlibat langsung dalam pembangunan ini. Harapan kami, balai ini nanti bisa menjadi rumah bagi semua kegiatan warga, mulai dari rapat RT, kegiatan PKK, sampai acara karang taruna. Dengan membangun sendiri, kami jadi lebih merasa memiliki dan pasti akan lebih rajin menjaga kebersihannya nanti,” kata salah seorang peserta kerja bakti yang tengah sibuk meratakan campuran semen.

Melalui aksi nyata ini, Padukuhan Nayan menegaskan komitmennya untuk melakukan pembangunan secara partisipatif dan berkelanjutan. Sinergi antara pengurus wilayah dan warga ini diharapkan menjadi inspirasi bagi wilayah lain dalam menggerakkan potensi swadaya masyarakat demi meningkatkan kualitas hidup dan pelayanan sosial di tingkat desa. (Athiful/KIM Depok)




Sleman Diterjang Angin Kencang, Relawan TRC Lumbungrejo Sigap Evakuasi Pohon Tumbang yang Timpa Rumah Warga

Sleman — Cuaca ekstrem berupa angin kencang melanda wilayah Kabupaten Sleman pada Sabtu (24/1/2026), menyebabkan kerusakan di sejumlah titik permukiman warga. Hembusan angin yang sangat kuat mengakibatkan pohon-pohon besar tumbang hingga menimpa rumah warga dan memutus akses jalan utama. Merespons situasi darurat tersebut, Tim Reaksi Cepat (TRC) Lumbungrejo langsung bergerak melakukan pengamanan dan evakuasi di titik-titik terdampak guna menjamin keselamatan masyarakat.

Fokus penanganan darurat dipusatkan di beberapa wilayah di Kalurahan Lumbungrejo, Kapanewon Tempel, yang mengalami dampak paling parah, meliputi Padukuhan Sedogan, Kopen, dan Tegalsari Krasakan. Sejak laporan warga masuk, para relawan bersenjatakan gergaji mesin dan peralatan evakuasi lainnya mulai menyisir lokasi untuk memangkas dahan yang menimpa atap rumah serta membersihkan material kayu yang melintang di jalan desa.

Ketua TRC Lumbungrejo, Rahmat Jatmiko, menegaskan bahwa kesiapsiagaan personel merupakan prioritas utama mengingat cuaca ekstrem yang sulit diprediksi belakangan ini. Pihaknya berkomitmen untuk selalu hadir memberikan pertolongan pertama pada kesempatan pertama guna meminimalkan risiko kerusakan yang lebih besar atau jatuhnya korban jiwa.

“Kami selalu dalam kondisi siap siaga selama 24 jam. Begitu ada laporan rumah warga tertimpa pohon akibat angin kencang, tim langsung meluncur ke lokasi untuk melakukan penanganan awal. Kami memprioritaskan rumah-rumah yang mengalami kerusakan di bagian atap agar material pohon tidak semakin memberatkan struktur bangunan warga,” ujar Rahmat Jatmiko di sela-sela proses evakuasi.

Di sisi lain, kondisi cuaca yang masih fluktuatif sempat menjadi kendala bagi tim di lapangan. Jogoboyo Lumbungrejo, Nugroho Subagyo, menjelaskan bahwa meskipun tim bergerak cepat, mereka tetap harus memperhitungkan faktor keamanan diri. Menurutnya, beberapa langkah mitigasi lanjutan terpaksa ditunda sementara waktu karena hembusan angin yang masih kencang dapat membahayakan keselamatan para relawan saat melakukan pemanjatan pohon.

“Untuk mitigasi lanjutan belum bisa kami lakukan secara menyeluruh karena angin masih cukup besar dan berpotensi membahayakan keselamatan relawan di lapangan. Prinsip utama kami adalah keselamatan personel tidak boleh dikorbankan. Saat ini fokus kami adalah tindakan darurat pada titik yang paling mendesak, terutama yang menutup akses jalan utama agar mobilitas warga tidak terganggu total,” jelas Nugroho Subagyo.

Ia menambahkan bahwa koordinasi dengan perangkat desa dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus dijalin untuk memantau perkembangan situasi. Setelah cuaca dinilai benar-benar tenang dan aman, tim akan kembali turun untuk membersihkan sisa-sisa material bencana serta memberikan imbauan kepada warga agar memangkas pohon yang rawan roboh di sekitar hunian mereka.

Peristiwa ini menjadi potret nyata tantangan hidrometeorologi yang tengah dihadapi wilayah Sleman dan sekitarnya. Kehadiran relawan lokal yang sigap di tengah ancaman alam membuktikan bahwa solidaritas sosial masih menjadi garda terdepan dalam penanggulangan bencana di Indonesia. Warga diimbau untuk tetap waspada dan segera melaporkan kejadian serupa melalui saluran komunikasi darurat desa untuk penanganan cepat. (SBD/KIM Senyum Tempel)




Sleman Diterjang Angin Kencang, BPBD Gerak Cepat Salurkan Bantuan Logistik untuk Korban Tertimpa Pohon

Sleman — Cuaca ekstrem berupa angin kencang melanda wilayah Kabupaten Sleman pada Sabtu (24/1/2026), memicu rentetan kejadian pohon tumbang di sejumlah titik. Salah satu dampak paling serius terjadi di Dusun Plumbon Kidul, Kalurahan Mororejo, Kapanewon Tempel, di mana seorang warga mengalami luka parah akibat tertimpa pohon saat sedang beraktivitas. Merespons kejadian tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman langsung menerjunkan tim untuk melakukan asesmen sekaligus menyalurkan bantuan darurat bagi korban.

Korban diketahui bernama Wiwik Rumiyati, seorang perempuan berusia 56 tahun. Peristiwa nahas itu terjadi sekitar pukul WIB saat korban tengah berada di area persawahan. Secara tiba-tiba, angin kencang menumbangkan sebuah pohon sengon berdiameter 20 sentimeter yang kemudian mengenai tubuh korban. Akibat hantaman tersebut, Wiwik mengalami luka serius pada bagian kepala, bahu, serta punggung, dan harus dilarikan ke RSUD Sleman untuk mendapatkan perawatan intensif.

Tim reaksi cepat BPBD Sleman yang terdiri dari Suryanto, Iqbal Akhmad, dan Yudhi Wahyu segera mendatangi lokasi untuk menyerahkan bantuan logistik. Paket bantuan berupa sembako, selimut, dan matras diserahkan kepada pihak keluarga dengan didampingi oleh Dukuh Plumbon Kidul Harmianto, Jogoboyo Mororejo Nur Herwanto, serta perwakilan Relawan Kemanusiaan Tempel (Rekat). Langkah ini diambil sebagai bentuk kehadiran pemerintah dalam memberikan perlindungan sosial di tengah situasi darurat.

Anggota tim BPBD Sleman, Yudhi Wahyu, menekankan bahwa kecepatan dalam menangani dampak bencana merupakan prioritas utama untuk menjamin pemenuhan kebutuhan dasar warga. Ia mengimbau masyarakat untuk terus melaporkan setiap kejadian bencana agar tim gabungan dapat segera melakukan tindakan mitigasi maupun penyaluran bantuan secara merata.

“Begitu laporan masuk, tim gabungan langsung melakukan asesmen di lokasi kejadian. Prioritas utama kami adalah memastikan kebutuhan dasar korban terpenuhi dengan cepat dan tepat sasaran. Bantuan logistik ini diharapkan bisa meringankan beban keluarga yang sedang fokus pada proses pemulihan medis korban,” ujar Yudhi Wahyu saat menyerahkan bantuan di kediaman korban.

Kesaksian mendalam disampaikan oleh Anisatun, anak dari Wiwik Rumiyati. Ia menceritakan betapa cepatnya peristiwa tersebut terjadi sehingga ibunya tidak memiliki kesempatan untuk menyelamatkan diri dari reruntuhan pohon. Saat ini, keluarga masih menunggu jadwal operasi kepala yang direncanakan oleh tim medis RSUD Sleman akibat benturan keras yang dialami korban.

“Saat itu angin bertiup sangat kencang ketika ibu sedang di sawah. Tiba-tiba pohon sengon roboh dan menimpa beliau. Kejadiannya sangat cepat, tidak sempat menghindar sama sekali. Saat ini ibu masih dirawat dan direncanakan akan menjalani operasi di bagian kepala. Kami mohon doa dari semua pihak untuk kesembuhan beliau, dan kami berterima kasih atas perhatian serta bantuan cepat yang telah diberikan,” ungkap Anisatun dengan penuh harap.

Kejadian ini menjadi pengingat krusial bagi masyarakat di wilayah rawan bencana hidrometeorologi untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat terjadi perubahan cuaca yang ekstrem secara mendadak. Pemerintah Kabupaten Sleman terus mendorong gerakan mitigasi lingkungan, seperti pemangkasan dahan pohon yang lapuk atau terlalu rimbun, guna meminimalisir risiko serupa di masa mendatang. (SBD/KIM Senyum Tempel)




Pusteklim Kenalkan Teknologi Insinerator Fluidized Bed yang Efisien dan Ramah Lingkungan

Sleman — Persoalan sampah yang kian kompleks menuntut hadirnya solusi teknologi yang tidak hanya canggih, tetapi juga ekonomis dan berkelanjutan. Menjawab tantangan tersebut, Pusat Teknologi Limbah (Pusteklim) memperkenalkan teknologi Insinerator Fluidized Bed atau unggun terfluidasi sebagai metode pemusnah sampah masa depan. Inovasi ini dipaparkan dalam kegiatan lokakarya yang berlangsung di Aula Kalurahan Sendangtirto, Berbah, Sleman, pada Sabtu (24/1/2026).

Kegiatan ini menghadirkan pakar teknologi limbah, Nao Tanaka, yang telah mendedikasikan diri selama lebih dari 20 tahun dalam pengembangan sistem pengolahan limbah di Indonesia. Selain memaparkan keunggulan teknologi pembakaran, pertemuan ini juga dihadiri oleh Lurah Sendangtirto Amir Junawan, Ketua Pusteklim Agus Haitami, serta puluhan praktisi, akademisi, dan penggiat bank sampah yang mencari solusi praktis atas tumpukan sampah di wilayah masing-masing.

Nao Tanaka menjelaskan bahwa Insinerator Fluidized Bed bekerja dengan prinsip material padat berbentuk butiran yang dibuat bersifat seperti fluida atau cairan mendidih. Hal ini terjadi karena hembusan udara berkecepatan tinggi dari bagian bawah tungku, sehingga memaksimalkan transfer panas secara merata. Teknologi yang lazim digunakan pada industri batubara dan kilang minyak ini diklaim mampu memusnahkan sampah secara total tanpa menyisakan polusi udara yang berbahaya bagi lingkungan.

“Teknologi ini bekerja seperti magma atau lava panas yang keluar dari gunung berapi dengan suhu sangat tinggi, melahap sampah sampai tidak bersisa. Karena terjadi pembakaran yang sempurna, proses ini tidak menyebabkan polusi udara yang mengganggu kesehatan. Ini adalah jawaban bagi pengolahan sampah yang bersih di pemukiman,” ujar Nao Tanaka saat mendemonstrasikan prinsip kerja alat tersebut.

Keunggulan utama dari teknologi ini terletak pada aspek efisiensi biaya operasional. Berbeda dengan insinerator konvensional yang memerlukan asupan bahan bakar fosil secara terus-menerus, sistem Fluidized Bed hanya membutuhkan bahan bakar pada tahap awal pemanasan. Setelah suhu optimal tercapai, proses pembakaran akan terjaga secara mandiri oleh material sampah itu sendiri, sehingga penggunaan bahan bakar menjadi sangat minim.

“Artinya, bahan bakar yang digunakan menjadi sangat sedikit karena hanya digunakan di awal proses. Ini sangat menghemat biaya operasional dan membuatnya lebih efisien secara ekonomi bagi pengelola sampah di tingkat daerah maupun industri,” tambah Nao Tanaka menekankan aspek penghematan biaya.

Selain limbah padat, Pusteklim juga memproduksi inovasi untuk pengolahan limbah cair melalui teknologi RBC Lattice Tiga Dimensi. Teknologi ini merupakan pengembangan dari sistem Rotating Biological Contactors (RBC) yang sudah ada, namun dengan keunggulan fabrikasi lokal yang lebih mudah dan efisiensi empat kali lipat lebih tinggi dibanding model konvensional. Produk-produk ramah lingkungan ini kini mulai dipasarkan secara luas melalui Koperasi Jasa Multi Pihak Pusteklim sebagai upaya memperkuat kemandirian teknologi dalam negeri.

Melalui lokakarya ini, pemerintah desa dan pegiat lingkungan diharapkan dapat mulai mengadopsi teknologi yang tepat guna untuk memutus mata rantai permasalahan sampah. Sinergi antara riset mendalam dari Pusteklim dan implementasi di lapangan oleh masyarakat diharapkan mampu menciptakan ekosistem lingkungan yang bersih, sehat, dan berdaya saing. (Kusnadi/KIM Berbah)