Pemerintah Kalurahan Lumbungrejo Bersama BPBD dan DPUP Tangani Retakan Tanah di Kromodangsan

Sleman – Pemerintah Kalurahan Lumbungrejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, bergerak cepat menindaklanjuti laporan warga terkait adanya pergerakan atau retakan tanah pada tebing di wilayah RT 03 Kromodangsan pada Minggu pagi (4/1/2026). Langkah antisipatif ini dilakukan secara intensif guna meminimalkan potensi bahaya bagi permukiman warga yang berada tepat di bawah lokasi retakan tersebut.

Penanganan di lapangan dilakukan secara terpadu dengan melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kabupaten Sleman, Relawan Desa Tangguh Bencana (Destana), serta warga setempat. Hingga berita ini diturunkan, proses stabilisasi tebing masih terus berlangsung dengan dukungan alat berat dari DPUP Kabupaten Sleman untuk meratakan titik-titik rawan longsor.

Lurah Lumbungrejo, Misbah Al Hakim, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan respons darurat sekaligus bentuk mitigasi bencana untuk mencegah terjadinya longsor secara mendadak. Ia menegaskan bahwa keselamatan warga menjadi prioritas utama pemerintah kalurahan dalam menyikapi fenomena alam di wilayahnya.

“Kami langsung menindaklanjuti laporan warga dengan berkoordinasi bersama BPBD, DPUP, relawan Destana, dan masyarakat. Upaya ini dilakukan agar retakan tanah tidak berkembang semakin luas dan membahayakan permukiman warga di bawahnya. Sinergi lintas sektor seperti ini menjadi kunci utama dalam penanganan potensi bencana di wilayah rawan, terutama saat kondisi cuaca tidak menentu seperti saat ini,” ujar Misbah Al Hakim di lokasi penanganan.

Ketua RT 03 Kromodangsan, Sariyono, turut menyampaikan apresiasi atas tindakan cepat yang diambil oleh Pemerintah Kalurahan Lumbungrejo dan instansi terkait. Menurutnya, respons yang diberikan memberikan ketenangan psikologis bagi warga sekitar yang selama ini merasa was-was dengan kondisi tebing tersebut.

“Kami mengapresiasi langkah cepat dari Pemkal Lumbungrejo bersama BPBD, DPUP, relawan Destana, dan warga. Penanganan ini sangat membantu dan memberikan rasa aman yang nyata bagi masyarakat yang tinggal di bawah tebing. Kami melihat petugas sangat serius bekerja agar potensi ancaman longsor ini benar-benar dapat diminimalkan sebelum hujan deras kembali turun,” kata Sariyono.

Pemerintah Kalurahan Lumbungrejo kembali mengimbau seluruh masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi lingkungan sekitar. Warga diminta untuk segera melapor melalui kanal komunikasi yang tersedia apabila menemukan tanda-tanda awal pergerakan tanah, seperti munculnya retakan baru atau pohon yang mulai miring, agar langkah mitigasi dapat segera dilakukan. (SBD/KIM Senyum Tempel)




Pilar Pendidikan Sebagai Sarana Mencetak SDM Unggul dan Berkarakter di Sleman

Sleman – SD Muhammadiyah Sangonan 2 dan TK ABA Jowah yang berlokasi di Padukuhan Jowah, Sidoluhur, Godean, Sleman, merayakan momentum bersejarah dalam perjalanan dunia pendidikan. Pada tahun ini, SD Muhammadiyah Sangonan 2 resmi menginjak usia 60 tahun, sementara TK ABA Jowah memasuki usia ke-59. Peringatan hari lahir atau milad kedua lembaga pendidikan ini digelar secara meriah pada Sabtu (3/1/2026) di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Gumuk Sikuneng, Pandean V, Sidoluhur.

Rangkaian acara milad tersebut dimeriahkan dengan berbagai kegiatan produktif, mulai dari jalan sehat, aksi bakti sosial, hingga panggung kreativitas seni yang menampilkan bakat para siswa. Puncak acara dihadiri langsung oleh Bupati Sleman Harda Kiswaya bersama sejumlah tokoh masyarakat, pimpinan cabang Muhammadiyah, dan wali murid yang antusias mengikuti jalannya resepsi.

Ketua Panitia Milad, Maryanti, menjelaskan bahwa peringatan tahun ini mengusung tema “Bersatu Dalam Harmoni, Cemerlang Dalam Prestasi”. Tema tersebut merupakan representasi dari tekad kuat lembaga untuk mencetak generasi bangsa yang cerdas dan memiliki karakter kuat. Menurutnya, sebagai lembaga di bawah naungan Muhammadiyah, fokus utama pendidikan tidak hanya pada aspek akademik, tetapi juga penanaman nilai-nilai Islami dan jiwa Pancasila.

“TK merupakan gerbang awal untuk memulai proses pencerdasan dan pembentukan akhlak anak, sedangkan SD menjadi wadah bagi pengembangan potensi siswa secara holistik. Keberhasilan pendidikan harus didukung oleh seluruh pilar, mulai dari pemerintah, sekolah, orang tua, hingga komite. Sinergitas dari pilar-pilar pendidikan tersebut akan melahirkan generasi unggul yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga berkarakter kuat dan siap berkontribusi nyata bagi bangsa,” ujar Maryanti.

Senada dengan hal tersebut, Kepala SD Muhammadiyah Sangonan 2, Noor Nisa Girsang, mengungkapkan bahwa saat ini sekolah yang dipimpinnya mengelola enam kelas dengan total 128 siswa serta didukung oleh 15 tenaga pendidik. Berita membanggakan muncul seiring dengan keluarnya izin dari Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman yang memperbolehkan sekolah untuk menambah rombongan belajar. Dengan demikian, mulai tahun pelajaran 2026/2027 mendatang, sekolah ini akan mulai menerapkan sistem kelas paralel untuk kelas satu.

“Tentu konsekuensi dari penambahan kelas ini adalah kebutuhan akan ruang kelas baru. Melalui momentum milad ini, kami membuka ruang bagi para alumni dan tokoh masyarakat untuk berkontribusi melalui donasi pembangunan. Kami sangat bersyukur karena Bapak Bupati Harda Kiswaya telah menyatakan dukungannya secara penuh, baik secara moril maupun materiil. Pernyataan dukungan dari pimpinan daerah ini menjadi modal semangat yang sangat besar bagi kami semua untuk terus berkembang,” tutur Noor Nisa Girsang. (Giek/KIM Moyudan)




Inovasi Pengelolaan Sampah: Ubah Pakaian Bekas Jadi Kasur dan Bantal Duduk

Sleman – Persoalan sampah telah menjadi isu krusial yang menuntut peran aktif masyarakat. Di tengah berbagai metode yang ditawarkan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman, seorang penggiat sampah asal Berbah, Nurul Istiqomah atau yang akrab disapa Mbak Uul, menunjukkan aksi nyata yang inspiratif. Di kediamannya yang sekaligus menjadi rumah kos di Kampung Noyokerten, Sendangtirto, Berbah, Sleman, ia berhasil mengelola sampah rumah tangga hingga tuntas, termasuk limbah pakaian bekas yang sulit terurai.

Sebagai pemilik rumah kos, Mbak Uul menerapkan aturan ketat bagi para penghuninya. Setiap penyewa kos wajib mengelola sampah yang mereka hasilkan sendiri sebagai syarat mutlak untuk tinggal. Sebagai kompensasi atas kedisiplinan tersebut, Mbak Uul membebaskan biaya jasa pembuangan sampah bagi para penghuni kosnya. Di area kos tersebut, telah tersedia fasilitas pemilahan sampah organik dan anorganik yang tertata rapi.

“Di sini sampah anorganik harus dipastikan dalam kondisi bersih dan kering sebelum dikumpulkan. Plastik bekas bungkus makanan yang berminyak atau terkena sambal wajib dicuci dan dikeringkan terlebih dahulu. Jika sampah anorganik tercampur dengan sisa organik, maka akan menimbulkan bau tak sedap dan memicu munculnya belatung,” ujar Nurul Istiqomah saat ditemui pada Sabtu (03/01/2026).

Halaman rumah Mbak Uul tampak menyerupai miniatur Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) mandiri. Ia menggunakan berbagai metode pengolahan seperti ember tumpuk, komposter, hingga biopori. Bahkan, benda kecil seperti tusuk sate pun memiliki tempat pengolahan khusus di lubang tanah agar tidak melukai orang. Sampah organik yang telah diproses nantinya akan menjadi kompos berkualitas untuk menyuburkan tanaman di kebun miliknya. Sementara itu, sampah kering yang laku dijual seringkali ia sedekahkan kepada pemulung yang melintas.

“Melihat kebahagiaan ibu pemulung saat menerima sedekah sampah kering adalah kepuasan tersendiri. Ucapan doa dari mereka seakan mampu menggetarkan pintu langit,” tutur perempuan yang juga akrab disapa Bunda Aisyah ini.

Inovasi yang paling unik dari Mbak Uul adalah pengolahan sampah kain atau pakaian bekas (gombal) yang sudah tidak layak pakai. Pakaian dalam seperti celana dalam dan bra yang telah dicuci bersih ia gunakan sebagai isian bantal duduk. Sementara itu, untuk pakaian berbahan tipis seperti kerudung, kaos, dan daster, ia potong kecil-kecil untuk dijadikan isian kasur lantai.

“Kasur lantai dari kain bekas ini memang sedikit lebih berat dibandingkan kasur dakron, namun sangat nyaman untuk alas duduk atau sekadar rebahan saat menonton televisi. Ini adalah salah satu upaya nyata saya untuk memperpanjang usia penggunaan pakaian bekas yang biasanya hanya terbuang percuma dan menumpuk di tempat pembuangan akhir,” pungkas Nurul Istiqomah. (Kusnadi/KIM Berbah).




Bupati Sleman Hadiri Milad ke-60 SD Muhammadiyah Sangonan 2 dan Milad ke-59 TK ABA Jowah

Sleman – SD Muhammadiyah Sangonan 2 merayakan hari lahir atau milad ke-60 bersamaan dengan milad ke-59 TK ABA Jowah Sidoluhur Godean pada Sabtu (3/1/2026). Peringatan dua institusi pendidikan tersebut diselenggarakan secara meriah di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Gumuk Sikuneng, Pandean V, Sidoluhur, Godean, Sleman.

Acara milad ini dihadiri oleh Bupati Sleman Harda Kiswaya, Pengawas TK/SD Korwil Godean, Lurah Sidoluhur, serta jajaran Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Godean. Kehadiran para tokoh tersebut menunjukkan besarnya dukungan terhadap kontribusi lembaga pendidikan Muhammadiyah dalam membangun sumber daya manusia di wilayah Sleman.

Bupati Sleman, Harda Kiswaya, dalam sambutannya memberikan apresiasi tinggi atas dedikasi para pendidik di SD Muhammadiyah Sangonan 2 maupun TK ABA Jowah. Ia menilai peran guru sangat vital dalam membentuk karakter dan kecerdasan bangsa sejak usia dini.

“Atas nama pemerintah, saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas dedikasi para pendidik yang telah ikut serta dalam mencerdaskan bangsa. Semoga SD Muhammadiyah Sangonan 2 dan TK ABA Jowah semakin sukses dalam mempersiapkan generasi muda menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Harda Kiswaya.

Selain kepada pihak sekolah, Harda juga memberikan pesan khusus kepada para wali murid. Ia menekankan bahwa tanggung jawab pendidikan tidak boleh sepenuhnya dilimpahkan kepada pihak sekolah, melainkan harus ada kerja sama yang kuat antara institusi pendidikan dan keluarga di rumah.

“Kepada Bapak dan Ibu orang tua siswa, saya ingatkan agar jangan sepenuhnya membebankan pendidikan pada sekolah. Orang tua wajib aktif memberikan pendidikan dan pendampingan karena waktu anak sebenarnya lebih banyak dihabiskan di rumah daripada di sekolah,” tandas Harda Kiswaya.

Harda juga mengungkapkan rasa bangganya melihat rekam jejak lulusan SD Muhammadiyah Sangonan 2 yang telah berhasil menduduki berbagai posisi strategis, mulai dari Notaris, Pegawai Badan Kepegawaian, Guru Besar di Universitas Islam Indonesia (UII), pegawai di Telkom, hingga banyak yang menjadi pengusaha sukses. Menurutnya, keberhasilan para alumni ini harus menjadi pemacu semangat untuk terus membangun semangat gotong royong demi kemajuan sekolah di masa depan.

Sebagai puncak prosesi peringatan, Bupati Sleman Harda Kiswaya berkenan memotong tumpeng secara simbolis sebagai tanda syukur atas perjalanan panjang kedua institusi pendidikan tersebut. Acara diakhiri dengan ramah tamah yang mempererat tali silaturahmi antara pemerintah, tokoh agama, pendidik, dan masyarakat sekitar. (Giek/KIM Moyudan)




Pesona Wisata Bukit Klangon Warnai Libur Tahun Baru 2026 di Kaki Merapi

Sleman – Momentum liburan Tahun Baru 2026 dimanfaatkan ribuan wisatawan untuk mengunjungi berbagai destinasi alam di Daerah Istimewa Yogyakarta. Salah satu lokasi yang tetap menjadi primadona adalah Wisata Bukit Klangon yang terletak di Kalitengah Lor, Kalurahan Glagaharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman. Berada di lereng Gunung Merapi dengan ketinggian sekitar hingga meter di atas permukaan laut, Bukit Klangon menawarkan panorama alam yang memukau bagi para pelancong.

Dari lokasi ini, pengunjung dapat menikmati pemandangan Gunung Merapi dari jarak yang relatif dekat, dengan hamparan alam hijau dan udara pegunungan yang sejuk. Saat cuaca cerah, terutama di pagi hari, siluet Merapi terlihat megah dari sejumlah gardu pandang dan titik swafoto yang tersedia. Akses menuju lokasi ini pun terbilang mudah, berjarak sekitar 31 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta dan dapat ditempuh dalam waktu satu jam menggunakan kendaraan pribadi melalui rute ke arah utara menuju Cangkringan.

Pantauan pada Sabtu (3/1/2026) menunjukkan kawasan wisata ini masih dipadati pengunjung yang menikmati sisa suasana liburan Tahun Baru. Wisatawan datang dari berbagai daerah, baik secara rombongan keluarga, komunitas, maupun individu yang mencari ketenangan di alam terbuka. Aktivitas yang dilakukan pun beragam, mulai dari sekadar bersantai hingga melakukan olahraga luar ruang seperti bersepeda dan berkemah.

Salah satu wisatawan asal Piyungan, Hari, mengungkapkan bahwa dirinya sengaja memilih Bukit Klangon sebagai tujuan utama untuk bersepeda bersama rekan-rekannya. Menurutnya, jalur menuju destinasi ini memberikan tantangan tersendiri sekaligus hadiah berupa pemandangan yang menyegarkan mata. Hal tersebut dinilai sangat efektif untuk mengembalikan semangat setelah menjalani rutinitas pekerjaan yang padat.

“Pemandangan sepanjang jalannya sangat bagus dan udaranya sejuk, sangat cocok untuk berolahraga gowes. Stres dan penat setelah bekerja bisa langsung hilang begitu sampai di sini dan melihat kemegahan Merapi secara dekat,” ujar Hari saat ditemui di sela aktivitas bersepedanya.

Hari juga menyoroti keberadaan fasilitas layanan internet nirkabel atau wifi gratis yang disediakan Pemerintah Kabupaten Sleman di lokasi wisata. Layanan ini dinilai sangat membantu wisatawan untuk tetap berkomunikasi dan membagikan momen liburan di media sosial, mengingat sinyal seluler dari beberapa operator telekomunikasi sering kali sulit dijangkau di kawasan pegunungan tersebut. Ia berharap kualitas koneksi tersebut tetap stabil meski jumlah pengunjung sedang melonjak tajam.

Sebagai destinasi wisata alam, Bukit Klangon dikenal memiliki biaya masuk yang sangat terjangkau dengan fasilitas pendukung yang kian memadai. Keberadaan toilet bersih, musala, dan warung-warung lokal milik warga menambah kenyamanan pengunjung. Dengan keasrian yang tetap terjaga, Bukit Klangon kembali membuktikan posisinya sebagai salah satu pilihan utama wisata alam di Yogyakarta bagi mereka yang ingin merasakan langsung atmosfer kaki Gunung Merapi. (Andy Ahmad/KIM DSN Ngaglik)