Kader PHBS Kalurahan Condongcatur Ikuti Monitoring dan Validasi Data PHBS dan KTR

Sleman — Kader Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Kalurahan Condongcatur mengikuti kegiatan Monitoring dan Evaluasi Capaian PHBS serta Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Aula Puskesmas Depok II, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, pada Jumat (11/09/2026). Pertemuan ini diselenggarakan untuk memvalidasi serta mengevaluasi data bulanan hasil pendataan kader yang mencakup indikator PHBS Rumah Tangga dan Tempat-Tempat Umum (TTU) di wilayah setempat.

Pendataan yang dilakukan secara periodik tersebut ditargetkan dapat menjangkau seluruh sasaran di tingkat Posyandu dalam kurun waktu satu tahun. Data yang terhimpun nantinya difungsikan sebagai peta acuan Puskesmas Depok II dalam mengintervensi program pembinaan kesehatan masyarakat secara presisi.

Pengampu Program PHBS Puskesmas Depok II, Pramija Ujiana, menekankan pentingnya pemenuhan seluruh indikator kesehatan dalam satu keluarga, di mana kebiasaan merokok di dalam rumah masih menjadi tantangan utama yang kerap menghambat capaian PHBS Rumah Tangga.

“Setiap sasaran yang ada di suatu wilayah harus didata semua dalam satu tahun. Kalau di masing-masing wilayah Posyandu belum terdata semua, masih ada beberapa bulan ke depan untuk mencakup sasaran yang belum terdata. Seluruh indikator PHBS harus terpenuhi, karena apabila terdapat satu saja indikator yang belum terpenuhi, maka keluarga tersebut belum dapat dikategorikan sebagai keluarga yang ber-PHBS,” ujar Pramija Ujiana di hadapan para kader.

Selain masalah paparan asap rokok pada anggota keluarga, validasi data ini turut menyasar indikator penting lainnya seperti persalinan oleh tenaga kesehatan, pemberian ASI eksklusif, penimbangan balita, penggunaan air bersih dan jamban sehat, pembuangan sampah, pemberantasan sarang nyamuk, hingga konsumsi buah dan sayur.

Melalui penguatan koordinasi dan validasi data ini, Puskesmas Depok II bersama para kader Kalurahan Condongcatur berkomitmen untuk terus mendorong kesadaran masyarakat dalam menerapkan pola hidup bersih dan sehat secara konsisten demi mewujudkan lingkungan pemukiman yang sehat dan bebas dari bahaya asap rokok. (Tri Suhartati/KIM Depok)




Cegah Kenakalan Remaja, Polsek Gamping Adakan Deklarasi Anti Geng di SMPN 4 Gamping

Sleman – Kepolisian Sektor (Polsek) Gamping memperkuat upaya pencegahan kenakalan remaja dan keterlibatan pelajar dalam kelompok geng melalui penyuluhan serta deklarasi anti geng di SMP Negeri 4 Gamping, Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Kamis (10/9/2026).

Kegiatan yang diikuti 573 siswa kelas VII, VIII, dan IX tersebut dilaksanakan Unit Binmas bersama Bhabinkamtibmas Polsek Gamping, sebagai tindak lanjut Instruksi Bupati Sleman Nomor tentang Pencegahan Kenakalan Remaja dan Paham Radikalisme bagi Anak Peserta Didik Kabupaten Sleman.

Pejabat Sementara Kepala Unit Pembinaan Masyarakat Polsek Gamping, Iptu Mamik Susanti bersama Bhabinkamtibmas Ambarketawang, Aiptu Ibnu Prastowo memberikan penyuluhan mengenai dampak kenakalan remaja, risiko keterlibatan dalam kelompok geng, serta pentingnya membangun pergaulan yang sehat dan positif.

Selain ratusan pelajar, kegiatan melibatkan kepala sekolah, guru dan karyawan sejumlah 30 orang, 14 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, serta 18 wali murid yang anaknya terindikasi terlibat dalam kelompok geng. Pelibatan berbagai unsur tersebut diarahkan untuk memperkuat pengawasan dan pembinaan pelajar secara bersama-sama, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.

Dalam penyuluhan, Iptu Mamik Susanti mengingatkan para pelajar agar tidak mudah terpengaruh lingkungan pergaulan negatif yang dapat mendorong tindakan kekerasan, pelanggaran hukum, maupun perilaku lain yang merugikan masa depan mereka. Para siswa juga diajak berperan menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan sekolah serta segera menghindari aktivitas kelompok yang berpotensi mengarah pada kenakalan remaja.

“Jangan mudah terpengaruh ajakan kelompok geng maupun pergaulan yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Kalian harus berani menolak ajakan melakukan tindakan negatif, menjaga nama baik keluarga dan sekolah, serta menggunakan masa sekolah untuk kegiatan yang positif, produktif, dan bermanfaat,” tegas Iptu Mamik Susanti.

Ia pun meminta para pelajar tidak menyebarkan informasi atau konten yang dapat memicu konflik, serta segera melaporkan kepada guru, orang tua, atau kepolisian apabila mengetahui adanya aktivitas kelompok yang berpotensi mengarah pada tindakan kekerasan atau gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat.

Sebagai bentuk komitmen, sejumlah siswa yang terindikasi terlibat kelompok geng menandatangani berita acara pernyataan untuk tidak kembali mengikuti atau terlibat dalam kelompok geng. Pernyataan tersebut sekaligus menjadi komitmen untuk menjaga diri serta menciptakan lingkungan sekolah yang aman, tertib, dan kondusif.

Sementara itu Kepala Sekolah SMP Negeri 4 Gamping, Ernawati menyampaikan apresiasi kepada Polsek Gamping yang telah memberikan penyuluhan dan pembinaan kepada para siswa melalui kegiatan deklarasi anti geng. Menurutnya, kegiatan tersebut sangat penting karena sekolah tidak hanya bertugas memberikan pendidikan akademik, namun juga memiliki tanggung jawab membentuk karakter, kedisiplinan, dan perilaku positif peserta didik.

Ernawati berpesan kepada para pelajar agar mengisi masa sekolah dengan kegiatan yang positif. Manfaatkan waktu untuk belajar, berorganisasi, berolahraga, berkesenian, mengembangkan bakat, serta mengikuti berbagai kegiatan sekolah yang dapat membangun prestasi dan karakter.

“Jadikan sekolah sebagai tempat untuk mempersiapkan masa depan, bukan tempat untuk terlibat dalam tindakan yang dapat merusak masa depan,” tandasnya di hadapan pelajar.

Deklarasi anti geng ini hendaknya tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan menjadi komitmen yang diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Tim Riset MAN 4 Sleman Presentasikan ALGO-TABAYYUN, Dorong Siswa Kritis terhadap AI

Sleman – Tim riset MAN 4 Sleman mempresentasikan proposal penelitian dalam Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) 2026 Bidang Riset, Kamis (10/9/2026). Presentasi berlangsung di Laboratorium Komputer Timur MAN 4 Sleman.

Proposal berjudul “ALGO-TABAYYUN: Sistem Adaptif Profil Kesalahan untuk Melatih Verifikasi Jawaban Artificial Intelligence (AI) Siswa Madrasah” tersebut disusun oleh Ammata Amalia Kamil (XI C), Reinata Nafiza Cesya (XI C), dan Khoirun Nisa Banjariyani (XI B), dengan pembimbing Rizal Aji Nugroho.

Penelitian ini mengangkat persoalan penggunaan AI di kalangan pelajar, khususnya pentingnya memverifikasi informasi sebelum mempercayai jawaban yang diberikan AI. Melalui ALGO-TABAYYUN, tim mengembangkan gagasan untuk membiasakan siswa memeriksa, menilai, dan membuktikan kebenaran informasi.

Konsep tersebut memadukan pemanfaatan teknologi dengan prinsip tabayyun, yakni sikap kritis dan kehati-hatian dalam menerima informasi.

Kepala MAN 4 Sleman, Ahmad Arief Makruf mengapresiasi kreativitas dan keberanian tim dalam mengangkat isu aktual tersebut.

“Kami bangga karena murid mampu melihat perkembangan AI bukan hanya sebagai teknologi, tetapi juga sebagai tantangan yang harus dihadapi dengan sikap kritis dan nilai. Terus berproses, terbuka terhadap masukan, dan buktikan bahwa madrasah mampu melahirkan gagasan riset yang inovatif dan bermanfaat,” ujarnya.

Presentasi tersebut menjadi bagian dari upaya MAN 4 Sleman mendorong budaya riset dan inovasi di kalangan siswa. Melalui ALGO-TABAYYUN, tim menegaskan pentingnya tidak langsung mempercayai informasi dari AI, tetapi melakukan verifikasi sebelum menjadikannya sebagai rujukan. (Edy/KIM Sumber Biwara Moyudan)




Tim Riset MAN 4 Sleman Go Internasional di WICE 2026, Hadirkan Inovasi Limbah Ampas Kopi

Sleman — Tim Riset MAN 4 Sleman menunjukkan kiprahnya di ajang internasional World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2026. Enam siswa mempresentasikan hasil penelitian secara daring melalui Zoom Meeting, Kamis (10/9/2026), dari Ruang Podcast MAN 4 Sleman.

Penelitian berjudul “Development and Characterization of Sustainable Chitosan Adsorbents Incorporating Spent Coffee Grounds for Dye Removal” tersebut mengangkat pemanfaatan limbah ampas kopi sebagai bahan modifikasi kitosan untuk menyerap zat warna Methylene Blue dari air.

Tim yang terdiri atas Nawra Zeeleka Humayra, Rizky Akbar Maulana, Rezyka Nur Safitri, Faqih Achmad Pramudyanta, Braviasa Pranata, dan Chaissar Faith Anwar, dibimbing Puspa Nindro Mahayuwati.

Penelitian ini berangkat dari persoalan pencemaran air akibat limbah zat warna industri tekstil. Tim mengembangkan kitosan yang dimodifikasi dengan ampas kopi sebagai adsorben yang lebih ramah lingkungan.

Hasil penelitian menunjukkan sampel dengan penambahan 9 gram ampas kopi (S3) memiliki kemampuan adsorpsi terbaik. Pada konsentrasi Methylene Blue 1 mg/L, sampel tersebut mampu mencapai tingkat adsorpsi sebesar 88,5 persen.

Analisis isoterm Langmuir juga menunjukkan peningkatan kapasitas adsorpsi maksimum dari 145,2 mg/g pada kitosan murni menjadi 363,1 mg/g pada kitosan yang dimodifikasi dengan 9 gram ampas kopi, dengan nilai R² sebesar 0,999.

Kepala MAN 4 Sleman, Ahmad Arif Makruf mengapresiasi kiprah Tim Riset tersebut. Menurutnya, penelitian dan inovasi siswa menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi yang mampu menghadirkan solusi bagi persoalan di masyarakat.

“Teknologi itu untuk membantu dan menyejahterakan manusia. Karena itu, kami sangat mengapresiasi anak-anak yang mampu menghasilkan inovasi yang bermanfaat dan peduli terhadap lingkungan,” ujarnya.

Keikutsertaan dalam WICE 2026 menjadi pengalaman bagi Tim Riset MAN 4 Sleman untuk membawa karya penelitian madrasah ke forum internasional. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan riset, presentasi, dan komunikasi ilmiah.

Inovasi tersebut menunjukkan bahwa limbah sederhana seperti ampas kopi dapat dikembangkan menjadi material bernilai guna untuk mendukung upaya pengurangan pencemaran lingkungan. (Edy/KIM Sumber Biwara Moyudan)




SMP Muhammadiyah 1 Godean Gencarkan Zero Waste, Siap Ikuti Adiwiyata

Sleman – SMP Muhammadiyah 1 Godean terus memperkuat gerakan Zero Waste sebagai langkah menuju Sekolah Adiwiyata. Program tersebut diterapkan dalam berbagai aktivitas warga sekolah untuk mengurangi sampah, khususnya plastik sekali pakai.

Siswa diwajibkan membawa tumbler dan tempat makan sendiri. Sekolah juga menerapkan pemilahan sampah sejak dari kelas menjadi sampah organik, anorganik, dan residu.

Selain itu, bank sampah sekolah kembali diaktifkan. Setiap pekan siswa menyetorkan sampah plastik, kertas, dan botol bekas. Hasil penjualannya digunakan untuk mendukung kegiatan lingkungan, seperti penghijauan dan lomba kebersihan kelas.

Kepala SMP Muhammadiyah 1 Godean, Ovayagori Rahman mengatakan sekolah berkomitmen membangun kepedulian lingkungan sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari siswa.

“Kami ingin mencetak generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga peduli lingkungan. Budaya bersih harus menjadi kebiasaan sehari-hari,” ujarnya, Jumat (11/9/2026).

Menurutnya, program tersebut mendapat dukungan dari orang tua siswa, antara lain melalui bantuan bibit tanaman dan perawatan lingkungan sekolah.

Ia pun berharap program tersebut tidak hanya menjadikan sekolah lebih bersih, tetapi juga membentuk generasi yang peduli lingkungan dan mampu mengelola sampah secara mandiri.

Sementara itu, Guru Penggerak Adiwiyata SMP Muhammadiyah 1 Godean, Sri Suprihatin Handayani mengatakan berbagai kegiatan pendukung juga terus dilakukan, seperti Jumat Bersih, penanaman tanaman obat keluarga (TOGA), pembuatan kompos dari sisa makanan kantin, serta kampanye hemat energi di setiap kelas.

“Anak-anak langsung praktik memilah, menimbang, dan mencatat sampah. Dari situ mereka memahami dampak sampah plastik terhadap lingkungan,” kata Sri.

Sekolah menargetkan dapat mengikuti penilaian Adiwiyata tingkat Kabupaten Sleman tahun ini. Upaya tersebut diperkuat melalui empat komponen utama, yakni kebijakan berwawasan lingkungan, kurikulum berbasis lingkungan, kegiatan partisipatif, serta sarana dan prasarana ramah lingkungan.

(Giek/KIM Moyudan)