Majelis Ekonomi dan Lazismu Berbah Distribusikan 1.200 Voucher BerasMu untuk Gerakkan Ekonomi Umat

Sleman — Majelis Ekonomi bersama Lazismu Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Berbah mendistribusikan voucher belanja BerasMu bagi warga dan jemaah Muhammadiyah Berbah. Kegiatan ini dilaksanakan bertepatan dengan Pengajian Jumat Legi yang bertempat di Masjid An Nur Bercak, Jogotirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta, pada Jumat (9/1/2026).

Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Berbah, Achmad Muhajir Hanifi, menyampaikan bahwa pembagian voucher belanja ini merupakan langkah konkret Majelis Ekonomi dengan dukungan penuh dari Lazismu Berbah. Program ini dirancang untuk menggerakkan roda ekonomi jemaah sekaligus memberikan akses bagi warga yang membutuhkan beras berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau. Menariknya, beras yang dipasarkan merupakan produk asli dari Jaringan Petani Muhammadiyah (JATAM) yang dikemas dalam ukuran tiga kilogram.

“Dengan mempergunakan voucher belanja tersebut, masyarakat akan mendapatkan potongan harga yang signifikan. Kami ingin memastikan perputaran ekonomi terjadi di lingkungan perserikatan, di mana produk petani kita sendiri diserap oleh jemaah dengan skema yang saling menguntungkan. Ini adalah wujud kemandirian ekonomi yang terus kami dorong agar memberikan manfaat luas bagi warga, terutama mereka yang masuk dalam kategori duafa,” ujar Achmad Muhajir Hanifi saat memberikan sambutan.

Voucher berjumlah lembar tersebut dibagikan kepada enam Ranting Muhammadiyah (PRM) yang berada di bawah naungan Cabang Berbah. Secara teknis, voucher diserahkan secara simbolis kepada masing-masing ketua PRM untuk kemudian didistribusikan kepada warga yang membutuhkan. Selain pemberian voucher, Lazismu Berbah juga memberikan bantuan berupa kursi salat untuk Masjid An Nur Bercak guna membantu jemaah yang memiliki keterbatasan fisik agar tetap bisa melaksanakan ibadah dengan nyaman.

Dalam kesempatan yang sama, Achmad Muhajir Hanifi juga menginformasikan kabar gembira mengenai diterimanya wakaf tanah beserta rumah di pinggir Jalan Sampaan, Dusun Tegalsari, Tegaltirto dari Amronah. Wakaf yang ditaksir memiliki nilai aset sebesar Rp7 miliar tersebut direncanakan akan digunakan sebagai kantor pusat dan gedung dakwah Muhammadiyah Berbah. Ia berharap keikhlasan pemberi wakaf menjadi semangat bagi jemaah untuk semakin aktif berkegiatan di perserikatan.

Ketua Majelis Ekonomi PCM Berbah, Siswanto, menjelaskan lebih detail mengenai nilai manfaat voucher tersebut. Harga normal satu kantong BerasMu ukuran tiga kilogram adalah , namun dengan menunjukkan voucher belanja, jemaah hanya perlu membayar sebesar . Untuk memudahkan pelayanan, pihak panitia telah menetapkan beberapa titik penukaran voucher yang tersebar di wilayah masing-masing ranting.

“Kami telah menetapkan titik-titik penukaran agar masyarakat tidak perlu jauh-jauh mengambil beras. Untuk wilayah Sendangtirto tersedia di warung Supardi Karanganyar, wilayah Kalitirto di rumah Anwar Sanusi, dan Tegaltirto di warung Supatin Krikilan. Sementara untuk wilayah Jogotirto, kami sediakan tiga tempat yaitu di kediaman Suradi, Ngadiyono, dan Farid Imron. Dengan pembagian titik penjualan di setiap wilayah ini, kami berharap pelayanan BerasMu menjadi lebih cepat, mudah, dan efisien bagi seluruh warga jemaah,” kata Siswanto menjelaskan mekanisme teknis program tersebut. (Kusnadi/KIM Berbah)




Sekda Sleman: Muhammadiyah Berperan Besar Dukung Layanan Pendidikan, Kesehatan, dan Ekonomi Daerah

Sleman — Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, Susmiarto, memberikan apresiasi tinggi terhadap pelaksanaan Muhammadiyah Sleman Expo (MSE) perdana yang digelar pada Jumat hingga Minggu, 9–11 Januari 2026, di Sleman City Hall. Menurutnya, Muhammadiyah selama ini memiliki peran strategis dalam mendukung berbagai program pembangunan daerah, khususnya pada pilar pendidikan, kesehatan, hingga penguatan ekonomi masyarakat.

Susmiarto menegaskan bahwa kontribusi Muhammadiyah di Kabupaten Sleman telah dirasakan secara nyata baik oleh pemerintah daerah maupun masyarakat luas. Salah satu sektor yang paling menonjol adalah pendidikan, di mana keberadaan amal usaha Muhammadiyah menjadi bagian dari layanan dasar yang sangat krusial dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bumi sembada.

“Peran Muhammadiyah itu sangat besar, terutama di bidang pendidikan. Ini adalah layanan dasar yang sangat menentukan peningkatan kualitas sumber daya manusia di Sleman. Kami melihat konsistensi organisasi ini dalam mencetak generasi unggul yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga memiliki karakter yang kuat,” ujar Susmiarto saat memberikan sambutan dalam rangkaian pembukaan perhelatan tersebut.

Selain sektor pendidikan, Susmiarto juga menyoroti kontribusi signifikan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di bidang kesehatan. Melalui jaringan rumah sakit, klinik, serta berbagai program edukasi kesehatan hingga tingkat akar rumput, Muhammadiyah dinilai telah berhasil membangun kesadaran kolektif masyarakat tentang pentingnya pola hidup sehat. Upaya preventif dan promotif yang dilakukan organisasi ini dinilai sangat membantu tugas pemerintah daerah dalam menjaga kesejahteraan warga.

“Di bidang kesehatan, peran Muhammadiyah juga sangat jelas. Melalui rumah sakit dan layanan-layanan edukasi kesehatan yang menjangkau masyarakat bawah, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah ikut berperan membangun kesadaran masyarakat untuk hidup sehat secara mandiri. Kami sangat terbantu dengan adanya sinergi yang harmonis di sektor pelayanan publik ini,” tegas Susmiarto.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mendorong Muhammadiyah untuk terus mengembangkan dakwah di sektor ekonomi. Penyelenggaraan Muhammadiyah Sleman Expo dipandang sebagai contoh konkret bagaimana organisasi kemasyarakatan dapat berkontribusi langsung dalam penguatan ekonomi umat. Melalui kegiatan ini, Muhammadiyah terlibat aktif hingga tingkat ranting dengan membangun sinergi bersama binaan pemerintah maupun organisasi lainnya.

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sleman, Harjaka, menyampaikan bahwa pameran ini merupakan sarana pembelajaran bagi masyarakat untuk melihat secara langsung gerakan organisasi di berbagai sektor. Sementara itu, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY, Muhammad Ikhwan Ahada, menilai pelaksanaan eksposisi di pusat perbelanjaan sebagai langkah berani dan adaptif yang selaras dengan semangat Muhammadiyah berkemajuan.

Ketua Panitia, Eko Sumardianto, melaporkan bahwa Muhammadiyah Sleman Expo diikuti oleh 52 peserta yang terdiri dari unsur persyarikatan, amal usaha, dan pelaku UMKM. Melalui ajang ini, Pemerintah Kabupaten Sleman berharap kolaborasi yang telah terjalin dapat terus diperkuat guna mewujudkan masyarakat yang sejahtera secara spiritual, sosial, dan ekonomi di masa depan. (Arief Hartanto/KIM Kertomandiri)




Filosofi Lumbung Mataraman: Petani Tempel Sleman Sukses Terapkan Kemandirian Pangan dan Ekonomi

Sleman — Konsep Lumbung Mataraman sebagai wujud kearifan lokal Yogyakarta dalam menjaga ketahanan pangan kini kembali dihidupkan secara nyata oleh masyarakat. Konsep ini merupakan sistem pertanian terpadu yang menyatukan sektor tanaman pangan, peternakan, perikanan, hingga pengembangan UMKM berbasis rumah tangga. Mengusung filosofi utama “nandur sing dipangan, mangan sing ditandur” atau menanam apa yang dimakan dan memakan apa yang ditanam, program ini terbukti ampuh memperkuat kedaulatan pangan tingkat desa.

Selain berfungsi sebagai lumbung hidup keluarga, penerapan Lumbung Mataraman di lapangan juga bertransformasi menjadi sarana edukasi, agrowisata, serta motor penggerak ekonomi lokal. Salah satu sosok yang konsisten menerapkan pola ini adalah Tri Supatno, seorang petani kreatif asal Dusun Domban, Mororejo, Tempel, Sleman. Di lahan miliknya, ia mengelola pembibitan padi, budidaya edamame, peternakan entok, hingga kolam lele secara terintegrasi.

Penerapan sistem ini membuat siklus panen di lahan Tri Supatno terjaga secara berkelanjutan. Ia mengungkapkan bahwa diversifikasi komoditas merupakan kunci agar pendapatan petani tidak hanya bergantung pada satu musim atau satu jenis tanaman saja. Dengan pengelolaan yang tepat, lahan yang terbatas sekalipun bisa memberikan hasil yang maksimal untuk mencukupi kebutuhan harian maupun pasar.

“Saya bisa memanen sayuran setiap hari, pepaya California setiap minggu, serta padi dan lele setiap dua sampai tiga bulan sekali. Untuk tanaman keras seperti mangga dan manggis, hasilnya bisa dinikmati setiap tahun. Dengan pola ini, ketersediaan pangan di rumah selalu aman dan sisanya menjadi nilai tambah ekonomi yang sangat berarti,” ujar Tri Supatno saat ditemui di kediamannya, Kamis (8/1/2026).

Tri Supatno juga dikenal sebagai petani yang cerdas dalam strategi pemasaran. Setiap pukul pagi, ia membawa hasil buminya ke kios kecil di Pasar Jalan Kaliurang. Untuk meningkatkan daya saing, ia mengemas produknya dalam ukuran kecil siap jual sehingga pembeli tidak perlu lagi menimbang atau menawar harga. Inovasi ini membuat dagangannya kerap ludes terjual bahkan sebelum pukul pagi.

Kreativitasnya tidak berhenti di komoditas sayur dan buah. Saat masa panen lele tiba, Tri Supatno melakukan proses nilai tambah dengan membersihkan dan mengemas ikan-ikan tersebut secara rapi. Hal ini memberikan kemudahan bagi pembeli, terutama ibu rumah tangga, karena ikan yang dibeli bisa langsung diolah tanpa repot. Strategi ini terbukti efektif meningkatkan efisiensi usaha dan kepuasan pelanggan.

“Kalau ada barang yang tersisa sedikit, saya biasanya tinggal saja di pasar. Tetangga sesama pedagang dengan sukarela membantu menjaga dan menjualkannya. Prinsip gotong royong ini membuat usaha jadi lebih ringan. Bagi saya, kenyamanan pembeli adalah nomor satu, itulah mengapa lele pun saya bersihkan dulu agar mereka praktis saat memasak di rumah,” tambahnya.

Pola kerja yang ditunjukkan oleh Tri Supatno membuktikan bahwa Lumbung Mataraman bukan sekadar wacana atau konsep teoretis. Praktik nyata di Dusun Domban ini menunjukkan bahwa kemandirian pangan, efisiensi usaha, dan kesejahteraan keluarga petani dapat tercapai melalui kerja keras yang dipadukan dengan manajemen yang cerdas dan kearifan lokal. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)




Siswa SDIT Alam Nurul Islam Perdalam Ilmu Pertanian Terpadu Lewat Program Magang Bakat di Joglo Tani

Sleman — SDIT Alam Nurul Islam yang berlokasi di Dusun Cambahan, Nogotirto, Gamping, Sleman, kembali menyelenggarakan program Magang Bakat sebagai upaya nyata membentuk karakter dan kemandirian siswa sejak dini. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari pada 6 hingga 8 Januari 2026 ini diikuti oleh siswa kelas 4, 5, dan 6 dengan pembagian zonasi magang yang disesuaikan dengan jenjang usia dan minat masing-masing siswa.

Sistem pelaksanaan magang dirancang secara berjenjang, di mana siswa kelas 4 melaksanakan kegiatan di lingkungan internal sekolah, siswa kelas 5 di area sekitar sekolah, dan siswa kelas 6 diberikan kebebasan penuh untuk magang di lokasi luar sekolah. Para siswa diperbolehkan menentukan bidang peminatan secara mandiri mulai dari pertanian, kuliner, manajemen toko, hingga jasa fotografi dan fotokopi sesuai dengan potensi bakat yang ingin mereka asah.

Pada hari terakhir pelaksanaan, Kamis (8/1/2026), empat siswa kelas 6 yakni Abrisan, Muh. Nasir, Faiq Afif, dan Alfan Nur Karim, memilih untuk mendalami sektor agribisnis di Joglo Tani, Margoluwih, Seyegan. Kawasan ini dikenal luas sebagai pusat pelatihan pertanian terpadu yang menjadi rujukan nasional. Di tempat ini, para siswa mempelajari konsep integrated farming yang mengintegrasikan sektor pertanian, perikanan, dan peternakan dalam satu ekosistem yang berkelanjutan.

Kegiatan harian dimulai sejak pukul WIB, di mana para siswa langsung terjun membersihkan kandang dan memberi makan ternak kambing serta unggas. Salah satu peserta magang, Abrisan, mengaku mendapatkan pengalaman berkesan karena dapat berinteraksi langsung dengan hewan ternak di lokasi tersebut.

“Saya sangat senang bisa ikut magang di Joglo Tani karena bisa belajar langsung cara memberi makan kambing dan ayam secara benar, bahkan saya berkesempatan memanen telur sendiri dari kandang. Pengalaman ini tidak saya dapatkan di dalam kelas,” ujar Abrisan dengan penuh semangat.

Tak hanya soal budidaya, para siswa juga dibekali pengetahuan mengenai pengelolaan limbah rumah tangga. Faiq Afif, peserta lainnya, mengaku baru menyadari bahwa sampah organik dari dapur memiliki nilai ekonomis sebagai pakan ternak. Menurutnya, pemanfaatan sisa makanan di rumah untuk pakan ayam dan ikan merupakan solusi cerdas agar sampah tidak terbuang percuma ke lingkungan.

Selama proses magang, mereka dibimbing langsung oleh praktisi senior, Suprapto dan Wahyu. Di sektor pertanian, para siswa diajarkan teknik membuat media tanam, memproduksi pupuk organik, hingga praktik membuat kecambah atau taoge dari biji kacang hijau. Alfan Nur Karim merasa antusias karena teknik pembuatan taoge yang diajarkan sangat sederhana dan bisa segera ia praktikkan secara mandiri di rumah maupun di sekolah.

Suprapto menjelaskan bahwa program Magang Bakat ini merupakan bentuk pembelajaran kontekstual yang sangat efektif bagi anak-anak. Melalui keterlibatan langsung, siswa tidak hanya menjadi penonton, tetapi pelaku yang merasakan proses dari awal hingga akhir. Hal ini dinilai mampu menumbuhkan rasa tanggung jawab, ketekunan, dan kemandirian yang sulit didapatkan hanya melalui teori di dalam kelas.

Guru SDIT Alam Nurul Islam, Budi Suprayitno, menegaskan bahwa sekolah memberikan dukungan penuh terhadap pilihan bidang yang diambil oleh para siswa. Sebelum terjun ke lokasi magang, pihak sekolah juga telah membekali siswa dengan pemahaman adab dan sopan santun saat berinteraksi dengan masyarakat maupun mitra magang. Langkah ini diambil agar siswa tidak hanya cerdas secara teknis, tetapi juga memiliki karakter yang santun.

“Magang bakat ini memberi gambaran nyata tentang kegiatan produktif sesuai minat anak masing-masing. Dari sini mereka belajar tentang nilai disiplin, kerja keras, dan cara menghargai sebuah proses dalam menghasilkan sesuatu. Setelah program ini selesai, setiap siswa diwajibkan menyusun jurnal magang dan mempresentasikannya di depan guru sebagai bentuk pertanggungjawaban,” jelas Budi Suprayitno saat dikonfirmasi. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Jaga Sejarah Lokal, Kalurahan Sumberagung Gelar Workshop Penulisan Toponimi 21 Padukuhan

Sleman – Pemerintah Kalurahan Sumberagung, Moyudan, Sleman, menunjukkan komitmennya dalam melestarikan sejarah lokal melalui penyelenggaraan Workshop Penulisan Toponimi. Kegiatan edukatif ini berlangsung pada Kamis (8/1/2026) bertempat di Aula Kalurahan Sumberagung dengan menghadirkan calon penulis perwakilan dari 21 padukuhan yang ada di wilayah tersebut.

Dalam sambutannya, Lurah Sumberagung, Duljiman, menekankan pentingnya pendokumentasian asal-usul wilayah sebagai warisan bagi generasi mendatang. Ia mengakui bahwa selama ini sejarah nama tempat atau toponimi di 21 padukuhan wilayahnya masih banyak yang belum tercatat secara resmi dalam bentuk buku.

“Setiap padukuhan di Sumberagung pasti memiliki sejarah asal-usulnya sendiri, namun sayangnya banyak yang belum terdokumentasi dengan baik. Maka mulai saat ini, kami berkomitmen untuk mendokumentasikannya dengan membuat buku toponimi padukuhan. Kami membekali para calon penulis melalui workshop ini agar hasilnya nanti berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah maupun budaya,” ujar Duljiman sebelum secara resmi membuka acara tersebut.

Workshop ini menghadirkan tiga narasumber kompeten dari Paguyuban Sastra Budaya Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi Kabupaten Sleman. Pemateri pertama, Sutopo Sugiharto yang merupakan Ketua Pasbuja Kawi Merapi sekaligus redaktur Kedaulatan Rakyat, memaparkan materi mengenai teknis menulis. Ia menjelaskan secara mendalam bahwa toponimi bukan sekadar nama, melainkan ilmu yang mempelajari makna dan sejarah sebuah tempat.

“Toponimi berasal dari bahasa Yunani, yaitu topos yang berarti tempat dan onyma yang berarti nama. Dalam penulisannya, kita harus sangat memperhatikan penggunaan ejaan yang benar, tanda baca, spasi, hingga penulisan huruf kapital yang tepat. Hal yang tidak kalah penting adalah penulisan nama tempat dalam bahasa lokal harus sesuai dengan ortografi aslinya, contohnya penulisan Yogyakarta, bukan Jogjakarta,” jelas Sutopo Sugiharto kepada para peserta.

Materi kedua mengenai teknik wawancara disampaikan oleh penulis senior Budi Sarjono. Ia menegaskan bahwa akurasi data dalam penulisan sejarah sangat bergantung pada kualitas wawancara dengan narasumber. Budi merinci empat langkah utama dalam wawancara, yakni riset persiapan, membangun kenyamanan narasumber, mengajukan pertanyaan ringan, hingga menjadi pendengar yang aktif.

“Mulailah dengan pertanyaan yang ringan dan mudah agar narasumber merasa nyaman. Sebagai peneliti, kita tidak boleh protes atau membantah pernyataan responden karena hal itu bisa menyebabkan kegagalan dalam memperoleh materi yang akurat. Catat semua jawaban dengan detail dan ajukan pertanyaan spesifik untuk menggali informasi yang lebih mendalam,” tutur Budi Sarjono.

Sementara itu, pemateri ketiga, Achyadi, berbagi pengalaman praktis dalam mengulik sejarah padukuhan. Ia menekankan bahwa tantangan terbesar dalam menulis toponimi adalah menemukan narasumber yang benar-benar memahami sejarah masa lalu secara valid. Achyadi menyarankan para penulis untuk melakukan pendekatan personal dan membuat janji temu langsung agar proses penggalian data lebih maksimal.

Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kalurahan Sumberagung berharap naskah toponimi dari 21 padukuhan dapat segera rampung dan menjadi referensi sejarah yang otentik bagi masyarakat luas. Workshop ini diharapkan menjadi langkah awal terciptanya karya literasi yang memperkuat identitas budaya lokal di Kabupaten Sleman. (Giek/KIM Moyudan)