Paguyuban SMSS Sekar Manunggal Sleman Sembada Matangkan Agenda Budaya 2026

Sleman – Paguyuban Sekar Manunggal Sleman Sembada (SMSS) secara resmi mematangkan agenda kegiatan budaya untuk tahun 2026 melalui rapat koordinasi yang digelar pada Minggu (4/1/2026). Pertemuan yang berlangsung di RM Muara Kapuas, Pandowoharjo, Sleman ini dihadiri oleh segenap pengurus inti serta perwakilan dari 17 Koordinator Kapanewon (KorKap) se-Kabupaten Sleman.

Rapat tersebut fokus membahas evaluasi kegiatan sepanjang tahun 2025 sekaligus menyusun program kerja tahun 2026. Salah satu poin utama yang menjadi perhatian adalah persiapan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-31 SMSS yang jatuh pada 1 Februari 2026 mendatang.

Ketua Paguyuban SMSS Sekar Manunggal Sleman Sembada, Panggih Hadipurwanto, menegaskan bahwa konsistensi menjadi komitmen utama paguyuban dalam menjaga kelestarian seni dan sastra Jawa di wilayah Sleman. Ia mengapresiasi loyalitas para anggota yang terus bergerak secara mandiri dalam merawat tradisi.

“Pada tahun 2025 kami telah sukses melaksanakan lima kali kegiatan besar SMSS, dan untuk tahun 2026 kami telah menyepakati jumlah yang sama, yaitu tetap lima kali kegiatan. Ini adalah wujud nyata komitmen kami dalam menjaga keberlangsungan kegiatan budaya di tengah masyarakat agar tidak luntur oleh zaman,” ujar Panggih Hadipurwanto.

Selain agenda rutin, paguyuban menyepakati pelaksanaan lima kali sarasehan budaya sepanjang tahun 2026. Sarasehan tersebut direncanakan bertempat di beberapa lokasi strategis seperti Puri Mataram, PringSewu, dan Bale Rasa dengan estimasi total peserta mencapai orang. Panggih menambahkan bahwa macapatan akan tetap menjadi inti dari setiap pertemuan karena sarat akan nilai filosofi dan identitas asli SMSS.

“Macapatan bukan sekadar melantunkan syair, tetapi menjadi identitas kami dalam merawat sastra Jawa yang adiluhung. Puncak peringatan HUT nanti akan kami gelar pada Sabtu malam Minggu, 1 Februari 2026, di Rumah Dinas Bupati Sleman dengan menampilkan pentas macapatan yang dibawakan oleh Sarbuni dan iringan karawitan dari kelompok seni Pakem,” tutur Panggih.

Mengenai aspek pendanaan, rapat mencatat saldo kas paguyuban saat ini sebesar dengan estimasi kebutuhan anggaran HUT sekitar Rp1,5 juta. Anggaran tersebut akan dialokasikan untuk honor narasumber, penyusunan materi, konsumsi, hingga teknis karawitan. Pengurus menegaskan bahwa prinsip pembiayaan kegiatan tetap mengedepankan gotong royong dan kemandirian tanpa membebani pemerintah kalurahan.

“Kami telah sepakat untuk tidak meminta dana kepada pihak kalurahan. Prinsip kami adalah gotong royong dan mencari dukungan dari pihak-pihak yang memiliki kepedulian tulus terhadap pelestarian budaya. Kami ingin membuktikan bahwa kegiatan budaya bisa tetap hidup melalui kemandirian masyarakat,” tegas Panggih.

Selain persiapan HUT, SMSS juga merencanakan pelaksanaan macapatan tingkat Kabupaten Sleman mulai April 2026 serta berpartisipasi aktif dalam sarasehan lintas wilayah, termasuk di wilayah Cangkringan. Melalui rangkaian kegiatan ini, SMSS berharap dapat terus menjadi wadah silaturahmi budaya lintas generasi sekaligus menjadi pilar pelestarian seni tradisi di Kabupaten Sleman. (SBD/KIM Senyum Tempel)




Jaga Aset Wakaf, Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Banyuraden Terima Sertifikat Tanah Secara Resmi

Sleman — Penyerahan sertifikat tanah wakaf seluas 130 meter persegi berlangsung khidmat di Pesantren Murih Padhang, Banyuraden, Gamping, Sleman, pada Minggu (4/1/2026). Tanah tersebut diwakafkan oleh Mugiyono kepada Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Kalurahan Banyuraden untuk memperkuat basis dakwah dan pelayanan sosial di wilayah tersebut.

Dalam prosesi tersebut, Mugiyono yang bertindak sebagai wakif secara resmi menyerahkan dokumen legalitas tanah kepada Suhartono yang mewakili jajaran pengurus Nahdlatul Ulama Banyuraden selaku nazhir atau pengelola wakaf. Penyerahan sertifikat ini disaksikan oleh sejumlah tokoh agama, pengurus pesantren, serta warga setempat sebagai penanda penting dalam penguatan tata kelola aset umat yang memiliki kepastian hukum.

Rois Syuriah Nahdlatul Ulama Banyuraden, Ahmad Shofi, menjelaskan bahwa lahan tersebut diperuntukkan bagi pengembangan kegiatan keagamaan dan sosial, khususnya untuk pembangunan fasilitas pendukung pesantren lanjut usia (lansia) bernama Pesantren Murih Padhang. Keberadaan tanah wakaf ini dinilai sangat krusial untuk memperkuat peran pesantren sebagai pusat pendidikan dan pengabdian masyarakat di Banyuraden.

“Lokasi Pesantren Murih Padhang ini sangat strategis untuk menunjang aktivitas pendidikan keislaman dan pemberdayaan umat secara berkelanjutan. Keberadaan tanah wakaf yang telah bersertifikat ini akan memperkuat peran pesantren sebagai pusat dakwah di tengah masyarakat Kalurahan Banyuraden. Kami sangat bersyukur atas amanah ini dan siap mengembangkannya demi kemaslahatan jemaah,” ujar Ahmad Shofi yang juga bertindak sebagai pengasuh pesantren tersebut.

Mugiyono selaku pemberi wakaf menyampaikan bahwa langkah ini merupakan ikhtiar pribadi keluarganya untuk memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat luas. Ia menekankan bahwa wakaf tidak hanya harus bernilai ibadah secara spiritual, tetapi juga harus memiliki landasan hukum yang kuat agar dapat dikelola secara amanah, produktif, dan terhindar dari potensi sengketa di masa depan.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Tanfidziyah Nahdlatul Ulama Banyuraden, Suhartono, mengapresiasi tinggi kepercayaan yang diberikan oleh pihak wakif. Menurutnya, kepemilikan sertifikat resmi merupakan fondasi utama bagi profesionalisme pengelolaan aset di tingkat ranting agar program-program keumatan dapat direncanakan secara matang dan berkelanjutan.

“Penyerahan sertifikat tanah wakaf ini menjadi langkah krusial dalam menjaga aset umat serta memastikan pengelolaannya sesuai dengan peruntukan syariat dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dengan kepastian hukum ini, kami sebagai pengurus memiliki dasar yang kuat untuk mengembangkan fasilitas pesantren lansia ini menjadi lebih baik lagi,” tutur Suhartono saat menerima dokumen tersebut.

Momentum ini juga diharapkan menjadi sarana edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya tertib administrasi dalam berwakaf. Dengan diterimanya sertifikat tersebut, PRNU Banyuraden berkomitmen untuk mengelola amanah secara transparan dan bertanggung jawab guna memberikan manfaat nyata bagi pengembangan syiar Islam dan kesejahteraan sosial di lingkungan setempat (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping).




Bupati Sleman Lakukan Peletakan Batu Pertama Renovasi Masjid Waringinsari: Wujud Gotong Royong Warga

Sleman — Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menghadiri prosesi peletakan batu pertama renovasi Masjid Waringinsari, Ngropoh, Condongcatur, Depok, Sleman, pada Minggu (4/1/2026). Acara yang berlangsung khidmat tersebut menjadi simbol semangat kebersamaan warga dalam membangun sarana ibadah yang lebih representatif bagi masyarakat sekitar.

Hadir dalam kesempatan tersebut Panewu Depok, Danramil 11 Depok, Kapolsek Depok Timur, serta Lurah Condongcatur. Selain jajaran pejabat, acara ini juga diramaikan oleh tokoh agama, penggerak UMKM, kelompok wanita tani, pemuda, serta jemaah Masjid Waringinsari. Kegiatan diawali dengan tausiyah oleh Zainal Muttaqin yang menekankan peran krusial masjid sebagai pusat penguatan sosial dan spiritual umat.

Ketua Takmir Masjid Waringinsari, Amin Suyono, melaporkan bahwa keputusan renovasi ini diambil karena kapasitas bangunan saat ini sudah tidak lagi mencukupi. Terutama pada saat pelaksanaan salat Jumat dan rangkaian ibadah di bulan suci Ramadan, jemaah sering kali meluber hingga ke luar area masjid. Kondisi ini menuntut adanya perluasan bangunan agar seluruh jemaah dapat beribadah dengan lebih khusyuk dan nyaman.

“Melalui musyawarah bersama antara pengurus takmir, jemaah, dan warga masyarakat Waringinsari, disepakati untuk melakukan renovasi secara gotong royong. Kami mengandalkan kekuatan infak dari warga serta dukungan bantuan dari pemerintah maupun pihak-pihak terkait lainnya demi mewujudkan masjid yang lebih luas,” ujar Amin Suyono saat menyampaikan laporannya.

Bupati Sleman, Harda Kiswaya, memberikan apresiasi tinggi terhadap kemandirian dan partisipasi aktif warga Waringinsari. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Sleman memiliki komitmen kuat untuk mendukung kebutuhan riil masyarakat, termasuk dalam hal perbaikan sarana rumah ibadah di wilayah Sleman.

“Pemkab Sleman berkomitmen mendukung renovasi rumah ibadah sehingga masjid ini nantinya dapat lebih nyaman dan representatif dengan fasilitas pendukung yang jauh lebih baik. Kami berharap renovasi ini tidak hanya meningkatkan kapasitas fisik bangunan, tetapi juga memperkuat fungsi masjid sebagai pusat pemberdayaan ekonomi dan kegiatan sosial warga di kawasan permukiman yang dinamis ini,” tutur Harda Kiswaya.

Sebagai bentuk dukungan konkret, Pemerintah Kalurahan Condongcatur menginformasikan bahwa dana hibah dari Pemkab Sleman sebesar Rp45 juta telah dicairkan. Selain itu, terdapat alokasi Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Bupati Sleman Tahun Anggaran 2026 senilai Rp100 juta yang telah disiapkan untuk mendukung kelanjutan proses konstruksi tersebut.

Ketua Panitia Pembangunan, Fauzan Azima, memaparkan bahwa total anggaran yang dibutuhkan untuk merampungkan seluruh tahapan renovasi mencapai Rp1,6 miliar. Hingga hari peletakan batu pertama, donasi yang berhasil dihimpun baru mencapai sekitar Rp500 juta, sehingga panitia masih membuka pintu selebar-lebarnya bagi para donatur.

“Pembangunan ini masih memerlukan dukungan besar dan partisipasi dari berbagai pihak agar target dana tercapai. Kami sangat bersyukur atas bantuan yang sudah masuk dan berharap proses renovasi ini bisa berjalan lancar tanpa hambatan berarti,” kata Fauzan Azima.

Kemeriahan acara ini juga diwarnai dengan bazar UMKM warga setempat dan layanan cek kesehatan gratis bagi masyarakat. Prosesi ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat, dengan harapan pembangunan Masjid Waringinsari membawa keberkahan dan menjadi pusat peradaban yang bermanfaat bagi Jemaah. (Wasana/KIM Depok)




Padukan Demokrasi dan Gaya Hidup Sehat, RW 47 Kentungan Gelar Pemilihan Ketua RT dan RW Baru

Sleman — Warga RW 47 Kentungan, Condongcatur, tumpah ruah mengikuti acara bertajuk “Gebyar Sehat RW 47” pada Minggu (4/1/2026). Inisiatif unik ini menggabungkan semangat pola hidup sehat dengan pesta demokrasi tingkat lokal yang dipusatkan di Gedung Serbaguna Kentungan, Depok, Sleman. Momentum ini menjadi sangat penting bagi warga karena bertujuan menentukan nakhoda baru untuk masa bakti periode 2026-2031.

Rangkaian acara dimulai sejak pukul WIB dengan memanfaatkan udara pagi yang segar untuk melakukan senam sehat bersama. Kehangatan suasana semakin terasa usai olahraga, di mana warga menikmati sarapan bersama dengan menu khas “Soto Seger 47”. Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh masyarakat, termasuk Lurah Condongcatur yang juga merupakan warga asli RW 47 Kentungan.

Tepat pukul WIB, agenda beralih ke proses pemungutan suara. Ketua Panitia, Suradiyanto, menjelaskan bahwa pemilihan menggunakan sistem penulisan nama secara langsung untuk memastikan transparansi dan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat. Panitia pelaksana yang terdiri dari muda-mudi serta pengurus lama menyiapkan tempat pemungutan suara (TPS) dengan tiga kotak suara yang dibedakan berdasarkan warna: hijau untuk Ketua RW 47, kuning untuk Ketua RT 01, dan merah untuk Ketua RT 02.

“Semua warga memiliki hak yang sama untuk memilih dan dipilih. Hal ini bertujuan memberikan edukasi politik serta menciptakan demokrasi yang murni dari warga, oleh warga, dan untuk warga. Kami ingin proses peralihan kepemimpinan di tingkat lingkungan ini berjalan dengan penuh kegembiraan,” ujar Suradiyanto di sela-sela pemungutan suara.

Berdasarkan hasil perhitungan suara yang berakhir pada pukul WIB, Suradiyanto terpilih sebagai Ketua RW 47 dengan raihan 75 suara. Sementara itu, posisi Ketua RT 01 dimenangkan oleh Hari Purwanto dengan 33 suara, dan Agus Purwadi terpilih sebagai Ketua RT 02 setelah memperoleh 48 suara. Proses perhitungan tersebut disaksikan langsung oleh jajaran tokoh masyarakat dan Dukuh Kentungan.

Dukuh Kentungan, Suhartini, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari edaran Pemerintah Kalurahan Condongcatur mengenai peremajaan pengurus RT dan RW. Ia menekankan bahwa hasil pemilihan ini bersifat final sebagai representasi keinginan masyarakat setempat.

“Kami berharap siapa pun yang telah dipilih oleh warga tidak mengundurkan diri karena posisi ini merupakan amanah dan kehendak masyarakat. Untuk pemberkasan dokumen pengurus baru, kami harap segera dilengkapi dan diserahkan ke Kalurahan Condongcatur maksimal pada tanggal 15 Januari 2026 mendatang,” tegas Suhartini dalam sambutannya.

Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji, yang hadir memberikan hak pilihnya, turut memberikan apresiasi tinggi atas kerukunan warga RW 47. Ia menilai strategi panitia dalam menarik minat warga melalui penyediaan doorprize dan sarapan bareng sangat efektif dalam meningkatkan partisipasi politik di tingkat akar rumput.

“Tingginya partisipasi warga dalam mensukseskan pemilihan ini tidak hanya didorong oleh kesadaran berdemokrasi yang sudah baik, tetapi juga tidak lepas dari kreativitas panitia dalam mengemas acara. Semoga hasil pilihan langsung ini dapat menjadi modal dan semangat bagi pengurus baru dalam mengemban tugas melayani masyarakat ke depannya,” tutur Reno Candra Sangaji. (Wasana/KIM Depok).




Senam Sehat PKK Dusun Ngentak Jadi Sarana Jaga Kebugaran dan Kebersamaan Warga

Sleman — Dusun Ngentak memiliki kegiatan rutin yang kini menjadi favorit bagi para ibu anggota Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Kegiatan tersebut adalah Senam Sehat PKK Dusun Ngentak bertajuk Jelita, sebuah program dari Pokja II yang digelar secara konsisten setiap Minggu pagi seperti yang terlihat pada Minggu (4/1/2026).

Kegiatan senam ini dilaksanakan mulai pukul hingga WIB dengan mengambil lokasi di halaman Pendopo Masjid Shirothol Mustaqim Ngentak. Sejak pagi hari, para peserta sudah berdatangan dengan mengenakan pakaian olahraga dan penuh semangat mengikuti gerakan demi gerakan yang dipandu oleh instruktur profesional.

Salah satu pengurus PKK Dusun Ngentak, Eni Sulistyowati, menjelaskan bahwa kegiatan Senam Jelita ini diikuti oleh anggota dari berbagai kelompok usia. Jenis senam yang diberikan pun sangat beragam agar dapat menjangkau semua peserta, mulai dari senam lansia hingga senam bugar dengan gerakan ringan yang disesuaikan dengan kemampuan fisik masing-masing.

“Pesertanya adalah ibu-ibu PKK dengan jenis senam yang bervariasi, mulai dari senam lansia, senam bugar, dan gerakan ringan lainnya. Senam ini memang dirancang agar bisa diikuti semua kalangan, baik yang masih aktif maupun yang sudah lanjut usia. Gerakannya sederhana namun tetap memberikan manfaat besar bagi kesehatan tubuh,” ujar Eni Sulistyowati di sela-sela kegiatan.

Tujuan utama dari kegiatan ini tidak hanya sekadar berolahraga untuk menjaga keimbangan dan kekuatan tubuh, tetapi juga sebagai sarana relaksasi mental. Senam dipercaya dapat membantu mengurangi stres setelah menjalani rutinitas harian yang padat sebagai ibu rumah tangga. Dengan iringan musik yang ceria, suasana senam pun terasa lebih menyenangkan dan menjadi ajang interaksi sosial yang hangat.

Instruktur senam, Lilis, memandu jalannya kegiatan dengan penuh kesabaran untuk memastikan setiap gerakan dilakukan secara aman dan benar. Ia menekankan bahwa poin utama dari senam ini adalah kegembiraan para peserta saat menggerakkan badan secara bersama-sama.

“Yang penting ibu-ibu di sini senang, mau bergerak, dan pada akhirnya menjadi sehat. Kami memastikan intensitas gerakannya pas untuk kelompok usia mereka sehingga semua merasa nyaman selama sesi senam berlangsung,” kata Lilis.

Ketua PKK Dusun Ngentak, Sri Widayati, menyampaikan harapannya agar program Senam Jelita ini dapat terus berjalan secara berkelanjutan dan bertransformasi menjadi budaya hidup sehat bagi seluruh warga. Ia menegaskan bahwa kekompakan antarwarga dapat terpupuk dengan baik melalui kegiatan positif yang dilakukan secara rutin di ruang publik.

“Melalui senam rutin ini, kita tidak hanya menjaga kesehatan fisik secara mandiri, tetapi juga secara kolektif menjaga kebersamaan dan kekompakan warga di Dusun Ngentak agar tetap solid,” tutur Sri Widayati. (Arief Hartanto/KIM Kertomandiri Turi)