Sancoko, Sang Maestro Seni Penjaga Marwah Desa Wisata Budaya Grogol

Sleman — Di tengah arus modernisasi yang kian kencang, denyut seni tradisi di Padukuhan Grogol, Margodadi, Seyegan, Sleman, tetap terjaga dengan kokoh. Salah satu sosok sentral di balik lestarinya kekayaan budaya tersebut adalah Sancoko, pria yang oleh banyak kalangan dijuluki sebagai maestro seni sekaligus pengawal utama Desa Wisata Budaya Grogol. Melalui dedikasi yang tak pernah padam sejak tahun 1982, ia mendirikan Sanggar Wijaya Kusuma yang hingga kini menjadi ruang hidup bagi regenerasi seni tradisi.

Sanggar ini bukan sekadar bangunan fisik tempat berlatih, melainkan kawah candradimuka bagi berbagai kesenian kerakyatan seperti jathilan, kesenian religius, hingga seni keprajuritan atau bergodo. Sancoko yang merupakan lulusan sarjana seni tari dari IKIP Yogyakarta ini memandang bahwa berkesenian adalah instrumen penting dalam membentuk jati diri masyarakat. Baginya, setiap gerak dan tabuhan dalam seni tradisi mengandung nilai filosofis yang mendalam tentang kehidupan manusia.

“Sanggar ini saya dirikan bukan sekadar tempat latihan teknis, tetapi sebagai ruang pembentukan karakter. Seni itu mendidik rasa, etika, dan kebersamaan. Jika nilai-nilai ini tertanam kuat, maka masyarakat akan memiliki ketahanan mental dan sosial yang luar biasa dalam menghadapi perubahan zaman,” ujar Sancoko saat ditemui di kediamannya yang sekaligus menjadi sanggar seni pada Sabtu (10/1/2026).

Sebagai seorang guru seni di SMP Negeri 1 Godean, Sancoko juga aktif menjadi narasumber dalam berbagai sarasehan budaya. Perannya merambah luas ke berbagai lini, mulai dari menjadi pembina Paguyuban Dalang Sleman Barat, penyusun naskah pertunjukan, hingga perajin gamelan. Ia dikenal sebagai relawan budaya yang tidak segan turun langsung mendampingi komunitas seni di tingkat akar rumput untuk memastikan warisan leluhur tidak berhenti pada generasi tua saja.

“Kalau seniman tidak mau turun ke masyarakat dan hanya berdiam di menara gading, budaya akan mudah ditinggalkan. Padahal budaya itu hidup karena masyarakatnya yang mencintai dan melakoninya setiap hari. Mengajar seni itu bukan hanya soal teknik gerak atau tabuhan, yang paling penting adalah menanamkan rasa cinta terhadap budaya sendiri agar mereka memiliki rasa bangga sebagai bangsa,” tutur Sancoko dengan nada penuh keyakinan.

Prestasi Sancoko pun telah diakui di level nasional, salah satunya dengan meraih penghargaan Pemeran Pria Terbaik Pertunjukan Rakyat di Lombok. Namun, bagi pria yang pernah mengawali kariernya sebagai pelawak di Teater Cantrik ini, penghargaan hanyalah bonus. Fokus utamanya adalah bagaimana seni tradisi tetap relevan dan mampu menghidupi para pelakunya secara layak tanpa harus kehilangan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

Sancoko menyimpan harapan besar agar Sleman benar-benar menjadi pusat pelestarian budaya yang mampu menyinergikan sektor pendidikan dan pariwisata. Memasuki usia 70 tahun, pria humoris ini tidak pernah berhenti berpesan kepada generasi muda agar tetap memegang teguh kearifan lokal. Ia menekankan pentingnya menjaga identitas melalui prinsip bibit, bobot, dan bebet dalam setiap sendi kehidupan bermasyarakat.

“Jangan pernah meninggalkan bibit, bobot, dan bebet karena kearifan lokal adalah jati diri kita. Kalau identitas itu hilang, kita akan kehilangan arah di tengah pergaulan dunia. Berkesenian itu harus profesional dan mampu beradaptasi secara komersial, namun tidak boleh mengorbankan akar budaya yang kita miliki,” pungkas Sancoko. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Staf Khusus Mendikdasmen: Guru Harus Kompeten dan Sejahtera

Sleman — Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan nasional, telah diselenggarakan Sarasehan Pendidikan bersama Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) dengan mengangkat tema Pendidikan Bermutu untuk Semua. Kegiatan ini diikuti oleh ratusan pendidik, kepala sekolah, pimpinan daerah Muhammadiyah Sleman, serta pemerhati pendidikan dari jenjang PAUD hingga SMA dan SMK se-Kabupaten Sleman. Acara berlangsung di Sinta Hall, Sleman City Hall, Yogyakarta, pada Jumat (9/1/2026), sebagai bagian dari rangkaian Muhammadiyah Sleman Expo (MSE) perdana.

Dalam sarasehan tersebut, Staf Khusus Menteri Dikdasmen, Arif Jamali Muis, menegaskan bahwa kompetensi guru merupakan kunci utama keberhasilan pendidikan. Ia menyampaikan bahwa di era modern, guru tidak hanya dituntut menguasai materi pelajaran, tetapi juga harus memiliki keseimbangan dalam kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian. Menurutnya, transformasi pendidikan yang sesungguhnya dimulai dari apa yang terjadi di dalam ruang kelas hari ini.

“Guru hari ini harus adaptif terhadap perubahan zaman, di mana kita menghadapi era algoritma dan kecerdasan buatan atau AI. Guru harus mampu memanfaatkan teknologi secara bijak sekaligus menjadi teladan dalam karakter dan akhlak bagi murid. Perubahan besar dalam dunia pendidikan itu dimulai dari kelas, dan transformasi masa depan sangat bergantung pada apa yang dilakukan guru saat ini,” tegas Arif Jamali Muis dalam pemaparannya.

Lebih lanjut, Arif menjelaskan bahwa esensi dari visi pendidikan bermutu mencakup empat pilar utama. Pertama, guru harus kompeten dan sejahtera agar mampu menghadapi perubahan zaman. Kedua, pembelajaran harus bersifat bermakna dan adaptif, mencontoh kegigihan Ahmad Dahlan dalam mengajarkan nilai-nilai agama secara mendalam hingga benar-benar terimplementasi. Ketiga, pemenuhan fasilitas yang memadai melalui revitalisasi gedung dan sarana pendukung. Keempat, pentingnya kolaborasi antarpihak dengan semangat berlomba-lomba dalam kebaikan.

Diskusi berlangsung interaktif saat para peserta mulai mengkritisi berbagai kebijakan pemerintah, mulai dari kesejahteraan guru, kebijakan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K), hingga konsep guru paruh waktu. Sekretaris BKS SMP Muhammadiyah se-Sleman, Apung Syaifuddin, memberikan catatan bahwa upaya pemerintah saat ini sudah mulai terlihat dalam mewujudkan pemerataan mutu pendidikan.

“Upaya yang dilakukan pemerintah sudah sedikit banyak membantu dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua. Namun, kami berharap peningkatan mutu ini terus dilakukan secara konsisten karena ini adalah tugas besar kita bersama,” ujar Apung Syaifuddin yang juga merupakan Kepala SMP Muhammadiyah 2 Kalasan.

Di sisi lain, Kepala SMP Muhammadiyah 2 Minggir, Yudi Megawanto, menyoroti tantangan moral di tengah perkembangan digital. Ia mempertanyakan apakah program yang ada saat ini sudah benar-benar menjawab esensi tugas guru sebagai penanam nilai-nilai akhlak bagi murid. Ia berharap proses mewujudkan guru kompeten tetap memprioritaskan fungsi pokok guru sebagai pendidik moral dan karakter di tengah perubahan zaman yang serba cepat.

Sarasehan ini diharapkan menjadi ruang refleksi mendalam bagi seluruh pemangku kepentingan di Kabupaten Sleman. Kepala SMP Muhammadiyah 2 Godean, Wahdan Arifudin, menutup rangkaian acara dengan menekankan bahwa komitmen bersama merupakan fondasi utama. Menurutnya, sinergi antara guru yang kompeten dan kebijakan yang mendukung kesejahteraan adalah jalan utama menuju terciptanya pendidikan yang bermutu serta berkeadilan bagi seluruh anak bangsa (Arief Hartanto/KIM Kertomandiri).




Majelis Ekonomi dan Lazismu Berbah Distribusikan 1.200 Voucher BerasMu untuk Gerakkan Ekonomi Umat

Sleman — Majelis Ekonomi bersama Lazismu Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Berbah mendistribusikan voucher belanja BerasMu bagi warga dan jemaah Muhammadiyah Berbah. Kegiatan ini dilaksanakan bertepatan dengan Pengajian Jumat Legi yang bertempat di Masjid An Nur Bercak, Jogotirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta, pada Jumat (9/1/2026).

Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Berbah, Achmad Muhajir Hanifi, menyampaikan bahwa pembagian voucher belanja ini merupakan langkah konkret Majelis Ekonomi dengan dukungan penuh dari Lazismu Berbah. Program ini dirancang untuk menggerakkan roda ekonomi jemaah sekaligus memberikan akses bagi warga yang membutuhkan beras berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau. Menariknya, beras yang dipasarkan merupakan produk asli dari Jaringan Petani Muhammadiyah (JATAM) yang dikemas dalam ukuran tiga kilogram.

“Dengan mempergunakan voucher belanja tersebut, masyarakat akan mendapatkan potongan harga yang signifikan. Kami ingin memastikan perputaran ekonomi terjadi di lingkungan perserikatan, di mana produk petani kita sendiri diserap oleh jemaah dengan skema yang saling menguntungkan. Ini adalah wujud kemandirian ekonomi yang terus kami dorong agar memberikan manfaat luas bagi warga, terutama mereka yang masuk dalam kategori duafa,” ujar Achmad Muhajir Hanifi saat memberikan sambutan.

Voucher berjumlah lembar tersebut dibagikan kepada enam Ranting Muhammadiyah (PRM) yang berada di bawah naungan Cabang Berbah. Secara teknis, voucher diserahkan secara simbolis kepada masing-masing ketua PRM untuk kemudian didistribusikan kepada warga yang membutuhkan. Selain pemberian voucher, Lazismu Berbah juga memberikan bantuan berupa kursi salat untuk Masjid An Nur Bercak guna membantu jemaah yang memiliki keterbatasan fisik agar tetap bisa melaksanakan ibadah dengan nyaman.

Dalam kesempatan yang sama, Achmad Muhajir Hanifi juga menginformasikan kabar gembira mengenai diterimanya wakaf tanah beserta rumah di pinggir Jalan Sampaan, Dusun Tegalsari, Tegaltirto dari Amronah. Wakaf yang ditaksir memiliki nilai aset sebesar Rp7 miliar tersebut direncanakan akan digunakan sebagai kantor pusat dan gedung dakwah Muhammadiyah Berbah. Ia berharap keikhlasan pemberi wakaf menjadi semangat bagi jemaah untuk semakin aktif berkegiatan di perserikatan.

Ketua Majelis Ekonomi PCM Berbah, Siswanto, menjelaskan lebih detail mengenai nilai manfaat voucher tersebut. Harga normal satu kantong BerasMu ukuran tiga kilogram adalah , namun dengan menunjukkan voucher belanja, jemaah hanya perlu membayar sebesar . Untuk memudahkan pelayanan, pihak panitia telah menetapkan beberapa titik penukaran voucher yang tersebar di wilayah masing-masing ranting.

“Kami telah menetapkan titik-titik penukaran agar masyarakat tidak perlu jauh-jauh mengambil beras. Untuk wilayah Sendangtirto tersedia di warung Supardi Karanganyar, wilayah Kalitirto di rumah Anwar Sanusi, dan Tegaltirto di warung Supatin Krikilan. Sementara untuk wilayah Jogotirto, kami sediakan tiga tempat yaitu di kediaman Suradi, Ngadiyono, dan Farid Imron. Dengan pembagian titik penjualan di setiap wilayah ini, kami berharap pelayanan BerasMu menjadi lebih cepat, mudah, dan efisien bagi seluruh warga jemaah,” kata Siswanto menjelaskan mekanisme teknis program tersebut. (Kusnadi/KIM Berbah)




Sekda Sleman: Muhammadiyah Berperan Besar Dukung Layanan Pendidikan, Kesehatan, dan Ekonomi Daerah

Sleman — Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, Susmiarto, memberikan apresiasi tinggi terhadap pelaksanaan Muhammadiyah Sleman Expo (MSE) perdana yang digelar pada Jumat hingga Minggu, 9–11 Januari 2026, di Sleman City Hall. Menurutnya, Muhammadiyah selama ini memiliki peran strategis dalam mendukung berbagai program pembangunan daerah, khususnya pada pilar pendidikan, kesehatan, hingga penguatan ekonomi masyarakat.

Susmiarto menegaskan bahwa kontribusi Muhammadiyah di Kabupaten Sleman telah dirasakan secara nyata baik oleh pemerintah daerah maupun masyarakat luas. Salah satu sektor yang paling menonjol adalah pendidikan, di mana keberadaan amal usaha Muhammadiyah menjadi bagian dari layanan dasar yang sangat krusial dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bumi sembada.

“Peran Muhammadiyah itu sangat besar, terutama di bidang pendidikan. Ini adalah layanan dasar yang sangat menentukan peningkatan kualitas sumber daya manusia di Sleman. Kami melihat konsistensi organisasi ini dalam mencetak generasi unggul yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga memiliki karakter yang kuat,” ujar Susmiarto saat memberikan sambutan dalam rangkaian pembukaan perhelatan tersebut.

Selain sektor pendidikan, Susmiarto juga menyoroti kontribusi signifikan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di bidang kesehatan. Melalui jaringan rumah sakit, klinik, serta berbagai program edukasi kesehatan hingga tingkat akar rumput, Muhammadiyah dinilai telah berhasil membangun kesadaran kolektif masyarakat tentang pentingnya pola hidup sehat. Upaya preventif dan promotif yang dilakukan organisasi ini dinilai sangat membantu tugas pemerintah daerah dalam menjaga kesejahteraan warga.

“Di bidang kesehatan, peran Muhammadiyah juga sangat jelas. Melalui rumah sakit dan layanan-layanan edukasi kesehatan yang menjangkau masyarakat bawah, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah ikut berperan membangun kesadaran masyarakat untuk hidup sehat secara mandiri. Kami sangat terbantu dengan adanya sinergi yang harmonis di sektor pelayanan publik ini,” tegas Susmiarto.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mendorong Muhammadiyah untuk terus mengembangkan dakwah di sektor ekonomi. Penyelenggaraan Muhammadiyah Sleman Expo dipandang sebagai contoh konkret bagaimana organisasi kemasyarakatan dapat berkontribusi langsung dalam penguatan ekonomi umat. Melalui kegiatan ini, Muhammadiyah terlibat aktif hingga tingkat ranting dengan membangun sinergi bersama binaan pemerintah maupun organisasi lainnya.

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sleman, Harjaka, menyampaikan bahwa pameran ini merupakan sarana pembelajaran bagi masyarakat untuk melihat secara langsung gerakan organisasi di berbagai sektor. Sementara itu, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY, Muhammad Ikhwan Ahada, menilai pelaksanaan eksposisi di pusat perbelanjaan sebagai langkah berani dan adaptif yang selaras dengan semangat Muhammadiyah berkemajuan.

Ketua Panitia, Eko Sumardianto, melaporkan bahwa Muhammadiyah Sleman Expo diikuti oleh 52 peserta yang terdiri dari unsur persyarikatan, amal usaha, dan pelaku UMKM. Melalui ajang ini, Pemerintah Kabupaten Sleman berharap kolaborasi yang telah terjalin dapat terus diperkuat guna mewujudkan masyarakat yang sejahtera secara spiritual, sosial, dan ekonomi di masa depan. (Arief Hartanto/KIM Kertomandiri)




Filosofi Lumbung Mataraman: Petani Tempel Sleman Sukses Terapkan Kemandirian Pangan dan Ekonomi

Sleman — Konsep Lumbung Mataraman sebagai wujud kearifan lokal Yogyakarta dalam menjaga ketahanan pangan kini kembali dihidupkan secara nyata oleh masyarakat. Konsep ini merupakan sistem pertanian terpadu yang menyatukan sektor tanaman pangan, peternakan, perikanan, hingga pengembangan UMKM berbasis rumah tangga. Mengusung filosofi utama “nandur sing dipangan, mangan sing ditandur” atau menanam apa yang dimakan dan memakan apa yang ditanam, program ini terbukti ampuh memperkuat kedaulatan pangan tingkat desa.

Selain berfungsi sebagai lumbung hidup keluarga, penerapan Lumbung Mataraman di lapangan juga bertransformasi menjadi sarana edukasi, agrowisata, serta motor penggerak ekonomi lokal. Salah satu sosok yang konsisten menerapkan pola ini adalah Tri Supatno, seorang petani kreatif asal Dusun Domban, Mororejo, Tempel, Sleman. Di lahan miliknya, ia mengelola pembibitan padi, budidaya edamame, peternakan entok, hingga kolam lele secara terintegrasi.

Penerapan sistem ini membuat siklus panen di lahan Tri Supatno terjaga secara berkelanjutan. Ia mengungkapkan bahwa diversifikasi komoditas merupakan kunci agar pendapatan petani tidak hanya bergantung pada satu musim atau satu jenis tanaman saja. Dengan pengelolaan yang tepat, lahan yang terbatas sekalipun bisa memberikan hasil yang maksimal untuk mencukupi kebutuhan harian maupun pasar.

“Saya bisa memanen sayuran setiap hari, pepaya California setiap minggu, serta padi dan lele setiap dua sampai tiga bulan sekali. Untuk tanaman keras seperti mangga dan manggis, hasilnya bisa dinikmati setiap tahun. Dengan pola ini, ketersediaan pangan di rumah selalu aman dan sisanya menjadi nilai tambah ekonomi yang sangat berarti,” ujar Tri Supatno saat ditemui di kediamannya, Kamis (8/1/2026).

Tri Supatno juga dikenal sebagai petani yang cerdas dalam strategi pemasaran. Setiap pukul pagi, ia membawa hasil buminya ke kios kecil di Pasar Jalan Kaliurang. Untuk meningkatkan daya saing, ia mengemas produknya dalam ukuran kecil siap jual sehingga pembeli tidak perlu lagi menimbang atau menawar harga. Inovasi ini membuat dagangannya kerap ludes terjual bahkan sebelum pukul pagi.

Kreativitasnya tidak berhenti di komoditas sayur dan buah. Saat masa panen lele tiba, Tri Supatno melakukan proses nilai tambah dengan membersihkan dan mengemas ikan-ikan tersebut secara rapi. Hal ini memberikan kemudahan bagi pembeli, terutama ibu rumah tangga, karena ikan yang dibeli bisa langsung diolah tanpa repot. Strategi ini terbukti efektif meningkatkan efisiensi usaha dan kepuasan pelanggan.

“Kalau ada barang yang tersisa sedikit, saya biasanya tinggal saja di pasar. Tetangga sesama pedagang dengan sukarela membantu menjaga dan menjualkannya. Prinsip gotong royong ini membuat usaha jadi lebih ringan. Bagi saya, kenyamanan pembeli adalah nomor satu, itulah mengapa lele pun saya bersihkan dulu agar mereka praktis saat memasak di rumah,” tambahnya.

Pola kerja yang ditunjukkan oleh Tri Supatno membuktikan bahwa Lumbung Mataraman bukan sekadar wacana atau konsep teoretis. Praktik nyata di Dusun Domban ini menunjukkan bahwa kemandirian pangan, efisiensi usaha, dan kesejahteraan keluarga petani dapat tercapai melalui kerja keras yang dipadukan dengan manajemen yang cerdas dan kearifan lokal. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)