Layanan Perpanjangan STNK Lima Tahunan di Sleman Kini Bisa Cetak Plat Nomor Langsung Jadi

Sleman — Mengawali tahun 2026, Samsat Sleman melakukan gebrakan inovasi untuk mempermudah masyarakat dalam mengurus perpanjangan STNK lima tahunan. Melalui program Sistem Jemput Lima Tahunan atau “Si Jelita” yang rutin digelar setiap Selasa pertama awal bulan di Kalurahan Condongcatur, kini warga bisa mendapatkan plat nomor kendaraan atau Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB) pada hari yang sama.

Layanan perdana dengan sistem cetak langsung ini mulai diberlakukan pada Selasa (6/1/2026). Inovasi tersebut didukung oleh peluncuran dua armada kendaraan Samsat Keliling baru hasil sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Sleman, yakni jenis Toyota Hiace dan kendaraan bak terbuka yang telah dimodifikasi khusus untuk menunjang operasional di lapangan.

Kepala Seksi Pembukuan dan Penagihan Samsat Sleman, Ekho Adhi Wahyu, menjelaskan bahwa layanan ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi waktu bagi para wajib pajak. Penyerahan plat nomor secara simbolis dilakukan bersama petugas Satlantas Polresta Sleman dan perwakilan Jasa Raharja di lokasi pelayanan.

“Hari ini secara perdana kami mencoba sistem di mana plat nomor kendaraan langsung dicetak dan diberikan kepada pemohon layanan pajak lima tahunan di Kalurahan Condongcatur. Usai melakukan proses cek fisik kendaraan dan penyelesaian administrasi pembayaran, plat langsung tersedia. Tujuan utama kami adalah memberikan pelayanan terbaik agar warga tidak perlu lagi menunggu hingga minggu berikutnya untuk mengambil plat nomor,” ujar Ekho Adhi Wahyu.

Sebelum inovasi ini diterapkan, masyarakat yang memanfaatkan layanan jemput bola biasanya harus menunggu plat nomor selesai dicetak dan baru bisa mengambilnya pada jadwal layanan di minggu selanjutnya. Dengan adanya armada baru yang dilengkapi mesin cetak TNKB portabel, kendala waktu tersebut kini dapat teratasi.

Ekho Adhi Wahyu menambahkan bahwa Samsat Sleman terus berkomitmen mendekatkan layanan kepada warga melalui berbagai program jemput bola lainnya. Selain Si Jelita, tersedia pula layanan Samsat On Call serta program “Jejaka” atau Jemput Pajak Anda yang diperuntukkan bagi kelompok masyarakat dengan minimal kolektif lima hingga sepuluh kendaraan.

“Kami ingin memastikan warga di tingkat kalurahan mendapatkan akses pajak yang mudah. Masyarakat cukup menyiapkan persyaratan standar seperti KTP asli, STNK, BPKB, serta menghadirkan kendaraan untuk cek fisik. Untuk kenyamanan, kami juga menyediakan berbagai pilihan pembayaran digital melalui aplikasi SIGNAL, BPD DIY Mobile, Tokopedia, Gopay, hingga jaringan gerai Indomaret,” pungkas Ekho Adhi Wahyu. (Wasana/KIM Depok).




Menghitung Langkah Menuju Masjid, Rahmat Sang Muadzin Tuna Netra yang Setia Kumandangkan Azan

Sleman — Sosok Rahmat sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadi aktivitas Masjid Al Kautsar di Dusun Mrincingan, Margomulyo, Seyegan, Sleman. Setiap hari, suara merdunya mengumandangkan azan yang selalu dinanti oleh para jemaah. Tak banyak yang menyangka bahwa pria berusia 48 tahun yang memiliki nama lengkap Rahmat Choirul Anam ini adalah seorang penyandang disabilitas tuna netra.

Dengan berjalan kaki seorang diri dari rumahnya yang berjarak sekitar 350 meter dari masjid, Rahmat menjadikan setiap langkah kakinya sebagai bentuk pengabdian ibadah. Ia dikenal sangat disiplin dan selalu datang tepat waktu, bahkan sering kali sudah berada di serambi masjid setengah jam sebelum waktu salat tiba. Kedisiplinannya ini menjadi teladan bagi warga sekitar yang melihat kegigihannya dalam menjemput waktu salat.

“Saya sengaja berangkat lebih awal dari rumah supaya tidak terlambat dan punya waktu untuk menenangkan hati serta berdoa secara pribadi sebelum mengumandangkan azan,” ujar Rahmat saat ditemui di kediamannya pada Senin (5/1/2026).

Kegigihan Rahmat semakin terlihat saat waktu Subuh tiba. Sejak pukul dini hari, ia biasanya sudah berada di masjid untuk melakukan berbagai aktivitas, mulai dari membersihkan lantai, mencuci gelas-gelas kotor, hingga melaksanakan salat sunnah di keheningan malam sebelum mengumandangkan azan awal. Baginya, masjid adalah rumah kedua yang harus selalu dijaga kebersihan dan kesuciannya.

“Kalau waktu Subuh, saya merasa memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Saya ingin memastikan kondisi masjid sudah bersih dan rapi sehingga jemaah merasa nyaman, serta memastikan warga sekitar terbangun untuk menunaikan kewajiban,” katanya dengan nada penuh semangat.

Rahmat menceritakan bahwa ia kehilangan penglihatan sejak duduk di kelas 2 Sekolah Dasar akibat kecelakaan ledakan mercon saat bermain bersama teman sebaya. Peristiwa kelam itu sempat membuatnya terpukul dan merasa masa depannya sirna. Namun, titik balik hidupnya terjadi saat usia 13 tahun ketika ia bertemu dengan seorang tokoh yang membimbingnya untuk belajar ilmu pijat dan kemandirian hidup.

Sejak tahun 2009, Rahmat menetap di Sleman, tanah kelahiran istrinya. Di sana, ia menjalani kehidupan sebagai terapis pijat, bertani, dan menjadi pengurus masjid. Istrinya, Sarinah, mengaku kerap terpana dengan kemandirian suaminya yang mampu melakukan pekerjaan fisik seperti membetulkan genting bocor, mengganti bohlam lampu, hingga memanen padi di sawah meskipun memiliki keterbatasan fisik.

“Kadang-kadang saya seolah tidak menyadari kalau suami saya seorang tuna netra karena saking mandirinya dalam bekerja. Dia tidak pernah mengeluh dan selalu ingin mengerjakan segala sesuatunya sendiri selama dia merasa mampu,” jelas Sarinah dengan mata berkaca-kaca menahan haru.

Keteguhan hati Rahmat juga mendapat perhatian dari Takmir Masjid Al Kautsar yang mengupayakan bantuan dari Lazismu berupa tongkat tunanetra dan kasur pijat untuk menunjang profesinya. Rahmat menegaskan bahwa ia tidak pernah mengharapkan belas kasihan dari orang lain dan hanya ingin sisa umurnya bermanfaat bagi sesama dan agama.

“Bantuan berupa tongkat itu sangat membantu aktivitas saya sehari-hari, terutama saat saya harus berjalan kaki sendirian menuju masjid. Saya hanya ingin terus beribadah dan bermanfaat selama Allah masih memberikan saya umur,” pungkas Rahmat. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Persiapan Matang Sarasehan Digitalisasi UMKM Tempel, KIM Perkuat Literasi Digital di Tingkat Lokal

Sleman — Transformasi digital bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di tingkat lokal memerlukan kolaborasi lintas komunitas, pendampingan berkelanjutan, serta penguatan literasi digital di tingkat akar rumput. Hal tersebut menjadi poin utama dalam Rapat Persiapan Tunggal Sarasehan Digitalisasi UMKM Tempel yang digelar pada Selasa (6/1/2026) di Pringkuning 16, Gundengan, Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman.

Rapat tersebut dihadiri oleh penggagas kegiatan Sadhono Hadi, perwakilan Forum Komunikasi (Forkom) UMKM Kapanewon Tempel, serta Ketua Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Senyum Tempel, Muryana. Forum ini menjadi ruang strategis untuk menyelaraskan peran para aktor lokal dalam membangun ekosistem digital UMKM yang inklusif serta berkelanjutan di wilayah Tempel.

Dalam pertemuan tersebut, para peserta membahas kesiapan teknis pelaksanaan sarasehan dengan menitikberatkan pada kebutuhan riil para pelaku usaha. Sejumlah tantangan klasik masih dihadapi UMKM, mulai dari keterbatasan literasi teknologi, pemanfaatan media sosial yang belum optimal, hingga sistem pencatatan keuangan yang masih bersifat konvensional. Kondisi ini dinilai sangat memengaruhi kemampuan UMKM dalam memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan daya saing mereka di era modern.

Sadhono Hadi menegaskan bahwa rapat persiapan tunggal ini merupakan tahapan krusial agar kegiatan yang akan dilaksanakan tidak hanya bersifat seremonial belaka. Ia ingin memastikan bahwa sarasehan yang akan datang benar-benar memberikan dampak praktis bagi kemajuan ekonomi warga.

“Rapat ini kami gunakan untuk memetakan kebutuhan UMKM secara langsung. Sarasehan harus bersifat aplikatif dan memberi solusi konkret, terutama dalam hal strategi pemasaran, pengelolaan usaha, serta pemanfaatan teknologi yang sesuai dengan kapasitas para pelaku UMKM lokal,” ujar Sadhono Hadi di sela-sela rapat.

Senada dengan hal tersebut, Widyarsih selaku perwakilan dari Forkom UMKM Kapanewon Tempel menambahkan bahwa potensi UMKM di wilayahnya sangat besar namun masih memerlukan sentuhan literasi digital yang lebih mendalam. Ia berharap sarasehan ini menjadi titik awal kolaborasi yang lebih kuat antara pelaku UMKM, tenaga pendamping, dan pemangku kepentingan di tingkat lokal.

Konsultan UMKM dari Telkom Indonesia, Widarto, yang turut merancang materi untuk sarasehan tersebut, menekankan bahwa transformasi digital bagi pelaku usaha kecil perlu dilakukan secara bertahap dan terukur. Menurutnya, digitalisasi tidak harus dimulai dengan hal-hal yang kompleks, melainkan bisa melalui langkah-langkah sederhana namun konsisten.

“Digitalisasi tidak harus rumit. UMKM bisa memulai dari pencatatan keuangan berbasis aplikasi, memaksimalkan media sosial sebagai etalase produk, serta memanfaatkan platform digital untuk memperluas pasar. Kuncinya adalah konsistensi dan pendampingan. Keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh perubahan pola pikir, pemahaman perilaku konsumen, serta kualitas konten promosi yang dihasilkan,” tutur Widarto.

Ketua KIM Senyum Tempel, Muryana, menegaskan komitmen organisasinya sebagai jembatan informasi dan penggerak literasi digital di masyarakat. KIM diproyeksikan sebagai aktor kunci dalam membangun ekosistem digital yang adaptif melalui penyebarluasan informasi dan edukasi yang berbasis komunitas.

“KIM siap mendukung penuh sarasehan ini melalui penyebarluasan informasi dan pendampingan berbasis komunitas. UMKM perlu didorong agar tidak sekadar menggunakan teknologi, tetapi mampu memanfaatkannya secara cerdas, produktif, dan berkelanjutan untuk meningkatkan taraf hidup mereka,” tegas Muryana.

Rapat tersebut menyepakati bahwa Sarasehan Digitalisasi UMKM Tempel akan dilaksanakan pada Senin, 12 Januari 2026, bertempat di Kopi Sormindi, Nglengkong, Sumberrejo, Tempel. Acara ini direncanakan dihadiri oleh sekitar 20 pelaku UMKM terpilih serta jajaran Pemerintah Kapanewon Tempel dengan format materi yang mengedepankan praktik langsung dan studi kasus. (SBD/KIM Senyum Tempel)




KIM Pararta Guna Dukung Penguatan Literasi Santri Melalui Donasi Buku

Sleman — Donasi buku bacaan dinilai memiliki peran strategis dalam mendukung peningkatan literasi anak sejak usia dini. Hal tersebut tercermin dalam kegiatan penyerahan donasi buku bacaan untuk Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Rutbatul Huda Banyuraden yang dilakukan oleh Ketua Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Pararta Guna Gamping, Adnan Iman Nurtjahjo, kepada Pengasuh TPQ Rutbatul Huda di Cokrowijayan, Sleman, pada Senin (5/1/2026).

Kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan minat baca santri sejak dini tersebut disambut antusias oleh pengelola serta para santri. Donasi berupa buku bacaan anak dan literatur edukatif sebanyak 165 buku ini diharapkan mampu memperkaya sarana belajar sekaligus menumbuhkan kebiasaan membaca di lingkungan pendidikan keagamaan nonformal. Langkah ini dipandang sebagai upaya konkret untuk mengimbangi paparan gawai pada anak-anak.

Adnan Iman Nurtjahjo menyampaikan bahwa donasi buku merupakan bentuk kepedulian nyata terhadap penguatan sumber daya manusia, khususnya generasi muda. Menurutnya, akses terhadap bahan bacaan yang layak dan menarik menjadi fondasi penting dalam membangun karakter, wawasan, serta kecakapan literasi anak-anak sebagai bekal masa depan mereka.

Ia pun menegaskan bahwa TPQ Rutbatul Huda yang berdiri sejak 21 April 2011 dan telah resmi terdaftar di Kementerian Agama Kabupaten Sleman ini memiliki peran ganda. Lembaga tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat pembelajaran kitab suci Al-Qur’an, namun juga sebagai ruang pembentukan akhlak, nalar kritis, dan kebiasaan positif bagi anak-anak di wilayah Banyuraden.

“Kehadiran buku bacaan yang variatif kami nilai mampu melengkapi proses pendidikan yang sudah berjalan selama ini. Kami ingin para santri tidak hanya fasih membaca Al-Qur’an, tetapi juga memiliki wawasan umum yang luas melalui literatur edukatif yang kami berikan. Melalui literasi, kita sedang membangun fondasi berpikir mereka agar lebih kritis dan terbuka terhadap informasi yang bermanfaat,” ujar Adnan Iman Nurtjahjo saat menyerahkan bantuan tersebut secara simbolis.

Kegiatan donasi ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan KIM Pararta Guna Gamping dalam mendorong peran aktif masyarakat terhadap pembangunan pendidikan berbasis komunitas. KIM berkomitmen untuk terus menginisiasi kegiatan sosial-informatif yang memberikan dampak langsung serta meningkatkan kualitas informasi di tingkat akar rumput.

Sementara itu, Pengasuh TPQ Rutbatul Huda Banyuraden, Achmad Shofi, menyampaikan apresiasi mendalam atas perhatian dan dukungan yang diberikan oleh KIM Pararta Guna Gamping. Ia mengakui bahwa selama ini ketersediaan buku bacaan pendukung di lembaga yang dipimpinnya masih cukup terbatas, sehingga bantuan ini datang di waktu yang sangat tepat.

“Bantuan buku tersebut sangat bermanfaat bagi kami, mengingat keterbatasan fasilitas buku bacaan yang selama ini ada di TPQ. Kami akan memanfaatkan buku-buku ini sebagai media pendukung pembelajaran dan kegiatan literasi santri di sela-sela waktu mengaji. Kami berharap keberadaan pojok baca kecil ini dapat menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan, interaktif, dan tentunya tetap edukatif bagi seluruh santri,” tutur Achmad Shofi.

Sinergi antara organisasi masyarakat dan lembaga pendidikan keagamaan ini dinilai penting untuk menjawab tantangan pendidikan di era informasi. Pembangunan literasi bukan hanya tugas sekolah formal, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh elemen masyarakat demi mencetak generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan zaman. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Awali Tahun 2026, Lurah Margorejo Tekankan Peningkatan Motivasi dan Kinerja Pamong

Sleman — Pemerintah Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, mengawali langkah di tahun 2026 dengan menggelar agenda penguatan internal bagi aparatur pemerintahan kalurahan. Kegiatan yang berfokus pada peningkatan motivasi dan evaluasi kinerja ini dipimpin langsung oleh Lurah Margorejo, Abdul Azis Muh Ridwan, bertempat di Ruang Pertemuan Kalurahan Margorejo pada Senin (5/1/2026).

Acara tersebut diikuti secara antusias oleh seluruh Kepala Urusan (Kaur), Kepala Seksi (Kasi), serta staf pamong lainnya. Turut hadir memberikan pendampingan adalah Babinsa Margorejo, Anton Sutrisno, dan Bhabinkamtibmas Margorejo, Agung Priyono. Kehadiran unsur TNI dan Polri ini menjadi simbol sinergi yang kuat dalam mendukung tata kelola pemerintahan desa serta menjamin kualitas pelayanan publik yang aman dan kondusif bagi masyarakat.

Dalam arahannya, Abdul Azis Muh Ridwan menegaskan bahwa pergantian tahun harus dimaknai sebagai momentum untuk memperkuat etos kerja serta kedisiplinan. Ia berharap seluruh aparatur tidak terjebak dalam rutinitas semata, melainkan terus berinovasi dalam memberikan solusi bagi persoalan warga di lapangan.

“Tahun baru ini merupakan kesempatan bagi kita semua untuk meningkatkan motivasi, memperbaiki kinerja yang masih kurang, dan memperkuat komitmen dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat Margorejo. Tantangan ke depan menuntut kita bekerja lebih profesional, solid, dan responsif. Saya minta seluruh pamong bertekad meningkatkan produktivitas dengan mengedepankan budaya pelayanan 5 S, yaitu Senyum, Sapa, Salam, Sopan, dan Santun,” ujar Abdul Azis Muh Ridwan di hadapan para stafnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Babinsa Margorejo, Anton Sutrisno, mengingatkan bahwa pamong kalurahan merupakan garda terdepan yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan warga. Oleh karena itu, faktor disiplin dan loyalitas terhadap tugas menjadi harga mati yang harus dijunjung tinggi demi menjaga stabilitas dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

“Awal tahun ini menjadi momentum penting bagi seluruh pamong Kalurahan Margorejo untuk memperkuat kedisiplinan, loyalitas, dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas negara. Kami dari unsur Babinsa siap bersinergi dan memberikan dukungan penuh kepada pemerintah kalurahan demi menjaga stabilitas wilayah serta memastikan seluruh pelayanan kepada masyarakat berjalan tanpa hambatan,” tutur Anton Sutrisno.

Senada dengan Babinsa, Bhabinkamtibmas Margorejo, Agung Priyono, menekankan bahwa aparatur kalurahan harus mampu menjadi teladan bagi warga dalam menjaga keamanan dan ketertiban. Dengan adanya koordinasi yang rutin seperti ini, Pemerintah Kalurahan Margorejo berharap soliditas internal semakin kokoh. Orientasi utama dari penguatan kinerja ini adalah terciptanya pemerintahan kalurahan yang efektif, transparan, dan sepenuhnya berpihak pada kepentingan masyarakat sepanjang tahun 2026 ini. (SBD/KIM Senyum Tempel).