Cek Kesehatan Gratis di Tingkat Desa, Model Layanan Preventif yang Layak Ditiru

Sleman — Upaya memperkuat layanan kesehatan berbasis komunitas kembali mendapat contoh konkret di wilayah Sleman. Puskesdes Enggal Syaras, Kalurahan Margorejo, Tempel, menggelar layanan cek kesehatan gratis bagi warga pada Rabu (7/1/2026). Program ini tidak hanya menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, tetapi juga memperlihatkan bagaimana layanan preventif di tingkat lokal dapat menjadi fondasi kesehatan publik yang lebih luas.

Dalam kegiatan tersebut, warga memperoleh pemeriksaan sederhana namun krusial, meliputi pengukuran berat badan, tekanan darah, gula darah, hingga kadar asam urat. Layanan ini menyasar deteksi dini faktor risiko penyakit tidak menular, seperti hipertensi dan diabetes, yang kini menjadi tantangan kesehatan serius di berbagai daerah di Indonesia. Pendekatan ini diharapkan mampu meminimalkan risiko komplikasi kesehatan di masa mendatang melalui penanganan yang lebih cepat.

Pelayanan kesehatan ini didukung oleh tenaga kesehatan profesional dan kader setempat secara terpadu. Bidan desa Farida Nuraini bersama Bidan Wahyuni dari Puskesmas Tempel 1 bahu-membahu dengan kader kesehatan Sugiyati dan Suharni dalam melayani warga. Kolaborasi ini memastikan layanan berjalan tertib, ramah, dan sangat mudah diakses oleh warga dari berbagai kelompok usia, mulai dari usia produktif hingga lansia.

Bidan desa Farida Nuraini menjelaskan bahwa pemeriksaan rutin di tingkat desa merupakan pintu masuk utama untuk membangun kesadaran masyarakat tentang kondisi tubuhnya sendiri. Menurutnya, banyak warga yang baru menyadari adanya masalah kesehatan setelah mengikuti pemeriksaan gratis tersebut.

“Pemeriksaan sederhana sering kali menjadi pintu masuk kesadaran masyarakat tentang kondisi tubuhnya. Dari sini, warga bisa lebih cepat mengambil langkah, baik dengan cara mengubah pola hidup maupun melakukan konsultasi lanjutan ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap. Pendekatan jemput bola seperti ini sangat efektif menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini kerap menunda pemeriksaan rutin karena kendala jarak atau waktu,” ujar Farida Nuraini di sela-sela pelayanan.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh jajaran Pemerintah Kalurahan Margorejo. Kamituwa Anwar Insani, yang hadir mewakili Lurah Margorejo, menyampaikan apresiasi mendalam atas kerja keras tenaga kesehatan dan para kader. Ia menegaskan bahwa kesehatan warga adalah prasyarat utama bagi keberhasilan pembangunan desa yang berkelanjutan secara jangka panjang.

“Program seperti ini menunjukkan bahwa pelayanan publik tidak harus menunggu orang sakit. Kami terus mendorong pendekatan promotif dan preventif agar masyarakat Margorejo semakin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan sejak dini sebagai investasi masa depan,” tutur Anwar Insani dalam sambutannya.

Sejalan dengan hal itu, Bidan Wahyuni dari Puskesmas Tempel 1 menekankan pentingnya kemitraan antara tenaga medis dan kader desa. Ia menilai kader merupakan ujung tombak yang paling mengenal karakteristik dan kebiasaan warga lokal secara mendalam. Sementara itu, salah satu kader kesehatan, Sugiyati, mengungkapkan bahwa antusiasme warga yang tinggi menjadi bukti bahwa layanan kesehatan berbasis komunitas sangat dibutuhkan dan memberikan dampak edukasi yang langsung dirasakan oleh masyarakat. (SBD/KIM Senyum Tempel).




Kader Bina Keluarga Lansia Konsolidasikan Gerakan Pendampingan Berbasis Komunitas

Sleman – Upaya untuk memperkuat kualitas hidup para lanjut usia terus digerakkan secara masif mulai dari tingkat komunitas terkecil. Pada Selasa (6/1/2026), kader Bina Keluarga Lansia (BKL) dari RT 01 hingga RT 04 Padukuhan Ngentak, Kalurahan Pondokrejo, Tempel, Sleman, menggelar pertemuan koordinasi intensif. Agenda ini menjadi bagian penting dari penguatan pendampingan lansia yang berbasis pada ketahanan keluarga dan lingkungan.

Kegiatan yang dimulai sejak pukul WIB tersebut mempertemukan para penggerak dalam forum BKL Cemara Ngentak Pondokrejo. Bertempat di salah satu rumah kader di RT 04, pertemuan ini tidak sekadar menjadi agenda rutin, melainkan ruang konsolidasi strategis untuk merespons berbagai tantangan nyata yang dihadapi para lansia di tingkat masyarakat saat ini.

Dalam diskusi yang berlangsung hangat, para kader membahas berbagai isu krusial mulai dari pendampingan kesehatan dasar, pencegahan isolasi sosial pada lansia, hingga penguatan peran keluarga sebagai sistem pendukung utama. Forum ini juga dimanfaatkan untuk saling berbagi praktik baik mengenai kegiatan sederhana yang mampu menjaga lansia tetap aktif, mandiri, dan merasa dihargai di lingkungan sekitarnya.

Koordinator BKL Cemara Ngentak, Jamiyatun Mufidah, menegaskan bahwa keberhasilan program BKL sangat ditentukan oleh soliditas para kader di lapangan. Menurutnya, kerja keras para kader di lingkup terkecil memiliki dampak yang signifikan terhadap kesejahteraan warga senior secara keseluruhan.

“Kita bekerja dari lingkup kecil, tetapi dampaknya sangat besar. Dengan koordinasi yang baik antar-RT, pendampingan kepada lansia bisa lebih merata dan berkelanjutan. Kader hadir bukan sebagai pengganti keluarga, melainkan sebagai penguat yang menghubungkan keluarga, lingkungan, serta program pemerintah agar lansia tetap terjaga kualitas hidupnya secara fisik maupun mental,” ujar Jamiyatun Mufidah.

Ia menambahkan bahwa tantangan pendampingan lansia saat ini tidak hanya berkaitan dengan aspek kesehatan fisik, tetapi juga aspek psikososial. Banyak lansia yang membutuhkan ruang interaksi dan perhatian lebih agar mereka tetap merasa bermakna dalam kehidupan bermasyarakat. Jamiyatun menyebut forum seperti ini sangat penting untuk menjaga semangat para relawan yang sering kali bekerja dengan keterbatasan sumber daya namun memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan warga.

“Dari pertemuan ini, kami saling belajar tentang langkah-langkah sederhana namun berdampak, seperti kunjungan rutin, kegiatan bersama, dan mendorong keluarga agar lebih aktif mendampingi orang tua mereka. Budaya peduli lansia ini harus terus kita pupuk agar menjadi nilai kebersamaan lintas generasi,” tambahnya.

Program Bina Keluarga Lansia (BKL) merupakan bagian dari agenda nasional untuk memperkuat ketahanan keluarga di tengah meningkatnya tren penduduk usia lanjut di Indonesia. Pendekatan berbasis komunitas dipandang sangat strategis karena memungkinkan pendampingan yang lebih personal dan adaptif terhadap kondisi sosial setempat. Inisiatif dari tingkat warga di Ngentak Pondokrejo ini diharapkan mampu menjadi fondasi penting bagi terciptanya lingkungan yang lebih ramah lansia di berbagai daerah lainnya. (SBD/KIM Senyum Tempel)




Layanan Perpanjangan STNK Lima Tahunan di Sleman Kini Bisa Cetak Plat Nomor Langsung Jadi

Sleman — Mengawali tahun 2026, Samsat Sleman melakukan gebrakan inovasi untuk mempermudah masyarakat dalam mengurus perpanjangan STNK lima tahunan. Melalui program Sistem Jemput Lima Tahunan atau “Si Jelita” yang rutin digelar setiap Selasa pertama awal bulan di Kalurahan Condongcatur, kini warga bisa mendapatkan plat nomor kendaraan atau Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB) pada hari yang sama.

Layanan perdana dengan sistem cetak langsung ini mulai diberlakukan pada Selasa (6/1/2026). Inovasi tersebut didukung oleh peluncuran dua armada kendaraan Samsat Keliling baru hasil sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Sleman, yakni jenis Toyota Hiace dan kendaraan bak terbuka yang telah dimodifikasi khusus untuk menunjang operasional di lapangan.

Kepala Seksi Pembukuan dan Penagihan Samsat Sleman, Ekho Adhi Wahyu, menjelaskan bahwa layanan ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi waktu bagi para wajib pajak. Penyerahan plat nomor secara simbolis dilakukan bersama petugas Satlantas Polresta Sleman dan perwakilan Jasa Raharja di lokasi pelayanan.

“Hari ini secara perdana kami mencoba sistem di mana plat nomor kendaraan langsung dicetak dan diberikan kepada pemohon layanan pajak lima tahunan di Kalurahan Condongcatur. Usai melakukan proses cek fisik kendaraan dan penyelesaian administrasi pembayaran, plat langsung tersedia. Tujuan utama kami adalah memberikan pelayanan terbaik agar warga tidak perlu lagi menunggu hingga minggu berikutnya untuk mengambil plat nomor,” ujar Ekho Adhi Wahyu.

Sebelum inovasi ini diterapkan, masyarakat yang memanfaatkan layanan jemput bola biasanya harus menunggu plat nomor selesai dicetak dan baru bisa mengambilnya pada jadwal layanan di minggu selanjutnya. Dengan adanya armada baru yang dilengkapi mesin cetak TNKB portabel, kendala waktu tersebut kini dapat teratasi.

Ekho Adhi Wahyu menambahkan bahwa Samsat Sleman terus berkomitmen mendekatkan layanan kepada warga melalui berbagai program jemput bola lainnya. Selain Si Jelita, tersedia pula layanan Samsat On Call serta program “Jejaka” atau Jemput Pajak Anda yang diperuntukkan bagi kelompok masyarakat dengan minimal kolektif lima hingga sepuluh kendaraan.

“Kami ingin memastikan warga di tingkat kalurahan mendapatkan akses pajak yang mudah. Masyarakat cukup menyiapkan persyaratan standar seperti KTP asli, STNK, BPKB, serta menghadirkan kendaraan untuk cek fisik. Untuk kenyamanan, kami juga menyediakan berbagai pilihan pembayaran digital melalui aplikasi SIGNAL, BPD DIY Mobile, Tokopedia, Gopay, hingga jaringan gerai Indomaret,” pungkas Ekho Adhi Wahyu. (Wasana/KIM Depok).




Menghitung Langkah Menuju Masjid, Rahmat Sang Muadzin Tuna Netra yang Setia Kumandangkan Azan

Sleman — Sosok Rahmat sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadi aktivitas Masjid Al Kautsar di Dusun Mrincingan, Margomulyo, Seyegan, Sleman. Setiap hari, suara merdunya mengumandangkan azan yang selalu dinanti oleh para jemaah. Tak banyak yang menyangka bahwa pria berusia 48 tahun yang memiliki nama lengkap Rahmat Choirul Anam ini adalah seorang penyandang disabilitas tuna netra.

Dengan berjalan kaki seorang diri dari rumahnya yang berjarak sekitar 350 meter dari masjid, Rahmat menjadikan setiap langkah kakinya sebagai bentuk pengabdian ibadah. Ia dikenal sangat disiplin dan selalu datang tepat waktu, bahkan sering kali sudah berada di serambi masjid setengah jam sebelum waktu salat tiba. Kedisiplinannya ini menjadi teladan bagi warga sekitar yang melihat kegigihannya dalam menjemput waktu salat.

“Saya sengaja berangkat lebih awal dari rumah supaya tidak terlambat dan punya waktu untuk menenangkan hati serta berdoa secara pribadi sebelum mengumandangkan azan,” ujar Rahmat saat ditemui di kediamannya pada Senin (5/1/2026).

Kegigihan Rahmat semakin terlihat saat waktu Subuh tiba. Sejak pukul dini hari, ia biasanya sudah berada di masjid untuk melakukan berbagai aktivitas, mulai dari membersihkan lantai, mencuci gelas-gelas kotor, hingga melaksanakan salat sunnah di keheningan malam sebelum mengumandangkan azan awal. Baginya, masjid adalah rumah kedua yang harus selalu dijaga kebersihan dan kesuciannya.

“Kalau waktu Subuh, saya merasa memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Saya ingin memastikan kondisi masjid sudah bersih dan rapi sehingga jemaah merasa nyaman, serta memastikan warga sekitar terbangun untuk menunaikan kewajiban,” katanya dengan nada penuh semangat.

Rahmat menceritakan bahwa ia kehilangan penglihatan sejak duduk di kelas 2 Sekolah Dasar akibat kecelakaan ledakan mercon saat bermain bersama teman sebaya. Peristiwa kelam itu sempat membuatnya terpukul dan merasa masa depannya sirna. Namun, titik balik hidupnya terjadi saat usia 13 tahun ketika ia bertemu dengan seorang tokoh yang membimbingnya untuk belajar ilmu pijat dan kemandirian hidup.

Sejak tahun 2009, Rahmat menetap di Sleman, tanah kelahiran istrinya. Di sana, ia menjalani kehidupan sebagai terapis pijat, bertani, dan menjadi pengurus masjid. Istrinya, Sarinah, mengaku kerap terpana dengan kemandirian suaminya yang mampu melakukan pekerjaan fisik seperti membetulkan genting bocor, mengganti bohlam lampu, hingga memanen padi di sawah meskipun memiliki keterbatasan fisik.

“Kadang-kadang saya seolah tidak menyadari kalau suami saya seorang tuna netra karena saking mandirinya dalam bekerja. Dia tidak pernah mengeluh dan selalu ingin mengerjakan segala sesuatunya sendiri selama dia merasa mampu,” jelas Sarinah dengan mata berkaca-kaca menahan haru.

Keteguhan hati Rahmat juga mendapat perhatian dari Takmir Masjid Al Kautsar yang mengupayakan bantuan dari Lazismu berupa tongkat tunanetra dan kasur pijat untuk menunjang profesinya. Rahmat menegaskan bahwa ia tidak pernah mengharapkan belas kasihan dari orang lain dan hanya ingin sisa umurnya bermanfaat bagi sesama dan agama.

“Bantuan berupa tongkat itu sangat membantu aktivitas saya sehari-hari, terutama saat saya harus berjalan kaki sendirian menuju masjid. Saya hanya ingin terus beribadah dan bermanfaat selama Allah masih memberikan saya umur,” pungkas Rahmat. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Persiapan Matang Sarasehan Digitalisasi UMKM Tempel, KIM Perkuat Literasi Digital di Tingkat Lokal

Sleman — Transformasi digital bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di tingkat lokal memerlukan kolaborasi lintas komunitas, pendampingan berkelanjutan, serta penguatan literasi digital di tingkat akar rumput. Hal tersebut menjadi poin utama dalam Rapat Persiapan Tunggal Sarasehan Digitalisasi UMKM Tempel yang digelar pada Selasa (6/1/2026) di Pringkuning 16, Gundengan, Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman.

Rapat tersebut dihadiri oleh penggagas kegiatan Sadhono Hadi, perwakilan Forum Komunikasi (Forkom) UMKM Kapanewon Tempel, serta Ketua Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Senyum Tempel, Muryana. Forum ini menjadi ruang strategis untuk menyelaraskan peran para aktor lokal dalam membangun ekosistem digital UMKM yang inklusif serta berkelanjutan di wilayah Tempel.

Dalam pertemuan tersebut, para peserta membahas kesiapan teknis pelaksanaan sarasehan dengan menitikberatkan pada kebutuhan riil para pelaku usaha. Sejumlah tantangan klasik masih dihadapi UMKM, mulai dari keterbatasan literasi teknologi, pemanfaatan media sosial yang belum optimal, hingga sistem pencatatan keuangan yang masih bersifat konvensional. Kondisi ini dinilai sangat memengaruhi kemampuan UMKM dalam memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan daya saing mereka di era modern.

Sadhono Hadi menegaskan bahwa rapat persiapan tunggal ini merupakan tahapan krusial agar kegiatan yang akan dilaksanakan tidak hanya bersifat seremonial belaka. Ia ingin memastikan bahwa sarasehan yang akan datang benar-benar memberikan dampak praktis bagi kemajuan ekonomi warga.

“Rapat ini kami gunakan untuk memetakan kebutuhan UMKM secara langsung. Sarasehan harus bersifat aplikatif dan memberi solusi konkret, terutama dalam hal strategi pemasaran, pengelolaan usaha, serta pemanfaatan teknologi yang sesuai dengan kapasitas para pelaku UMKM lokal,” ujar Sadhono Hadi di sela-sela rapat.

Senada dengan hal tersebut, Widyarsih selaku perwakilan dari Forkom UMKM Kapanewon Tempel menambahkan bahwa potensi UMKM di wilayahnya sangat besar namun masih memerlukan sentuhan literasi digital yang lebih mendalam. Ia berharap sarasehan ini menjadi titik awal kolaborasi yang lebih kuat antara pelaku UMKM, tenaga pendamping, dan pemangku kepentingan di tingkat lokal.

Konsultan UMKM dari Telkom Indonesia, Widarto, yang turut merancang materi untuk sarasehan tersebut, menekankan bahwa transformasi digital bagi pelaku usaha kecil perlu dilakukan secara bertahap dan terukur. Menurutnya, digitalisasi tidak harus dimulai dengan hal-hal yang kompleks, melainkan bisa melalui langkah-langkah sederhana namun konsisten.

“Digitalisasi tidak harus rumit. UMKM bisa memulai dari pencatatan keuangan berbasis aplikasi, memaksimalkan media sosial sebagai etalase produk, serta memanfaatkan platform digital untuk memperluas pasar. Kuncinya adalah konsistensi dan pendampingan. Keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh perubahan pola pikir, pemahaman perilaku konsumen, serta kualitas konten promosi yang dihasilkan,” tutur Widarto.

Ketua KIM Senyum Tempel, Muryana, menegaskan komitmen organisasinya sebagai jembatan informasi dan penggerak literasi digital di masyarakat. KIM diproyeksikan sebagai aktor kunci dalam membangun ekosistem digital yang adaptif melalui penyebarluasan informasi dan edukasi yang berbasis komunitas.

“KIM siap mendukung penuh sarasehan ini melalui penyebarluasan informasi dan pendampingan berbasis komunitas. UMKM perlu didorong agar tidak sekadar menggunakan teknologi, tetapi mampu memanfaatkannya secara cerdas, produktif, dan berkelanjutan untuk meningkatkan taraf hidup mereka,” tegas Muryana.

Rapat tersebut menyepakati bahwa Sarasehan Digitalisasi UMKM Tempel akan dilaksanakan pada Senin, 12 Januari 2026, bertempat di Kopi Sormindi, Nglengkong, Sumberrejo, Tempel. Acara ini direncanakan dihadiri oleh sekitar 20 pelaku UMKM terpilih serta jajaran Pemerintah Kapanewon Tempel dengan format materi yang mengedepankan praktik langsung dan studi kasus. (SBD/KIM Senyum Tempel)