Batik Sri Huning Margodadi Teguh Jaga Identitas Lokal di Tengah Tantangan Pasar

Sleman – Batik Sri Huning Margodadi terus berjuang mempertahankan eksistensinya sebagai produk budaya sekaligus UMKM lokal dengan mengandalkan ciri khas wilayah. Di tengah gempuran batik printing dan selera pasar yang cenderung praktis, para pengrajin Batik Sri Huning memilih bertahan dengan identitas motif lokal sebagai kekuatan utama.

Batik yang berasal dari Kalurahan Margodadi ini telah melalui perjalanan panjang selama lebih dari dua dasawarsa. Batik ini awalnya dikenal dengan nama Batik Sekar Dadi, kemudian berubah menjadi Batik Sri Tanjung, hingga akhirnya menetap dengan nama Sri Huning. Pergantian nama tersebut menjadi bagian dari dinamika usaha sekaligus upaya mencari bentuk identitas yang paling merepresentasikan wilayah Margodadi.

Motif gunung-gunung, Tuk Si Bedug, dan tobong menjadi ciri khas Batik Sri Huning. Motif tersebut tidak hanya bernilai estetis, tetapi juga merepresentasikan lanskap alam dan aktivitas masyarakat setempat.

“Kami ingin batik ini kalau dilihat orang langsung ingat Margodadi, bukan sekadar kain bermotif,” ujar Koordinator Batik Sri Huning, Purnamawati yang ditemui di rumahnya yang dijadikan juga sebagai rumah produksi, Kamis (22/1/2026).

Titik balik perkembangan Batik Margodadi terjadi pada tahun 2024, saat Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman menyelenggarakan pelatihan batik yang didanai melalui Dana Keistimewaan (Danais). Sebanyak 20 pengrajin mengikuti pelatihan tersebut, yang menjadi momentum kebangkitan produksi dan semangat kolektif pengrajin.

“Pelatihan itu seperti memberi napas baru. Kami jadi lebih percaya diri, baik dari segi teknik maupun semangat untuk terus produksi,” kata Purnamawati.

Saat ditemui di rumahnya di Padukuhan Beran RT 3 RW 2, Kalurahan Margodadi, Purnamawati menjelaskan bahwa proses produksi batik dilakukan berdasarkan pesanan. Meski demikian, para pengrajin tetap mengadakan pertemuan rutin setiap Rabu untuk menjaga koordinasi dan keberlanjutan kelompok.

Produk Batik Sri Huning saat ini dapat dijumpai di outlet Dekranasda dan Rumah Jadah Tempe di Jalan Kaliurang. Pada tahun 2025, Batik Sri Huning melalui Asosiasi Pengrajin Batik Sleman “Mukti Manunggal” mendapat kepercayaan dari Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Sleman untuk memproduksi 81 potong seragam kantor.

Namun demikian, persoalan pemasaran masih menjadi tantangan utama. Batik tulis buatan rumahan kerap dinilai mahal oleh konsumen karena sering dibandingkan dengan batik printing.

“Masyarakat sering melihat harga dulu tanpa tahu prosesnya. Batik tulis itu dikerjakan berhari-hari, bukan dicetak mesin,” tutur Purnamawati.

Kondisi tersebut juga membuat Batik Sri Huning kini menggunakan pewarna alami hanya jika ada pesanan khusus. Sementara produksi reguler memakai pewarna sintetis. Meski bahan pewarna alami lebih murah, waktu pengerjaan yang lebih lama membuat biaya jasa pengrajin meningkat sehingga harga jual pun menjadi lebih tinggi.

Pada masa awal, Batik Sekar Dadi justru dikenal sebagai batik dengan pewarna alami. Bahan pewarna yang digunakan berasal dari jolawe, kayu mahoni, dan daun jati, dengan tawas dan kapur sebagai pengunci warna. Namun rendahnya permintaan pasar membuat para pengrajin harus beradaptasi.

“Kalau pewarna alami tidak ada yang pesan, ya tidak bisa diproduksi terus. Kami harus menyesuaikan supaya usaha tetap jalan,” ungkapnya.

Sebagai bagian dari upaya memperluas jangkauan pasar, Batik Sri Huning aktif mengikuti berbagai pameran UMKM, mulai dari gebyar UMKM tingkat kalurahan, bazar tingkat kapanewon, hingga pameran tingkat kabupaten seperti di Teras Dekranasda dan Sleman City Hall (SCH).

“Walaupun yang terjual tidak banyak, ikut pameran itu penting. Paling tidak masyarakat tahu bahwa Batik Margodadi masih ada dan masih berjuang,” pungkas Purnamawati. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Kalurahan Caturtunggal Gandeng Dukcapil Sleman Sosialisasikan Pelayanan Kependudukan dan Aktivasi IKD

Sleman — Kalurahan Caturtunggal menggelar kegiatan Sosialisasi Informasi Persyaratan Pelayanan Administrasi Kependudukan (Adminduk), pada Kamis (22/1/2026) di Ruang Karang Tumaritis, Kalurahan Caturtunggal.

Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Seksi Identitas Penduduk Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kabupaten Sleman, Kepala Jawatan Umum Kapanewon Depok, Kaur Tata Laksana Kalurahan Caturtunggal, Dukuh se-Kalurahan Caturtunggal, dan kader administrasi kependudukan (adminduk).

Sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang menyeluruh terkait persyaratan dan prosedur pelayanan administrasi kependudukan, sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat di tingkat kalurahan.

Dalam pemaparannya, Kasi Identitas Penduduk Dukcapil Kabupaten Sleman, Sriyanti Istipurnani menegaskan bahwa pelayanan administrasi kependudukan harus dilakukan berdasarkan data yang benar dan sesuai ketentuan.

“Setiap warga negara berhak mendapatkan dokumen kependudukan yang lengkap dan sah. Oleh karena itu, seluruh proses pelayanan adminduk harus berpedoman pada data yang valid dan tidak diperkenankan adanya manipulasi data,” ujar Isti.

Ia juga menekankan pentingnya peran dukuh dan kader adminduk sebagai ujung tombak pelayanan di wilayah, khususnya memberikan edukasi kepada masyarakat terkait persyaratan pengurusan dokumen kependudukan.

Sementara itu, Kepala Jawatan Umum Kapanewon Depok, Benyamin Dalung menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini.

“Kegiatan ini sangat penting untuk menyamakan pemahaman antara Dukcapil, kalurahan, dukuh, dan kader adminduk. Sehingga pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan lebih tertib, cepat, dan akuntabel,” ungkapnya.

Materi sosialisasi meliputi persyaratan layanan KTP-el, Kartu Keluarga, Kartu Identitas Anak (KIA), pindah datang penduduk, pisah Kartu Keluarga, perubahan data pekerjaan, pembuatan SKCK, serta pencatatan peristiwa penting seperti kelahiran, kematian, dan perkawinan.

Selain itu, Dukcapil Kabupaten Sleman juga menyediakan pelayanan khusus bagi kelompok rentan seperti penyandang disabilitas, ODGJ, dan lanjut usia.

Selama kegiatan sosialisasi, petugas Dinas Dukcapil Kabupaten Sleman juga membuka layanan aktivasi Identitas Kependudukan Digital (IKD). Layanan ini dimanfaatkan oleh masyarakat untuk melakukan aktivasi IKD sebagai upaya mendukung transformasi digital dalam pelayanan administrasi kependudukan.

Melalui kegiatan sosialisasi ini diharapkan koordinasi antara Dinas Dukcapil, kapanewon, kalurahan, dukuh dan kader adminduk dapat semakin kuat. Sehingga pelayanan administrasi kependudukan kepada masyarakat dapat berjalan lancar. (Oktaviana/KIM Depok)




Apel Siaga Jaga Warga Sleman, Perkuat Sinergi Ketertiban Sosial Berbasis Masyarakat

Sleman — Komitmen menjaga ketenteraman dan ketertiban umum berbasis partisipasi masyarakat kembali ditegaskan dalam Apel Siaga Jaga Warga se-Kabupaten Sleman, yang digelar di halaman Mapolres Sleman, Kamis (22/1/2026).

Kegiatan ini dihadiri perwakilan Jaga Warga dari seluruh kalurahan se-Kabupaten Sleman, termasuk Kalurahan Margorejo, Tempel, serta jajaran pemerintah daerah dan aparat keamanan.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sleman, Indra Darmawan hadir langsung dan memberikan sambutan yang menekankan pentingnya peran warga dalam menjaga stabilitas sosial di tengah dinamika masyarakat yang terus berkembang.

“Keamanan dan ketertiban bukan semata tugas aparat. Jaga Warga adalah garda terdepan yang memahami denyut kehidupan sosial di lingkungannya masing-masing,” ujar Indra Darmawan di hadapan peserta apel.

Menurutnya, pendekatan kolaboratif antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci dalam mencegah potensi gangguan ketertiban sejak dini.

Apel siaga ini tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga ruang konsolidasi dan penguatan semangat kebersamaan. Para peserta mendapatkan arahan terkait kesiapsiagaan, komunikasi lintas wilayah, serta pentingnya menjaga nilai-nilai kearifan lokal dalam pelaksanaan tugas Jaga Warga.

Kalurahan Margorejo, Tempel turut ambil bagian dengan mengirimkan perwakilan Jaga Warga dari beberapa padukuhan, yakni Kadiluwih, Mangkudranan, Cungkuk, dan Ngamboh. Kehadiran mereka mencerminkan partisipasi aktif masyarakat akar rumput dalam mendukung agenda ketertiban umum di tingkat kabupaten.

Salah satu perwakilan Jaga Warga Margorejo, Sindhu menyampaikan bahwa kegiatan ini memberi motivasi sekaligus wawasan baru.

“Kami merasa diapresiasi dan semakin percaya diri menjalankan peran di lingkungan masing-masing. Ini bukan hanya soal keamanan, tapi juga membangun kepedulian sosial,” ungkapnya.

Dalam konteks yang lebih luas, program Jaga Warga di Sleman kerap dipandang sebagai model pengamanan sosial berbasis komunitas yang relevan diterapkan di berbagai daerah. Dengan mengedepankan pencegahan, dialog, dan gotong-royong, pendekatan ini dinilai mampu menjawab tantangan sosial tanpa harus selalu mengedepankan tindakan represif.

Indra Darmawan berharap semangat apel siaga dapat diterjemahkan dalam aksi nyata di lapangan.

“Mari kita jadikan Jaga Warga sebagai kekuatan moral dan sosial yang menjaga harmoni. Tidak hanya di Sleman, tetapi juga menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia,” pungkasnya.

Apel siaga ini menjadi pengingat bahwa ketertiban dan keamanan adalah hasil kerja sama yang dibangun dari kesadaran, kepedulian, dan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat. (SBD KIM SENYUM TEMPEL)




KWT Lestari Makmur Sleman Panen Telur Perdana, Bukti Nyata Program Ketahanan Pangan Nasional

Sleman – Implementasi program ketahanan pangan nasional mulai membuahkan hasil nyata di tingkat akar rumput. Kelompok Wanita Tani (KWT) Lestari Makmur, Padukuhan Bulusan, Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, resmi melaksanakan panen telur perdana pada Rabu (21/1/2026).

Panen telur tersebut berasal dari program bantuan ayam petelur Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Sebanyak 600 ekor ayam petelur bantuan pemerintah pusat telah dipelihara oleh KWT Lestari Makmur selama kurang lebih tiga bulan dan kini memasuki fase awal produksi.

Program ini menjadi salah satu langkah strategis pemerintah dalam memperkuat ketersediaan pangan berbasis desa sekaligus meningkatkan kesejahteraan kelompok tani.

Dukuh Bulusan, Didik Kristadi menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan kepada wilayahnya. Menurutnya, program ini memberikan manfaat langsung bagi ketahanan pangan keluarga serta membuka peluang tambahan pendapatan bagi anggota kelompok.

“Alhamdulillah, bantuan ayam petelur ini sangat membantu warga. Selain mencukupi kebutuhan protein keluarga, hasilnya juga bisa menjadi sumber penghasilan baru,” ungkap Didik.

Ia menjelaskan, selama masa pemeliharaan sekitar 26 minggu, KWT Lestari Makmur melakukan pendampingan intensif, mulai dari pengaturan pakan, perawatan kandang, hingga pengawasan kesehatan ternak. Hasil panen awal menunjukkan kualitas telur yang layak konsumsi dan siap dipasarkan.

Lurah Sardonoharjo, Harjuno Wiwoho turut mengapresiasi kinerja kelompok wanita tani yang dinilai berhasil mengelola bantuan secara optimal. Ia menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan salah satu agenda prioritas nasional yang harus dirasakan hingga lapisan masyarakat terbawah.

“Program ketahanan pangan ini sangat penting bagi masyarakat desa. Kami bersyukur Sardonoharjo dipercaya menjadi bagian dari program strategis nasional ini. Harapannya, bisa menjadi contoh bagi wilayah lain,” ujar Harjuno.

Ia menambahkan, keberhasilan panen perdana ini diharapkan mampu mendorong pengembangan usaha peternakan rakyat secara berkelanjutan dan memperkuat ekonomi keluarga di pedesaan.

Program bantuan ayam petelur tersebut merupakan bagian dari kebijakan pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat ketersediaan pangan berbasis komunitas. Program ini juga merupakan usulan dari Anggota DPRD Kabupaten Sleman, Happy Brilliant Srikandy dan DPR RI Daerah Pemilihan DIY, Siti Hediati Hariyadi, atau yang dikenal dengan nama Titiek Soeharto.

Ke depan, produksi telur KWT Lestari Makmur tidak hanya dimanfaatkan untuk konsumsi internal anggota. Tetapi akan dipasarkan kepada masyarakat sekitar sebagai produk unggulan ketahanan pangan desa. (ESK – KIM DSN)




Buka Peluang Ekonomi, SEKECO Condongcatur Gelar Pelatihan Keterampilan Membuat Batik Shibori

Sleman – SEKECO (Sekolah Keterampilan Condongcatur) di ampu oleh Pokja ll TP PKK Kalurahan Condongcatur, mengadakan kegiatan keterampilan membuat batik Shibori pada Kamis (22/1/2026). Kegiatan yang berlangsung di Posko Destana Condongcatur ini diikuti oleh anggota SEKECO dari masing-masing padukuhan di se-Kalurahan Condongcatur.

Pelatihan tersebut bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan kreativitas anggota, sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis keterampilan lokal.

Kegiatan ini dipandu oleh perwakilan Pokja II TP PKK Kalurahan Condongcatur, Suci Winarti. Pada kesempatan itu, Suci menyampaikan materi secara jelas dan aplikatif sehingga peserta dapat memahami teknik dasar hingga praktik pembuatan batik Shibori dengan baik.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan materi mengenai teknik pewarnaan kain menggunakan bahan seperti remasol, indigosol, dan naptol. Peserta juga langsung mempraktikkan teknik ciprat dalam proses pembuatan motif batik.

Selain itu, peserta juga diperkenalkan dengan penggunaan pewarna, water glass sebagai bahan pengunci warna, serta berbagai alat pendukung seperti karet, sarung tangan, botol, pengaduk, dan baskom yang digunakan selama proses pembuatan batik Shibori.

Salah satu peserta pelatihan, Windi mengaku pelatihan ini dapat meningkatkan keterampilannya yang dapat dikembangkan untuk ekonomi produktif.

“Dengan adanya pelatihan ini dapat menambah  keterampilan kita sebagai ibu rumah tangga, yang nantinya bisa dikembangkan untuk meningkatkan ekonomi produktif,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan anggota SEKECO dapat mengembangkan keterampilan yang bernilai guna serta mampu diterapkan secara mandiri maupun berkelompok sebagai salah satu upaya pemberdayaan masyarakat di Kalurahan Condongcatur. (Tri Suhartati KIM Depok)