SMAN 1 Godean Rayakan Hari Jadi ke-39 dengan Semangat Cahaya Budaya

Sleman — SMA Negeri 1 Godean atau yang populer dengan sebutan Smago kembali mengukir jejak sejarah dalam perayaan Hari Ulang Tahun ke-39 yang jatuh pada tahun 2026. Mengusung tema besar “LUMINARA”, peringatan tahun ini menjadi simbol perjalanan panjang sekolah yang terus bersinar dan menuntun langkah menuju keberhasilan baru melalui kolaborasi harapan, kreativitas, serta inovasi tanpa batas.

Luminara dimaknai secara mendalam sebagai cahaya yang menuntun perjalanan. Filosofi ini mengandung pesan bahwa setiap proses, termasuk rintangan di masa lalu, merupakan bagian penting untuk menemukan sinar yang lebih kuat di masa depan. Nilai luhur tersebut tercermin dalam dua agenda utama yang menjadi pusat perhatian masyarakat, yakni peragaan busana atau fashion show dan kirab budaya yang dilaksanakan pada Jumat (9/1/2026).

Kegiatan fashion show yang diikuti oleh siswa kelas X dan XI digelar secara meriah di lapangan basket sekolah sebagai pembuka acara. Kemeriahan kemudian berlanjut dengan prosesi kirab budaya yang melibatkan seluruh siswa dari kelas X hingga kelas XII. Pelepasan kirab ditandai dengan pemotongan pita secara simbolis oleh kepala sekolah di lapangan utara SMA Negeri 1 Godean, yang disaksikan oleh warga sekitar dengan penuh antusias.

Kirab budaya ini bukan sekadar ajang perayaan atau pertunjukan kemeriahan semata bagi masyarakat. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi sarana penting dalam pelestarian budaya sekaligus media pendidikan budi pekerti bagi peserta didik. Nilai-nilai luhur diwariskan secara nyata melalui keterlibatan langsung para siswa dalam prosesi kirab, di mana mereka mengenakan beragam pakaian tradisional dan menampilkan identitas budaya yang kuat.

Kepala SMA Negeri 1 Godean, Surahman, menegaskan bahwa makna kirab budaya harus dipahami secara lebih mendalam oleh seluruh warga sekolah. Menurutnya, di tengah gempuran budaya asing, generasi muda harus kembali didekatkan dengan akar budayanya sendiri agar tidak kehilangan jati diri di masa depan.

“Kirab budaya ini jangan hanya dilihat dari kegiatan seremonialnya saja, tetapi juga harus dinilai dari makna dan niatan siswa dalam upaya melestarikan budaya. Generasi muda sekarang banyak yang merasa asing dengan budayanya sendiri. Dengan kirab budaya ini, harapannya siswa akan tergugah untuk mengetahui, merasa bangga, dan kemudian secara sukarela melestarikannya. Ini adalah bagian dari pembentukan karakter mereka,” ungkap Surahman di sela-sela acara.

Melalui kirab budaya ini, para siswa diajak untuk merasakan secara langsung bahwa bangsa Indonesia memiliki modal sosial yang kuat berupa kebersamaan, kekompakan, dan gotong royong. Setiap langkah dalam kirab menjadi simbol sinergi dan persatuan seluruh warga sekolah dalam mewujudkan visi pendidikan yang berkarakter. Selain itu, Surahman berpesan agar seluruh peserta tetap menjaga etika dan perilaku santun selama di perjalanan kirab agar citra baik sekolah tetap terjaga di mata masyarakat.

“Dalam pelaksanaan kirab, semua peserta harus menjaga citra sekolah. Bersikap tertib dan tidak melakukan hal-hal yang tidak disukai masyarakat, karena hal tersebut justru dapat merugikan pihak sekolah. Kita harus menunjukkan bahwa siswa Smago adalah pribadi yang santun dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan,” tandas Surahman.

Perayaan HUT ke-39 SMA Negeri 1 Godean melalui tema Luminara menjadi pengingat bahwa cahaya pendidikan tidak hanya bersumber dari prestasi akademik di dalam kelas. Cahaya sejati justru muncul dari karakter, pelestarian budaya, dan nilai kemanusiaan yang terus dijaga dan diwariskan kepada generasi penerus. Dengan semangat ini, Smago melangkah mantap membawa cahaya yang menginspirasi menuju masa depan yang lebih gemilang. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Peringati HUT ke-50, SD Babarsari Gelar Aksi Kemanusiaan Donor Darah Bersama PMI Depok

Sleman — Sekolah Dasar (SD) Babarsari memperingati hari ulang tahunnya yang ke-50 atau usia emas dengan cara yang menyentuh sisi kemanusiaan. Bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kapanewon Depok, sekolah tersebut menyelenggarakan aksi donor darah yang melibatkan guru, orang tua siswa, serta masyarakat sekitar pada Sabtu (10/1/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk memupuk jiwa sosial di lingkungan sekolah sekaligus membantu mengamankan stok darah di wilayah Depok dan sekitarnya.

Aksi sosial yang berlangsung di lingkungan sekolah ini mendapat sambutan hangat dari para pendaftar. Berdasarkan data panitia, terdapat 49 calon pendonor yang mendaftarkan diri. Setelah melalui pemeriksaan kesehatan yang ketat, sebanyak 43 orang dinyatakan lolos dan memenuhi syarat untuk diambil darahnya. Tingginya antusiasme ini menunjukkan besarnya kepedulian komunitas sekolah terhadap sesama.

Pengurus PMI Kapanewon Depok, Hening, memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada pihak sekolah yang telah memilih aksi donor darah sebagai bagian dari perayaan ulang tahun. Menurutnya, kontribusi sekecil apa pun dari masyarakat sangat berarti bagi mereka yang sedang membutuhkan transfusi darah di rumah sakit.

“Kami sangat senang dan bangga dapat berpartisipasi dalam acara ini. Langkah SD Babarsari patut dicontoh karena membantu masyarakat yang sedang berjuang dan sangat membutuhkan darah. Satu kantong darah yang didonorkan hari ini bisa menyelamatkan nyawa orang lain di luar sana,” ujar Hening di sela-sela kegiatan.

Kepala Sekolah SD Babarsari, Sudarman, mengungkapkan bahwa pemilihan kegiatan donor darah ini disengaja agar perayaan ulang tahun ke-50 sekolah tidak hanya bersifat hura-hura, tetapi juga membawa manfaat nyata. Ia ingin mengajarkan kepada para siswa secara tidak langsung tentang pentingnya berbagi dan menolong orang lain melalui aksi nyata yang bisa dilihat langsung di lingkungan sekolah.

“Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut secara rutin dan menjadi agenda tahunan. Momentum usia emas ini kami gunakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya donor darah bagi kesehatan pendonor itu sendiri dan manfaatnya bagi orang lain. Kami ingin SD Babarsari terus hadir memberikan dampak positif bagi lingkungan di usianya yang ke-50 tahun ini,” tutur Sudarman.

Perayaan ulang tahun ke-50 SD Babarsari ini menjadi titik balik penting bagi sekolah untuk semakin aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial. Keberhasilan acara donor darah ini diharapkan dapat memicu semangat lembaga pendidikan lainnya di wilayah Depok untuk turut serta melakukan aksi serupa demi kepentingan kemanusiaan yang lebih luas. (Lidya/KIM Depok)




PKK Kapanewon Depok Sosialisasikan Gerakan Gemar Makan Ikan untuk Perkuat Kesehatan Keluarga

Sleman — Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kapanewon Depok menggelar sosialisasi intensif mengenai pentingnya gerakan gemar makan ikan bagi masyarakat luas pada Sabtu (10/1/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya sistematis untuk meningkatkan kesadaran warga tentang besarnya manfaat konsumsi ikan terhadap kualitas kesehatan sekaligus menaikkan angka konsumsi ikan di wilayah Depok, Sleman.

Acara yang dipusatkan di kantor kapanewon setempat ini dihadiri oleh puluhan ibu-ibu anggota PKK dari berbagai tingkatan. Selain pemaparan teori mengenai kandungan nutrisi, para peserta juga mendapatkan edukasi praktis mengenai cara pengolahan ikan yang benar agar kandungan gizinya tidak hilang saat dimasak namun tetap memiliki cita rasa yang lezat bagi keluarga.

Wakil dari Pokja 3 PKK Kapanewon Depok, Purwanti, menekankan bahwa ikan merupakan salah satu sumber protein hewani terbaik yang sangat terjangkau. Menurutnya, pemenuhan gizi berbasis ikan sangat krusial terutama dalam masa pertumbuhan anak-anak dan bagi kesehatan ibu hamil guna mencegah risiko masalah gizi kronis.

“Makan ikan sangat penting bagi kesehatan, terutama untuk menunjang tumbuh kembang anak-anak dan menjaga kebugaran ibu hamil. Ikan kaya akan protein, omega-3, serta berbagai nutrisi penting lainnya yang sangat baik untuk perkembangan otak dan daya tahan tubuh. Kami ingin masyarakat memahami bahwa sehat itu tidak harus mahal,” ujar Purwanti di hadapan para peserta.

Selain memberikan pengetahuan tentang gizi, dalam acara ini masyarakat juga diajarkan berbagai teknik memasak ikan yang kreatif agar anak-anak tidak merasa bosan. Edukasi ini mencakup cara memilih ikan segar di pasar hingga tips menyajikan hidangan ikan yang menggugah selera tanpa harus menggunakan bahan tambahan pangan yang tidak sehat.

“Kami sangat berharap dengan adanya sosialisasi ini, masyarakat dapat lebih gemar makan ikan dan menjadikannya sebagai menu utama di meja makan setiap hari. Jika konsumsi ikan meningkat, maka kesehatan keluarga secara otomatis akan ikut meningkat pula. Harapannya, gerakan ini dapat dimulai dari lingkungan terkecil yaitu keluarga di rumah masing-masing,” tambah Purwanti.

Acara ini diharapkan mampu menjadi pemicu perubahan pola makan masyarakat Depok ke arah yang lebih sehat dan bergizi. Dengan meningkatnya kesadaran tentang pentingnya nutrisi ikan, diharapkan wilayah Depok dapat mencatatkan angka konsumsi ikan yang lebih tinggi serta melahirkan generasi yang lebih cerdas dan kuat di masa depan. (Lidya/KIM Depok)




Gelar Tabligh Akbar di Pusat Perbelanjaan, PDM Sleman Galang Dana Bangun Gedung Dakwah Terpadu

Sleman — Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sleman menggelar acara Tabligh Akbar dan Penggalangan Dana yang berlangsung di Atrium Shinta, Sleman City Hall (SCH), Sabtu (10/1/2026). Perhelatan yang menjadi bagian dari rangkaian Muhammadiyah Sleman Expo (MSE) perdana ini dihadiri langsung oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dahlan Rais, serta jajaran tokoh persyarikatan se-Kabupaten Sleman.

Acara ini bukan sekadar ajang silaturahmi biasa, melainkan langkah nyata PDM Sleman untuk mewujudkan impian memiliki kantor pusat yang representatif. Saat ini, operasional kantor PDM Sleman masih berbagi ruang di area Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sleman. Kondisi kantor tersebut kian terbatas seiring pesatnya perkembangan layanan kesehatan di rumah sakit tersebut.

Direktur RS PKU Muhammadiyah Sleman, Yoga Wiratama, menceritakan sejarah di balik lokasi kantor saat ini. Pada tahun 2021, PDM Sleman dengan ikhlas merelakan lahan kantornya demi perluasan instalasi rumah sakit guna menampung belasan ribu pasien BPJS. Pengorbanan tersebut kini coba dibalas oleh warga persyarikatan dengan mendukung pembangunan gedung mandiri.

“Bapak-bapak PDM waktu itu mengikhlaskan kantornya agar kebermanfaatannya bagi masyarakat luas bisa lebih maksimal melalui rumah sakit. Saat ini, PKU Sleman telah melayani belasan ribu pasien per tahun. Inilah saatnya kita bergerak bersama membantu PDM untuk memiliki gedung sendiri yang layak dan mampu menunjang aktivitas dakwah yang semakin besar,” ujar Yoga Wiratama di hadapan para jemaah.

Ketua Panitia Penggalangan Dana, Nasirun, memaparkan rencana strategis pembelian tanah Unit 2 yang berlokasi di Jalan Jejamuran. Lahan yang diincar tersebut berada tepat bersisihan dengan area pengembangan RS PKU Muhammadiyah. Ke depan, kawasan tersebut diproyeksikan menjadi kompleks Muhammadiyah Center Sleman yang terintegrasi.

“Sangat ironis melihat Sleman memiliki 154 Ranting, 79 SD, dan puluhan SMK hebat, tetapi kantor PDM-nya untuk parkir kendaraan saja masih susah. Kami menargetkan penggalangan dana tahap kedua ini fokus untuk membebaskan lahan di sekitarnya agar mimpi membangun pusat dakwah terpadu ini bisa segera terwujud secara fisik,” tegas Nasirun.

Berdasarkan laporan panitia, dana sebesar Rp5,4 miliar telah berhasil dikelola pada tahap pertama untuk pembelian tanah dan gedung senilai Rp3,5 miliar. Tantangan selanjutnya adalah membebaskan lahan tambahan dengan estimasi harga pasar mencapai Rp3,5 juta hingga Rp4 juta per meter persegi. Ketua PDM Sleman, Harjaka, menekankan bahwa kontribusi warga adalah bentuk latihan spiritual untuk membersihkan diri dari sifat bakhil.

“Kami mengumpulkan jemaah sekalian bukan sekadar untuk meminta bantuan nominal, tetapi mengajak kita semua bersedekah agar bersih dari sifat kikir. Lokasi pameran di pusat perbelanjaan ini sudah strategis dan memudahkan kita, maka mari kita sambut kemudahan ini dengan aksi nyata melalui wakaf tanah, baik sepuluh meter persegi atau semampunya,” ajak Harjaka.

Dahlan Rais yang hadir sebagai pembicara inti memberikan apresiasi tinggi atas gerak cepat PDM Sleman dalam mengonsolidasi kekuatan ekonomi umat. Merujuk pada tafsir Al-Qur’an, ia mengingatkan bahwa bukti syukur yang paling utama adalah dengan amal nyata yang lebih baik. Ia menyebut kontribusi warga Muhammadiyah laksana sang surya yang terus memberi tanpa mengharap kembali.

“Syukur dengan lisan itu benar, dengan sujud syukur juga boleh. Namun jika merujuk pada firman Allah, syukur harus ditunjukkan dengan berbuat dan beramal yang lebih baik. Perbuatan baik itu pasti akan kembali kepada diri kita sendiri. Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah harus terus bergerak memberi manfaat bagi semesta tanpa lelah,” tutur Dahlan Rais dalam tausiyahnya.

Acara diakhiri dengan sesi lelang tanah simbolis dan pengumpulan infak spontan dari para jemaah yang hadir. Dengan semangat gotong royong yang menjadi ciri khas persyarikatan, Muhammadiyah Sleman optimis pusat dakwah yang megah di Bumi Sembada akan segera berdiri tegak, sejajar dengan kemajuan bidang pendidikan dan kesehatan yang telah mereka raih selama ini. (Arief Hartanto/KIM Kertomandiri)




Sambut Ramadhan 1447 H, Muhammadiyah Banyurejo Dorong Penguatan Iman, Pendidikan, dan Kemandirian Umat

Sleman — Menjelang hadirnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, berbagai komunitas Muslim di Indonesia mulai mengintensifkan kegiatan pembinaan keagamaan sebagai bagian dari persiapan spiritual. Di wilayah Banyurejo, Tempel, Sleman, Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) dan Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Banyurejo menggelar Pengajian Akbar yang menekankan pentingnya perbaikan diri sekaligus penguatan peran sosial umat di tengah tantangan zaman yang kian dinamis.

Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (10/1/2026) di Masjid An Nur Karang Kulon, Sleman, ini diikuti oleh jemaah lintas usia dengan penuh antusias. Mengusung tema Ramadhan sebagai Momentum Peningkatan Kualitas Iman, Taqwa, dan Pendidikan Umat, pengajian tersebut memposisikan bulan suci bukan hanya sebagai agenda ritual tahunan, melainkan sebagai ruang transformasi karakter dan pengasahan kepedulian sosial secara kolektif.

Ketua PRM Banyurejo, R. Dwi Atmiyanta, menegaskan bahwa Ramadhan harus dimaknai sebagai proses pembaruan diri yang memberikan dampak nyata bagi kehidupan pribadi dan lingkungan masyarakat luas. Ia berpendapat bahwa tantangan sosial yang semakin kompleks menuntut umat Islam untuk tidak berhenti pada aspek ibadah personal semata, namun juga harus memperkuat etika sosial dan tanggung jawab moral terhadap sesama.

“Ramadhan adalah kesempatan emas bagi kita semua untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan, sekaligus membentuk pribadi yang lebih bermanfaat bagi orang lain. Ibadah kita harus terpancar dalam perilaku sosial yang positif dan kepedulian terhadap permasalahan di sekitar kita,” ujar R. Dwi Atmiyanta dalam sambutannya di depan para jemaah.

Lurah Banyurejo, Saparjo, turut memberikan apresiasi tinggi terhadap kegiatan tersebut sembari menekankan pentingnya integrasi antara pembinaan spiritual dan penguatan ekonomi warga. Menurutnya, kemandirian umat dapat terbangun jika setiap individu memiliki keberpihakan terhadap potensi ekonomi di lingkungan terdekatnya. Ia mendorong warga untuk saling menguatkan melalui dukungan terhadap unit usaha kecil milik tetangga atau sesama jemaah.

“Jika ada UMKM di sekitar kita, seyogianya yang pertama kita dukung adalah tetangga sendiri. Dari langkah sederhana itulah ekonomi komunitas akan tumbuh dan kemandirian umat yang kita cita-citakan bisa benar-benar terbangun secara kokoh. Kita harus menjadi pasar bagi produk-produk saudara sendiri,” kata Saparjo menekankan pentingnya ekosistem ekonomi lokal.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tempel, Samsul Alam, mengajak jemaah untuk memperluas makna ibadah sosial melalui gerakan ekonomi. Ia menilai keberpihakan pada produk kader dan warga binaan merupakan wujud nyata dari keadilan ekonomi yang berkelanjutan. Puncak acara kemudian diisi dengan tausiyah oleh Saijan, yang mengingatkan bahwa Ramadhan adalah madrasah kehidupan untuk melatih konsistensi atau istiqomah dalam beribadah dan berakhlak mulia.

“Istiqomah di bulan Ramadhan bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah latihan. Harapan terbesarnya adalah kebiasaan-kebiasaan baik yang kita bentuk selama bulan suci itu tetap terus hidup dan konsisten dilaksanakan bahkan setelah Ramadhan berakhir. Kita butuh integrasi antara iman dan pendidikan agar mampu menjawab tantangan moral di era modern ini,” tutur Saijan dalam ceramahnya.

Kegiatan ini secara keseluruhan mencerminkan arah gerakan keislaman yang semakin kontekstual dengan memadukan aspek spiritual, pendidikan karakter, dan kemandirian ekonomi. Praktik yang tumbuh di tingkat komunitas Banyurejo ini menjadi potret nyata tentang bagaimana umat Islam memaknai Ramadhan sebagai momentum transformasi menyeluruh bagi individu maupun kehidupan sosial bangsa. (Ratna Zuliastuti/KIM Senyum Tempel)