Sandranan Agung Wotgaleh Kembali Digelar, Tahun Ini Jatuh pada 8 Februari

Sleman – Sandranan Agung yang berlangsung di Masjid Sulthoni Wotgaleh, Sendangtirto, Berbah, merupakan tradisi budaya Jawa yang dilaksanakan pada bulan Ruwah (Sya’ban). Sandranan merupakan wujud rasa syukur dan doa bagi arwah leluhur, khususnya ditujukan kepada Pangeran Purbaya yang dimakamkan di Masjid Sulthoni Wotgaleh.

 Menurut ketentuan dari pihak Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sadranan diadakan setelah tanggal 15 Ruwah.

“Berdasarkan ketentuan tersebut, maka Sadranan Agung Wotgaleh tahun ini diadakan bertepatan hari Ahad Legi tanggal 8 Februari 2026,” jelas Pengageng Abdi Dalem (juru kunci) Makam Pangeran Purbaya, Mas Lurah Asrori, saat rapat persiapan Sadranan Agung Wotgaleh, pada Rabu (7/1/2026) di Aula Kalurahan Sendangtirrto, Berbah, Sleman.

Lurah Sendangtirrto, Amir Junawan pun menyambut baik kegiatan Sadranan Agung Wotgaleh yang memang merupakan acara budaya tahunan.

“Meskipun Masjid Wotgaleh berada di wilayah Kalurahan Sendangtirrto, namun acara tersebut diharapkan akan menjadi kegiatan budaya milik bersama satu Kapanewon Berbah,” katanya.

“Seperti kegiatan Sadranan Agung tahun yang lalu pemerintah Kalurahan akan mendukung rangkaian kegiata yang akan dilaksanakan. Harapnya dukungan dari dari kalurahan yang lain akan maksimal, sehingga Sadranan Agung Wotgaleh akan lebih baik lagi,” sambung Amir.

Ketua Panitia Sadranan Agung Wotgaleh, Dwi Sulistyo menyampaikan kegiatan tersebut memerlukan dukungan dan partisipasi berbagai pihak baik pemerintah, masyarakat, relawan, kesehatan dan pengamanan.

“Selanjutnya perlu kordinasi yang baik untuk terlaksananya acara tersebut. Masih akan ada pertemuan pemantapan kegiatan,” tutur Dwi.

Sementara, Dukuh Noyokerten, Sri Widarto sebagai pemangku wilayah Masjid Wotgaleh menyampaikan bahwa kegiatan Sadranan Agung Wotgaleh tahun ini memiliki beberapa rangkaian kegiatan.

“Mengawali rangkaian kegiatan pertama Semaan Al Qur’an pada hari Kamis, 5 Februari 2026 dimulai habis Subuh sampai Isyak oleh tiga orang hafidz Qur’an dibantu jamaah. Dilanjutkan dengan pengajian umum disampaikan oleh Ustaz Kyai H. Imam Syafi’i, dari Kotagede, dengan iringan Hadroh Nur Mutiin dari Sembung,” jelasnya.

“Pada hari kedua, Jumat malam tanggal 6 Januari 2026, dulkodiran atau manakib di area makam Pengeran Purboyo. Puncak acara kirab budaya mengusung gunungan diiringi Bregodo pada hari Ahad Legi tanggal 8Februari 2026. Diakhiri dengan pembagian isi gunungan,” sambung Sri Widarto. (Kusnadi KIM Berbah)




SAH Banyu Bening Sleman Dorong Kemandirian Air Lewat Teras Bermakna

Sleman – Program pemberdayaan masyarakat bertajuk “Teras Bermakna” diperkenalkan oleh Sri Wahyuningsih selaku pendiri Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman di hadapan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Palu, Sulawesi Tengah. Kegiatan itu berlangsung beberapa hari lalu, sebagai upaya untuk mendorong kemandirian air di tingkat masyarakat.

Seperti yang diterangkan Wahyuningsih di kediamannya Tempursari, Sleman, Rabu (7/1/2026), program tersebut menekankan pada pemanfaatan air hujan sebagai sumber air alternatif yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Menurutnya, pemaparan program Teras Bermakna disampaikan dalam forum dialog dan pembelajaran lintas daerah yang bertujuan membuka wawasan legislatif daerah terhadap praktik-praktik baik pengelolaan sumber daya air berbasis komunitas.

“Teras Bermakna diposisikan sebagai model pemberdayaan yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga edukatif dan partisipatif,” tandas Wahyuningsih.

Dirinya menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk membangun kesadaran masyarakat perihal pentingnya kedaulatan air, khususnya di wilayah yang rentan terhadap krisis air bersih akibat perubahan iklim dan degradasi lingkungan.

Melalui pendekatan berbasis rumah tangga dan komunitas, Teras Bermakna mendorong warga untuk mengelola air hujan secara mandiri mulai dari proses penangkapan, penyaringan, penyimpanan, hingga pemanfaatannya untuk kebutuhan sehari-hari.

“Pendekatan ini dinilai efektif karena dapat diterapkan secara bertahap sesuai dengan kapasitas sosial dan ekonomi masyarakat,” ucap Wahyuningsih.

Konsep yang ditawarkan disambut baik oleh Mutmainah Korona selaku anggota DPRD Kota Palu. Ia menilai program Teras Bermakna relevan dengan kondisi sejumlah wilayah di Palu yang masih menghadapi tantangan ketersediaan air bersih, terutama pada musim kemarau khususnya di wilayah Kecamatan Tawaeli dan Palu Utara.

Sebagai bagian dari implementasi program, SAH Banyu Bening melakukan pemasangan Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan (ISLAH) yang berlangsung sejak 27 Desember 2025 hingga 31 Januari 2026. Pemasangan dilakukan di tiga titik Kota Palu yaitu Kelurahan Pantoloan Boya, Kelurahan Lambara, dan Kelurahan Mamboro.

Hal tersebut sebagai upaya mendorong kemandirian air dan ketahanan lingkungan warga. Pemasangan ISLAH ini menjadi langkah konkret dalam mendukung konservasi air hujan di tingkat rumah tangga dan lingkungan permukiman.

“Air hujan memiliki pH netral dan, apabila dikelola dengan baik melalui sistem penampungan yang tepat, dapat dimanfaatkan sebagai sumber air sehat sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap air tanah,” jelas Wahyuningsih bersemangat.

Selain itu, ia menegaskan bahwa kemandirian air merupakan fondasi penting bagi ketahanan pangan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat. Ketergantungan berlebihan pada sistem air terpusat dinilai berisiko, terutama di daerah yang memiliki tantangan geografis dan iklim tertentu.

Lewat pengenalan Teras Bermakna ini, diharapkan lahir komitmen bersama untuk mendorong inovasi pengelolaan air berbasis masyarakat. Sekaligus menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam membangun kemandirian air yang berkelanjutan, inklusif, dan berpihak pada kebutuhan riil warga. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




BPD HIPMI DIY Matangkan Agenda Forbisda dan Rakerda, Fokus pada Program Terukur

Sleman — Fungsionaris dan pengurus BPD HIPMI DIY menggelar rapat internal pada Selasa (7/1/2026), di Esha Kopi, Depok, Kabupaten Sleman. Rapat tersebut diselenggarakan untuk mematangkan agenda Forum Bisnis Daerah (Forbisda) dan Rapat Kerja Daerah (Rakerda).

Pertemuan ini menjadi langkah awal konsolidasi guna memastikan Forbisda dan Rakerda berjalan terarah, terukur, dan berdampak nyata bagi organisasi serta pengusaha muda di DIY.

Sekretaris BPD HIPMI DIY, Roviandi Deska Putra menegaskan bahwa setiap bidang harus memiliki program yang jelas dan realistis, dan mampu melibatkan stakeholder yang relevan.

“Yang terpenting setiap bidang punya program. Stakeholder yang dilibatkan saat Rakerda harus di-list, diukur, dan benar-benar dikondisikan,” ujarnya.

Ia menyampaikan bahwa agenda Forbisda dan Rakerda akan diisi talkshow, pemaparan program tiap bidang, penguatan sinergi dengan pemerintah daerah, BUMN, dan stakeholder strategis. Sementara rekrutmen anggota tetap menjadi ranah OKK dengan target peningkatan keanggotaan.

Lebih lanjut, Ketua OKK, Yas menyebut perencanaan idealnya disusun jangka menengah 2025 sampai 2028.

“Hal itu agar sinkron antara BPD, BPC, hingga Rakercab. Panitia SC dan OC pun telah dibentuk,” katanya.

Wakil Ketua BPD HIPMI DIY, Widha menambahkan bahwa Rakerda harus menjadi ruang pemetaan potensi dan penguatan kolaborasi lintas sektor. Sejumlah bidang juga memaparkan program awal, mulai dari Satgas KMP, pelatihan e-katalog, dukungan sektor lingkungan, pengembangan biomassa, hingga optimalisasi program CSR pariwisata.

Sebagai penutup, rapat menyepakati pentingnya berbagi sumber daya, penyusunan timeline yang jelas, serta koordinasi digital yang efektif.

BPD HIPMI DIY berharap Forbisda dan Rakerda yang dijadwalkan pada 6 sampai 7 Februari 2026 dapat berjalan lancar dan mendorong HIPMI DIY semakin maju, serta berdampak bagi pengusaha muda daerah. (Ilham Agus/KIM Seyegan)




MSE #1 Siap Digelar, UMKM Meriah dan Doorprize Umroh Menanti

Sleman – Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman bersama Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Sleman akan menggelar Muhammadiyah Sleman Expo (MSE) #1 pada 9 sampai 11 Januari 2026. Kegiatan akbar ini rencananya dilaksanakan di Sleman City Hall, sebagai ajang sinergi dakwah, ekonomi, dan sosial kemasyarakatan Muhammadiyah di Kabupaten Sleman.

Mengusung tema “Sukseskan dan Meriahkan Muhammadiyah Sleman Expo #1”, kegiatan ini dirancang sebagai ruang temu seluruh potensi persyarikatan, mulai dari amal usaha, organisasi otonom, hingga pelaku UMKM binaan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Expo ini diharapkan menjadi etalase kontribusi nyata Muhammadiyah bagi masyarakat, sekaligus penggerak ekonomi umat yang inklusif dan berkelanjutan.

Ketua panitia, Eko Sumardiyanto menyampaikan bahwa MSE #1 tidak hanya berorientasi pada pameran. Tetapi juga menjadi media edukasi dan literasi publik tentang peran Muhammadiyah dalam berbagai bidang.

“Expo ini menjadi momentum konsolidasi potensi persyarikatan, memperkuat jejaring UMKM, serta memperluas dakwah pencerahan melalui pendekatan yang membumi,” ujarnya saat ditemui disela rapat persiapan panitia, pada Rabu (7/1/2026).

Selama tiga hari pelaksanaan, pengunjung akan disuguhi berbagai stan pameran yang menampilkan produk UMKM, layanan kesehatan, pendidikan, filantropi, serta pelbagai program-program unggulan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Sleman. Selain itu, expo juga diharapkan menjadi ruang promosi kreatif bagi pelaku usaha lokal agar mampu naik kelas dan menjangkau pasar yang lebih luas.

“Daya tarik utama Muhammadiyah Sleman Expo #1 adalah doorprize utama berupa umroh, yang dipersembahkan bagi pengunjung beruntung. Selain itu, panitia juga menyiapkan doorprize menarik lainnya, seperti sepeda listrik dan   sepeda gunung. Untuk mendapatkan kesempatan tersebut, pengunjung cukup melakukan scan barcode di lokasi pameran, yang sekaligus berfungsi sebagai tiket masuk dan kupon undian doorprize,” ungkap Eko.

Pemilihan Sleman City Hall sebagai lokasi kegiatan dinilai strategis karena mudah diakses masyarakat serta memiliki fasilitas representatif untuk penyelenggaraan event berskala besar. Panitia menargetkan ribuan pengunjung dari berbagai kalangan, baik warga Muhammadiyah maupun masyarakat umum.

Melalui Muhammadiyah Sleman Expo #1, PDM dan PDA Sleman berharap terbangun semangat kolaborasi lintas sektor serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gerakan dakwah sosial-ekonomi Muhammadiyah. Expo ini juga menjadi bagian dari ikhtiar memperkuat kemandirian umat, sejalan dengan nilai-nilai Islam berkemajuan yang menjadi ruh gerakan Muhammadiyah.

Panitia mengajak seluruh warga Sleman dan sekitarnya untuk hadir dan memeriahkan Muhammadiyah Sleman Expo, sekaligus berpartisipasi dalam mendukung produk lokal dan program persyarikatan yang memberi manfaat luas bagi masyarakat. (Arief Hartanto KIM Kertomandiri Turi)




Perluas Jangkauan MBG, SPPG Margomulyo Sasar Ibu Hamil dan Ibu Menyusui

Sleman – Setiap pagi dapur SPPG Margomulyo tidak pernah sepi. Dari tempat inilah ratusan kilogram Makan Bergizi Gratis (MBG) disiapkan, ditimbang, lalu didistribusikan kepada ribuan penerima manfaat di wilayah Seyegan dan sekitarnya. Namun bagi SPPG Margomulyo, MBG bukan sekadar soal jumlah porsi, melainkan tentang kecukupan gizi, kualitas makanan, rasa, dan keberlanjutan.

“Kami tidak hanya fokus ke anak sekolah. Ibu hamil dan ibu menyusui juga menjadi perhatian kami, karena mereka menentukan kualitas generasi ke depan,” ujar Ketua SPPG Margomulyo, Joni Prasetyo saat ditemui di Kantor SPPG Margomulyo, Rabu (7/1/2026).

Saat ini, SPPG Margomulyo melayani 3757 anak sekolah yang tersebar di sembilan SD, satu SMP, 13 PAUD/TK, satu SMA, dan satu SMK. Atas capaian tersebut, SPPG Margomulyo memperoleh Grade A dari Badan Gizi Nasional (BGN), dengan kapasitas maksimal pelayanan hingga penerima manfaat.

Capaian itu bukan tanpa proses evaluasi. Setiap menu MBG yang keluar dari dapur selalu ditimbang, begitu pula sisa makanan yang kembali. Dari proses inilah SPPG bisa membaca minat penerima manfaat terhadap menu yang disajikan.

“Awal pelaksanaan, limbah makanan yang kembali ke dapur bisa mencapai 83 kilogram. Sekarang rata-rata tinggal 29 kilogram, dari total distribusi sekitar 700 sampai 800 kilogram per hari,” jelas Joni.

Menurutnya, penurunan limbah tersebut tidak lepas dari keterbukaan SPPG menerima masukan dari sekolah. Koordinasi dilakukan melalui Person On charge (PIC) MBG, yaitu penanggung jawab yang biasanya bertugas di masing-masing sekolah.

“Kami rutin evaluasi rasa dan menu. Kalau ada masukan dari PIC, kami catat dan perbaiki. Tujuannya supaya makanan benar-benar dimakan, bukan sekadar dibagikan,” tandasnya.

Komitmen tersebut tetap dijaga meski memasuki masa liburan sekolah. Selama liburan, MBG tetap diberikan kepada siswa dalam bentuk menu kering, dengan satu kali pengantaran untuk seluruh periode liburan.

Tak hanya anak sekolah, sejak dua bulan terakhir SPPG Margomulyo juga mulai menyasar 49 ibu hamil dan 190 ibu menyusui. Untuk kelompok ini, MBG diberikan dalam bentuk menu kering yang dapat diambil untuk kebutuhan satu minggu.

“Distribusinya kami pusatkan di dapur SPPG dan Kantor Kapanewon Seyegan agar lebih terkontrol,” ungkap Asisten Lapangan SPPG Margomulyo, Hananto.

Sebagai SPPG percontohan nasional, Margomulyo juga menerapkan konsep dapur hijau. Pengelolaan limbah menjadi perhatian serius, mulai dari sampah basah hingga limbah cair.

“Sampah basah kami manfaatkan sebagai pakan maggot bekerja sama dengan Masjid Nurul Asri Deresan Yogyakarta. Sampah anorganik kami serahkan ke TPS3R Sleman, rencananya akan diolah menjadi biosolar,” kata Hananto.

Sementara itu, limbah cair dari dapur diproses melalui lima bak penampungan, yang secara rutin disedot oleh jasa pengelola limbah setiap tiga minggu sekali.

Meski demikian, Joni mengakui masih ada satu sasaran MBG yang belum tersentuh, yakni balita.

“Ke depan, kami berharap MBG untuk balita bisa segera direalisasikan, karena kebutuhan gizinya juga sangat penting,” pungkasnya.

Dari dapur hijau hingga meja makan penerima manfaat, SPPG Margomulyo terus berupaya memastikan bahwa setiap porsi MBG bukan hanya mengenyangkan. Tetapi juga memberi dampak nyata bagi kesehatan masyarakat karena pemenuhan gizi yang tercukupi.  (Sutarto Agus/KIM Seyegan)