LPMKal Bertransformasi Menjadi Tuwanggana, Pemkab Sleman Sosialisasikan Perbup Nomor 25 Tahun 2026

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan (Dinas PMK) mulai mensosialisasi Peraturan Bupati (Perbup) Sleman Nomor 25 Tahun 2026 tentang Tuwanggana. Regulasi ini mendasari transformasi Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan (LPMKal) menjadi Tuwanggana, yang disosialisasikan secara daring melalui Zoom Meeting pada Kamis (17/9/2026).

Kegiatan sosialisasi diikuti oleh jajaran Badan Permusyawaratan Kalurahan (BPKal), LPMKal, serta Pendamping Desa dari seluruh wilayah Kabupaten Sleman. Forum ini digelar guna memberikan pemahaman komprehensif mengenai dasar hukum, mekanisme transisi, hingga perluasan fungsi kelembagaan masyarakat di tingkat kalurahan.

Kepala Bidang Pemberdayaan Masyarakat Dinas PMK Sleman, Ekowati, menjelaskan bahwa aturan baru ini membawa perubahan mendasar dalam struktur dan peran lembaga kemasyarakatan di tingkat lokal.

“Substansi utama dalam Peraturan Bupati Sleman Nomor 25 Tahun 2026 tentang Tuwanggana berfokus pada penguatan kelembagaan masyarakat lokal melalui transformasi struktural dan fungsional LPMKal yang bertransformasi menjadi Tuwanggana,” ujar Ekowati.

Hal senada disampaikan Ketua Pirukunan Tuwanggana Kabupaten Sleman, Dwijo Putro. Ia mengungkapkan bahwa proses perubahan kelembagaan ini telah diperjuangkan sejak 2023 demi melahirkan kepastian hukum serta memperkuat sinergi pembangunan di kalurahan.

“BPKal dan Tuwanggana memiliki tupoksi yang sama dalam hal menjaring aspirasi masyarakat. Harapannya, koordinasi dapat berjalan dengan baik dalam pelaksanaan pembangunan di kalurahan sekaligus memperbaiki struktur kelembagaan yang ada di kalurahan,” kata Dwijo Putro.

Secara teknis, Ketua Tim Kerja Penguatan Kelembagaan dan Kapasitas Masyarakat Dinas PMK Sleman, Agus Waseso Wibowo, menguraikan bahwa Tuwanggana tidak hanya berfungsi menyerap aspirasi pembangunan dan menggerakkan partisipasi swadaya masyarakat, tetapi juga bertindak sebagai penyokong agenda Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

“Tuwanggana diharapkan berperan aktif membantu pemerintah kalurahan dalam menyerap aspirasi masyarakat, menggerakkan partisipasi dan gotong royong, serta mendukung pelaksanaan program-program Keistimewaan DIY di tingkat akar rumput,” terang Agus Waseso Wibowo.

Pada masa transisi, pengurus LPMKal yang ada saat ini dipastikan tetap bertugas hingga habis masa jabatannya. Setelahnya, kepengurusan Tuwanggana akan dikukuhkan melalui Keputusan Lurah dengan masa bakti lima tahun. Regulasi baru ini juga menegaskan larangan keterlibatan pengurus Tuwanggana dalam partai politik guna menjaga independensi kelembagaan. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Dukung Ketahanan Pangan, Binmas Polsek Gamping Sambangi Kelompok Tani di Kwarasan

Sleman – Unit Pembinaan Masyarakat (Binmas) Kepolisian Sektor (Polsek) Gamping menggelar kegiatan sambang dan silaturahmi bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Lestari serta Kelompok Tani dan Ternak Waras Barokah di Padukuhan Kwarasan, Kalurahan Nogotirto, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman pada Kamis (17/9/2026). Langkah ini diselenggarakan sebagai bagian dari upaya kepolisian dalam memperkuat sinergi dan mendukung ketahanan pangan berbasis masyarakat.

Kegiatan silaturahmi tersebut difungsikan sebagai sarana komunikasi langsung jajaran kepolisian untuk memetakan potensi serta kendala di sektor pertanian dan peternakan lokal, sekaligus mempererat hubungan kemitraan dengan warga di tingkat padukuhan.

Kepala Unit Binmas Polsek Gamping, Mamik Susanti, mengapresiasi peran aktif KWT Mekar Lestari dan Kelompok Tani dan Ternak Waras Barokah yang dinilai konsisten memanfaatkan lahan secara produktif. Menurutnya, ketahanan pangan membutuhkan keterlibatan langsung masyarakat dalam mengelola sumber daya lokal yang ada.

“Pemanfaatan lahan pekarangan untuk budidaya tanaman pangan, hortikultura maupun komoditas lainnya dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi berbasis rumah tangga. Kelompok masyarakat di tingkat padukuhan memiliki posisi penting karena bersentuhan langsung dengan lahan, produksi pangan, serta kebutuhan ekonomi keluarga,” ujar Mamik Susanti.

Senada dengan hal tersebut, Bhabinkamtibmas Nogotirto, Eko Yulianto, menekankan bahwa optimalisasi lahan pekarangan dan pengelolaan ternak secara terpadu tidak hanya menciptakan ketahanan pangan mandiri, tetapi juga menopang stabilitas ekonomi dan keamanan wilayah.

“Hubungan yang terbangun melalui sambang dan silaturahmi diharapkan dapat memperkuat komunikasi antara kepolisian dan warga, termasuk dalam menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif bagi kegiatan produktif,” kata Eko Yulianto.

Melalui komunikasi dan kolaborasi yang berkelanjutan ini, Polsek Gamping berharap pemanfaatan potensi lokal di Padukuhan Kwarasan dapat terus berkembang sehingga menciptakan kawasan yang mandiri, produktif, dan tangguh secara ekonomi. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Belajar Sambil Bereksplorasi, Outing Class PAUD-TK Pencarsari Tumbuhkan Kemandirian Anak

Sleman — Sebanyak 36 anak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-Kanak (TK) Pencarsari, Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, mengikuti kegiatan outing class di Suraloka Zoo, Jumat (18/9/2026). Kegiatan yang didampingi sembilan guru tersebut menjadi bagian dari pembelajaran di luar kelas dengan mengutamakan pengalaman langsung bagi anak usia dini.

Suraloka Zoo dipilih karena lokasinya relatif dekat, memiliki beragam satwa, termasuk satwa langka, serta menawarkan fasilitas yang dinilai aman dan nyaman dengan harga tiket terjangkau. Selama kegiatan, anak-anak juga mendapatkan pendampingan dari pengelola sehingga proses belajar berlangsung menyenangkan dan terarah.

Kepala PAUD-TK Pencarsari, Suharini mengatakan outing class penting bagi anak usia dini karena mereka berada pada masa pertumbuhan dan perkembangan yang membutuhkan pengalaman konkret.

“Outing class itu penting karena saat ini usia emas, jadi mereka harus mengerti secara langsung. Mereka bisa berinteraksi secara nyata, tidak hanya melihat dalam video atau gambar,” ujar Suharini.

Menurutnya, pembelajaran secara langsung memberikan kesempatan kepada anak untuk mengamati, mengenali, dan memahami lingkungan di sekitarnya. Kunjungan ke kebun binatang, misalnya, dapat mengenalkan berbagai jenis satwa sekaligus menumbuhkan rasa ingin tahu anak terhadap alam.

Kegiatan tersebut juga menjadi sarana bagi guru untuk menghubungkan materi pembelajaran di sekolah dengan pengalaman nyata. Anak tidak hanya menerima informasi secara lisan, tetapi dapat melihat dan mengamati langsung objek yang dipelajari sesuai dengan tahap perkembangannya.

Suharini menjelaskan, outing class berbeda dengan kegiatan wisata bersama keluarga. Meskipun sama-sama dilakukan di luar sekolah, outing class merupakan bagian dari proses pembelajaran dengan tujuan yang telah ditentukan.

“Kalau outing class itu termasuk kegiatan belajar mengajar, secara waktu terbatas, dan ada tujuan yang ingin dicapai. Kalau wisata itu bersama orang tuanya,” jelasnya.

Selain memperoleh pengetahuan baru, anak juga dilatih untuk belajar mandiri selama mengikuti kegiatan. Mereka belajar mengikuti arahan guru, menjaga ketertiban, berinteraksi dengan teman, serta beradaptasi dengan lingkungan baru tanpa selalu bergantung kepada orang tua.

“Manfaat jangka panjangnya mereka menjadi lebih percaya diri, berani di luar, berani tanpa orang tuanya,” tambah Suharini.

Menurut Suharini, pelaksanaan outing class perlu disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak. Guru perlu menyiapkan tujuan pembelajaran, menentukan lokasi yang aman dan nyaman, memperhatikan jumlah pendamping serta durasi kegiatan, dan memastikan anak memperoleh waktu istirahat yang cukup.

Dengan perencanaan dan pendampingan yang tepat, pembelajaran di luar kelas tidak hanya menghadirkan pengalaman yang menyenangkan bagi anak, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenal lingkungan, menumbuhkan rasa ingin tahu, melatih kemandirian, serta membangun kepercayaan diri.

Kegiatan outing class PAUD-TK Pencarsari di Suraloka Zoo menunjukkan bahwa pembelajaran anak usia dini dapat dikembangkan melalui pengalaman langsung di lingkungan sekitar. (Andy Ahmad – KIM DSN Ngaglik)




Dinas Dukcapil Sleman Perkuat Peran Kader Adminduk Layani Masyarakat

Sleman –  Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kabupaten Sleman memperkuat peran kader administrasi kependudukan (Adminduk) untuk meningkatkan kualitas pelayanan dokumen kependudukan yang mudah, cepat, tepat, dan tertib bagi masyarakat.

Ketua Tim Kerja Identitas Penduduk Dinas Dukcapil Kabupaten Sleman, Sriyanti Istipurnani  menjelaskan bahwa kader Adminduk memiliki peran strategis sebagai penghubung pelayanan administrasi kependudukan di tengah masyarakat.

“Kader Adminduk diharapkan semakin mampu menjalankan perannya dalam membantu masyarakat mendapatkan pelayanan administrasi kependudukan yang lebih mudah, cepat, tepat, dan tertib,” jelasnya dalam kegiatan Optimalisasi Kader Administrasi Kependudukan di Pendopo Kalurahan Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Kamis (17/9/2026).

Menurutnya, keberadaan kader Adminduk juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya dokumen dan data kependudukan yang lengkap, benar, serta selalu diperbarui.

Ia menjelaskan, optimalisasi kader dilakukan melalui peningkatan pemahaman, kapasitas, koordinasi, dan keterampilan agar kader mampu mendampingi masyarakat dalam memperoleh pelayanan administrasi kependudukan.

“Optimalisasi kader Adminduk merupakan bagian dari upaya bersama untuk mewujudkan pelayanan publik yang responsif, tertib, transparan, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat,” ujar Sriyanti.

Melalui penguatan peran kader Adminduk, Dukcapil Sleman berharap masyarakat semakin mudah mengakses layanan administrasi kependudukan sekaligus semakin sadar pentingnya tertib dokumen kependudukan.

“Upaya ini menjadi bagian dari komitmen bersama dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik dan mewujudkan tertib administrasi kependudukan di Kabupaten Sleman,” pungkas Sriyanti. (Athiful/KIM Depok)




Kuliah Sambil Berwirausaha, Mahasiswa UNY Bangun Kemandirian dan Jiwa Entrepreneur

Sleman –  Menjadi mahasiswa tidak membuat Takashi Nurdi Al Mu’tasyimbillah berhenti belajar hal baru di luar ruang kuliah. Di sela aktivitas akademiknya sebagai mahasiswa Departemen Biologi FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), ia memilih merintis usaha makanan untuk melatih kemandirian sekaligus membangun pengalaman sebagai seorang entrepreneur.

Takashi mulai mengenal dunia usaha sejak duduk di bangku SMA. Kebiasaan berjualan tersebut ia lanjutkan ketika memasuki masa perkuliahan. Memasuki semester kedua, ia semakin serius mengembangkan usahanya sebagai upaya memenuhi kebutuhan sehari-hari dan mengurangi beban orang tua.

“Saya sudah berjualan sejak SMA, jadi sekarang saya melanjutkannya. Saya juga ingin punya penghasilan sendiri supaya bisa membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari dan tidak terlalu membebani orang tua, terutama untuk uang saku dan keperluan kuliah,” ungkapnya, Kamis (17/9/2026).

Saat ini, Takashi menjalankan usaha risol dengan tiga varian yang ia buat sendiri. Ia memasarkan produknya di lingkungan kampus dan mampu menjual hingga sekitar 300 buah dalam sehari. Dengan harga hingga per buah, ia berusaha menjaga produknya tetap terjangkau bagi mahasiswa.

Takashi memproduksi risol setelah menyelesaikan aktivitas kuliah dan menjualnya pada hari Senin, Selasa, dan Jumat. Selain menawarkan secara langsung, ia juga membuka kerja sama dengan berbagai kepanitiaan mahasiswa yang membutuhkan produk untuk kegiatan dana usaha maupun konsumsi acara.

Bagi Takashi, setiap pesanan menjadi kesempatan untuk belajar mengelola usaha. Ia tidak hanya belajar memproduksi dan menjual makanan, tetapi juga memahami kebutuhan pelanggan, mengatur waktu, serta membangun tanggung jawab sebagai pelaku usaha.

Perjalanan merintis usaha juga memberinya pengalaman menghadapi tantangan. Takashi pernah mencoba mengikuti Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW), namun belum berhasil lolos. Meski demikian, ia tetap melanjutkan usaha yang telah dibangun sambil menyelesaikan pendidikannya.

Bagi Takashi, pengalaman berjualan selama kuliah merupakan investasi untuk masa depan. Ia berharap proses tersebut dapat menjadi bekal untuk mengembangkan usaha dan membangun karakter kewirausahaan.

“Harapannya ke depan bisa punya jiwa entrepreneur. Mungkin saya bisa mengembangkan usaha,” tandasnya. (Athiful/KIM Depok)