UNY Perkuat Literasi AI melalui Google Gemini Campus Tour

Sleman – Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) memperkuat literasi digital sivitas akademika melalui kolaborasi bersama Google Indonesia.

Kemitraan tersebut diwujudkan melalui kegiatan Google Gemini Campus Tour: Gemini On Site di Universitas Negeri Yogyakarta selama dua hari, Rabu–Kamis (16–17/9/2026), di area Air Mancur Taman Rektorat UNY.

Kegiatan tersebut menjadi ruang interaktif bagi mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan untuk mengenal serta mengeksplorasi pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI), khususnya Google Gemini. Gelaran ini menargetkan hingga sivitas akademika setiap hari.

Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Sistem Informasi UNY, Soni Nopembri mengatakan kolaborasi tersebut diharapkan meningkatkan pemahaman sivitas akademika mengenai AI dan pemanfaatannya dalam lingkungan perguruan tinggi.

“Melalui kolaborasi ini, sivitas akademika UNY dapat semakin melek dan meningkat literasinya mengenai AI, khususnya Google Gemini yang kini telah menjadi bagian dari kerja sama Google Indonesia dengan UNY,” ujarnya, Kamis (17/9/2026).

Menurutnya, mahasiswa perlu memanfaatkan teknologi tersebut secara tepat untuk menunjang berbagai aktivitas pembelajaran akademik. Pemanfaatan AI diharapkan dapat membantu mahasiswa dalam menjalankan aktivitas akademik secara produktif.

Pembukaan kegiatan diawali pengenalan program Gemini On Site oleh Tim Google Indonesia yang dipimpin Vario Radithya Bawono dan Thania Taniwijaya. Setelah pembukaan dan foto bersama, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke stan interaktif Gemini On Site.

Melalui stan tersebut, mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan dapat mempraktikkan langsung fitur Google Gemini untuk mendukung tugas perkuliahan, riset ilmiah, serta aktivitas akademik sehari-hari.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya UNY memperluas literasi digital sekaligus mengenalkan pemanfaatan AI secara etis, produktif, dan inovatif dalam mendukung aktivitas akademik. (Athiful/KIM Depok)




UNY Hadirkan Edukasi Menstruasi Adaptif bagi Murid SLB

Sleman – Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melalui Tim Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) menghadirkan Menstrual Care Education (MENCARE) di SLB Bhakti Pertiwi Prambanan.

Program tersebut memberikan edukasi higiene menstruasi sekaligus melatih kemandirian perawatan diri bagi murid putri dengan hambatan intelektual.

Ketua Tim MENCARE, Afifah Haya Nur Karimah menjelaskan program dikembangkan dengan mempertimbangkan karakteristik dan kebutuhan dukungan setiap murid. Pembelajaran tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi memberikan pengalaman langsung melalui demonstrasi, simulasi, dan praktik.

“Melalui MENCARE, kami ingin menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya membuat murid memahami apa itu menstruasi, tetapi juga membantu mereka belajar merawat diri secara bertahap. Kami menyesuaikan media dan metode pembelajaran dengan kemampuan masing-masing murid, sehingga proses menuju kemandirian dapat berlangsung secara nyaman dan terarah,” ujarnya, Rabu (16/9/2026).

Program MENCARE berlangsung melalui lima tahapan, yakni Know Your Body, Understand & Care, Practice Smart Care, Be Independent, dan Healthy Habit Builder.

“Tim menggunakan buku saku, flashcard, poster, video edukasi, serta laman MENCARE sebagai media pembelajaran,” tambahnya.

Pendampingan diberikan sesuai kemampuan masing-masing murid. Ketika murid mulai mampu melakukan keterampilan secara mandiri, bantuan dikurangi secara bertahap.

“Pendekatan tersebut membantu murid belajar melakukan perawatan menstruasi secara lebih mandiri,” lanjutnya.

Kepala SLB Bhakti Pertiwi Prambanan, Sudarmi mengatakan, MENCARE membantu sekolah dalam mendampingi murid ketika menstruasi.

“Sebelum ada MENCARE, kami masih mengalami kesulitan dalam mendampingi anak-anak ketika menstruasi. Setelah mengikuti program ini, anak-anak mulai lebih memahami dan mampu melakukan perawatan diri dengan lebih mandiri,” ungkapnya.

Perubahan terlihat melalui kemampuan murid menggunakan, mengganti, dan membuang pembalut dengan benar. Tim juga melibatkan orang tua dalam evaluasi agar keterampilan yang dipelajari dapat diterapkan secara konsisten di rumah.

Selain murid, UNY memberikan penguatan kapasitas kepada guru melalui pelatihan materi, penggunaan media, dan tahapan MENCARE. Sekolah kemudian menerima media edukasi serta Buku Pedoman Mitra MENCARE sebagai bagian dari keberlanjutan program. (Athiful/KIM Depok)




Keroncong Kontemporer Birama Keroncong Muda Pikat Generasi Muda di FKY 2026

Sleman – Generasi muda Sleman menunjukkan antusiasme terhadap sajian musik keroncong kontemporer yang dipersembahkan grup Birama Keroncong Muda dalam rangkaian Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2026 di Panggung Tarung, Bekas Pabrik Gula Beran, Kabupaten Sleman, Rabu (16/9/2026).

Penampilan Birama Keroncong Muda menjadi salah satu ruang perjumpaan antara musik tradisional dan selera musikal generasi masa kini. Aransemen yang lebih dinamis membuat musik keroncong hadir dengan nuansa segar tanpa meninggalkan karakter instrumen dan pola musikal yang menjadi identitas keroncong.

Sejumlah anak muda yang berada di sekitar panggung tampak menikmati pertunjukan dengan mengikuti irama lagu. Sebagian penonton mengabadikan penampilan tersebut menggunakan telepon seluler, sementara lainnya memilih menyaksikan dari dekat panggung hingga pertunjukan berakhir.

Menurut Pimpinan Grup Birama Keroncong Muda, Widhi Nugroho, grup orkes keroncong asal Trimulyo yang digerakkan oleh generasi muda untuk melestarikan dan menghidupkan kembali musik keroncong.

“Kehadiran penonton muda menunjukkan bahwa keroncong masih memiliki ruang untuk berkembang di tengah perubahan tren musik. Kemasan kontemporer menjadi salah satu pendekatan yang dapat mempertemukan warisan musik tersebut dengan generasi yang terbiasa menikmati beragam genre melalui platform digital,” jelasnya.

Lebih lanjut, Widhi mengungkapkan bahwa Birama Keroncong Muda memanfaatkan karakter musikal keroncong sebagai fondasi, kemudian mengolahnya melalui permainan yang lebih komunikatif dengan penonton. Pendekatan tersebut membuat pertunjukan tidak terasa sebagai sajian musik masa lalu, namun menjadi bagian dari ekspresi seni yang dapat dinikmati lintas generasi.

Antusiasme penonton pun memperlihatkan pentingnya ruang pertunjukan kebudayaan yang memberikan kesempatan kepada kelompok musik muda untuk tampil dan berinteraksi langsung dengan masyarakat. FKY 2026 menjadi salah satu ruang tersebut dengan menghadirkan beragam ekspresi kebudayaan di tengah lingkungan Bekas Pabrik Gula Beran.

“Musik keroncong kontemporer sekaligus menawarkan cara lain dalam mengenalkan kembali kekayaan musik Nusantara kepada generasi muda. Kreativitas dalam aransemen, penampilan, dan pemilihan repertoar dapat menjadi jembatan agar keroncong tetap relevan dengan perkembangan zaman,” ujar Widhi.

Melalui penampilan Birama Keroncong Muda, keroncong ditempatkan sebagai warisan budaya yang perlu dilestarikan, sekaligus sebagai kesenian yang dapat terus mengalami inovasi. Keterlibatan anak muda sebagai pemain maupun penonton menjadi bagian penting dari keberlanjutan ekosistem musik keroncong.

Antusiasme generasi muda Sleman di Panggung Tarung FKY 2026 menunjukkan bahwa keberadaan musik tradisi dan perkembangan budaya populer dapat berjalan beriringan. Keroncong mendapat ruang untuk bereksperimen termasuk memperluas pendengarnya, sehingga musik tersebut tetap hidup dan berkembang di tengah generasi baru. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Kopi Banyu Udan, Racikan Kopi Transmigran dengan Air Hujan di FKY 2026

Sleman – Kopi Banyu Udan menjadi salah satu daya tarik bagi masyarakat pecinta kopi yang mengunjungi Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2026 di kawasan bekas Pabrik Gula Beran, Kabupaten Sleman, Rabu (16/9/2026). Sajian kopi tersebut menawarkan pengalaman berbeda melalui perpaduan kopi hasil panen transmigran dengan air hujan yang telah melalui proses pengolahan.

Kopi yang digunakan merupakan kopi asli hasil panen masyarakat transmigran binaan Balai Besar Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi Sleman. Produk tersebut diperkenalkan dalam kemasan minuman kopi yang tidak hanya mengedepankan cita rasa, tetapi juga mengangkat potensi hasil pertanian masyarakat transmigran.

Menurut salah satu barista, AJ. Purwanto, keunikan Kopi Banyu Udan terletak pada air yang digunakan untuk menyeduh. Air hujan yang menjadi bahan penyeduhan terlebih dahulu ditampung dan diolah melalui instalasi pengolahan air hujan, kemudian menjalani proses elektrolisa yang dikembangkan Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman.

“Perpaduan dua sumber daya alam tersebut menjadi bagian dari pesan yang ingin kami sampaikan lewat Kopi Banyu Udan, yakni mempertemukan potensi hasil bumi masyarakat dengan pemanfaatan sumber daya air yang tersedia di lingkungan. Konsep ini sekaligus memperlihatkan bahwa air hujan dapat dikelola dan dimanfaatkan melalui tahapan pengolahan yang tepat,” jelasnya.

Barista AJ Purwanto meracik Kopi Banyu Udan secara langsung di lokasi festival. Proses penyeduhan menjadi bagian yang menarik perhatian pengunjung karena mereka dapat melihat bagaimana kopi hasil panen transmigran dipadukan dengan air hujan hasil pengolahan sebelum disajikan.

“Penggilingan Biji Kopi yang telah disangrai (Grinding) kami lakukan di hadapan pengunjung sesaat sebelum diseduh (fresh grind) agar aroma dan rasa aslinya tidak hilang. Jadi kami tidak menyajikan kopi sachetan dari pabrik,” tandasnya.

Kehadiran Kopi Banyu Udan juga memperluas ruang promosi bagi produk kopi hasil pemberdayaan masyarakat transmigran. Festival kebudayaan menjadi momentum untuk memperkenalkan produk tersebut kepada masyarakat yang lebih luas sekaligus menghubungkan aspek pertanian, lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan budaya dalam satu sajian.

Selain itu, pengunjung juga mendapatkan pengalaman menikmati secangkir kopi, sekaligus memperoleh informasi mengenai asal bahan baku serta proses pengolahan air yang digunakan. Pendekatan tersebut membuat Kopi Banyu Udan hadir bukan sekadar sebagai produk minuman, melainkan sebagai media edukasi mengenai potensi lokal dan pemanfaatan sumber daya alam.

Konsep Kopi Banyu Udan menunjukkan bahwa inovasi produk dapat dibangun dari potensi yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Kopi dari hasil panen transmigran dipertemukan dengan air hujan yang dikelola melalui teknologi pengolahan sehingga menghasilkan sajian yang memiliki cerita dari hulu hingga hilir.

Melalui FKY 2026, Kopi Banyu Udan menjadi contoh bagaimana produk masyarakat dapat dikemas dengan pendekatan kreatif untuk menjangkau publik yang lebih luas. Perpaduan kopi asli dengan air hujan hasil pengolahan SAH Banyu Bening Sleman, serta keterampilan barista AJ Purwanto menghadirkan pengalaman ngopi yang sekaligus membawa pesan tentang pemberdayaan dan keberlanjutan. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Musrembang Kalurahan Margoagung 2027, Tentukan Skala Prioritas Pembangunan dan Semangat Tingkatan PAD Kalurahan

Sleman – Pemerintah Kalurahan Margoagung menyelenggarakan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kalurahan (Musrembangkal) dalam rangka Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Kalurahan (RKPKal) Tahun 2027, Rabu (16/9/2026)

Kegiatan berlangsung di Aula Kalurahan Margoagung tersebut dihadiri Panewu Seyegan, Lurah beserta Pamong Margoagung, BPKal, LPMK, LKK, Dukuh, Babinsa/Babinkamtibmas dan tokoh masyarakat.

Carik Margoagung, Aditya Arif Perdana, yang memandu jalannya Musrenbang, mengatakan penyusunan RKP Kalurahan Margoagung 2027 merupakan hasil kesepakatan melalui Jaring Aspirasi dan Musyawarah Kalurahan (Muskal) yang telah dilaksanakan sebelumnya. Hasil tersebut kemudian dikaji dan diverifikasi oleh tim hingga menjadi rancangan RKP Kalurahan 2027.

Musrenbang membahas rancangan Rencana Kerja Pemerintah Kalurahan (RKPKal) 2027, rencana prioritas kegiatan dan pelaksanaan kegiatan 2027, serta Daftar Usulan RKPKal 2028 yang akan diajukan ke Kapanewon.

Pangripta Margoagung, Anas Susila Admaja menjelaskan total kebutuhan anggaran dalam rancangan RKPKal mencapai Rp8,5 miliar. Namun, karena pagu indikatif yang tersedia terbatas, dilakukan penentuan skala prioritas dengan nilai sekitar Rp4,1 miliar.

Sementara itu, pendapatan Kalurahan Margoagung diproyeksikan sebesar Rp3,6 miliar sehingga masih terdapat kekurangan sekitar Rp500 juta yang diharapkan dapat ditutup melalui sisa lebih perhitungan anggaran (Silpa) tahun sebelumnya.

Program prioritas pembangunan juga telah disinkronkan dengan indikator dalam Indeks Desa dari Kementerian Desa. Sementara itu, Daftar Usulan RKP Kalurahan (DURKP) yang akan diajukan dalam Musrenbang Kapanewon melalui PUPM maupun non-PUPM disesuaikan dengan kewenangan dan sumber pendanaannya.

Untuk kegiatan yang menjadi kewenangan kabupaten, misalnya perbaikan jalan kabupaten dan saluran irigasi primer, penganggarannya berasal dari pemerintah kabupaten. Adapun pembangunan saluran irigasi tersier menjadi bagian yang dapat didukung melalui anggaran kalurahan.

Panewu Seyegan, Agung Endarta menanggapi keterbatasan anggaran dengan menekankan pentingnya penentuan skala prioritas berdasarkan kebutuhan masyarakat yang mendesak.

“Selain itu, perlu ada upaya untuk meningkatkan pendapatan asli kalurahan,” ujarnya.

Agung juga berpesan agar setelah RKP Kalurahan disahkan, seluruh program segera dilaksanakan sejak Januari hingga Desember. Menurutnya, pelaksanaan kegiatan secara bertahap diperlukan agar program tidak menumpuk pada akhir tahun dan seluruh anggaran dapat dimanfaatkan sesuai perencanaan.

“Keputusan Musrenbang merupakan representasi aspirasi masyarakat yang harus dilaksanakan. Jika ada program yang tidak terlaksana, tentu dapat menimbulkan pertanyaan dari masyarakat,” katanya.

(Sulistiyono, KIM Seyegan)