Merawat Tradisi, Agus Suprihono dan Keberlanjutan Wayang Wong Thengul

Sleman – Suara gamelan terdengar lirih dan menghentak penuh semangat dari sebuah sanggar sederhana yang terletak di Padukuhan Seyegan, Margokaton, Sleman. Di tempat itulah salah satu pelaku seni pertunjukan Sleman, Agus Suprihono menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk menjaga satu kesenian tua bernama Wayang Wong Thengul, agar tetap eksis di tengah perubahan zaman.

“Sekarang ini yang membuat saya paling prihatin adalah anak-anak muda sudah mulai jauh dari seni tradisi. Mereka lebih kenal tokoh di layar ponsel daripada tokoh-tokoh dalam wayang,” ujar Agus saat ditemui di Sanggar Seni Budaya MATON, Rabu (7/1/2026).

Wayang Wong Thengul merupakan transformasi dari Wayang Golek Menak, dengan cerita yang bersumber dari Serat Menak karya Yosodipuro II. Kisah kepahlawanan Amir Hamzah menjadi inti pertunjukan yang sarat nilai moral dan spiritual. Namun Agus menyadari, mempertahankan tradisi tidak cukup hanya dengan mengulang bentuk lama.

“Kalau ceritanya tidak kita dekatkan dengan kehidupan sekarang, penonton akan pergi. Tapi nilai-nilai Jawanya tidak boleh hilang, itu harga mati,” tegasnya.

Dari kegelisahan itulah lahir Sanggar Seni Budaya MATON, sebuah ruang pembinaan kesenian tradisional yang menaungi jathilan, kethoprak, sholawat pitutur, dalang-dalang, dan Wayang Wong Thengul. Di sanggar ini, anak-anak hingga orang dewasa belajar tidak hanya teknik, tetapi juga etika dan makna.

“Saya ingin Sanggar Seni Budaya MATON ini menjadi rumah budaya. Siapa pun boleh belajar, asal mau serius dan menghormati tradisi,” kata Agus.

Perjalanan panjang tersebut mendapat pengakuan nasional ketika pada Desember 2020, Wayang Wong Thengul dari DIY ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Meski demikian, bagi Agus pengakuan itu bukan akhir perjuangan.

“Sertifikat itu bukan untuk dipajang. Itu justru pengingat bahwa tanggung jawab kita makin besar untuk menjaga dan menghidupkannya,” ujarnya.

Selain dikenal sebagai pelaku seni pertunjukan, Agus Suprihono juga merupakan sastrawan Jawa. Novel berbahasa Jawa Hera Heru (1998) dan Pepati (2021) lahir dari kepekaannya membaca realitas sosial. Karya-karya tersebut bahkan menjadi bahan skripsi mahasiswa Universitas Gadjah Mada dan Universitas Negeri Surakarta.

“Menulis dan pentas itu sama saja bagi saya. Dua-duanya cara untuk menyampaikan nilai dan membangun kesadaran budaya,” tuturnya.

Atas dedikasinya selama 40 tahun di bidang kesastraan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memberikan penghargaan pada September 2025. Selanjutnya, Desember 2025, Bupati Sleman menganugerahkan piagam penghargaan sebagai pelestari dan pelaku kebudayaan Wayang Wong Thengul.

Namun di balik deretan penghargaan, kegelisahan Agus tetap sederhana yaitu keberlanjutan.

“Kalau tidak ada generasi penerus, semua ini hanya akan jadi cerita. Saya ingin anak-anak muda bangga, bukan sekadar tahu bahwa ini warisan,” katanya lirih.

Di Sanggar Seni Budaya MATON, harapan itu terus dirawat. Di antara bunyi gamelan dan gerak para penari, Agus Suprihono percaya bahwa seni tradisi akan tetap hidup, selama masih ada orang yang setia menjaganya dan generasi muda yang mau belajar mencintainya. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




TK Harapan Gandok Gelar Lomba Mewarnai dan Pembelajaran Luar Kelas di Kantor Kalurahan Condongcatur

Sleman— Taman Kanak-kanak (TK) Harapan Gandok Condongcatur menyelenggarakan lomba mewarnai dalam rangka masa transisi kegiatan pembelajaran semester kedua. Acara yang mengusung tema “Aku Anak Indonesia Hebat” ini berlangsung meriah di Pendopo Kalurahan Condongcatur, Depok, Sleman, pada Rabu (7/1/2026). Sebanyak 66 murid yang terbagi dalam tiga kelompok, yakni Kelas A, Kelas B1, dan Kelas B2, tampak antusias mengikuti kompetisi yang bekerja sama dengan Krayon Pascola tersebut.

Ibu PAUD Condongcatur, Dewi Nurlaila, memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif yang dilakukan oleh TK Harapan Gandok. Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan sarana efektif untuk melatih aspek psikologis dan kreativitas anak sejak dini. Ia juga menekankan pentingnya kunjungan ke perpustakaan yang menjadi bagian dari rangkaian acara tersebut.

“Kegiatan ini sangat positif dalam rangka melatih kreativitas, keberanian, dan rasa percaya diri anak-anak. Di samping itu, agenda ini diselingi kunjungan ke Perpustakaan Condongcatur yang selaras dengan program Ibu PAUD Cantik atau Membaca Menanamkan Karakter Baik. Kami memohon dukungan dari semua pihak agar ruang ekspresi bagi anak didik seperti ini terus tercipta sehingga nantinya muncul generasi hebat, inovatif, dan kreatif dari putra-putri Condongcatur,” ujar Dewi Nurlaila.

Kepala TK Harapan Gandok, Meini Tri Utami, menjelaskan bahwa pemilihan lokasi di Pendopo Kalurahan Condongcatur memiliki tujuan khusus dalam konsep pembelajaran luar kelas atau outclass. Melalui kunjungan ini, pihak sekolah ingin mengenalkan lingkungan pemerintahan serta fasilitas publik kepada para siswa sejak usia belia, termasuk mengenalkan literasi melalui Perpustakaan Pustaka Loka Condongcatur.

“Anak-anak kita buat senyaman mungkin dalam belajar dan bermain. Jika biasanya dilaksanakan di sekolah, hari ini mereka diajak keluar menuju lingkungan kantor Pemerintah Kalurahan Condongcatur dengan didampingi orang tua, para guru, dan pengurus komite. Usai lomba mewarnai, kami juga mengadakan makan bersama untuk memupuk semangat anak-anak dalam memulai pembelajaran di semester kedua ini. Harapannya, mereka semakin termotivasi untuk meningkatkan prestasi belajarnya,” ungkap Meini Tri Utami.

Lomba mewarnai tersebut dinilai langsung oleh tim juri dari Krayon Pascola. Berdasarkan hasil penilaian, pemenang pada Kelompok A diraih oleh Rufa sebagai juara pertama, disusul Andra dan Sabiya. Untuk Kelompok B1, juara pertama diraih oleh Dira, diikuti Hafidz dan Kistan. Sementara pada Kelompok B2, juara pertama dimenangkan oleh Zio, disusul Rizqi dan Daffi. Para pemenang berhak mendapatkan piala serta bingkisan hadiah dari pihak sponsor sebagai bentuk apresiasi atas karya kreatif mereka. (Wasana/KIM Depok)




Cek Kesehatan Gratis di Tingkat Desa, Model Layanan Preventif yang Layak Ditiru

Sleman — Upaya memperkuat layanan kesehatan berbasis komunitas kembali mendapat contoh konkret di wilayah Sleman. Puskesdes Enggal Syaras, Kalurahan Margorejo, Tempel, menggelar layanan cek kesehatan gratis bagi warga pada Rabu (7/1/2026). Program ini tidak hanya menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, tetapi juga memperlihatkan bagaimana layanan preventif di tingkat lokal dapat menjadi fondasi kesehatan publik yang lebih luas.

Dalam kegiatan tersebut, warga memperoleh pemeriksaan sederhana namun krusial, meliputi pengukuran berat badan, tekanan darah, gula darah, hingga kadar asam urat. Layanan ini menyasar deteksi dini faktor risiko penyakit tidak menular, seperti hipertensi dan diabetes, yang kini menjadi tantangan kesehatan serius di berbagai daerah di Indonesia. Pendekatan ini diharapkan mampu meminimalkan risiko komplikasi kesehatan di masa mendatang melalui penanganan yang lebih cepat.

Pelayanan kesehatan ini didukung oleh tenaga kesehatan profesional dan kader setempat secara terpadu. Bidan desa Farida Nuraini bersama Bidan Wahyuni dari Puskesmas Tempel 1 bahu-membahu dengan kader kesehatan Sugiyati dan Suharni dalam melayani warga. Kolaborasi ini memastikan layanan berjalan tertib, ramah, dan sangat mudah diakses oleh warga dari berbagai kelompok usia, mulai dari usia produktif hingga lansia.

Bidan desa Farida Nuraini menjelaskan bahwa pemeriksaan rutin di tingkat desa merupakan pintu masuk utama untuk membangun kesadaran masyarakat tentang kondisi tubuhnya sendiri. Menurutnya, banyak warga yang baru menyadari adanya masalah kesehatan setelah mengikuti pemeriksaan gratis tersebut.

“Pemeriksaan sederhana sering kali menjadi pintu masuk kesadaran masyarakat tentang kondisi tubuhnya. Dari sini, warga bisa lebih cepat mengambil langkah, baik dengan cara mengubah pola hidup maupun melakukan konsultasi lanjutan ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap. Pendekatan jemput bola seperti ini sangat efektif menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini kerap menunda pemeriksaan rutin karena kendala jarak atau waktu,” ujar Farida Nuraini di sela-sela pelayanan.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh jajaran Pemerintah Kalurahan Margorejo. Kamituwa Anwar Insani, yang hadir mewakili Lurah Margorejo, menyampaikan apresiasi mendalam atas kerja keras tenaga kesehatan dan para kader. Ia menegaskan bahwa kesehatan warga adalah prasyarat utama bagi keberhasilan pembangunan desa yang berkelanjutan secara jangka panjang.

“Program seperti ini menunjukkan bahwa pelayanan publik tidak harus menunggu orang sakit. Kami terus mendorong pendekatan promotif dan preventif agar masyarakat Margorejo semakin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan sejak dini sebagai investasi masa depan,” tutur Anwar Insani dalam sambutannya.

Sejalan dengan hal itu, Bidan Wahyuni dari Puskesmas Tempel 1 menekankan pentingnya kemitraan antara tenaga medis dan kader desa. Ia menilai kader merupakan ujung tombak yang paling mengenal karakteristik dan kebiasaan warga lokal secara mendalam. Sementara itu, salah satu kader kesehatan, Sugiyati, mengungkapkan bahwa antusiasme warga yang tinggi menjadi bukti bahwa layanan kesehatan berbasis komunitas sangat dibutuhkan dan memberikan dampak edukasi yang langsung dirasakan oleh masyarakat. (SBD/KIM Senyum Tempel).




Kader Bina Keluarga Lansia Konsolidasikan Gerakan Pendampingan Berbasis Komunitas

Sleman – Upaya untuk memperkuat kualitas hidup para lanjut usia terus digerakkan secara masif mulai dari tingkat komunitas terkecil. Pada Selasa (6/1/2026), kader Bina Keluarga Lansia (BKL) dari RT 01 hingga RT 04 Padukuhan Ngentak, Kalurahan Pondokrejo, Tempel, Sleman, menggelar pertemuan koordinasi intensif. Agenda ini menjadi bagian penting dari penguatan pendampingan lansia yang berbasis pada ketahanan keluarga dan lingkungan.

Kegiatan yang dimulai sejak pukul WIB tersebut mempertemukan para penggerak dalam forum BKL Cemara Ngentak Pondokrejo. Bertempat di salah satu rumah kader di RT 04, pertemuan ini tidak sekadar menjadi agenda rutin, melainkan ruang konsolidasi strategis untuk merespons berbagai tantangan nyata yang dihadapi para lansia di tingkat masyarakat saat ini.

Dalam diskusi yang berlangsung hangat, para kader membahas berbagai isu krusial mulai dari pendampingan kesehatan dasar, pencegahan isolasi sosial pada lansia, hingga penguatan peran keluarga sebagai sistem pendukung utama. Forum ini juga dimanfaatkan untuk saling berbagi praktik baik mengenai kegiatan sederhana yang mampu menjaga lansia tetap aktif, mandiri, dan merasa dihargai di lingkungan sekitarnya.

Koordinator BKL Cemara Ngentak, Jamiyatun Mufidah, menegaskan bahwa keberhasilan program BKL sangat ditentukan oleh soliditas para kader di lapangan. Menurutnya, kerja keras para kader di lingkup terkecil memiliki dampak yang signifikan terhadap kesejahteraan warga senior secara keseluruhan.

“Kita bekerja dari lingkup kecil, tetapi dampaknya sangat besar. Dengan koordinasi yang baik antar-RT, pendampingan kepada lansia bisa lebih merata dan berkelanjutan. Kader hadir bukan sebagai pengganti keluarga, melainkan sebagai penguat yang menghubungkan keluarga, lingkungan, serta program pemerintah agar lansia tetap terjaga kualitas hidupnya secara fisik maupun mental,” ujar Jamiyatun Mufidah.

Ia menambahkan bahwa tantangan pendampingan lansia saat ini tidak hanya berkaitan dengan aspek kesehatan fisik, tetapi juga aspek psikososial. Banyak lansia yang membutuhkan ruang interaksi dan perhatian lebih agar mereka tetap merasa bermakna dalam kehidupan bermasyarakat. Jamiyatun menyebut forum seperti ini sangat penting untuk menjaga semangat para relawan yang sering kali bekerja dengan keterbatasan sumber daya namun memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan warga.

“Dari pertemuan ini, kami saling belajar tentang langkah-langkah sederhana namun berdampak, seperti kunjungan rutin, kegiatan bersama, dan mendorong keluarga agar lebih aktif mendampingi orang tua mereka. Budaya peduli lansia ini harus terus kita pupuk agar menjadi nilai kebersamaan lintas generasi,” tambahnya.

Program Bina Keluarga Lansia (BKL) merupakan bagian dari agenda nasional untuk memperkuat ketahanan keluarga di tengah meningkatnya tren penduduk usia lanjut di Indonesia. Pendekatan berbasis komunitas dipandang sangat strategis karena memungkinkan pendampingan yang lebih personal dan adaptif terhadap kondisi sosial setempat. Inisiatif dari tingkat warga di Ngentak Pondokrejo ini diharapkan mampu menjadi fondasi penting bagi terciptanya lingkungan yang lebih ramah lansia di berbagai daerah lainnya. (SBD/KIM Senyum Tempel)




Layanan Perpanjangan STNK Lima Tahunan di Sleman Kini Bisa Cetak Plat Nomor Langsung Jadi

Sleman — Mengawali tahun 2026, Samsat Sleman melakukan gebrakan inovasi untuk mempermudah masyarakat dalam mengurus perpanjangan STNK lima tahunan. Melalui program Sistem Jemput Lima Tahunan atau “Si Jelita” yang rutin digelar setiap Selasa pertama awal bulan di Kalurahan Condongcatur, kini warga bisa mendapatkan plat nomor kendaraan atau Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB) pada hari yang sama.

Layanan perdana dengan sistem cetak langsung ini mulai diberlakukan pada Selasa (6/1/2026). Inovasi tersebut didukung oleh peluncuran dua armada kendaraan Samsat Keliling baru hasil sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Sleman, yakni jenis Toyota Hiace dan kendaraan bak terbuka yang telah dimodifikasi khusus untuk menunjang operasional di lapangan.

Kepala Seksi Pembukuan dan Penagihan Samsat Sleman, Ekho Adhi Wahyu, menjelaskan bahwa layanan ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi waktu bagi para wajib pajak. Penyerahan plat nomor secara simbolis dilakukan bersama petugas Satlantas Polresta Sleman dan perwakilan Jasa Raharja di lokasi pelayanan.

“Hari ini secara perdana kami mencoba sistem di mana plat nomor kendaraan langsung dicetak dan diberikan kepada pemohon layanan pajak lima tahunan di Kalurahan Condongcatur. Usai melakukan proses cek fisik kendaraan dan penyelesaian administrasi pembayaran, plat langsung tersedia. Tujuan utama kami adalah memberikan pelayanan terbaik agar warga tidak perlu lagi menunggu hingga minggu berikutnya untuk mengambil plat nomor,” ujar Ekho Adhi Wahyu.

Sebelum inovasi ini diterapkan, masyarakat yang memanfaatkan layanan jemput bola biasanya harus menunggu plat nomor selesai dicetak dan baru bisa mengambilnya pada jadwal layanan di minggu selanjutnya. Dengan adanya armada baru yang dilengkapi mesin cetak TNKB portabel, kendala waktu tersebut kini dapat teratasi.

Ekho Adhi Wahyu menambahkan bahwa Samsat Sleman terus berkomitmen mendekatkan layanan kepada warga melalui berbagai program jemput bola lainnya. Selain Si Jelita, tersedia pula layanan Samsat On Call serta program “Jejaka” atau Jemput Pajak Anda yang diperuntukkan bagi kelompok masyarakat dengan minimal kolektif lima hingga sepuluh kendaraan.

“Kami ingin memastikan warga di tingkat kalurahan mendapatkan akses pajak yang mudah. Masyarakat cukup menyiapkan persyaratan standar seperti KTP asli, STNK, BPKB, serta menghadirkan kendaraan untuk cek fisik. Untuk kenyamanan, kami juga menyediakan berbagai pilihan pembayaran digital melalui aplikasi SIGNAL, BPD DIY Mobile, Tokopedia, Gopay, hingga jaringan gerai Indomaret,” pungkas Ekho Adhi Wahyu. (Wasana/KIM Depok).