Tukimun dan Agensia Hayati : Bertani dengan Menjaga Keseimbangan Alam

Sleman – Berbicara mengenai agensia hayati tidak bisa dilepaskan dari sosok Tukimun, petani unggulan asal Padukuhan Jlegongan, Kalurahan Margodadi, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman. Di tengah arus pertanian modern yang masih bergantung pada pestisida sintetis, Tukimun memilih jalan berbeda yaitu bertani dengan menjaga keseimbangan alam.

Agensia hayati sendiri merupakan bahan yang berasal dari alam dan dimanfaatkan untuk membantu budidaya pertanian, baik tanaman pangan, hortikultura, maupun perkebunan. Tukimun mulai mengenal konsep ini sejak tahun 2005. Ketertarikannya muncul dari kegelisahan melihat dampak jangka panjang penggunaan pestisida kimia.

“Saya mulai mengenal agensia hayati sejak tahun 2005, tapi baru benar-benar mengembangkannya secara serius sekitar tahun 2008. Waktu itu saya ingin mencari cara bertani yang tidak merusak lingkungan,” ujar Tukimun yang ditemui di rumahnya pada Rabu (14/1/2026).

Sejak 2008, ia mulai mengembangkan agensia hayati dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitarnya. Akar bambu, akar tumbuhan putri malu, alang-alang, rumput gajah, hingga berbagai tumbuhan liar lainnya menjadi bahan utama.

“Semua bahan saya ambil dari alam sekitar. Alam sebenarnya sudah menyediakan solusi, tinggal bagaimana kita mau belajar dan memanfaatkannya dengan benar,” katanya.

Dalam proses pengembangannya, Tukimun mendapat pendampingan dari Balai Proteksi Tanaman Pertanian (BPTP) yang berkantor di Pandak, Bantul. Selain pendampingan teknis, BPTP juga memberikan starter atau isolat sebagai bahan awal pengembangan agensia hayati. Keunggulan agensia hayati ini terletak pada sifatnya yang ramah lingkungan, mampu menekan penggunaan pestisida, serta menghasilkan produk pertanian yang lebih sehat dan aman dikonsumsi.

Namun, hasil tersebut tidak diraih secara instan. Tukimun membutuhkan waktu sekitar empat tahun hingga sistem produksi dan pemanfaatan agensia hayati benar-benar stabil.

“Tidak instan. Saya butuh sekitar empat tahun sampai hasilnya stabil. Banyak yang meragukan, tapi saya yakin kalau ekosistem diperbaiki, tanaman akan lebih sehat,” ungkapnya.

Tantangan terbesar justru datang dari aspek sosial. Agensia hayati belum populer di kalangan petani senior yang sudah terbiasa dengan pestisida kimia. Sementara itu, generasi muda atau petani milenial cenderung enggan terjun ke dunia pertanian.

“Petani yang sudah tua sulit menerima hal baru, sementara anak muda banyak yang tidak mau jadi petani. Akhirnya ya saya jalani sendiri dulu,” tuturnya.

Kondisi tersebut membuat Tukimun menjadi satu-satunya petani di wilayahnya yang secara konsisten mengembangkan dan memproduksi agensia hayati. Seiring berjalannya waktu, rumah Tukimun di Jlegongan pun berkembang menjadi rumah produksi agensia hayati sekaligus pusat pembelajaran.

“Rumah ini saya buka untuk siapa saja yang mau belajar. Kalau ilmunya dibagi, manfaatnya justru akan lebih luas,” kata Tukimun.

Rumah produksi ini tidak hanya menjadi tempat pembuatan agensia hayati, tetapi juga difungsikan sebagai tempat pelatihan, studi tiru, dan rujukan penanganan hama berbasis bahan alami. Kerja sama dengan perguruan tinggi pun terjalin, salah satunya dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Mahasiswa semester IV Jurusan Agroteknologi secara rutin melakukan field trip untuk mempelajari pertanian ramah lingkungan dan teknik perkembangbiakan jamur.

Di bawah bendera CV Puspita Jaya Makmur, Tukimun mengembangkan berbagai produk unggulan agensia hayati, antara lain Beauveria bassiana, Trichoderma, serta pelatihan pembuatan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) dan Corynebacterium sp.

Ketekunan dan konsistensi Tukimun membuahkan pengakuan luas. Ia tercatat sebagai Petani Berprestasi Kabupaten Sleman tahun 2014, Petani Berprestasi tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2015, Penyuluh Pertanian Swadaya Teladan Kabupaten Sleman tahun 2016, Penyuluh Pertanian Swadaya Teladan tingkat DIY tahun 2017, dan Juara I Kategori Perintis Lingkungan dalam Lomba Lingkungan Hidup tingkat Kabupaten tahun 2018 serta masih banyak lagi prestasi yang dihasilkan.

Bagi Tukimun, bertani bukan semata mengejar hasil produksi, melainkan upaya memperbaiki lingkungan dan menjaga ekosistem.

“Bertani itu bukan melawan alam, tapi menyeimbangkan. Kalau musuh alami dan hama seimbang, pestisida tidak perlu digunakan berlebihan,” tegasnya.

Sebagai bagian dari Regu Proteksi Tanaman, Tukimun memiliki visi memperluas penggunaan agensia hayati dalam pengendalian hama melalui produk-produk inovatif yang ramah lingkungan.

“Harapan saya sederhana, agensia hayati bisa digunakan lebih luas supaya lingkungan terjaga dan petani tetap sejahtera,” pungkasnya. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




PKK Condongcatur Gelar Pertemuan Rutin, Berikan Edukasi Berbusana Rapi dan Kerudung yang Tepat

Sleman – Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kalurahan Condongcatur menyelenggarakan pertemuan rutin dengan tema “Berbusana Rapi dan Pemakaian Kerudung yang Tepat”, pada Rabu (14/1/2026). Acara yang berlangsung di Gedung Wacanaloka Kalurahan Condongcatur ini bertujuan untuk memberikan inspirasi kepada anggota PKK mengenai tata cara berbusana rapi sesuai syariat.

Narasumber tersebut ialah Fajar selaku perwakilan dari Elzata. Pada kesempatan itu, ia membagikan tips tentang bagaimana memilih busana yang sesuai dengan bentuk tubuh dan warna kulit, serta cara memakai kerudung yang elegan dan syar’i.

“Berbusana rapi dan sopan tidak hanya membuat kita terlihat cantik, tapi juga meningkatkan kepercayaan diri,” katanya.

Peserta tampak antusias mengikuti pertemuan ini, mereka bahkan mempraktikkan langsung tips yang diberikan.

“Saya sangat puas dengan acara ini, saya dapat banyak inspirasi tentang bagaimana berbusana yang rapi dan sesuai dengan syariat,” kata Wiwin salah satu peserta.

Pertemuan rutin PKK Kalurahan Condongcatur ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan kemampuan para anggota PKK dalam berbusana yang rapi dan sesuai dengan syariat. (Lidya / Kim Depok)




Resto Kembang Ndheso, Sajian Ikan Segar di Tengah Kampung Religi

Sleman – Menikmati hidangan bersama teman, kerabat, komunitas, maupun keluarga tercinta kini dapat dilakukan dalam suasana yang nyaman dan tenang di tengah perkampungan bernuansa religi. Resto Kembang Ndheso yang berlokasi di Jalan Godean Km 9, Dusun Senuko, Kalurahan Sidoagung, Kapanewon Godean, Sleman, menjadi salah satu pilihan kuliner yang menawarkan kelezatan sekaligus keteduhan suasana.

Resto ini berada tak jauh dari kompleks makam Kyai Raden Bagus Khasantuko, seorang aulia besar penyebar agama Islam, dan Sendang Bagusan yang dikenal sekaligus dikeramatkan oleh masyarakat. Nuansa kampung yang asri berpadu dengan aura religius menjadikan Resto Kembang Ndheso memiliki daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.

Beragam menu disajikan di resto ini, mulai dari ayam, udang, nila, lele, hingga berbagai olahan ikan air tawar lainnya. Salah satu menu andalan yang menjadi ciri khas Resto Kembang Ndheso adalah ikan patin dengan aneka olahan.

“Menu spesial kami adalah ikan patin. Ikan patin yang disajikan merupakan ikan segar yang ditangkap langsung saat ada pesanan, bukan ikan beku,” ujar Yuliarto, pemilik Resto Kembang Ndheso, saat ditemui di lokasi, Rabu (14/1/2026).

Ia menambahkan, tidak hanya ikan patin, menu ikan air tawar lainnya yang disajikan di resto tersebut juga menggunakan bahan segar. Sehingga kualitas rasa dan kesegarannya tetap terjaga.

Yuliarto mendirikan Resto Kembang Ndheso pada tahun 2013 bersama sang istri, Wiwin Triati. Pada awal berdiri, bangunan resto berupa beberapa gazebo sederhana. Namun, bangunan tersebut sempat mengalami kerusakan akibat hujan abu vulkanik Gunung Kelut beberapa tahun silam.

“Dulu masih berupa gazebo, tapi tidak bisa menampung banyak orang, apalagi saat hujan,” tutur Yuliarto yang juga berprofesi sebagai pegawai Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta.

Seiring waktu, gazebo tersebut kemudian diganti dengan dua bangunan permanen seperti yang ada saat ini. Bangunan baru tersebut mampu menampung lebih banyak pengunjung, termasuk rombongan komunitas dalam jumlah cukup besar. Selain untuk bersantap, area resto juga kerap dimanfaatkan untuk pertemuan, rapat, hingga kegiatan pengajian.

Pada awalnya, pendirian resto ini ditujukan untuk mengisi waktu luang sang istri. Namun, tanpa disadari, usaha tersebut mampu bertahan dan terus berkembang sampai saat ini.

“Tidak terasa sudah berjalan lama dan terus berkembang, apalagi lokasinya dekat dengan makam Kyai Raden Bagus Khasantuko dan Sendang Bagusan yang ramai dikunjungi peziarah,” tandasnya.

Salah seorang pengunjung, Abdul Gofur, warga Magelang, mengaku merasa nyaman saat menikmati hidangan di Resto Kembang Ndheso bersama keluarganya usai berziarah ke makam Kyai Raden Bagus Khasantuko.

“Suasananya tenang, sederhana, pas di pinggir jalan kampung dengan area parkir yang lega. Selain masakannya enak dan suasananya nyaman, mungkin karena dekat dengan makam ulama besar juga memberikan ketenangan tersendiri,” ungkap Abdul Gofur.

Dengan konsep sederhana, sajian ikan segar, serta suasana kampung yang kental dengan nilai religius, Resto Kembang Ndheso menjadi alternatif destinasi kuliner yang tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga menghadirkan ketenangan batin bagi para pengunjung.

(Kusnadi KIM Berbah)




AMM Ngaglik Teguhkan Semangat Kebangsaan dan Sinergi Membangun Negeri

Sleman – Semangat nasionalisme, kepedulian sosial, dan komitmen kebangsaan kembali ditunjukkan oleh kader Muhammadiyah Kapanewon Ngaglik. Pada Rabu, 14 Januari 2026, Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Ngaglik melaksanakan silaturahmi dengan Panewu Ngaglik di kantor Kapanewon Ngaglik.

Silaturahmi tersebut dihadiri oleh Nasyiatul Aisyiyah, LazisMu, Gerakan Sodaqoh Sampah, Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam), dan AmbulanMu. Pertemuan dipimpin oleh Fani selaku salah satu kader AMM, yang dalam paparannya menyatakan bahwa kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk memperkenalkan sekaligus menyampaikan berbagai program dan kegiatan AMM yang telah dan terus dijalankan bagi kepentingan masyarakat luas.

“Kontribusi Kokam dalam menjaga kondusivitas wilayah, serta membina generasi muda Muhammadiyah agar tumbuh dengan akhlak kuat, disiplin, dan berjiwa nasionalis,” kata Fani.

“Kemudian Sodaqoh Sampah sebagai gerakan kepedulian lingkungan dan ekonomi sirkular, Learning and Advocacy Center sebagai ruang pembelajaran dan advokasi bagi perempuan, serta layanan AmbulanMu gratis yang telah banyak dimanfaatkan masyarakat, termasuk warga non-Muslim, sebagai wujud nyata nilai kemanusiaan dan persatuan,” sambungnya.

Pertemuan tersebut juga diisi dengan diskusi mendalam mengenai berbagai permasalahan, potensi, dan arah masa depan Ngaglik, khususnya dalam memperkuat sinergi antara AMM dan Kapanewon Ngaglik. Diskusi berlangsung selama kurang lebih satu jam dalam suasana akrab, hangat, dan penuh semangat kebangsaan, diselingi canda ringan yang bermutu namun tetap sarat makna.

Dalam kesempatan tersebut, Panewu Ngaglik, Wawan Widiantoro, mengatakan bahwa generasi muda merupakan kekuatan strategis dan penentu arah masa depan bangsa. Menurutnya, apa yang dilakukan oleh Angkatan Muda Muhammadiyah Ngaglik merupakan contoh konkret bagaimana nilai keagamaan, kemanusiaan, dan nasionalisme dapat berjalan seiring dan saling menguatkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

“Program-program sosial, kebencanaan, lingkungan, serta layanan kemanusiaan yang dijalankan AMM adalah bentuk nyata cinta tanah air yang diwujudkan melalui kerja dan pengabdian tanpa sekat perbedaan suku, agama, maupun latar belakang sosial,” ujarnya.

Lebih lanjut, Wawan Widiantoro menyampaikan bahwa sinergi antara pemerintah dan organisasi kepemudaan seperti AMM menjadi fondasi penting dalam mewujudkan wilayah yang rukun, tangguh, dan berdaya saing.

Ia mengaku bersyukur dapat berdiskusi langsung, mendengar gagasan, visi, serta pandangan anak-anak muda yang dinilai cerdas, progresif, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap masyarakat serta Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karena itu, ia sangat mengharapkan kontribusi peran aktif generasi muda di Ngaglik dalam membangun masa depan Ngaglik yang lebih baik, inklusif, dan berkarakter Pancasila.

Silaturahmi ini diharapkan menjadi langkah awal yang berkelanjutan dalam memperkuat kolaborasi antara AMM dan Kapanewon Ngaglik. Hal itu sebagai ikhtiar bersama membangun Ngaglik dari akar rumput, sekaligus meneguhkan semangat membangun negeri dari daerah untuk Indonesia yang lebih maju, berkeadilan, dan berkeadaban. (ESK – KIM DSN)




Pemerintah Kapanewon Depok Dorong Penanganan Terpadu Anak Putus Sekolah

Sleman – Pemerintah Kapanewon Depok menyelenggarakan rapat koordinasi penanganan anak putus sekolah di Kalurahan Maguwoharjo, pada Rabu (14/1/2026), di ruang rapat kalurahan setempat.

Panewu Depok, Djoko Muljanto menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam upaya penanganan anak putus sekolah. Ia menegaskan bahwa persoalan anak putus sekolah merupakan isu kompleks yang tidak dapat diselesaikan secara parsial.

Menurutnya, dibutuhkan kerja bersama antara pemerintah kapanewon, pemerintah kalurahan, satuan pendidikan, serta unsur sosial kemasyarakatan agar setiap anak tetap memperoleh hak dasar pendidikan secara berkelanjutan.

“Anak putus sekolah bukan hanya persoalan pendidikan, tetapi juga persoalan sosial dan keluarga. Oleh karena itu, penanganannya harus dilakukan secara terpadu, mulai dari pendataan yang akurat, pendampingan keluarga, hingga pengawalan agar anak dapat kembali mengakses pendidikan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa langkah awal yang krusial adalah penyamaan data di tingkat kalurahan. Data yang valid dan mutakhir akan menjadi dasar dalam merumuskan intervensi yang tepat, baik melalui jalur pendidikan formal, nonformal, maupun dukungan sosial lainnya.

Djoko juga mendorong agar setiap temuan di lapangan segera dilaporkan dan ditindaklanjuti melalui mekanisme koordinasi yang telah disepakati.

Selain penanganan, Djoko menaruh perhatian besar pada aspek pencegahan. Ia meminta seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan pemantauan rutin terhadap anak-anak yang berpotensi putus sekolah, khususnya yang berasal dari keluarga rentan secara ekonomi maupun sosial.

“Upaya pencegahan dini dinilai lebih efektif dibandingkan penanganan ketika anak sudah terlanjur meninggalkan sekolah,” ungkap Djoko.

Ia menegaskan peran strategis kalurahan sebagai garda terdepan. Kalurahan diharapkan mampu menjadi simpul koordinasi antara sekolah, keluarga, dan layanan sosial, sehingga setiap permasalahan dapat ditangani secara cepat dan tepat sasaran.

“Ke depan, saya berharap terbangun komitmen bersama yang kuat untuk menekan angka anak putus sekolah di wilayah Kapanewon Depok. Saya yakin bahwa pendidikan anak merupakan investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia dan masa depan Kabupaten Sleman,” tandasnya. (Athiful/KIM Depok)