Penguatan Literasi Lingkungan Dorong Budaya Kelola Sampah Anak Usia Dini di Sleman

Sleman — Penguatan literasi lingkungan pada anak usia dini kini menjadi langkah strategis dalam membangun budaya pengelolaan sampah yang berkelanjutan sejak dari hulu. Nur Cholimah, seorang akademisi dari Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Negeri Yogyakarta, menjelaskan bahwa pengenalan pengelolaan sampah di level prasekolah merupakan bagian integral dari pendidikan karakter serta pembiasaan perilaku bertanggung jawab terhadap alam. Menurutnya, persoalan sampah tidak boleh hanya dipahami sebagai isu teknis semata, melainkan harus dipandang sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari anak di rumah, sekolah, dan masyarakat.
Nur Cholimah menegaskan bahwa literasi lingkungan pada jenjang ini diarahkan untuk membentuk kemampuan anak dalam memahami, menafsirkan, dan bertindak secara sederhana namun bermakna terhadap lingkungan sekitarnya. Upaya ini merupakan bentuk investasi jangka panjang untuk menciptakan masyarakat yang lebih peduli pada kebersihan lingkungan di masa depan. Pendidikan lingkungan tersebut tidak dirancang untuk menambah beban hafalan siswa, melainkan untuk menumbuhkan rasa peduli melalui pengalaman yang menggembirakan.
“Pada tahap usia prasekolah, proses pembelajaran dinilai paling efektif apabila dilakukan melalui pengalaman konkret, aktivitas bermain, dan interaksi sosial yang mengaitkan hubungan sebab-akibat secara langsung. Anak-anak perlu melihat langsung apa yang terjadi jika sampah dibuang sembarangan dan bagaimana manfaatnya jika dikelola dengan benar. Kami ingin nilai-nilai ini tertanam secara berkelanjutan dalam memori mereka melalui cara-cara yang menyenangkan,” ujar Nur Cholimah saat memberikan paparan di Gedung Sasana Anglocita Tama, Sabtu (10/1/2026).
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa penguatan literasi pengelolaan sampah dapat dikembangkan melalui tahapan memahami bahasa lingkungan, diskusi kelompok, hingga bermain peran. Pendekatan tersebut dinilai sangat selaras dengan cara anak belajar dan berkembang, baik dari aspek kognitif maupun sosial-emosional. Dengan mengenalkan simbol-simbol lingkungan sejak dini, anak akan memiliki kepekaan yang lebih tajam terhadap kondisi kebersihan di sekitarnya.
Dalam proses ini, guru memiliki peran strategis sebagai arsitek pembelajaran lingkungan. Guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi, tetapi juga wajib menjadi teladan, fasilitator, dan motivator dalam membangun pembiasaan perilaku positif. Lingkungan belajar yang kaya akan literasi visual dan aktivitas kontekstual menjadi faktor penentu keberhasilan internalisasi nilai-nilai peduli lingkungan pada diri anak didik.
“Guru adalah role model utama bagi anak-anak di sekolah. Jika guru menunjukkan kebiasaan memilah sampah secara konsisten, anak akan mengikuti tanpa merasa terbebani. Lingkungan sekolah yang bersih dan tertata secara visual akan mendukung anak untuk terus mempraktikkan hal yang sama di rumah mereka masing-masing. Inilah yang kita sebut sebagai membangun ekosistem literasi lingkungan yang hidup,” tambah Nur Cholimah.
Langkah penguatan literasi lingkungan sejak usia dini ini juga dinilai sangat relevan dengan arah kebijakan pendidikan nasional dalam membangun karakter perilaku berkelanjutan. Melalui penguatan pada satuan PAUD, diharapkan fondasi budaya pengelolaan sampah yang dimulai dari sumbernya dapat segera terbangun. Hal ini sekaligus mendukung upaya pembangunan berkelanjutan berbasis pendidikan karakter yang kokoh sejak masa emas pertumbuhan anak. (Athiful/KIM Depok)



