Padukan Demokrasi dan Gaya Hidup Sehat, RW 47 Kentungan Gelar Pemilihan Ketua RT dan RW Baru

Sleman — Warga RW 47 Kentungan, Condongcatur, tumpah ruah mengikuti acara bertajuk “Gebyar Sehat RW 47” pada Minggu (4/1/2026). Inisiatif unik ini menggabungkan semangat pola hidup sehat dengan pesta demokrasi tingkat lokal yang dipusatkan di Gedung Serbaguna Kentungan, Depok, Sleman. Momentum ini menjadi sangat penting bagi warga karena bertujuan menentukan nakhoda baru untuk masa bakti periode 2026-2031.

Rangkaian acara dimulai sejak pukul WIB dengan memanfaatkan udara pagi yang segar untuk melakukan senam sehat bersama. Kehangatan suasana semakin terasa usai olahraga, di mana warga menikmati sarapan bersama dengan menu khas “Soto Seger 47”. Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh masyarakat, termasuk Lurah Condongcatur yang juga merupakan warga asli RW 47 Kentungan.

Tepat pukul WIB, agenda beralih ke proses pemungutan suara. Ketua Panitia, Suradiyanto, menjelaskan bahwa pemilihan menggunakan sistem penulisan nama secara langsung untuk memastikan transparansi dan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat. Panitia pelaksana yang terdiri dari muda-mudi serta pengurus lama menyiapkan tempat pemungutan suara (TPS) dengan tiga kotak suara yang dibedakan berdasarkan warna: hijau untuk Ketua RW 47, kuning untuk Ketua RT 01, dan merah untuk Ketua RT 02.

“Semua warga memiliki hak yang sama untuk memilih dan dipilih. Hal ini bertujuan memberikan edukasi politik serta menciptakan demokrasi yang murni dari warga, oleh warga, dan untuk warga. Kami ingin proses peralihan kepemimpinan di tingkat lingkungan ini berjalan dengan penuh kegembiraan,” ujar Suradiyanto di sela-sela pemungutan suara.

Berdasarkan hasil perhitungan suara yang berakhir pada pukul WIB, Suradiyanto terpilih sebagai Ketua RW 47 dengan raihan 75 suara. Sementara itu, posisi Ketua RT 01 dimenangkan oleh Hari Purwanto dengan 33 suara, dan Agus Purwadi terpilih sebagai Ketua RT 02 setelah memperoleh 48 suara. Proses perhitungan tersebut disaksikan langsung oleh jajaran tokoh masyarakat dan Dukuh Kentungan.

Dukuh Kentungan, Suhartini, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari edaran Pemerintah Kalurahan Condongcatur mengenai peremajaan pengurus RT dan RW. Ia menekankan bahwa hasil pemilihan ini bersifat final sebagai representasi keinginan masyarakat setempat.

“Kami berharap siapa pun yang telah dipilih oleh warga tidak mengundurkan diri karena posisi ini merupakan amanah dan kehendak masyarakat. Untuk pemberkasan dokumen pengurus baru, kami harap segera dilengkapi dan diserahkan ke Kalurahan Condongcatur maksimal pada tanggal 15 Januari 2026 mendatang,” tegas Suhartini dalam sambutannya.

Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji, yang hadir memberikan hak pilihnya, turut memberikan apresiasi tinggi atas kerukunan warga RW 47. Ia menilai strategi panitia dalam menarik minat warga melalui penyediaan doorprize dan sarapan bareng sangat efektif dalam meningkatkan partisipasi politik di tingkat akar rumput.

“Tingginya partisipasi warga dalam mensukseskan pemilihan ini tidak hanya didorong oleh kesadaran berdemokrasi yang sudah baik, tetapi juga tidak lepas dari kreativitas panitia dalam mengemas acara. Semoga hasil pilihan langsung ini dapat menjadi modal dan semangat bagi pengurus baru dalam mengemban tugas melayani masyarakat ke depannya,” tutur Reno Candra Sangaji. (Wasana/KIM Depok).




Senam Sehat PKK Dusun Ngentak Jadi Sarana Jaga Kebugaran dan Kebersamaan Warga

Sleman — Dusun Ngentak memiliki kegiatan rutin yang kini menjadi favorit bagi para ibu anggota Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Kegiatan tersebut adalah Senam Sehat PKK Dusun Ngentak bertajuk Jelita, sebuah program dari Pokja II yang digelar secara konsisten setiap Minggu pagi seperti yang terlihat pada Minggu (4/1/2026).

Kegiatan senam ini dilaksanakan mulai pukul hingga WIB dengan mengambil lokasi di halaman Pendopo Masjid Shirothol Mustaqim Ngentak. Sejak pagi hari, para peserta sudah berdatangan dengan mengenakan pakaian olahraga dan penuh semangat mengikuti gerakan demi gerakan yang dipandu oleh instruktur profesional.

Salah satu pengurus PKK Dusun Ngentak, Eni Sulistyowati, menjelaskan bahwa kegiatan Senam Jelita ini diikuti oleh anggota dari berbagai kelompok usia. Jenis senam yang diberikan pun sangat beragam agar dapat menjangkau semua peserta, mulai dari senam lansia hingga senam bugar dengan gerakan ringan yang disesuaikan dengan kemampuan fisik masing-masing.

“Pesertanya adalah ibu-ibu PKK dengan jenis senam yang bervariasi, mulai dari senam lansia, senam bugar, dan gerakan ringan lainnya. Senam ini memang dirancang agar bisa diikuti semua kalangan, baik yang masih aktif maupun yang sudah lanjut usia. Gerakannya sederhana namun tetap memberikan manfaat besar bagi kesehatan tubuh,” ujar Eni Sulistyowati di sela-sela kegiatan.

Tujuan utama dari kegiatan ini tidak hanya sekadar berolahraga untuk menjaga keimbangan dan kekuatan tubuh, tetapi juga sebagai sarana relaksasi mental. Senam dipercaya dapat membantu mengurangi stres setelah menjalani rutinitas harian yang padat sebagai ibu rumah tangga. Dengan iringan musik yang ceria, suasana senam pun terasa lebih menyenangkan dan menjadi ajang interaksi sosial yang hangat.

Instruktur senam, Lilis, memandu jalannya kegiatan dengan penuh kesabaran untuk memastikan setiap gerakan dilakukan secara aman dan benar. Ia menekankan bahwa poin utama dari senam ini adalah kegembiraan para peserta saat menggerakkan badan secara bersama-sama.

“Yang penting ibu-ibu di sini senang, mau bergerak, dan pada akhirnya menjadi sehat. Kami memastikan intensitas gerakannya pas untuk kelompok usia mereka sehingga semua merasa nyaman selama sesi senam berlangsung,” kata Lilis.

Ketua PKK Dusun Ngentak, Sri Widayati, menyampaikan harapannya agar program Senam Jelita ini dapat terus berjalan secara berkelanjutan dan bertransformasi menjadi budaya hidup sehat bagi seluruh warga. Ia menegaskan bahwa kekompakan antarwarga dapat terpupuk dengan baik melalui kegiatan positif yang dilakukan secara rutin di ruang publik.

“Melalui senam rutin ini, kita tidak hanya menjaga kesehatan fisik secara mandiri, tetapi juga secara kolektif menjaga kebersamaan dan kekompakan warga di Dusun Ngentak agar tetap solid,” tutur Sri Widayati. (Arief Hartanto/KIM Kertomandiri Turi)




Jaga Tradisi dan Kebersihan, Warga Sombangan Gotong Royong Bersihkan Makam Setiap Ahad Legi

Sleman – Warga Sombangan kembali menunjukkan kekompakan dan kepedulian terhadap lingkungan dengan menggelar kegiatan gotong royong membersihkan makam pada Minggu (4/1/2026). Aksi bersih-bersih makam yang bertepatan dengan awal tahun 2026 ini merupakan agenda rutin yang dilakukan masyarakat setempat setiap hari Ahad Legi guna menjaga area pemakaman tetap rapi dan terawat.

Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hari tersebut kental dengan suasana kekeluargaan. Warga dari berbagai usia bahu-membahu membersihkan rumput liar, merapikan nisan, serta menata area sekitar makam. Budaya gotong royong yang menjadi ciri khas bangsa ini masih terjaga erat di tengah dinamika zaman yang terus berubah.

Dukuh Sombangan, Agus Sartono, memberikan apresiasi tinggi kepada warganya yang tetap konsisten menjaga tradisi kerja bakti ini. Menurutnya, kegiatan kolektif seperti ini tidak hanya memberikan manfaat bagi kebersihan lingkungan, tetapi juga menjadi sarana untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga.

“Kami sangat bangga dengan antusiasme warga. Semoga kegiatan gotong royong semacam ini tetap lestari walau era telah berubah. Dengan bekerja bersama-sama, semua pekerjaan yang berat akan menjadi ringan. Jika dilakukan sendiri-sendiri, mungkin warga hanya membersihkan area makam leluhurnya saja, tetapi karena dikerjakan kolektif, seluruh area makam menjadi bersih total,” ujar Agus Sartono di sela kegiatan.

Ketua 2 Pengurus Makam Sombangan, Sugito, menjelaskan bahwa pertumbuhan rumput liar atau gulma memang sangat cepat, terutama saat memasuki musim penghujan. Meskipun sebelumnya pengelola telah melakukan upaya penyemprotan obat rumput, pembersihan secara fisik tetap diperlukan agar hasil yang didapat lebih maksimal dan estetis.

“Walau sudah disemprot obat rumput, namun tetap saja tumbuh subur karena faktor cuaca musim hujan. Insyaallah, sebelum memasuki bulan Ramadhan nanti, kami akan menggelar gotong royong sekali lagi yang sekaligus dibarengi dengan tradisi Ruwahan untuk mendoakan para leluhur,” kata Sugito menjelaskan rencana kegiatan berikutnya.

Selain masalah kebersihan, pengurus makam juga tengah fokus pada pengembangan infrastruktur area pemakaman. Bendahara Makam, Gustam Andre Yanto, mengungkapkan bahwa saat ini pengelola baru saja menyelesaikan pembangunan talud dengan biaya swadaya masyarakat sebesar 14,5 juta rupiah. Namun, masih terdapat rencana pembangunan gudang inventaris dan pengecoran jalan makam yang membutuhkan dukungan dana tambahan.

“Kami masih memerlukan biaya untuk merampungkan gudang dan cor blok jalan agar akses warga saat berziarah lebih nyaman. Kami sangat berharap bantuan dari seluruh ahli waris, terutama warga Sombangan yang belum sempat berkontribusi pada pembangunan kemarin. Sesuai kesepakatan bersama, kami mengajak setiap kepala keluarga untuk memberikan bantuan minimal 100 ribu rupiah guna mewujudkan fasilitas makam yang lebih representatif,” pungkas Gustam Andre Yanto. (Giek/KIM Moyudan).




Pemerintah Kalurahan Lumbungrejo Bersama BPBD dan DPUP Tangani Retakan Tanah di Kromodangsan

Sleman – Pemerintah Kalurahan Lumbungrejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, bergerak cepat menindaklanjuti laporan warga terkait adanya pergerakan atau retakan tanah pada tebing di wilayah RT 03 Kromodangsan pada Minggu pagi (4/1/2026). Langkah antisipatif ini dilakukan secara intensif guna meminimalkan potensi bahaya bagi permukiman warga yang berada tepat di bawah lokasi retakan tersebut.

Penanganan di lapangan dilakukan secara terpadu dengan melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kabupaten Sleman, Relawan Desa Tangguh Bencana (Destana), serta warga setempat. Hingga berita ini diturunkan, proses stabilisasi tebing masih terus berlangsung dengan dukungan alat berat dari DPUP Kabupaten Sleman untuk meratakan titik-titik rawan longsor.

Lurah Lumbungrejo, Misbah Al Hakim, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan respons darurat sekaligus bentuk mitigasi bencana untuk mencegah terjadinya longsor secara mendadak. Ia menegaskan bahwa keselamatan warga menjadi prioritas utama pemerintah kalurahan dalam menyikapi fenomena alam di wilayahnya.

“Kami langsung menindaklanjuti laporan warga dengan berkoordinasi bersama BPBD, DPUP, relawan Destana, dan masyarakat. Upaya ini dilakukan agar retakan tanah tidak berkembang semakin luas dan membahayakan permukiman warga di bawahnya. Sinergi lintas sektor seperti ini menjadi kunci utama dalam penanganan potensi bencana di wilayah rawan, terutama saat kondisi cuaca tidak menentu seperti saat ini,” ujar Misbah Al Hakim di lokasi penanganan.

Ketua RT 03 Kromodangsan, Sariyono, turut menyampaikan apresiasi atas tindakan cepat yang diambil oleh Pemerintah Kalurahan Lumbungrejo dan instansi terkait. Menurutnya, respons yang diberikan memberikan ketenangan psikologis bagi warga sekitar yang selama ini merasa was-was dengan kondisi tebing tersebut.

“Kami mengapresiasi langkah cepat dari Pemkal Lumbungrejo bersama BPBD, DPUP, relawan Destana, dan warga. Penanganan ini sangat membantu dan memberikan rasa aman yang nyata bagi masyarakat yang tinggal di bawah tebing. Kami melihat petugas sangat serius bekerja agar potensi ancaman longsor ini benar-benar dapat diminimalkan sebelum hujan deras kembali turun,” kata Sariyono.

Pemerintah Kalurahan Lumbungrejo kembali mengimbau seluruh masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi lingkungan sekitar. Warga diminta untuk segera melapor melalui kanal komunikasi yang tersedia apabila menemukan tanda-tanda awal pergerakan tanah, seperti munculnya retakan baru atau pohon yang mulai miring, agar langkah mitigasi dapat segera dilakukan. (SBD/KIM Senyum Tempel)




Pilar Pendidikan Sebagai Sarana Mencetak SDM Unggul dan Berkarakter di Sleman

Sleman – SD Muhammadiyah Sangonan 2 dan TK ABA Jowah yang berlokasi di Padukuhan Jowah, Sidoluhur, Godean, Sleman, merayakan momentum bersejarah dalam perjalanan dunia pendidikan. Pada tahun ini, SD Muhammadiyah Sangonan 2 resmi menginjak usia 60 tahun, sementara TK ABA Jowah memasuki usia ke-59. Peringatan hari lahir atau milad kedua lembaga pendidikan ini digelar secara meriah pada Sabtu (3/1/2026) di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Gumuk Sikuneng, Pandean V, Sidoluhur.

Rangkaian acara milad tersebut dimeriahkan dengan berbagai kegiatan produktif, mulai dari jalan sehat, aksi bakti sosial, hingga panggung kreativitas seni yang menampilkan bakat para siswa. Puncak acara dihadiri langsung oleh Bupati Sleman Harda Kiswaya bersama sejumlah tokoh masyarakat, pimpinan cabang Muhammadiyah, dan wali murid yang antusias mengikuti jalannya resepsi.

Ketua Panitia Milad, Maryanti, menjelaskan bahwa peringatan tahun ini mengusung tema “Bersatu Dalam Harmoni, Cemerlang Dalam Prestasi”. Tema tersebut merupakan representasi dari tekad kuat lembaga untuk mencetak generasi bangsa yang cerdas dan memiliki karakter kuat. Menurutnya, sebagai lembaga di bawah naungan Muhammadiyah, fokus utama pendidikan tidak hanya pada aspek akademik, tetapi juga penanaman nilai-nilai Islami dan jiwa Pancasila.

“TK merupakan gerbang awal untuk memulai proses pencerdasan dan pembentukan akhlak anak, sedangkan SD menjadi wadah bagi pengembangan potensi siswa secara holistik. Keberhasilan pendidikan harus didukung oleh seluruh pilar, mulai dari pemerintah, sekolah, orang tua, hingga komite. Sinergitas dari pilar-pilar pendidikan tersebut akan melahirkan generasi unggul yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga berkarakter kuat dan siap berkontribusi nyata bagi bangsa,” ujar Maryanti.

Senada dengan hal tersebut, Kepala SD Muhammadiyah Sangonan 2, Noor Nisa Girsang, mengungkapkan bahwa saat ini sekolah yang dipimpinnya mengelola enam kelas dengan total 128 siswa serta didukung oleh 15 tenaga pendidik. Berita membanggakan muncul seiring dengan keluarnya izin dari Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman yang memperbolehkan sekolah untuk menambah rombongan belajar. Dengan demikian, mulai tahun pelajaran 2026/2027 mendatang, sekolah ini akan mulai menerapkan sistem kelas paralel untuk kelas satu.

“Tentu konsekuensi dari penambahan kelas ini adalah kebutuhan akan ruang kelas baru. Melalui momentum milad ini, kami membuka ruang bagi para alumni dan tokoh masyarakat untuk berkontribusi melalui donasi pembangunan. Kami sangat bersyukur karena Bapak Bupati Harda Kiswaya telah menyatakan dukungannya secara penuh, baik secara moril maupun materiil. Pernyataan dukungan dari pimpinan daerah ini menjadi modal semangat yang sangat besar bagi kami semua untuk terus berkembang,” tutur Noor Nisa Girsang. (Giek/KIM Moyudan)