Ketika Tokoh Menjadi Cerita, Kisah Haidar Musyafa Sang Penjaga Ingatan Bangsa dari Sleman

Sleman — Di tengah derasnya arus informasi instan yang sering kali melupakan akar masa lalu, Haidar Musyafa memilih jalan yang tidak populer namun sangat krusial. Pria kelahiran Sleman, 29 Juni 1986 ini mendedikasikan hidupnya untuk merawat ingatan bangsa melalui penulisan biografi dan sejarah tokoh-tokoh nasional. Bagi Haidar, sejarah bukan sekadar urutan angka dan nama, melainkan sebuah nyawa yang harus dihidupkan kembali agar maknanya dapat diserap oleh generasi masa kini.

Haidar tumbuh menjadi penulis yang gelisah melihat kenyataan bahwa sejarah kerap dipahami secara dangkal. Ketertarikannya pada genre novel biografi bermula dari keinginan untuk menyentuh nilai perjuangan yang sering terlewatkan dalam buku pelajaran sekolah. Ia memandang sejarah sebagai sumber keteladanan yang tetap relevan melintasi berbagai zaman, selama dikemas dengan cara yang tepat dan menarik minat pembaca muda.

“Selama ini sejarah hanya diajarkan di permukaan dan dianggap kurang menarik oleh banyak kalangan. Padahal, sejarah menyimpan nilai hidup yang sangat penting bagi generasi muda sebagai pedoman melangkah. Saya ingin mengubah pandangan itu dengan menghadirkan kisah para tokoh melalui pendekatan naratif agar sejarah tidak terasa berat, melainkan hidup dan membumi,” ujar Haidar Musyafa saat ditemui di kediamannya, Kragilan XIV, Sidoluhur, Godean pada Senin (12/1/2026).

Kesadaran tersebut kian menguat melalui diskusi intens bersama mahasiswa dan anak-anak muda yang sering berkunjung ke rumahnya. Dari dialog tersebut, ia menemukan fakta bahwa banyak generasi muda yang mengenal nama besar seperti Kiai Ahmad Dahlan hingga AR Fachruddin, namun miskin pemahaman tentang jalan hidup dan nilai perjuangan mereka. Hal inilah yang memicu semangat Haidar untuk terus menelusuri jejak para pendahulu bangsa dan menuangkannya ke dalam tulisan yang mengalir.

Dalam praktiknya, menulis biografi adalah kerja intelektual yang panjang dan melelahkan. Haidar harus melakukan riset lapangan yang mendalam, mewawancarai ahli waris, menelusuri lokasi bersejarah, hingga melakukan verifikasi silang antara cerita tutur dengan dokumen kepustakaan yang valid. Proses ini menuntut ketelitian tinggi agar fakta sejarah tidak terdistorsi oleh imajinasi kepenulisan.

“Menulis sejarah itu menguras tenaga, pikiran, bahkan biaya yang tidak sedikit. Tapi justru di situlah tantangannya yang membuat saya jatuh cinta pada profesi ini. Saya banyak belajar tentang nilai hidup dan sisi kemanusiaan dari perjuangan para tokoh tersebut. Pengalaman riset ini bagi saya jauh lebih berharga daripada hasil penjualannya itu sendiri,” tutur Haidar dengan penuh semangat.

Tantangan terbesar yang dihadapi Haidar justru terletak pada upaya menjaga idealisme kepenulisan. Ia memegang teguh prinsip bahwa sebuah biografi harus ditulis secara manusiawi dengan menampilkan sisi terang dan gelap tokoh secara proporsional. Ia menolak keras jika diminta untuk melakukan pengagungan berlebihan atau hanya menulis sisi positif tokoh demi kepentingan tertentu.

“Saya ingin menghadirkan tokoh apa adanya, bukan sekadar versi ideal yang tanpa cela. Jika saya hanya diminta menulis sisi positifnya saja tanpa objektivitas, saya lebih memilih untuk mundur dari proyek tersebut. Bagi saya, kejujuran historis adalah syarat utama agar sejarah tetap memiliki fungsi mendidik bagi pembacanya,” tegas Haidar.

Sejumlah karya monumental telah ia hasilkan, mulai dari biografi Kiai Ahmad Dahlan, Buya Hamka, Haji Agus Salim, Tjokroaminoto, Ki Hajar Dewantara, hingga Sultan Hamengku Buwono IX. Dari deretan karya tersebut, penulisan biografi Sultan HB IX diakuinya sebagai tantangan terberat karena kompleksitas tokoh dan luasnya konteks sejarah yang harus dirangkum, namun buku tersebut justru mendapat sambutan sangat luas dari masyarakat nasional.

Melalui konsistensi karyanya, Haidar membawa pesan jernih bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya. Ia berharap anak muda Indonesia dapat mengambil hikmah dari perjuangan para tokoh untuk meneruskan cita-cita kemerdekaan. Di tengah dunia yang serba cepat, kiprah Haidar Musyafa menjadi penegasan bahwa sejarah akan tetap relevan selama dituturkan dengan jujur, hidup, dan bertanggung jawab. (Athiful/KIM Depok)




Pasbuja Kawi Merapi Resmi Miliki Penerbit Sendiri untuk Wadahi Karya Sastra Jawa

Sleman — Memasuki usia ketujuh, Paguyuban Sastra Budaya Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi melakukan terobosan besar dengan mendirikan unit penerbitan sendiri. Langkah strategis ini diambil untuk memfasilitasi produktivitas para anggota yang aktif menulis, baik dalam bahasa Jawa maupun bahasa Indonesia. Keberadaan penerbit mandiri ini diharapkan mampu memberikan keleluasaan bagi organisasi maupun individu anggota dalam membukukan karya-karya sastra mereka secara profesional.

Tokoh sastra sekaligus anggota Pasbuja, Budi Sarjono yang akrab disapa Budsar, menyatakan bahwa kepemilikan penerbit sendiri sudah menjadi kebutuhan mendesak bagi organisasi. Pasbuja tercatat rutin menerbitkan buku antologi setiap tahun, ditambah lagi dengan banyaknya karya pribadi para anggota yang memiliki potensi besar untuk dibukukan namun sering terkendala jalur birokrasi penerbitan umum.

“Sudah saatnya Pasbuja memiliki mesin penerbitan sendiri agar kita lebih leluasa mewadahi kreativitas anggota. Mempunyai penerbit sendiri bukan sekadar gaya-gayaan, melainkan sebuah terobosan nyata agar karya sastra Jawa dan Indonesia dari rahim Pasbuja bisa segera dinikmati pembaca tanpa proses tunggu yang terlalu lama di penerbit luar,” ujar Budi Sarjono dalam pertemuan anggota di Godean, Sleman, pada Minggu (11/1/2026).

Untuk mewujudkan hal tersebut secara legal, Pasbuja telah mempersiapkan berbagai persyaratan formal mulai dari pembentukan badan usaha hingga pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB) dengan kode KBLI penerbitan buku. Selain itu, kelengkapan administrasi seperti NPWP perusahaan dan alamat kantor yang jelas menjadi fokus utama agar penerbit ini dapat segera bergabung dalam Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) demi menjamin kualitas dan legalitas buku yang dihasilkan.

Mewakili tim penerbit, Veronika Naning menjelaskan bahwa pada tahap awal di tahun 2026 ini, Pasbuja akan menggunakan sistem kerja sama penerbitan atau co-publishing. Sistem ini dilakukan dengan menggandeng penerbit mapan yang telah memiliki komponen lengkap untuk pengurusan perizinan seperti ISBN maupun QRSBN. Melalui metode ini, secara visual akan muncul dua logo pada buku yang diterbitkan, yakni logo Pasbuja dan logo penerbit mitra.

“Penerbitan secara co-pub ini sudah mulai kita coba terapkan pada buku antologi terbaru Pasbuja yang berjudul Nyesep Banyu Panguripan. Langkah ini kami ambil agar proses penerbitan tetap berjalan aman dan terstandar sambil kami terus mematangkan kesiapan teknis tim internal untuk nantinya bisa benar-benar mandiri secara utuh dalam mengelola izin terbit,” jelas Veronika Naning.

Naning menambahkan bahwa tim penerbit nantinya akan bertugas melakukan kurasi atau melihat kelayakan karya sebelum naik cetak. Selain membantu proses editing, layout, hingga desain sampul, tim juga akan membantu penulis dalam mengkalkulasi biaya produksi berdasarkan format buku dan jumlah halaman. Kerja tim penerbit akan didampingi pengecekan ulang oleh penulis hingga buku benar-benar siap cetak dan diserahkan secara fisik.

“Kami ingin membantu penulis dari tahap PDF hingga buku fisik ada di tangan mereka. Kerja tim penerbit berfokus pada kualitas produksi, sementara untuk urusan pemasaran tetap menjadi kewenangan dan hak penuh dari penulis masing-masing. Kami berharap kehadiran unit ini menjadi penyemangat bagi para penulis sastra Jawa untuk terus berkarya dan tidak lagi ragu untuk membukukan tulisan mereka,” pungkas Veronika Naning mengakhiri penjelasannya. (Kusnadi/KIM Berbah)




Perkuat Komitmen Pengabdian Sosial, Tim Formatur PSM Kapanewon Depok Bentuk Kepengurusan Baru Masa Bakti 2026-2031

Sleman — Tim Formatur Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Kapanewon Depok menyelenggarakan pertemuan strategis di Ruang PKK Kapanewon Depok pada Senin (12/1/2026). Pertemuan yang dimulai pukul WIB ini diikuti oleh seluruh anggota tim formatur sebagai bagian dari tahapan krusial dalam menyusun struktur kepengurusan PSM Kapanewon Depok untuk masa bakti 2026–2031. Langkah ini menjadi awal baru bagi penguatan peran relawan sosial di wilayah tersebut agar lebih terorganisir dan berdampak nyata.

Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana yang tertib dan penuh semangat pengabdian. Seluruh peserta yang hadir menyepakati pentingnya memperkuat peran PSM sebagai mitra strategis pemerintah dalam penanganan berbagai masalah kesejahteraan sosial. Pembahasan utama dalam agenda ini meliputi struktur organisasi, mekanisme pembentukan kepengurusan, serta penyelarasan visi agar PSM ke depan mampu bergerak lebih responsif dan solutif terhadap dinamika sosial di tengah masyarakat Kapanewon Depok yang kompleks.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Kapanewon Depok, Ratna, yang memberikan arahan serta motivasi kepada tim formatur. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa PSM adalah garda terdepan dalam pelayanan sosial yang harus memiliki jiwa kerja sama lintas sektor. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan program kesejahteraan sosial sangat bergantung pada sinergi yang kuat antara relawan, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya.

“Pekerja Sosial Masyarakat merupakan kader sosial yang berjuang tanpa pamrih dan bekerja atas dasar panggilan hati demi kepentingan masyarakat. Saya berharap kepengurusan yang baru nantinya mampu menjalankan tanggung jawab ini dengan integritas tinggi dan menjalin kerja sama yang kuat dengan berbagai pihak agar semua permasalahan sosial di wilayah kita dapat tertangani dengan baik,” ujar Ratna di hadapan anggota tim formatur.

Berdasarkan hasil musyawarah mufakat tim formatur, Tri Suhartati ditetapkan secara resmi sebagai Ketua PSM Kapanewon Depok untuk masa bakti 2026–2031. Penetapan ini disambut baik oleh seluruh anggota dengan harapan kepemimpinan baru ini dapat membawa PSM ke arah yang lebih solid dan profesional dalam menjawab tantangan sosial. Kepengurusan baru ini diharapkan tidak hanya menjadi pelengkap struktur, tetapi menjadi motor penggerak perubahan positif bagi warga yang membutuhkan pendampingan sosial.

Sementara itu, Tri Suhartati selaku ketua terpilih menyampaikan komitmennya untuk segera tancap gas dalam meningkatkan kinerja organisasi. Ia menekankan bahwa dalam periode kepemimpinannya, PSM akan lebih aktif dalam mengakomodasi berbagai potensi lokal yang ada. Tri Suhartati mengajak seluruh pengurus untuk menjaga semangat gotong royong agar kontribusi PSM dapat dirasakan langsung secara adil oleh seluruh lapisan masyarakat yang memerlukan bantuan kesejahteraan sosial.

“Saya berharap ke depan PSM Kapanewon Depok dapat terus meningkatkan kinerja dan menjalin kerja sama yang erat dengan seluruh pemangku kepentingan. Dengan semangat kebersamaan dan pengabdian, kita harus mampu memberikan kontribusi nyata bagi kesejahteraan sosial masyarakat. Kita akan bekerja secara optimal dan profesional untuk mengemban amanah besar ini demi kemajuan Kapanewon Depok,” tegas Tri Suhartati menutup pertemuan tersebut. (Tri Suhartati/KIM Depok)




SAH Banyu Bening Tingkatkan Kesadaran Ekologis Berkelanjutan Siswa SMAN 2 Sleman

Sleman — Edukasi lingkungan sejak dini menjadi kunci krusial dalam membangun kesadaran generasi muda terhadap pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Hal ini melatarbelakangi pelaksanaan kegiatan edukasi bertajuk Sekolah Air Hujan yang digelar di SMA Negeri 2 Sleman pada Senin (12/1/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk mengubah paradigma pelajar mengenai pemanfaatan air hujan sebagai sumber daya yang bernilai tinggi dan berkelanjutan.

Program ini mendapatkan dukungan penuh dari Organization for Industrial, Spiritual and Cultural Advancement (OISCA), sebuah lembaga swadaya masyarakat internasional yang konsisten mendorong pelestarian lingkungan. Perwakilan OISCA, Nur Partiningsih, memberikan bantuan nyata berupa pemasangan instalasi pemanen air hujan di lingkungan sekolah sebagai sarana praktik mandiri bagi para siswa. Menurutnya, sekolah harus menjadi pusat laboratorium alam yang mampu mengajarkan kemandirian sumber daya air kepada para siswanya.

“Air hujan memiliki potensi besar sebagai sumber air bersih yang melimpah jika dikelola dengan sistem yang tepat. Pelibatan generasi muda dalam isu lingkungan seperti ini merupakan investasi jangka panjang. Kami ingin sekolah menjadi ruang pembelajaran nilai-nilai keberlanjutan yang dapat diterapkan secara nyata dalam kehidupan bermasyarakat nantinya,” ujar Nur Partiningsih di sela-sela pemasangan instalasi.

Pendiri Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening, Sri Wahyuningsih, hadir sebagai narasumber utama yang mengupas tuntas konsep pemanenan air hujan. Dengan bahasa yang mudah dipahami, ia menguraikan proses mulai dari penampungan, penyaringan bertahap, hingga teknik pemurnian agar air hujan layak dikonsumsi bahkan digunakan sebagai air terapi. Para siswa diajak memahami siklus hidrologi dan tantangan krisis air bersih dunia melalui pendekatan yang interaktif.

Kegiatan ini tidak hanya berhenti pada teori, tetapi juga dilengkapi dengan simulasi pengujian kualitas air secara langsung. Siswa melakukan pengujian kadar partikel atau zat terlarut pada berbagai sampel, mulai dari air tanah sumur, air mineral kemasan, hingga air hujan. Hasilnya menunjukkan bahwa air hujan yang ditampung dan difilter dengan benar memiliki kadar partikel yang rendah dan berada dalam batas sangat aman untuk dikonsumsi. Momen ini dimanfaatkan beberapa siswa untuk langsung mencoba meminum air hujan hasil olahan tersebut.

“Forum ini adalah momentum penting dalam mengubah pandangan siswa terhadap air hujan yang selama ini sering dianggap tidak layak konsumsi atau bahkan dianggap penyebab penyakit. Kita harus menunjukkan dengan data dan praktik bahwa air hujan adalah anugerah yang bisa menjadi solusi krisis air jika kita tahu cara mengolahnya secara bijak,” tegas Sri Wahyuningsih.

Edukasi ini diharapkan mampu menanamkan kesadaran ekologis yang mendalam dan membentuk perilaku bertanggung jawab terhadap alam di lingkungan sekolah maupun rumah tangga. Pemahaman mengenai potensi air hujan sebagai sumber air alternatif diharapkan menjadi bagian dari komitmen kolektif pelajar dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup demi mendukung pembangunan berkelanjutan di masa depan. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Tingkatkan Daya Saing, UMKM Tempel Sleman Percepat Transformasi ke Ekosistem Digital

Sleman — Upaya memperkuat daya saing usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui transformasi digital terus digencarkan secara masif di tingkat wilayah. Di Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, pemerintah setempat bersama kelompok informasi masyarakat dan mitra swasta mendorong pelaku usaha lokal untuk berani tampil di ruang digital melalui penguatan komunikasi, literasi informasi, serta pemanfaatan media promosi yang lebih modern.

Komitmen tersebut ditegaskan dalam Sarasehan Digitalisasi UMKM Kapanewon Tempel yang digelar di Kopi Sormindi, Nglengkong, Sumberrejo pada Senin (12/1/2026). Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 20 pelaku UMKM lintas sektor, mulai dari kuliner, jasa, kerajinan, hingga usaha berbasis pertanian. Acara tersebut turut dihadiri oleh Panewu Tempel Dakiri serta Danramil Tempel Edi Widodo yang memberikan dukungan penuh terhadap kemajuan ekonomi lokal.

Panewu Anom Tempel, Eni Yuliani, menekankan bahwa komunikasi dan literasi digital merupakan fondasi utama dalam penguatan UMKM di era saat ini. Ia memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif KIM Senyum Tempel yang menghadirkan Buletin UMKM KITA sebagai media informasi dan promosi usaha yang efektif. Menurutnya, pengelolaan informasi yang baik akan menjadi jembatan strategis bagi pelaku usaha untuk menjangkau peluang ekonomi yang lebih luas.

“Buletin UMKM KITA adalah contoh nyata bagaimana informasi yang dikelola dengan baik dapat menjadi jembatan antara pelaku usaha dengan konsumen, pasar, dan peluang ekonomi. Ini bukan sekadar media publikasi, tetapi bagian dari strategi penguatan UMKM agar mereka memiliki identitas yang kuat di mata pasar. UMKM harus mampu menyampaikan siapa mereka dan apa keunggulannya melalui komunikasi yang tepat agar tampil lebih profesional,” ujar Eni Yuliani.

Sarasehan ini menghadirkan narasumber utama, Widarta, yang merupakan Konsultan UMKM dari Telkom Indonesia. Dalam paparannya, Widarta menegaskan bahwa digitalisasi bukan lagi sebuah pilihan melainkan kebutuhan mendasar agar UMKM mampu naik kelas. Ia menekankan bahwa kualitas produk saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan keberadaan di ruang digital, pemahaman perilaku konsumen, hingga penguasaan sistem pembayaran elektronik.

“UMKM hari ini tidak cukup hanya mengandalkan kualitas produk. Mereka harus hadir di ruang digital dan memanfaatkan marketplace serta media sosial secara optimal. Tantangan terbesar sebenarnya bukan pada teknologi, melainkan pada perubahan pola pikir dan konsistensi dalam membangun identitas usaha. Jika dilakukan secara bertahap, jangkauan pasar akan meluas dan efisiensi akan meningkat secara nyata,” tegas Widarta dalam sesi diskusi tersebut.

Ketua KIM Senyum Tempel, Muryana, menambahkan bahwa peran kelompok informasi masyarakat adalah sebagai fasilitator yang menghubungkan pelaku usaha dengan pemerintah dan mitra strategis. Ia ingin memastikan bahwa pelaku UMKM di Tempel memiliki ruang untuk belajar dan tumbuh dalam sebuah jejaring yang saling menguatkan. Melalui sarasehan ini, diharapkan muncul keberanian kolektif dari para peserta untuk memulai transformasi digital secara serius.

Antusiasme peserta terlihat dari testimoni Resi, pemilik Kedai Mona Lumbungrejo, yang mengaku mendapatkan perspektif baru mengenai pentingnya promosi digital. Ia menyadari bahwa selama ini fokus usahanya terlalu berat pada produksi namun masih minim dalam hal promosi di jagat maya. Dengan bekal pengetahuan dari sarasehan ini, ia berkomitmen untuk mulai membangun identitas usaha yang lebih konsisten di media sosial guna menjangkau pelanggan yang lebih luas.

Menutup kegiatan tersebut, Eni Yuliani menegaskan bahwa hasil sarasehan harus segera ditindaklanjuti dalam bentuk aksi nyata dan pendampingan berkelanjutan. Ia berharap kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat informasi ini dapat terus terjaga sehingga UMKM Tempel mampu mandiri, inovatif, dan menembus pasar nasional. Dengan kolaborasi yang kuat, produk lokal diharapkan tidak hanya jago di kandang tetapi juga mampu bersaing di kancah yang lebih tinggi. (SBD/KIM Senyum Tempel)