Pesona Wisata Bukit Klangon Warnai Libur Tahun Baru 2026 di Kaki Merapi

Sleman – Momentum liburan Tahun Baru 2026 dimanfaatkan ribuan wisatawan untuk mengunjungi berbagai destinasi alam di Daerah Istimewa Yogyakarta. Salah satu lokasi yang tetap menjadi primadona adalah Wisata Bukit Klangon yang terletak di Kalitengah Lor, Kalurahan Glagaharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman. Berada di lereng Gunung Merapi dengan ketinggian sekitar hingga meter di atas permukaan laut, Bukit Klangon menawarkan panorama alam yang memukau bagi para pelancong.

Dari lokasi ini, pengunjung dapat menikmati pemandangan Gunung Merapi dari jarak yang relatif dekat, dengan hamparan alam hijau dan udara pegunungan yang sejuk. Saat cuaca cerah, terutama di pagi hari, siluet Merapi terlihat megah dari sejumlah gardu pandang dan titik swafoto yang tersedia. Akses menuju lokasi ini pun terbilang mudah, berjarak sekitar 31 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta dan dapat ditempuh dalam waktu satu jam menggunakan kendaraan pribadi melalui rute ke arah utara menuju Cangkringan.

Pantauan pada Sabtu (3/1/2026) menunjukkan kawasan wisata ini masih dipadati pengunjung yang menikmati sisa suasana liburan Tahun Baru. Wisatawan datang dari berbagai daerah, baik secara rombongan keluarga, komunitas, maupun individu yang mencari ketenangan di alam terbuka. Aktivitas yang dilakukan pun beragam, mulai dari sekadar bersantai hingga melakukan olahraga luar ruang seperti bersepeda dan berkemah.

Salah satu wisatawan asal Piyungan, Hari, mengungkapkan bahwa dirinya sengaja memilih Bukit Klangon sebagai tujuan utama untuk bersepeda bersama rekan-rekannya. Menurutnya, jalur menuju destinasi ini memberikan tantangan tersendiri sekaligus hadiah berupa pemandangan yang menyegarkan mata. Hal tersebut dinilai sangat efektif untuk mengembalikan semangat setelah menjalani rutinitas pekerjaan yang padat.

“Pemandangan sepanjang jalannya sangat bagus dan udaranya sejuk, sangat cocok untuk berolahraga gowes. Stres dan penat setelah bekerja bisa langsung hilang begitu sampai di sini dan melihat kemegahan Merapi secara dekat,” ujar Hari saat ditemui di sela aktivitas bersepedanya.

Hari juga menyoroti keberadaan fasilitas layanan internet nirkabel atau wifi gratis yang disediakan Pemerintah Kabupaten Sleman di lokasi wisata. Layanan ini dinilai sangat membantu wisatawan untuk tetap berkomunikasi dan membagikan momen liburan di media sosial, mengingat sinyal seluler dari beberapa operator telekomunikasi sering kali sulit dijangkau di kawasan pegunungan tersebut. Ia berharap kualitas koneksi tersebut tetap stabil meski jumlah pengunjung sedang melonjak tajam.

Sebagai destinasi wisata alam, Bukit Klangon dikenal memiliki biaya masuk yang sangat terjangkau dengan fasilitas pendukung yang kian memadai. Keberadaan toilet bersih, musala, dan warung-warung lokal milik warga menambah kenyamanan pengunjung. Dengan keasrian yang tetap terjaga, Bukit Klangon kembali membuktikan posisinya sebagai salah satu pilihan utama wisata alam di Yogyakarta bagi mereka yang ingin merasakan langsung atmosfer kaki Gunung Merapi. (Andy Ahmad/KIM DSN Ngaglik)




Bupati Sleman Hadiri Soft Launching Taman Ketahanan Pangan Semar Ndalil Kalurahan Girikerto

Sleman – Bupati Sleman, Harda Kiswaya bersama sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab Sleman dan pihak terkait menghadiri soft launching taman ketahanan pangan “Semar Ndalil” milik Pemerintah Kalurahan Girikerto, Turi, Jumat (2/1/2026).

Koordinator Lapangan Taman Ketahanan Pangan Semar Ndalil Kalurahan Girikerto, Endang Setyomurni menjelaskan pengembangan taman ketahanan pangan Semar Ndalil merupakan usaha terpadu sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan perkebunan, yang berbalut wisata edukasi. Adapun pengelolaannya, Pemerintah Kalurahan Girikerto bersinergi dengan Gapoktan, KWT dan UMKM yang ada di Kalurahan Girikerto.

Sementara Lurah Girikerto, Sudibya, menyebutkan konsep ini menindaklanjuti masterplan Kalurahan Girikerto berdasarkan musyawarah bersama, untuk mengalokasikan 250 juta rupiah untuk ketahanan pangan.

“Kami musyawarah dengan seluruh elemen masyarakat Girikerto, muncul pemikiran, kita kembangkan taman yang ada di Girikerto menjadi taman ketahanan pangan yang kita soft launching pagi ini,” jelasnya.

Diharapkan ke depannya taman ketahanan pangan Semar Ndalil yang dikelola oleh BUMKal Girikerto ini bisa dikembangkan sebagai tempat wisata edukasi serta mendorong kesejahteraan masyarakat Kalurahan Girikerto.

Bupati Sleman, Harda Kiswaya mengaku senang serta mengapresiasi pembangunan taman ketahanan pangan yang diinisiasi oleh Kalurahan Girikerto ini. Seperti namanya, taman ini nantinya dapat menunjang ketahanan pangan di Kabupaten Sleman, khusunya di Kalurahan Girikerto.

“Kami senang dengan pergerakan dan inisiatif dari masyarakat seperti ini. Intinya Pemkab Sleman siap mendukung kegiatan-kegiatan seperti ini,” ujarnya.




Inovasi Keripik Gembus Asal Margoagung, Olahan Limbah Tahu yang Tembus Pasar Supermarket

Sleman – Limbah tahu yang selama ini hanya dipandang sebelah mata dan sebatas dimanfaatkan sebagai pakan ternak, kini naik kelas menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Di tangan kreatif Rahayu, pemilik rumah produksi 2Dhe yang berlokasi di Krapyak X, Margoagung, Seyegan, Sleman, limbah tersebut disulap menjadi camilan renyah berupa keripik gembus yang sukses menembus rak-rak supermarket ternama di Yogyakarta.

Wilayah Krapyak X memang dikenal sebagai sentra produksi tahu di Sleman bagian barat. Melimpahnya ketersediaan bahan baku sisa produksi tahu mendorong Rahayu untuk melakukan eksperimen sejak sepuluh tahun silam. Ia menyayangkan jika sisa produksi tersebut hanya berakhir di kandang ternak tanpa memberikan nilai tambah finansial yang signifikan bagi warga sekitar.

“Awalnya limbah tahu di sini hanya dipakai untuk pakan ternak. Saya berpikir bagaimana caranya supaya limbah ini bisa punya nilai jual lebih dan bisa dinikmati sebagai camilan yang enak. Setelah melalui berbagai percobaan, akhirnya terciptalah keripik gembus ini,” ujar Rahayu saat ditemui di rumah produksinya pada Sabtu (3/1/2026).

Untuk memenuhi permintaan pasar, setiap hari Rahayu membutuhkan sekitar tiga ember limbah tahu yang kemudian diolah menjadi 14 hingga 15 kilogram keripik gembus. Meskipun skalanya sudah masuk ke pasar modern, operasional usaha ini masih dikelola secara mandiri oleh Rahayu bersama suami dan dibantu seorang karyawan. Selain keripik gembus, rumah produksi 2Dhe juga memproduksi keripik kenikir, usus crispy, dan keripik pare berdasarkan pesanan.

Keberhasilan menembus pasar ritel modern tidak didapatkan secara instan. Rahayu aktif mengikuti berbagai pembinaan, mulai dari gebyar UMKM, Pasar Tani, hingga proses kurasi ketat yang dilakukan oleh dinas terkait. Melalui proses kurasi tersebut, ia mendapatkan banyak masukan teknis mengenai standar kualitas rasa, ketahanan produk, hingga estetika kemasan yang sesuai dengan permintaan pasar menengah ke atas.

“Setelah rutin ikut kurasi, saya banyak belajar soal standar rasa dan kemasan yang profesional. Perubahan pada aspek kemasan dan kualitas rasa inilah yang akhirnya membuka jalan bagi produk kami untuk mendapatkan tawaran masuk ke supermarket. Saat ini produk kami sudah tersedia di beberapa jaringan supermarket besar di Yogyakarta dan mampu bertahan hingga tiga bulan tanpa pengawet tambahan,” ungkap Rahayu dengan bangga.

Demi menjaga stabilitas produksi, Rahayu menjalin kerja sama dengan tiga perajin tahu di lingkungannya sebagai pemasok bahan baku utama. Tidak hanya berorientasi pada keuntungan, ia juga sangat memperhatikan aspek lingkungan dengan menyiapkan sumur resapan khusus untuk mengelola limbah cair sisa produksinya. Komitmennya pada lingkungan ini bahkan menjadikan rumah produksinya sering dijadikan objek penelitian oleh mahasiswa, mulai dari kajian pengolahan limbah hingga inovasi pembuatan tepung dari ampas tahu.

Meski telah sukses di pasar luring, Rahayu mengakui bahwa tantangan cuaca masih menjadi kendala utama karena sangat memengaruhi proses pengolahan gembus sebelum digoreng. Selain itu, ia berencana untuk mulai merambah platform digital guna memperluas jangkauan pasar yang lebih luas di masa depan. Ia percaya bahwa konsistensi dan ketelatenan dalam mengolah bahan baku lokal adalah kunci utama UMKM untuk tetap bertahan dan berkembang. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Pemerintah Kalurahan Sumbersari Resmi Bubarkan Panitia Porkal 2025

Sleman – Mengawali lembaran tahun 2026, Pemerintah Kalurahan Sumbersari secara resmi membubarkan Panitia Pekan Olahraga Kalurahan (Porkal) tahun 2025. Prosesi pembubaran yang dibalut dengan suasana kebersamaan ini berlangsung khidmat di Pendopo Kalurahan Sumbersari, Moyudan, Sleman, pada Jumat malam (2/1/2026).

Acara tersebut dihadiri oleh jajaran pimpinan Kapanewon Moyudan termasuk Panewu, Kapolsek, dan Danramil. Turut hadir Lurah Sumbersari beserta pamong kalurahan, Badan Permusyawaratan Kalurahan (BPKal), serta seluruh anggota Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas) Sumbersari yang selama ini mengawal jalannya kegiatan olahraga di wilayah tersebut.

Lurah Sumbersari, Sukadi, dalam sambutannya mengungkapkan rasa syukur atas rampungnya berbagai agenda besar di pengujung tahun lalu. Selain sukses menyelenggarakan Porkal, pihaknya juga berhasil menyelesaikan proyek fisik berupa renovasi lantai pendopo serta pemasangan atap Gedung Olahraga (GOR) Sumbersari yang kini sudah siap digunakan secara maksimal oleh warga.

“Kegiatan malam ini memiliki makna ganda. Selain secara resmi membubarkan panitia Porkal 2025 yang telah bekerja keras, acara ini juga menjadi bentuk tasyakuran atas selesainya pembangunan infrastruktur penting di kalurahan kita. Saya mengajak seluruh pamong dan lembaga kalurahan untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan. Mari kita tinggalkan hal yang kurang baik di tahun lalu, pertahankan yang sudah bagus, dan tingkatkan prestasi di tahun yang baru ini,” ujar Sukadi.

Dalam kesempatan itu, Sukadi juga membawa kabar gembira mengenai posisi strategis Sumbersari yang terpilih masuk dalam lima besar pionir pendirian Koperasi Desa atau Kalurahan Merah Putih (KDMP) di Kabupaten Sleman. Ia memastikan bahwa izin penggunaan Tanah Kas Desa sebagai lokasi gedung koperasi sudah dikantongi dan saat ini proses konstruksi telah dimulai.

Panewu Moyudan, Agung Dwi Maryoto, turut memberikan apresiasi tinggi terhadap integritas dan kerja sama yang ditunjukkan oleh panitia pelaksana beserta jajaran pemerintah kalurahan. Ia menilai suksesnya Porkal tanpa hambatan berarti menjadi bukti solidnya koordinasi antar-lini di Sumbersari. Selain itu, ia secara khusus memberikan selamat atas prestasi Tim Bola Voli Putra Sumbersari yang sukses menyabet gelar juara tiga dalam ajang bergengsi Bupati Cup.

“Kerja keras panitia Porkal sangat luar biasa sehingga acara bisa berjalan lancar dan kondusif. Saya juga sangat bangga dengan prestasi voli putra kita. Di sisi lain, Pemerintah Kapanewon saat ini sedang menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi di Yogyakarta untuk memperkuat program ketahanan pangan. Kami berharap kolaborasi ini nantinya dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh warga Sumbersari guna meningkatkan taraf ekonomi lokal,” kata Agung Dwi Maryoto.

Acara diakhiri dengan pembacaan pernyataan pembubaran panitia secara resmi dan doa bersama sebagai harapan agar tahun 2026 membawa keberkahan bagi pembangunan di wilayah Sumbersari. (Giek/KIM Moyudan)




Pemerintah Kapanewon Moyudan Berikan Dukungan Moral Bagi Pemuda Pelopor Usaha Pakan Ternak

Sleman – Mengawali tahun 2026, Pemerintah Kapanewon Moyudan melakukan kunjungan khusus sebagai bentuk apresiasi terhadap kemandirian pemuda di wilayahnya. Kunjungan ini ditujukan kepada Riyang Gati, pemuda berusia 26 tahun asal Pendulan, Sumberagung, Moyudan, Sleman, yang sukses merintis usaha penjualan rumput pakan ternak. Pertemuan yang berlangsung pada Jumat (2/1/2026) ini bertujuan untuk memberikan dukungan moral atas inovasi usaha yang dijalani oleh pemuda tersebut.

Panewu Moyudan, Dwi Agung Maryoto, yang memimpin langsung kunjungan tersebut menyatakan kekagumannya terhadap keberanian Riyang Gati dalam mengambil peluang usaha yang jarang dilirik oleh generasi muda. Menurutnya, inisiatif semacam ini sangat krusial dalam menggerakkan ekonomi lokal serta mengatasi masalah pengangguran di tingkat kewilayahan.

“Kami memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Riyang Gati yang telah berani membuka usaha jual rumput ini. Kita semua harus bisa menciptakan lapangan kerja sendiri dan cerdas mencari peluang usaha agar ekonomi keluarga dan masyarakat lebih meningkat. Usaha ini diharapkan menjadi inspirasi serta motivasi bagi para pemuda lainnya, khususnya di Kapanewon Moyudan, untuk tidak ragu terjun ke sektor apa pun yang produktif,” ujar Dwi Agung Maryoto.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa keberadaan pemuda yang terjun di sektor pendukung pertanian dan peternakan sangat dibutuhkan untuk menjaga ekosistem lingkungan dan ketahanan pangan lokal. Meskipun belum bisa memberikan bantuan dalam bentuk materiil, pihak pemerintah kapanewon berkomitmen memberikan pendampingan dan dukungan moril agar usaha tersebut terus tumbuh dan dikenal luas.

Senada dengan hal tersebut, Panewu Anom Moyudan, Mahmudah Arfiyati, mengungkapkan rasa bangganya karena usaha kreatif ini sempat menarik perhatian media nasional. Hal ini membuktikan bahwa kreativitas dari pelosok desa mampu mendapat apresiasi luas jika ditekuni secara serius dan memanfaatkan teknologi informasi dengan baik.

“Kapanewon Moyudan merasa sangat bangga karena usaha ini berhasil mengangkat nama wilayah ke tingkat nasional melalui tayangan televisi swasta. Pada era digitalisasi ini, peluang bisa datang dari mana saja asalkan kita memiliki semangat, telaten, serta yang paling penting adalah tidak gengsi dan tidak malu dalam bekerja. Pemanfaatan media sosial sebagai sarana pemasaran harus terus dioptimalkan,” kata Mahmudah Arfiyati.

Dalam kesempatan yang sama, Riyang Gati menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian yang diberikan oleh jajaran Pemerintah Kapanewon Moyudan. Ia mengaku bahwa kunjungan para pejabat wilayah ini menjadi pemicu semangat tambahan bagi dirinya untuk mengembangkan bisnis penjualan rumputnya lebih profesional lagi.

“Awalnya saya hanya coba-coba karena melihat potensi rumput yang melimpah dan banyaknya peternak yang tidak memiliki waktu luang untuk mencari pakan sendiri. Kunjungan ini sangat berarti bagi saya. Saya selalu memegang prinsip bahwa meski rumput atau suket itu tidak populer, namun kehadirannya sangat penting bagi keberlangsungan hidup ternak masyarakat. Motto saya sederhana, suket ora trending, tapi suket iku penting,” tutur Riyang Gati. (Giek/KIM Moyudan)