Sutarto Agus Raharjo dan Ikhtiar Panjang Membenahi Hulu Persampahan di Sleman

Sleman — Persoalan sampah di Kabupaten Sleman telah lama melampaui batas isu teknis dan menjelma menjadi tantangan sosial serta kultural yang menuntut perubahan cara pandang masyarakat. Di tengah kompleksitas tersebut, seorang bernama Sutarto Agus Raharjo memilih mengambil peran yang jarang dilirik orang, yakni bekerja di tingkat paling dasar untuk membenahi perilaku rumah tangga sebagai hulu utama persoalan sampah.
Pria berusia 60 tahun ini memandang sampah bukan sekadar sisa konsumsi, melainkan cermin relasi manusia dengan lingkungannya. Berbekal latar belakang pendidikan dari UPN Veteran Yogyakarta dan Universitas Gadjah Mada, Sutarto membawa teori akademik langsung ke ruang sosial. Ia menyadari bahwa sistem angkut-buang konvensional tidak lagi relevan dan sampah rumah tangga tidak bisa terus-menerus diserahkan sepenuhnya kepada tempat pembuangan akhir.
“Masalah sampah adalah masalah perubahan perilaku. Tidak cukup diselesaikan hanya dengan sosialisasi atau penyediaan sarana prasarana. Yang paling krusial adalah pendampingan masyarakat secara konsisten untuk mengubah kebiasaan lama menjadi budaya baru,” ujar Sutarto di Perumahan Puri Margomulyo Asri, Jamblangan, Margomulyo, Seyegan, pada Minggu (11/1/2026).
Langkah awal Sutarto dimulai sebagai relawan penyuluh di tingkat RT, RW, hingga padukuhan di lingkungan terdekatnya. Ia tidak membangun forum baru, melainkan memanfaatkan ruang-ruang yang sudah dipercaya warga seperti pertemuan dasa wisma, kelompok tani, dan forum warga lainnya. Pendekatan ini membuat edukasi pengelolaan sampah tidak terasa seperti instruksi pemerintah, melainkan diskusi warga yang membumi.
Dalam praktiknya, Sutarto mengakui bahwa mengajak warga memilah sampah organik, anorganik, dan residu adalah proses rekayasa sosial yang menantang. Setiap wilayah memiliki karakter sosial dan tingkat pendidikan yang berbeda, sehingga metode pendampingan harus disesuaikan. Ia menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah di sumbernya membutuhkan kesabaran luar biasa karena tidak bisa terjadi secara instan.
“Ini bukan pekerjaan instan yang hasilnya bisa dilihat dalam satu malam. Perubahan perilaku tidak bisa bim salabim, butuh waktu panjang dan konsistensi. Saya memulai dari lingkungan terkecil agar pesan ini bisa benar-benar meresap ke dalam aktivitas harian warga,” tuturnya.
Kiprah Sutarto kian meluas dengan keterlibatannya sebagai fasilitator program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang diinisiasi puskesmas. Selain itu, ia tercatat sebagai pengurus Jejaring Pengelolaan Sampah Mandiri (JPSM) Kabupaten Sleman selama tiga periode. Sejak 2014, ia juga memimpin gerakan Sedekah Sampah Margo Lestari di Margomulyo, sebuah inisiatif yang memadukan pengelolaan lingkungan dengan nilai-nilai sosial.
“Melalui sedekah sampah, warga tidak hanya belajar memilah dan mengelola, tetapi juga merasakan manfaat ekonomi dan sosial secara langsung. Perubahan perilaku tersebut akhirnya memberikan dampak positif bagi kas warga yang bisa digunakan untuk kepentingan sosial bersama,” tegas Sutarto.
Sutarto mendorong adanya regulasi pemerintah yang tegas terkait pemilahan sampah di sumber, termasuk memastikan bahwa sampah yang masuk ke tempat pengolahan akhir hanya berupa residu. Menurutnya, kolaborasi antara kelembagaan masyarakat yang kuat, pemimpin yang berkomitmen, serta dukungan kebijakan pemerintah adalah kunci utama penyelesaian masalah sampah.
Ia meyakini bahwa sampah akan selalu menjadi bagian dari peradaban manusia, sehingga membangun tanggung jawab kolektif adalah hal yang mutlak. Ia menitipkan pesan kepada generasi muda agar melihat pengelolaan sampah sebagai ruang inovasi dan kreativitas demi masa depan bumi yang lebih baik.
“Kita semua adalah produsen sampah setiap harinya. Maka dari itu, secara moral kita harus bertanggung jawab atas apa yang kita hasilkan sendiri. Merawat lingkungan adalah tanggung jawab etis manusia demi keberlanjutan masa depan bersama,” pungkasnya (Athiful/KIM Depok).



