Wujud Kepedulian Sosial, Lansia Karangasem Gempol Terima Bantuan Kursi Roda

Sleman – Dinas Sosial Kabupaten Sleman menyalurkan bantuan kursi roda kepada lansia di wilayah Karangasem Gempol, Kalurahan Condongcatur. Bantuan itu diserahkan pada kamis (22/1/2026), kepada Bapak Suyono sebagai penerima manfaat, pada kegiatan yang berlangsung dengan lancar dan penuh kepedulian.

Kegiatan penyaluran bantuan dihadiri oleh anggota DPRD Kabupaten Sleman, perwakilan Dinas Sosial Kabupaten Sleman, Kapanewon Depok, TKSK, TPSK, pemangku wilayah setempat, PSM serta kader yang turut mendampingi proses penyerahan bantuan.

Penyerahan bantuan kursi roda ini merupakan bentuk perhatian dan komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas hidup lansia, khususnya yang mengalami keterbatasan mobilitas.

Dalam kesempatan tersebut, salah satu anggota DPRD Kabupaten Sleman, Dedie Kesuma menyampaikan harapannya agar bantuan kursi roda ini dapat bermanfaat dan berguna bagi Bapak Suyono dalam menunjang aktivitas sehari-hari.

“Melalui bantuan kursi roda ini, diharapkan Bapak Suyono dapat lebih terbantu dalam menjalani aktivitas sehari-hari serta meningkatkan kemandirian dan kenyamanan dalam beraktivitas. Para pendamping juga memastikan bantuan diterima dengan baik dan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh penerima,” ujarnya.

Sinergi antara Dinas Sosial, DPRD, unsur kewilayahan, serta kader masyarakat diharapkan dapat terus terjalin dalam rangka memberikan pelayanan dan perlindungan sosial yang lebih baik bagi masyarakat, khususnya lansia yang membutuhkan. (Tri Suhartati KIM Depok)




SAH Banyu Bening Sleman Jadi Laboratorium Edukasi Lingkungan SMP Muhammadiyah 1 Wates

Sleman – Sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual untuk memperluas wawasan mengenai isu lingkungan dan ketahanan air, kepala sekolah bersama komite sekolah, guru, karyawan, dan pengurus ikatan pelajar muhammadiyah SMP Muhammadiyah 1 Wates melakukan kegiatan studi tiru terkait pengelolaan dan pemanfaatan air hujan sebagai sumber air bersih yang aman dan berkelanjutan di Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening, Tempursari, Kabupaten Sleman, Rabu (21/1/2026).

Kepala SMP Muhammadiyah 1 Wates, H. Agus Wiratna menyampaikan bahwa kunjungan tersebut merupakan bagian dari silaturahmi sekaligus thalabul ilmi untuk menambah wawasan dalam pengelolaan air hujan.

Ia pun mengatakan, pembelajaran di luar kelas seperti ini efektif menumbuhkan pemahaman holistik siswa. Tidak hanya memperkaya pengetahuan, namun juga membentuk sikap kritis dan kepedulian terhadap persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, khususnya terkait ketersediaan air bersih.

“Selama ini, air hujan di lingkungan SMP Muhammadiyah 1 Wates belum dimanfaatkan secara optimal dan justru kerap menimbulkan genangan akibat sistem drainase yang kurang lancar,” terangnya.

Melalui studi tiru ini, pihaknya berharap memperoleh pengetahuan yang dapat diterapkan di sekolah sehingga air hujan tidak lagi dipandang sebagai sumber masalah, melainkan sebagai anugerah yang membawa manfaat.

Pendiri SAH Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih mengenalkan secara langsung praktik pemanenan air hujan (rainwater harvesting) yang telah diterapkan secara sistematis dan berbasis edukasi di Sekolah Air Hujan Banyu Bening. Warga SMP Muhammadiyah 1 Wates diajak memahami bahwa air hujan bukan sekadar limpasan, melainkan sumber daya strategis yang dapat diolah menjadi air bersih layak pakai.

Dalam kegiatan tersebut, siswa dan guru pendamping mendapatkan penjelasan mengenai tahapan pengelolaan air hujan, mulai dari proses penangkapan melalui atap bangunan, penyaringan awal, penyimpanan, hingga sistem filtrasi lanjutan agar air aman digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Penjelasan disampaikan secara aplikatif agar mudah dipahami oleh peserta didik tingkat sekolah menengah pertama.

Selain aspek teknis, mereka juga diperkenalkan pada prinsip keberlanjutan dalam pengelolaan air. Pemanfaatan air hujan dinilai mampu mengurangi ketergantungan terhadap air tanah, sekaligus menjadi solusi adaptif terhadap perubahan iklim dan potensi krisis air bersih di masa mendatang.

“Kondisi air tanah saat ini mengalami penurunan baik dari segi kualitas maupun kuantitas akibat eksploitasi yang berlebihan dan berkurangnya daerah resapan. Karena itu, praktik pemanfaatan air hujan semakin luas perlu diterapkan,” tandas Wahyuningsih.

Kegiatan tersebut sekaligus menegaskan bahwa edukasi lingkungan berbasis praktik nyata memiliki peran penting dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Pengelolaan air hujan yang aman dan berkelanjutan menjadi salah satu solusi konkret dalam menjaga ketahanan air sekaligus kelestarian lingkungan untuk generasi mendatang. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Rahasia Santri Kalimasada Semangat Belajar: Gigi Sehat, Ibadah Kuat!

Sleman – Madrasah Diniyah Takmiliyah Kalimasada menggelar kegiatan pemeriksaan kesehatan gigi secara gratis bagi puluhan santri, pada Rabu (22/1/2026). Sebanyak delapan puluh santri terlihat sangat antusias mengikuti rangkaian pemeriksaan medis yang dilakukan oleh para calon dokter gigi.

Kegiatan yang berlangsung di lingkungan madrasah tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran seluruh santri akan pentingnya menjaga kebersihan mulut. Para pengajar menyambut baik inisiatif ini karena memberikan dampak positif bagi kesehatan fisik sekaligus menambah semangat belajar anak.

Kepala Madrasah Kalimasada, Saviera Ajeng F.N, menyatakan bahwa ia ingin suasana belajar di madrasah menjadi lebih variatif. Ajeng pun berharap agar kegiatan di madrasah tidak monoton mengaji saja, tetapi diisi juga kegiatan menarik yang membangkitkan semangat.

“Kami sangat menginginkan agar para santri merasa senang saat berada di madrasah dengan adanya berbagai program edukasi kesehatan,” ujarnya.

Ajeng menambahkan bahwa pemeriksaan gigi ini adalah salah satu cara untuk membuat santri merasa lebih nyaman selama menuntut ilmu.

Sementara, salah satu pengajar Madrasah Kalimasada, Fatihul Abyan menyampaikan bahwa agenda ini diharapkan bisa memberikan edukasi kepada santri menjaga kebersihan gigi.

“Kesehatan gigi yang baik akan mendukung aktivitas ibadah serta proses belajar mengajar santri setiap harinya,” tandas Fatihul.

Pihak panitia penyelenggara bekerja sama dengan mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada untuk memberikan pelayanan medis secara profesional. Para mahasiswa tersebut memberikan penjelasan mendalam mengenai teknik menyikat gigi yang benar kepada anak-anak usia sekolah dasar tersebut.

Salah satu mahasiswa FKG UGM, Clarisa menjelaskan bahwa program ini merupakan sebuah hubungan timbal balik yang sangat menguntungkan kedua belah pihak. Kegiatan tersebut adalah upaya kegiatan sosial dari mahasiswa untuk terjun ke masyarakat terutama bagi santri usia dini di wilayah.

“Kami merasa sangat bahagia dapat berbagi ilmu kesehatan gigi secara langsung kepada anak-anak yang menjadi generasi penerus bangsa,” ungkapnya.

Iaberharap agar pemeriksaan rutin seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkala di berbagai lembaga pendidikan agama.

Seluruh santri yang hadir mengikuti prosedur pemeriksaan dengan tertib sambil mendengarkan penjelasan dari tim medis yang bertugas saat itu. Mereka juga diberikan motivasi agar tidak merasa takut untuk berkunjung ke dokter gigi demi menjaga kesehatan mulut mereka.

Kehadiran tim medis dari Universitas Gadjah Mada memberikan suasana baru yang menyegarkan bagi rutinitas harian di Madrasah Diniyah Kalimasada. Program ini membuktikan bahwa sinergi antara akademisi dan lembaga pendidikan agama dapat menciptakan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.

Para orang tua santri yang mendampingi anak-anak mereka juga menyatakan rasa terima kasih atas terselenggaranya program pemeriksaan gigi gratis tersebut. Mereka berharap agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan kembali di masa mendatang untuk memantau perkembangan kesehatan gigi anak secara rutin.

Acara ditutup dengan sesi foto bersama antara para santri, pengajar, serta tim medis sebagai kenang-kenangan atas suksesnya kegiatan. Semangat kolaborasi ini menjadi bukti nyata bahwa kepedulian terhadap kesehatan anak merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. (Ajeng KIM DSN)




Teater Singa Jazirah, Potret Kecil Negeri yang Riuh

Sleman – Merayakan 40 tahun Program Studi S1 Teater ISl Yogyakarta, Teater KQ menyelenggarakan pementasan teater berjudul Singa Jazirah karya Sutradara Purwanto atau lebih dikenal dengan nama Lephen Purwaraharja yang juga merupakan anggota PASBUJA Kawi berlangsung di Gelanggang Teater Eska UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu (21/1/2026).

Lephen Purwaraharja yang merupakan pengajar, periset dan pengabdi di Prodi S1 Teater Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta, menyampaikan bahwa pementasan tidak hanya mengangkat cerita. Tetapi juga berfungsi sebagai liturgi sosial, sebuah ritual kolektif dan berfungsi sebagai ruang sakral untuk merenungkan serta memperbaiki hubungan antara manusia dengan alam dan hal yang transendental.

Teater profetik adalah sebuah praktek seni yang membawa misi kenabian. Dengan melakukan transformasi sosial berdasarkan nilai-nilai ketuhanan yang diresmikan melalui tiga pilar yaitu humanisasi, literasi dan transendensi.

“Pesan dan kerja bermedia teater harus dilandasi oleh niat ibadah amar makruf nahi mungkar, serta ideologi profetik,” katanya.

Modal sebagai sarana dakwah berupa finansial, fasilitas, jaringan yang diperlukan untuk menciptakan ruang dan alat bagi pesan profetik untuk disampaikan kepada khalayak. Teater diniatkan untuk ibadah serta menularkan nilai-nilai transendental yang dibungkus idiom dan semiotik serta tanda tanda teater.

Panggung sebagai lantai suci atau altar peribadatan yang dapat menjadi ruang ekologis spritual guna menyucikan hal hal profan.

“Setiap elemen pementasan (cerita. gerak dan simbol) dapat diniatkan sebagai bentuk penghambaan dan upaya mendekatkan diri pada Tuhan,” ujar Lephen.

Ketidakadilan sosial yang bertentangan dengan kehendak Ilahi atau eksploitasi alah adalah bentuk pengkhianatan terhadap tanggung jawab manusia sebagai khalifah.

“Misi transendensi teater profetik secara aktif menularkan nilai transendental dengan mengikat isu isu yang mengingatkan penonton pada hakikat spiritual mereka,” pungkas Lephen.

Menurut Afandi salah satu penonton pertunjukan teater Singa Jazirah yang merupakan pemerhati desa wisata Kembang Arum, Kapanewon Turi, Sleman, seusai pertunjukan menyampaikan bahwa pertunjukan teater tersebut adalah penampilan kreatifitas anak muda yang tidak terbatas tanpa belenggu apapun. Hal itu menunjukkan sebuah proses pengabdian anak muda kepada negara.

“Sebuah upaya anak muda sedang berproses, belajar di tempat tak terbatas, ilmu tak terbatas, semangat tak terbatas,” ucap Afandi.

Dari pertunjukan yang berdurasi sekitar satu jam menampilkan kritik kepada tatanan sosial masyarakat yang besar, yang terjadi di suatu pemerintahan.

 “Pesan yang dapat diambil dari pertunjukan Singa Jazirah adalah dalam suatu pemerintah pastilah terjadi penyimpangan-penyimpangan maka dibutuhkan seorang pemimpin yang yang tegas dan konsekuen,” ujarnya. (Kusnadi KIM Berbah)




Artificial Intelligence dalam Konten Digital: Antara Inovasi dan Tantangan Kreativitas

Sleman – Workshop kebijakan standarisasi konten yang mengangkat tema “Artificial Intelligence: Sahabat atau Musuh Kreativitas?” dinilai penting sebagai upaya strategis pemerintah dalam merespons perkembangan teknologi kecerdasan buatan yang kian masif di ruang publik. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media di Auditorium Sekolah Tinggi Multi Media (STMM) “MMTC” Yogyakarta, Rabu (21/1/2026).

Forum yang dipandu oleh Yosh Aditya tersebut diikuti oleh berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pengelola media, kreator konten, akademisi, praktisi komunikasi publik, hingga kelompok informasi masyarakat. Forum ini menjadi ruang dialog untuk mempertemukan perspektif kebijakan pemerintah dengan dinamika praktik produksi konten digital yang semakin dipengaruhi oleh pemanfaatan teknologi artificial intelligence (AI).

Direktur Informasi Publik Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komdigi Republik Indonesia, Nursodik Gunarjo dalam sambutannya menegaskan bahwa kehadiran AI tidak dapat dihindari dan harus disikapi secara bijak. Pemerintah berkepentingan memastikan bahwa pemanfaatan AI dalam produksi konten tetap berada dalam koridor etika, hukum, dan nilai-nilai kebangsaan, tanpa mematikan kreativitas manusia sebagai inti dari komunikasi publik.

“Teknologi itu tidak pernah netral, ia selalu mengikuti nilai orang yang menggunakannya,” ujar Nursodik.

Menurutnya, hal ini penting untuk direnungkan bersama terutama saat ini ketika artificial intelligence hadir begitu dekat dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat harus mewaspadai sisi negatifnya, sekaligus mengambil sisi positifnya.

Standarisasi konten menjadi krusial untuk mencegah penyalahgunaan teknologi AI, seperti manipulasi informasi, disinformasi, dan degradasi kualitas konten. Melalui kebijakan yang jelas, pemerintah berharap ekosistem digital nasional dapat tumbuh secara sehat, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kepentingan publik.

Sementara itu, dalam sesi pemaparan materi, Ketua Program Studi Manajemen Produksi Berita Sekolah Tinggi Multi Media “MMTC” Yogyakarta, Diyah Ayu Karunianingsih selaku narasumber mengulas secara komprehensif peran AI sebagai alat bantu kreatif yang mampu meningkatkan efisiensi produksi konten, mulai dari penulisan, desain visual, hingga analisis audiens.

“Namun demikian, AI juga berpotensi menjadi ancaman apabila digunakan tanpa pengawasan, terutama ketika menggantikan proses berpikir kritis dan orisinalitas kreator,” lanjutnya.

Diskusi juga menyoroti pentingnya literasi digital bagi para pelaku industri kreatif dan komunikasi publik. Pemahaman yang memadai tentang cara kerja AI, keterbatasannya, serta implikasi etisnya dinilai sebagai prasyarat utama agar teknologi tersebut benar-benar menjadi sahabat kreativitas, bukan sebaliknya.

Kegiatan ini juga membuka ruang diskusi interaktif, di mana peserta menyampaikan pandangan, tantangan, serta praktik terbaik dalam penggunaan AI di masing-masing sektor. Masukan tersebut menjadi bagian penting bagi pemerintah dalam menyempurnakan kebijakan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi yang sangat cepat.

Melalui bimbingan teknis ini, Kementerian Komdigi Republik Indonesia berharap terbangun kesadaran kolektif bahwa AI adalah instrumen yang harus dikendalikan oleh nilai dan kreativitas manusia. Dengan kebijakan standarisasi konten yang tepat, AI diharapkan mampu menjadi mitra strategis dalam memperkuat kualitas komunikasi publik dan daya saing ekosistem digital Indonesia. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)