Jaga Sejarah Lokal, Kalurahan Sumberagung Gelar Workshop Penulisan Toponimi 21 Padukuhan

Sleman – Pemerintah Kalurahan Sumberagung, Moyudan, Sleman, menunjukkan komitmennya dalam melestarikan sejarah lokal melalui penyelenggaraan Workshop Penulisan Toponimi. Kegiatan edukatif ini berlangsung pada Kamis (8/1/2026) bertempat di Aula Kalurahan Sumberagung dengan menghadirkan calon penulis perwakilan dari 21 padukuhan yang ada di wilayah tersebut.
Dalam sambutannya, Lurah Sumberagung, Duljiman, menekankan pentingnya pendokumentasian asal-usul wilayah sebagai warisan bagi generasi mendatang. Ia mengakui bahwa selama ini sejarah nama tempat atau toponimi di 21 padukuhan wilayahnya masih banyak yang belum tercatat secara resmi dalam bentuk buku.
“Setiap padukuhan di Sumberagung pasti memiliki sejarah asal-usulnya sendiri, namun sayangnya banyak yang belum terdokumentasi dengan baik. Maka mulai saat ini, kami berkomitmen untuk mendokumentasikannya dengan membuat buku toponimi padukuhan. Kami membekali para calon penulis melalui workshop ini agar hasilnya nanti berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah maupun budaya,” ujar Duljiman sebelum secara resmi membuka acara tersebut.
Workshop ini menghadirkan tiga narasumber kompeten dari Paguyuban Sastra Budaya Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi Kabupaten Sleman. Pemateri pertama, Sutopo Sugiharto yang merupakan Ketua Pasbuja Kawi Merapi sekaligus redaktur Kedaulatan Rakyat, memaparkan materi mengenai teknis menulis. Ia menjelaskan secara mendalam bahwa toponimi bukan sekadar nama, melainkan ilmu yang mempelajari makna dan sejarah sebuah tempat.
“Toponimi berasal dari bahasa Yunani, yaitu topos yang berarti tempat dan onyma yang berarti nama. Dalam penulisannya, kita harus sangat memperhatikan penggunaan ejaan yang benar, tanda baca, spasi, hingga penulisan huruf kapital yang tepat. Hal yang tidak kalah penting adalah penulisan nama tempat dalam bahasa lokal harus sesuai dengan ortografi aslinya, contohnya penulisan Yogyakarta, bukan Jogjakarta,” jelas Sutopo Sugiharto kepada para peserta.
Materi kedua mengenai teknik wawancara disampaikan oleh penulis senior Budi Sarjono. Ia menegaskan bahwa akurasi data dalam penulisan sejarah sangat bergantung pada kualitas wawancara dengan narasumber. Budi merinci empat langkah utama dalam wawancara, yakni riset persiapan, membangun kenyamanan narasumber, mengajukan pertanyaan ringan, hingga menjadi pendengar yang aktif.
“Mulailah dengan pertanyaan yang ringan dan mudah agar narasumber merasa nyaman. Sebagai peneliti, kita tidak boleh protes atau membantah pernyataan responden karena hal itu bisa menyebabkan kegagalan dalam memperoleh materi yang akurat. Catat semua jawaban dengan detail dan ajukan pertanyaan spesifik untuk menggali informasi yang lebih mendalam,” tutur Budi Sarjono.
Sementara itu, pemateri ketiga, Achyadi, berbagi pengalaman praktis dalam mengulik sejarah padukuhan. Ia menekankan bahwa tantangan terbesar dalam menulis toponimi adalah menemukan narasumber yang benar-benar memahami sejarah masa lalu secara valid. Achyadi menyarankan para penulis untuk melakukan pendekatan personal dan membuat janji temu langsung agar proses penggalian data lebih maksimal.
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kalurahan Sumberagung berharap naskah toponimi dari 21 padukuhan dapat segera rampung dan menjadi referensi sejarah yang otentik bagi masyarakat luas. Workshop ini diharapkan menjadi langkah awal terciptanya karya literasi yang memperkuat identitas budaya lokal di Kabupaten Sleman. (Giek/KIM Moyudan)



