BPD HIPMI DIY Matangkan Agenda Forbisda dan Rakerda, Fokus pada Program Terukur

Sleman — Fungsionaris dan pengurus BPD HIPMI DIY menggelar rapat internal pada Selasa (7/1/2026), di Esha Kopi, Depok, Kabupaten Sleman. Rapat tersebut diselenggarakan untuk mematangkan agenda Forum Bisnis Daerah (Forbisda) dan Rapat Kerja Daerah (Rakerda).

Pertemuan ini menjadi langkah awal konsolidasi guna memastikan Forbisda dan Rakerda berjalan terarah, terukur, dan berdampak nyata bagi organisasi serta pengusaha muda di DIY.

Sekretaris BPD HIPMI DIY, Roviandi Deska Putra menegaskan bahwa setiap bidang harus memiliki program yang jelas dan realistis, dan mampu melibatkan stakeholder yang relevan.

“Yang terpenting setiap bidang punya program. Stakeholder yang dilibatkan saat Rakerda harus di-list, diukur, dan benar-benar dikondisikan,” ujarnya.

Ia menyampaikan bahwa agenda Forbisda dan Rakerda akan diisi talkshow, pemaparan program tiap bidang, penguatan sinergi dengan pemerintah daerah, BUMN, dan stakeholder strategis. Sementara rekrutmen anggota tetap menjadi ranah OKK dengan target peningkatan keanggotaan.

Lebih lanjut, Ketua OKK, Yas menyebut perencanaan idealnya disusun jangka menengah 2025 sampai 2028.

“Hal itu agar sinkron antara BPD, BPC, hingga Rakercab. Panitia SC dan OC pun telah dibentuk,” katanya.

Wakil Ketua BPD HIPMI DIY, Widha menambahkan bahwa Rakerda harus menjadi ruang pemetaan potensi dan penguatan kolaborasi lintas sektor. Sejumlah bidang juga memaparkan program awal, mulai dari Satgas KMP, pelatihan e-katalog, dukungan sektor lingkungan, pengembangan biomassa, hingga optimalisasi program CSR pariwisata.

Sebagai penutup, rapat menyepakati pentingnya berbagi sumber daya, penyusunan timeline yang jelas, serta koordinasi digital yang efektif.

BPD HIPMI DIY berharap Forbisda dan Rakerda yang dijadwalkan pada 6 sampai 7 Februari 2026 dapat berjalan lancar dan mendorong HIPMI DIY semakin maju, serta berdampak bagi pengusaha muda daerah. (Ilham Agus/KIM Seyegan)




MSE #1 Siap Digelar, UMKM Meriah dan Doorprize Umroh Menanti

Sleman – Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman bersama Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Sleman akan menggelar Muhammadiyah Sleman Expo (MSE) #1 pada 9 sampai 11 Januari 2026. Kegiatan akbar ini rencananya dilaksanakan di Sleman City Hall, sebagai ajang sinergi dakwah, ekonomi, dan sosial kemasyarakatan Muhammadiyah di Kabupaten Sleman.

Mengusung tema “Sukseskan dan Meriahkan Muhammadiyah Sleman Expo #1”, kegiatan ini dirancang sebagai ruang temu seluruh potensi persyarikatan, mulai dari amal usaha, organisasi otonom, hingga pelaku UMKM binaan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Expo ini diharapkan menjadi etalase kontribusi nyata Muhammadiyah bagi masyarakat, sekaligus penggerak ekonomi umat yang inklusif dan berkelanjutan.

Ketua panitia, Eko Sumardiyanto menyampaikan bahwa MSE #1 tidak hanya berorientasi pada pameran. Tetapi juga menjadi media edukasi dan literasi publik tentang peran Muhammadiyah dalam berbagai bidang.

“Expo ini menjadi momentum konsolidasi potensi persyarikatan, memperkuat jejaring UMKM, serta memperluas dakwah pencerahan melalui pendekatan yang membumi,” ujarnya saat ditemui disela rapat persiapan panitia, pada Rabu (7/1/2026).

Selama tiga hari pelaksanaan, pengunjung akan disuguhi berbagai stan pameran yang menampilkan produk UMKM, layanan kesehatan, pendidikan, filantropi, serta pelbagai program-program unggulan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Sleman. Selain itu, expo juga diharapkan menjadi ruang promosi kreatif bagi pelaku usaha lokal agar mampu naik kelas dan menjangkau pasar yang lebih luas.

“Daya tarik utama Muhammadiyah Sleman Expo #1 adalah doorprize utama berupa umroh, yang dipersembahkan bagi pengunjung beruntung. Selain itu, panitia juga menyiapkan doorprize menarik lainnya, seperti sepeda listrik dan   sepeda gunung. Untuk mendapatkan kesempatan tersebut, pengunjung cukup melakukan scan barcode di lokasi pameran, yang sekaligus berfungsi sebagai tiket masuk dan kupon undian doorprize,” ungkap Eko.

Pemilihan Sleman City Hall sebagai lokasi kegiatan dinilai strategis karena mudah diakses masyarakat serta memiliki fasilitas representatif untuk penyelenggaraan event berskala besar. Panitia menargetkan ribuan pengunjung dari berbagai kalangan, baik warga Muhammadiyah maupun masyarakat umum.

Melalui Muhammadiyah Sleman Expo #1, PDM dan PDA Sleman berharap terbangun semangat kolaborasi lintas sektor serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gerakan dakwah sosial-ekonomi Muhammadiyah. Expo ini juga menjadi bagian dari ikhtiar memperkuat kemandirian umat, sejalan dengan nilai-nilai Islam berkemajuan yang menjadi ruh gerakan Muhammadiyah.

Panitia mengajak seluruh warga Sleman dan sekitarnya untuk hadir dan memeriahkan Muhammadiyah Sleman Expo, sekaligus berpartisipasi dalam mendukung produk lokal dan program persyarikatan yang memberi manfaat luas bagi masyarakat. (Arief Hartanto KIM Kertomandiri Turi)




Perluas Jangkauan MBG, SPPG Margomulyo Sasar Ibu Hamil dan Ibu Menyusui

Sleman – Setiap pagi dapur SPPG Margomulyo tidak pernah sepi. Dari tempat inilah ratusan kilogram Makan Bergizi Gratis (MBG) disiapkan, ditimbang, lalu didistribusikan kepada ribuan penerima manfaat di wilayah Seyegan dan sekitarnya. Namun bagi SPPG Margomulyo, MBG bukan sekadar soal jumlah porsi, melainkan tentang kecukupan gizi, kualitas makanan, rasa, dan keberlanjutan.

“Kami tidak hanya fokus ke anak sekolah. Ibu hamil dan ibu menyusui juga menjadi perhatian kami, karena mereka menentukan kualitas generasi ke depan,” ujar Ketua SPPG Margomulyo, Joni Prasetyo saat ditemui di Kantor SPPG Margomulyo, Rabu (7/1/2026).

Saat ini, SPPG Margomulyo melayani 3757 anak sekolah yang tersebar di sembilan SD, satu SMP, 13 PAUD/TK, satu SMA, dan satu SMK. Atas capaian tersebut, SPPG Margomulyo memperoleh Grade A dari Badan Gizi Nasional (BGN), dengan kapasitas maksimal pelayanan hingga penerima manfaat.

Capaian itu bukan tanpa proses evaluasi. Setiap menu MBG yang keluar dari dapur selalu ditimbang, begitu pula sisa makanan yang kembali. Dari proses inilah SPPG bisa membaca minat penerima manfaat terhadap menu yang disajikan.

“Awal pelaksanaan, limbah makanan yang kembali ke dapur bisa mencapai 83 kilogram. Sekarang rata-rata tinggal 29 kilogram, dari total distribusi sekitar 700 sampai 800 kilogram per hari,” jelas Joni.

Menurutnya, penurunan limbah tersebut tidak lepas dari keterbukaan SPPG menerima masukan dari sekolah. Koordinasi dilakukan melalui Person On charge (PIC) MBG, yaitu penanggung jawab yang biasanya bertugas di masing-masing sekolah.

“Kami rutin evaluasi rasa dan menu. Kalau ada masukan dari PIC, kami catat dan perbaiki. Tujuannya supaya makanan benar-benar dimakan, bukan sekadar dibagikan,” tandasnya.

Komitmen tersebut tetap dijaga meski memasuki masa liburan sekolah. Selama liburan, MBG tetap diberikan kepada siswa dalam bentuk menu kering, dengan satu kali pengantaran untuk seluruh periode liburan.

Tak hanya anak sekolah, sejak dua bulan terakhir SPPG Margomulyo juga mulai menyasar 49 ibu hamil dan 190 ibu menyusui. Untuk kelompok ini, MBG diberikan dalam bentuk menu kering yang dapat diambil untuk kebutuhan satu minggu.

“Distribusinya kami pusatkan di dapur SPPG dan Kantor Kapanewon Seyegan agar lebih terkontrol,” ungkap Asisten Lapangan SPPG Margomulyo, Hananto.

Sebagai SPPG percontohan nasional, Margomulyo juga menerapkan konsep dapur hijau. Pengelolaan limbah menjadi perhatian serius, mulai dari sampah basah hingga limbah cair.

“Sampah basah kami manfaatkan sebagai pakan maggot bekerja sama dengan Masjid Nurul Asri Deresan Yogyakarta. Sampah anorganik kami serahkan ke TPS3R Sleman, rencananya akan diolah menjadi biosolar,” kata Hananto.

Sementara itu, limbah cair dari dapur diproses melalui lima bak penampungan, yang secara rutin disedot oleh jasa pengelola limbah setiap tiga minggu sekali.

Meski demikian, Joni mengakui masih ada satu sasaran MBG yang belum tersentuh, yakni balita.

“Ke depan, kami berharap MBG untuk balita bisa segera direalisasikan, karena kebutuhan gizinya juga sangat penting,” pungkasnya.

Dari dapur hijau hingga meja makan penerima manfaat, SPPG Margomulyo terus berupaya memastikan bahwa setiap porsi MBG bukan hanya mengenyangkan. Tetapi juga memberi dampak nyata bagi kesehatan masyarakat karena pemenuhan gizi yang tercukupi.  (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




KPAD Sleman Berikan Pembinaan Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak Banyuraden

Sleman – Pembinaan Kelompok Pemerhati Perlindungan Anak Kalurahan Banyuraden dinilai menjadi langkah strategis dalam memperkuat sistem perlindungan anak berbasis masyarakat. Kegiatan pembinaan tersebut diberikan oleh Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kabupaten Sleman, pada Rabu (7/1/2025) di Ruang Rapat Banyuraden, Kapanewon Gamping.

Pembinaan ini bertujuan meningkatkan kapasitas anggota Badan Permusyawaratan Kalurahan Banyuraden, PKK, tokoh masyarakat, dan satuan tugas perlindungan perempuan dan anak Banyuraden dalam memahami peran, fungsi, serta tanggung jawabnya dalam upaya pencegahan dan penanganan berbagai persoalan anak di tingkat kalurahan.

Dalam sambutannya, Carik Banyuraden, Hendy Indra Utama menyampaikan apresiasi atas pendampingan yang diberikan. Menurutnya, keberadaan KPAD Sleman di Kalurahan Banyuraden merupakan dukungan dalam menciptakan lingkungan yang aman, ramah, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

“Anak sebagai kelompok rentan membutuhkan sistem perlindungan yang kuat, terstruktur, dan melibatkan partisipasi aktif masyarakat,” ujarnya.

Materi pembinaan diberikan Ketua KPAD Sleman, Dimas ariyanto dan Psikolog, Budhi Ardiyandhani mencakup pemahaman hak-hak anak, bentuk-bentuk kekerasan terhadap anak, mekanisme pelaporan kasus, serta pentingnya pendekatan preventif melalui edukasi keluarga dan masyarakat. Peserta juga diajak untuk memahami regulasi terkait perlindungan anak yang berlaku di tingkat daerah maupun nasional.

Dimas ariyanto menekankan bahwa pembinaan ini tidak hanya bersifat seremonial, melainkan bagian dari penguatan kelembagaan. Kelompok Pemerhati Perlindungan Anak Kalurahan Banyuraden diharapkan mampu menjadi ruang konsultasi, advokasi, serta penghubung antara masyarakat dan lembaga layanan perlindungan anak.

Selain itu, disampaikan pula pentingnya sinergi lintas sektor, mulai dari pemerintah kalurahan, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, hingga aparat penegak hukum. Kolaborasi ini dinilai krusial agar penanganan kasus anak dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan berperspektif kepentingan terbaik bagi anak.

Sementara itu, Kamituwa Banyuraden, Agus Nurdalmadi menyatakan bahwa pembinaan ini memberikan penguatan moral dan teknis bagi para peserta. Dengan bekal pengetahuan yang lebih komprehensif, mereka siap menjalankan peran sebagai agen perlindungan anak di lingkungan masing-masing.

Melalui kegiatan ini, ia berharap Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak Kalurahan Banyuraden mampu menyusun langkah kerja yang lebih terarah, termasuk program sosialisasi, pendampingan keluarga, serta deteksi dini terhadap potensi kasus kekerasan atau penelantaran anak.

Pembinaan yang dilakukan Komisi Perlindungan Anak Daerah Kabupaten Sleman menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam membangun sistem perlindungan anak yang berkelanjutan. Upaya ini sekaligus menegaskan bahwa perlindungan anak bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga kewajiban seluruh elemen masyarakat. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Populerkan Olahraga, Ranting Percasi Turi Gelar Turnamen Catur Panewu Turi Cup 2026

Sleman – Ranting Percasi Kapanewon Turi akan menyelenggarakan Turnamen Catur Panewu Turi Cup, pada Minggu 25 Januari 2026, di Aula Kapanewon Turi, mulai pukul WIB sampai selesai.

Turnamen tersebut digelar sebagai upaya memasyarakatkan olahraga catur di wilayah Sleman Utara, meliputi Kapanewon Tempel, Turi, Pakem, Ngemplak, Ngaglik dan Cangkringgan. Turnamen catur ini juga menjadi ajang pencarian bibit unggul atlet dari wilayah Sleman Utara, agar bisa menjadi atlet Pemda Sleman dalam POPDA dan PORDA.

“Pendaftaran mulai tanggal 7 Januari dan akan di tutup sehari sebelum pertandingan pada tanggal 24 Januari,” kata Ketua Panitia Turnamen Catur Panewu Turi 2026 sekaligus Ketua Ranting Percasi Turi, Hermantoko, pada Rabu (7/1/2026) di Sekretariat Ranting Percasi Kapanewon Turi.

Hermantoko menyampaikan bahwa turnamen kali ini menggunakan pertandingan sistem swiss lima babak, dengan waktu berpikir 15 menit, dan increament tiga detik. 

“Turnamen akan diikuti oleh warga Sleman Utara Kapanewon Tempel, Turi, Pakem, Ngemplak dan Cangkringen. Peserta dibagi menjadi dua kategori. Kelompok dewasa atau umum dengan usia di atas 15 tahun. Kelompok pelajar SD SMP di bawah usia 15 tahun,” jelasnya.

Selain itu, ketika bertanding peserta diwajibkan mengenakan pakaian rapi, sopan dan bersepatu. Peserta juga harus membayar biaya pendaftaran sebesar Rp15 ribu untuk pelajar, dan Rp25 ribu untuk peserta umum. Kemudian peserta diimbau untuk membawa papan dan jam catur.

“Namun panitia juga menyediakan sewa papan dan Jam catur. Menyiapkan bagi yang tidak membawa perlengkapan mandiri,” tutur Hermantoko.

Dalam turnamen ini, Panewu Turi Cup akan mendatangkan wasit yang memiliki sertifikat wasit nasional dari Percasi Kabupaten Sleman, yaitu Achmad Ridlo, Damar dan Faiz.

“Nantinya bagi pemenang tiap kategori juara 1, 2 dan 3 akan mendapatkan trophy, sertifikat dan uang pembinaan. Untuk kelompok umum peringkat 4 sampai 10, untuk kelompok pelajar peringkat 4 sampai 8 akan mendapatkan uang pembinaan,” pungkas Hermantoko.

Untuk itu, diharapkan masyarakat Sleman Utara bisa berpartisipasi dalam upaya pembinaan dan regenerasi atlet catur wilayah Sleman Utara.

“Semoga dari Turnamen Catur Panewu Turi Cup akan lahir atlet handal dari wilayah Sleman Utara,” tandas Marlan. (Kusnadi KIM Berbah)