Inovasi Pengelolaan Sampah: Ubah Pakaian Bekas Jadi Kasur dan Bantal Duduk

Sleman – Persoalan sampah telah menjadi isu krusial yang menuntut peran aktif masyarakat. Di tengah berbagai metode yang ditawarkan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman, seorang penggiat sampah asal Berbah, Nurul Istiqomah atau yang akrab disapa Mbak Uul, menunjukkan aksi nyata yang inspiratif. Di kediamannya yang sekaligus menjadi rumah kos di Kampung Noyokerten, Sendangtirto, Berbah, Sleman, ia berhasil mengelola sampah rumah tangga hingga tuntas, termasuk limbah pakaian bekas yang sulit terurai.

Sebagai pemilik rumah kos, Mbak Uul menerapkan aturan ketat bagi para penghuninya. Setiap penyewa kos wajib mengelola sampah yang mereka hasilkan sendiri sebagai syarat mutlak untuk tinggal. Sebagai kompensasi atas kedisiplinan tersebut, Mbak Uul membebaskan biaya jasa pembuangan sampah bagi para penghuni kosnya. Di area kos tersebut, telah tersedia fasilitas pemilahan sampah organik dan anorganik yang tertata rapi.

“Di sini sampah anorganik harus dipastikan dalam kondisi bersih dan kering sebelum dikumpulkan. Plastik bekas bungkus makanan yang berminyak atau terkena sambal wajib dicuci dan dikeringkan terlebih dahulu. Jika sampah anorganik tercampur dengan sisa organik, maka akan menimbulkan bau tak sedap dan memicu munculnya belatung,” ujar Nurul Istiqomah saat ditemui pada Sabtu (03/01/2026).

Halaman rumah Mbak Uul tampak menyerupai miniatur Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) mandiri. Ia menggunakan berbagai metode pengolahan seperti ember tumpuk, komposter, hingga biopori. Bahkan, benda kecil seperti tusuk sate pun memiliki tempat pengolahan khusus di lubang tanah agar tidak melukai orang. Sampah organik yang telah diproses nantinya akan menjadi kompos berkualitas untuk menyuburkan tanaman di kebun miliknya. Sementara itu, sampah kering yang laku dijual seringkali ia sedekahkan kepada pemulung yang melintas.

“Melihat kebahagiaan ibu pemulung saat menerima sedekah sampah kering adalah kepuasan tersendiri. Ucapan doa dari mereka seakan mampu menggetarkan pintu langit,” tutur perempuan yang juga akrab disapa Bunda Aisyah ini.

Inovasi yang paling unik dari Mbak Uul adalah pengolahan sampah kain atau pakaian bekas (gombal) yang sudah tidak layak pakai. Pakaian dalam seperti celana dalam dan bra yang telah dicuci bersih ia gunakan sebagai isian bantal duduk. Sementara itu, untuk pakaian berbahan tipis seperti kerudung, kaos, dan daster, ia potong kecil-kecil untuk dijadikan isian kasur lantai.

“Kasur lantai dari kain bekas ini memang sedikit lebih berat dibandingkan kasur dakron, namun sangat nyaman untuk alas duduk atau sekadar rebahan saat menonton televisi. Ini adalah salah satu upaya nyata saya untuk memperpanjang usia penggunaan pakaian bekas yang biasanya hanya terbuang percuma dan menumpuk di tempat pembuangan akhir,” pungkas Nurul Istiqomah. (Kusnadi/KIM Berbah).




Bupati Sleman Hadiri Milad ke-60 SD Muhammadiyah Sangonan 2 dan Milad ke-59 TK ABA Jowah

Sleman – SD Muhammadiyah Sangonan 2 merayakan hari lahir atau milad ke-60 bersamaan dengan milad ke-59 TK ABA Jowah Sidoluhur Godean pada Sabtu (3/1/2026). Peringatan dua institusi pendidikan tersebut diselenggarakan secara meriah di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Gumuk Sikuneng, Pandean V, Sidoluhur, Godean, Sleman.

Acara milad ini dihadiri oleh Bupati Sleman Harda Kiswaya, Pengawas TK/SD Korwil Godean, Lurah Sidoluhur, serta jajaran Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Godean. Kehadiran para tokoh tersebut menunjukkan besarnya dukungan terhadap kontribusi lembaga pendidikan Muhammadiyah dalam membangun sumber daya manusia di wilayah Sleman.

Bupati Sleman, Harda Kiswaya, dalam sambutannya memberikan apresiasi tinggi atas dedikasi para pendidik di SD Muhammadiyah Sangonan 2 maupun TK ABA Jowah. Ia menilai peran guru sangat vital dalam membentuk karakter dan kecerdasan bangsa sejak usia dini.

“Atas nama pemerintah, saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas dedikasi para pendidik yang telah ikut serta dalam mencerdaskan bangsa. Semoga SD Muhammadiyah Sangonan 2 dan TK ABA Jowah semakin sukses dalam mempersiapkan generasi muda menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Harda Kiswaya.

Selain kepada pihak sekolah, Harda juga memberikan pesan khusus kepada para wali murid. Ia menekankan bahwa tanggung jawab pendidikan tidak boleh sepenuhnya dilimpahkan kepada pihak sekolah, melainkan harus ada kerja sama yang kuat antara institusi pendidikan dan keluarga di rumah.

“Kepada Bapak dan Ibu orang tua siswa, saya ingatkan agar jangan sepenuhnya membebankan pendidikan pada sekolah. Orang tua wajib aktif memberikan pendidikan dan pendampingan karena waktu anak sebenarnya lebih banyak dihabiskan di rumah daripada di sekolah,” tandas Harda Kiswaya.

Harda juga mengungkapkan rasa bangganya melihat rekam jejak lulusan SD Muhammadiyah Sangonan 2 yang telah berhasil menduduki berbagai posisi strategis, mulai dari Notaris, Pegawai Badan Kepegawaian, Guru Besar di Universitas Islam Indonesia (UII), pegawai di Telkom, hingga banyak yang menjadi pengusaha sukses. Menurutnya, keberhasilan para alumni ini harus menjadi pemacu semangat untuk terus membangun semangat gotong royong demi kemajuan sekolah di masa depan.

Sebagai puncak prosesi peringatan, Bupati Sleman Harda Kiswaya berkenan memotong tumpeng secara simbolis sebagai tanda syukur atas perjalanan panjang kedua institusi pendidikan tersebut. Acara diakhiri dengan ramah tamah yang mempererat tali silaturahmi antara pemerintah, tokoh agama, pendidik, dan masyarakat sekitar. (Giek/KIM Moyudan)




Pesona Wisata Bukit Klangon Warnai Libur Tahun Baru 2026 di Kaki Merapi

Sleman – Momentum liburan Tahun Baru 2026 dimanfaatkan ribuan wisatawan untuk mengunjungi berbagai destinasi alam di Daerah Istimewa Yogyakarta. Salah satu lokasi yang tetap menjadi primadona adalah Wisata Bukit Klangon yang terletak di Kalitengah Lor, Kalurahan Glagaharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman. Berada di lereng Gunung Merapi dengan ketinggian sekitar hingga meter di atas permukaan laut, Bukit Klangon menawarkan panorama alam yang memukau bagi para pelancong.

Dari lokasi ini, pengunjung dapat menikmati pemandangan Gunung Merapi dari jarak yang relatif dekat, dengan hamparan alam hijau dan udara pegunungan yang sejuk. Saat cuaca cerah, terutama di pagi hari, siluet Merapi terlihat megah dari sejumlah gardu pandang dan titik swafoto yang tersedia. Akses menuju lokasi ini pun terbilang mudah, berjarak sekitar 31 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta dan dapat ditempuh dalam waktu satu jam menggunakan kendaraan pribadi melalui rute ke arah utara menuju Cangkringan.

Pantauan pada Sabtu (3/1/2026) menunjukkan kawasan wisata ini masih dipadati pengunjung yang menikmati sisa suasana liburan Tahun Baru. Wisatawan datang dari berbagai daerah, baik secara rombongan keluarga, komunitas, maupun individu yang mencari ketenangan di alam terbuka. Aktivitas yang dilakukan pun beragam, mulai dari sekadar bersantai hingga melakukan olahraga luar ruang seperti bersepeda dan berkemah.

Salah satu wisatawan asal Piyungan, Hari, mengungkapkan bahwa dirinya sengaja memilih Bukit Klangon sebagai tujuan utama untuk bersepeda bersama rekan-rekannya. Menurutnya, jalur menuju destinasi ini memberikan tantangan tersendiri sekaligus hadiah berupa pemandangan yang menyegarkan mata. Hal tersebut dinilai sangat efektif untuk mengembalikan semangat setelah menjalani rutinitas pekerjaan yang padat.

“Pemandangan sepanjang jalannya sangat bagus dan udaranya sejuk, sangat cocok untuk berolahraga gowes. Stres dan penat setelah bekerja bisa langsung hilang begitu sampai di sini dan melihat kemegahan Merapi secara dekat,” ujar Hari saat ditemui di sela aktivitas bersepedanya.

Hari juga menyoroti keberadaan fasilitas layanan internet nirkabel atau wifi gratis yang disediakan Pemerintah Kabupaten Sleman di lokasi wisata. Layanan ini dinilai sangat membantu wisatawan untuk tetap berkomunikasi dan membagikan momen liburan di media sosial, mengingat sinyal seluler dari beberapa operator telekomunikasi sering kali sulit dijangkau di kawasan pegunungan tersebut. Ia berharap kualitas koneksi tersebut tetap stabil meski jumlah pengunjung sedang melonjak tajam.

Sebagai destinasi wisata alam, Bukit Klangon dikenal memiliki biaya masuk yang sangat terjangkau dengan fasilitas pendukung yang kian memadai. Keberadaan toilet bersih, musala, dan warung-warung lokal milik warga menambah kenyamanan pengunjung. Dengan keasrian yang tetap terjaga, Bukit Klangon kembali membuktikan posisinya sebagai salah satu pilihan utama wisata alam di Yogyakarta bagi mereka yang ingin merasakan langsung atmosfer kaki Gunung Merapi. (Andy Ahmad/KIM DSN Ngaglik)




Bupati Sleman Hadiri Soft Launching Taman Ketahanan Pangan Semar Ndalil Kalurahan Girikerto

Sleman – Bupati Sleman, Harda Kiswaya bersama sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab Sleman dan pihak terkait menghadiri soft launching taman ketahanan pangan “Semar Ndalil” milik Pemerintah Kalurahan Girikerto, Turi, Jumat (2/1/2026).

Koordinator Lapangan Taman Ketahanan Pangan Semar Ndalil Kalurahan Girikerto, Endang Setyomurni menjelaskan pengembangan taman ketahanan pangan Semar Ndalil merupakan usaha terpadu sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan perkebunan, yang berbalut wisata edukasi. Adapun pengelolaannya, Pemerintah Kalurahan Girikerto bersinergi dengan Gapoktan, KWT dan UMKM yang ada di Kalurahan Girikerto.

Sementara Lurah Girikerto, Sudibya, menyebutkan konsep ini menindaklanjuti masterplan Kalurahan Girikerto berdasarkan musyawarah bersama, untuk mengalokasikan 250 juta rupiah untuk ketahanan pangan.

“Kami musyawarah dengan seluruh elemen masyarakat Girikerto, muncul pemikiran, kita kembangkan taman yang ada di Girikerto menjadi taman ketahanan pangan yang kita soft launching pagi ini,” jelasnya.

Diharapkan ke depannya taman ketahanan pangan Semar Ndalil yang dikelola oleh BUMKal Girikerto ini bisa dikembangkan sebagai tempat wisata edukasi serta mendorong kesejahteraan masyarakat Kalurahan Girikerto.

Bupati Sleman, Harda Kiswaya mengaku senang serta mengapresiasi pembangunan taman ketahanan pangan yang diinisiasi oleh Kalurahan Girikerto ini. Seperti namanya, taman ini nantinya dapat menunjang ketahanan pangan di Kabupaten Sleman, khusunya di Kalurahan Girikerto.

“Kami senang dengan pergerakan dan inisiatif dari masyarakat seperti ini. Intinya Pemkab Sleman siap mendukung kegiatan-kegiatan seperti ini,” ujarnya.




Inovasi Keripik Gembus Asal Margoagung, Olahan Limbah Tahu yang Tembus Pasar Supermarket

Sleman – Limbah tahu yang selama ini hanya dipandang sebelah mata dan sebatas dimanfaatkan sebagai pakan ternak, kini naik kelas menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Di tangan kreatif Rahayu, pemilik rumah produksi 2Dhe yang berlokasi di Krapyak X, Margoagung, Seyegan, Sleman, limbah tersebut disulap menjadi camilan renyah berupa keripik gembus yang sukses menembus rak-rak supermarket ternama di Yogyakarta.

Wilayah Krapyak X memang dikenal sebagai sentra produksi tahu di Sleman bagian barat. Melimpahnya ketersediaan bahan baku sisa produksi tahu mendorong Rahayu untuk melakukan eksperimen sejak sepuluh tahun silam. Ia menyayangkan jika sisa produksi tersebut hanya berakhir di kandang ternak tanpa memberikan nilai tambah finansial yang signifikan bagi warga sekitar.

“Awalnya limbah tahu di sini hanya dipakai untuk pakan ternak. Saya berpikir bagaimana caranya supaya limbah ini bisa punya nilai jual lebih dan bisa dinikmati sebagai camilan yang enak. Setelah melalui berbagai percobaan, akhirnya terciptalah keripik gembus ini,” ujar Rahayu saat ditemui di rumah produksinya pada Sabtu (3/1/2026).

Untuk memenuhi permintaan pasar, setiap hari Rahayu membutuhkan sekitar tiga ember limbah tahu yang kemudian diolah menjadi 14 hingga 15 kilogram keripik gembus. Meskipun skalanya sudah masuk ke pasar modern, operasional usaha ini masih dikelola secara mandiri oleh Rahayu bersama suami dan dibantu seorang karyawan. Selain keripik gembus, rumah produksi 2Dhe juga memproduksi keripik kenikir, usus crispy, dan keripik pare berdasarkan pesanan.

Keberhasilan menembus pasar ritel modern tidak didapatkan secara instan. Rahayu aktif mengikuti berbagai pembinaan, mulai dari gebyar UMKM, Pasar Tani, hingga proses kurasi ketat yang dilakukan oleh dinas terkait. Melalui proses kurasi tersebut, ia mendapatkan banyak masukan teknis mengenai standar kualitas rasa, ketahanan produk, hingga estetika kemasan yang sesuai dengan permintaan pasar menengah ke atas.

“Setelah rutin ikut kurasi, saya banyak belajar soal standar rasa dan kemasan yang profesional. Perubahan pada aspek kemasan dan kualitas rasa inilah yang akhirnya membuka jalan bagi produk kami untuk mendapatkan tawaran masuk ke supermarket. Saat ini produk kami sudah tersedia di beberapa jaringan supermarket besar di Yogyakarta dan mampu bertahan hingga tiga bulan tanpa pengawet tambahan,” ungkap Rahayu dengan bangga.

Demi menjaga stabilitas produksi, Rahayu menjalin kerja sama dengan tiga perajin tahu di lingkungannya sebagai pemasok bahan baku utama. Tidak hanya berorientasi pada keuntungan, ia juga sangat memperhatikan aspek lingkungan dengan menyiapkan sumur resapan khusus untuk mengelola limbah cair sisa produksinya. Komitmennya pada lingkungan ini bahkan menjadikan rumah produksinya sering dijadikan objek penelitian oleh mahasiswa, mulai dari kajian pengolahan limbah hingga inovasi pembuatan tepung dari ampas tahu.

Meski telah sukses di pasar luring, Rahayu mengakui bahwa tantangan cuaca masih menjadi kendala utama karena sangat memengaruhi proses pengolahan gembus sebelum digoreng. Selain itu, ia berencana untuk mulai merambah platform digital guna memperluas jangkauan pasar yang lebih luas di masa depan. Ia percaya bahwa konsistensi dan ketelatenan dalam mengolah bahan baku lokal adalah kunci utama UMKM untuk tetap bertahan dan berkembang. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)