Drama Lima Set, Cukesa Ngalangan Tumbangkan RBC Bulusan dalam Duel Sengit Porkal Sardonoharjo

Sleman — Pekan Olahraga Kalurahan (Porkal) Sardonoharjo 2026 mulai memanas sejak fase kualifikasi. Duel sengit tersaji di Blekik Sport Center, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, Rabu (16/9/2026), ketika tim langganan juara Cukesa Ngalangan menumbangkan RBC Bulusan dalam pertandingan yang berlangsung hingga lima set.

Pertandingan yang sejak awal diprediksi sebagai “final kepagian” tersebut menyedot perhatian ratusan suporter. Kedua tim tampil agresif dan saling mengejar angka sehingga atmosfer pertandingan terasa seperti partai puncak sebuah turnamen besar.

Cukesa Ngalangan akhirnya mampu mengamankan kemenangan setelah melewati pertarungan panjang lima set. Kemenangan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa persaingan antartim dalam Porkal Sardonoharjo tahun ini tidak mudah diprediksi.

Official RBC Bulusan, Didik Kristadi, mengapresiasi perjuangan para pemainnya yang mampu memberikan perlawanan ketat hingga set penentuan.

“Kami bermain sangat baik, namun kali ini kami kurang beruntung,” ujar Didik.

Kemenangan tersebut menambah catatan positif Cukesa Ngalangan setelah tim putrinya juga meraih kemenangan 3-0 atas RPVC Prumpung pada pertandingan sebelumnya.

Antusiasme suporter turut menjadi warna dalam gelaran Porkal Sardonoharjo 2026. Pertandingan malam di Blekik Sport Center mampu menarik ratusan warga yang datang memberikan dukungan kepada tim dari padukuhan masing-masing.

Dukuh Ngalangan, Indra Gunawan menyampaikan apresiasi kepada para atlet yang telah berjuang sekaligus kepada para pendukung yang terus memberikan energi positif dari tribun.

Ia menyebut dukungan warga bahkan terasa seperti “bedol desa”, menggambarkan besarnya antusiasme masyarakat Ngalangan mengikuti perjuangan tim mereka.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa Porkal tidak semata-mata menjadi kompetisi untuk menentukan pemenang. Turnamen olahraga tingkat kalurahan juga dapat menjadi ruang bertemunya warga dari berbagai padukuhan, memperkuat komunikasi, membangun sportivitas, sekaligus membuka kesempatan bagi atlet-atlet muda untuk menunjukkan kemampuan.

Antusiasme yang muncul sejak babak kualifikasi juga menjadi indikator bahwa olahraga berbasis masyarakat memiliki daya tarik kuat apabila dikelola secara konsisten dan melibatkan dukungan warga.

Porkal Sardonoharjo 2026 pun memiliki fungsi ganda, yaitu menjadi sarana pencarian dan pembinaan bibit atlet sekaligus menjadi momentum mempererat silaturahmi masyarakat.

Drama lima set antara Cukesa Ngalangan dan RBC Bulusan menjadi salah satu contoh bagaimana pertandingan olahraga di tingkat kalurahan mampu menghadirkan tontonan kompetitif sekaligus menghidupkan semangat kebersamaan warga.

Dengan perjalanan turnamen yang masih panjang, persaingan diperkirakan semakin menarik. Dukungan suporter, performa atlet, serta kemampuan setiap tim menjaga konsistensi akan menjadi bagian penting dalam menentukan perjalanan mereka menuju fase berikutnya. (Andy Ahmad – KIM DSN NGAGLIK)




Dari Gamelan hingga Jemparingan, Delegasi UiTM Malaysia Belajar Kearifan Lokal di Kampung Emas Krapyak

Sleman – Sebanyak 15 mahasiswa Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia bersama tujuh dosen pendamping mengunjungi Kampung Emas Krapyak IX, Margoagung, Seyegan, Sleman, Selasa (15/9/2026). Kunjungan tersebut menjadi bagian dari program kolaborasi internasional dan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang diinisiasi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Para mahasiswa diajak mengenal model pemberdayaan masyarakat sekaligus terlibat langsung dalam berbagai aktivitas warga. Kampung Emas Krapyak IX dikembangkan sebagai laboratorium sosial dan pusat studi ilmiah UNY melalui kolaborasi pemerintah, keraton, kampung, dan perguruan tinggi.

Salah satu program yang diperkenalkan adalah Songo Berkah atau Sembilan Berkah, yang mencakup Pendidikan Berkah, Seni Berkah, Olahraga Berkah, Sayur Buah dan Tani Berkah, Mendo Berkah, Mina Berkah, Tahu Berkah, Kuliner Berkah, dan Unggas Berkah.

Koordinator Bidang Pendidikan Kampung Emas Krapyak IX, Nur Laily Tri Wulansari mengatakan Songo Berkah menjadi bagian penting dalam pengembangan potensi masyarakat.

“Kampung Emas ini merupakan salah satu model yang menggabungkan pemberdayaan masyarakat. Pada Kampung Emas ini terdapat sembilan program yang dinamai Songo Berkah,” ujarnya.

Dalam kunjungan tersebut, peserta dibagi menjadi tiga kelompok untuk mengikuti berbagai aktivitas, seperti jemparingan, mengenal pengolahan kuliner melalui angkringan, mengunjungi kandang kambing, melihat budidaya ikan, serta mengikuti pelatihan karawitan.

Rombongan terlebih dahulu disambut pertunjukan karawitan oleh anak-anak SD Margoagung. Para tamu juga diperkenalkan dengan kuliner lokal, seperti tiwul-gatot, jenang upih, sayur lodeh, dan minuman secang.

Antusiasme peserta terlihat saat mengikuti pelatihan karawitan yang dipandu dosen Program Studi Seni Musik UNY sekaligus pelatih karawitan Kampung Emas, Cipta Budi Handaya. Mahasiswa UiTM pun dikenalkan dengan berbagai perangkat gamelan, kemudian diajak mencoba memainkannya dan menyanyikan lagu bersama dalam iringan musik tradisional Jawa.

Pada kesempatan itu, staf administrasi UiTM, Marzuki mengapresiasi metode pelatihan yang diberikan. Menurutnya, peserta dapat mengenal perangkat gamelan hingga mencoba memainkannya dalam waktu relatif singkat.

Kunjungan tersebut menjadi pengalaman langsung bagi mahasiswa UiTM untuk memahami bagaimana potensi lokal dapat dikembangkan menjadi kegiatan pendidikan, sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat. Interaksi dengan warga juga memperlihatkan bahwa kolaborasi internasional dapat berlangsung melalui pembelajaran berbasis pengalaman di tengah masyarakat.

Melalui kunjungan ini, Kampung Emas Krapyak IX menjadi ruang perjumpaan antara perguruan tinggi, masyarakat, budaya lokal, dan jejaring internasional. Program Songo Berkah sekaligus menunjukkan bagaimana potensi masyarakat dapat dikembangkan melalui kolaborasi dan pendampingan berkelanjutan. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Prof. M. Suyanto: Koding dan AI Harus Mendorong Siswa Menciptakan Karya

Sleman – Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman bekerja sama dengan Penerbit Andi Yogyakarta menggelar kegiatan Implementasi Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (AI) serta Pembelajaran Mendalam bagi Kepala SMP/MTs se-Kabupaten Sleman, di Home Theater Lantai 4 Universitas Amikom Yogyakarta, Rabu (16/9/2026).

Kegiatan tersebut diikuti para kepala sekolah sebagai upaya memperkuat pemahaman dan implementasi pembelajaran berbasis teknologi, AI, serta pendekatan pembelajaran mendalam di satuan pendidikan.

Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Ponidi mengatakan pemanfaatan teknologi perlu diikuti kolaborasi antara kepala sekolah, guru, dan peserta didik agar memberikan dampak nyata terhadap kualitas pembelajaran.

Kegiatan tersebut menghadirkan praktik baik dari SMP Negeri 1 Pakem dan SMP Negeri 1 Kalasan, Maria Maghdalena Sumakul selaku penulis buku Koding dan Kecerdasan Artifisial, serta Kepala SMP Negeri 10 Yogyakarta, Edy Thomas Suharto.

Puncak kegiatan diisi oleh Founder sekaligus Rektor Universitas Amikom Yogyakarta, Prof. Dr. M. Suyanto. Ia menyampaikan materi mengenai AI, ekonomi kreatif, industri kreatif, dan masa depan pendidikan.

Dalam paparannya, Prof. Suyanto menegaskan AI bukan ancaman bagi pendidikan, melainkan alat yang dapat membantu manusia meningkatkan kreativitas dan produktivitas.

“AI hanyalah alat. Yang terpenting adalah kreativitas, ide, kemampuan memecahkan masalah, dan kemauan untuk terus belajar,” ungkapnya.

Menurutnya, pembelajaran koding dan AI tidak cukup diarahkan pada kemampuan menggunakan aplikasi. Peserta didik perlu didorong untuk menghasilkan karya, menyelesaikan masalah, membangun portofolio, dan menciptakan peluang baru.

Prof. Suyanto juga memperkenalkan konsep Creative Economy, yakni kemampuan mengubah ide menjadi karya yang memiliki nilai dan manfaat ekonomi. Menurutnya, potensi tersebut dapat dikembangkan melalui desain, fotografi, videografi, animasi, penulisan, aplikasi, hingga konten digital.

Ia juga mendorong sekolah memanfaatkan kekayaan budaya dan cerita lokal Indonesia sebagai sumber inspirasi karya kreatif. Cerita lokal, menurutnya, dapat dikembangkan menjadi film, animasi, maupun konten digital dengan nilai yang dapat diterima masyarakat luas.

Sebagai praktisi industri kreatif dan perfilman, Prof. Suyanto pun berbagi pengalaman mengenai perjalanan karya-karyanya yang memperoleh berbagai penghargaan internasional. Menurutnya, kekuatan utama Indonesia terletak pada kekayaan budaya dan cerita lokal yang dapat dikembangkan menjadi karya berkelas dunia.

“Hollywood menghargai karya yang original. Kekuatan kita justru ada pada cerita lokal yang memiliki nilai universal,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Suyanto memperkenalkan prinsip yang sering digunakannya dalam mengembangkan karya kreatif, yaitu ‘Local Story with Universal Values’, yakni mengangkat cerita lokal dengan pesan kemanusiaan yang dapat dipahami masyarakat dunia.

Ia mencontohkan berbagai legenda Nusantara yang dapat dikembangkan menjadi karya animasi dan film internasional melalui penguatan karakter, nilai moral, dan pemanfaatan teknologi AI dalam proses produksinya.

Selain itu, ia mengajak sekolah untuk mulai mengenalkan peserta didik pada empat jalur profesi masa depan, yaitu saintis, profesional, entrepreneur, dan content creator. Menurutnya, keempat bidang tersebut akan semakin membutuhkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, literasi digital, dan pemanfaatan AI secara bijak.

Bagi peserta didik SMP, pembelajaran koding dan AI dapat diwujudkan melalui berbagai proyek kreatif seperti pembuatan video edukasi, animasi, desain digital, pengembangan cerita lokal, hingga proyek-proyek berbasis pemecahan masalah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Salah satu peserta, Wahdan Arifudin mengatakan kegiatan tersebut memberikan wawasan baru bagi kepala sekolah mengenai pentingnya membangun ekosistem pembelajaran yang mendorong kreativitas, inovasi, dan pemanfaatan teknologi secara produktif.

Melalui kegiatan ini, implementasi pembelajaran koding, AI, dan pembelajaran mendalam di sekolah-sekolah Kabupaten Sleman diharapkan semakin berkembang sehingga peserta didik tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menciptakan karya dan inovasi yang bermanfaat.

(Arief Hartanto KIM Kertomandiri Turi)




18 Padukuhan Ikuti Cabor Bulutangkis Porkal Sardonoharjo 2026

Sleman — Cabang olahraga (cabor) bulutangkis Pekan Olahraga Kalurahan (Porkal) Sardonoharjo 2026 mulai dipertandingkan pada 15–18 September 2026 di GOR DS Selokerto, Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman. Kompetisi ini diikuti atlet yang mewakili 18 padukuhan se-Kalurahan Sardonoharjo.

Pertandingan bulutangkis menjadi bagian dari rangkaian Porkal Sardonoharjo 2026 yang tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana pembinaan atlet dan mempererat kebersamaan antarwarga.

Koordinator cabang olahraga bulutangkis sekaligus panitia kegiatan, Jumaryadi, mengajak masyarakat untuk memberikan dukungan kepada para atlet yang bertanding. Dukungan tersebut diharapkan menambah semangat peserta untuk menunjukkan kemampuan terbaik sekaligus menjunjung sportivitas.

“Bertanding secara sportif, terima hasil pertandingan dengan lapang dada, dan tetap jaga hubungan baik antarkontingen,” tandasnya, Rabu (16/9/2026).

Lebih lanjut, sportivitas, prestasi dan kerukunan menjadi pesan utama yang diusung dalam  Porkal Sardonoharjo 2026.

Keikutsertaan 18 padukuhan menunjukkan tingginya partisipasi masyarakat dalam Porkal Sardonoharjo 2026. Melalui kompetisi ini, diharapkan muncul atlet-atlet potensial yang dapat terus dibina sekaligus tumbuhnya budaya olahraga di tingkat kalurahan.

Porkal Sardonoharjo 2026 menjadi momentum untuk memadukan prestasi olahraga dan kebersamaan masyarakat melalui semangat berkompetisi, bersilaturahmi, dan tetap guyub rukun. (Egi Prayoga – KIM DSN NGAGLIK)




BerKawan GNFI Ajak 12 Pemuda Sleman Mengenal Lebih Dekat Dunia Penyiaran di RRI Yogyakarta

Sleman — Sebanyak 12 pemuda-pemudi asal Kabupaten Sleman mengikuti kegiatan BerKawan yang diselenggarakan Kawan Good News From Indonesia (GNFI) bertajuk “Sehari Menjadi Insan Radio: Mengenal Lebih Dekat RRI Yogyakarta”. Kegiatan berlangsung di Lembaga Penyiaran Publik (LPP) RRI Yogyakarta, Rabu (16/9/2026).

Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi generasi muda untuk memperoleh pengalaman langsung sekaligus mengenal profesi dan lingkungan kerja di berbagai bidang. Dalam edisi kali ini, peserta diajak melihat lebih dekat proses kerja di balik produksi dan penyiaran radio.

Wartawan Good News From Indonesia (GNFI), Pierre Rainer mengatakan BerKawan dirancang sebagai pengalaman belajar dengan mempertemukan peserta secara langsung dengan para praktisi.

“Lewat program BerKawan, Kawan GNFI diajak untuk seru-seruan bareng di Sehari Menjadi Insan Radio: Mengenal Lebih Dekat RRI Yogyakarta,” ujar Pierre.

Menurutnya, peserta berkesempatan mengenal dapur penyiaran, melihat operasional studio, serta berdiskusi dengan para profesional RRI Yogyakarta. Pengalaman tersebut memberikan gambaran bahwa sebuah siaran tidak hanya melibatkan penyiar, tetapi juga membutuhkan proses produksi, teknologi, koordinasi, dan kerja sama berbagai pihak.

“Di sini kita bakal mengulik langsung dapur penyiaran, melihat proses operasional studio, dan belajar dari para profesional di RRI Yogyakarta,” tandas Pierre.

Kepala Stasiun RRI Yogyakarta, Taufan Pamungkas Marhaendra Jaya yang pada kesempatan tersebut diwakili oleh Kabag TU LPP RRI Yogyakarta, Nunuk, menyambut kedatangan para peserta BerKawan di lingkungan RRI Yogyakarta.

Dalam sambutannya, pihak RRI Yogyakarta menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh peserta yang hadir dan berharap kunjungan tersebut dapat menjadi pengalaman yang bermanfaat.

“Selamat datang kepada Bapak/Ibu, Mas/Mbak semuanya di RRI Yogyakarta. Kami sangat senang dapat menerima kunjungan dari teman-teman Kawan GNFI,” ujar Nunuk membacakan sambutan Kepala Stasiun RRI Yogyakarta.

Peserta mendapat kesempatan melihat lingkungan studio, mengenal aktivitas produksi dan penyiaran, serta berinteraksi langsung dengan insan RRI. Dari kegiatan tersebut, peserta juga memperoleh wawasan mengenai berbagai bidang dalam dunia radio, mulai dari produksi konten, jurnalistik, penyiaran, pengelolaan program, hingga pemanfaatan teknologi.

Salah satu peserta asal Kota Yogyakarta, Shinta Sigit mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, kunjungan ke RRI memberikan pengalaman berbeda karena peserta dapat melihat langsung proses kerja yang selama ini hanya dikenal melalui siaran.

“Yang menarik adalah kita bisa melihat langsung bagaimana suasana dan proses kerja di dalamnya. Jadi, kita mendapatkan pengalaman dan pengetahuan yang mungkin tidak akan kita dapatkan hanya dengan mendengarkan radio dari luar,” ungkap Shinta.

Ia menilai pengalaman berada langsung di lingkungan RRI memberikan perspektif baru bagi peserta, terutama mengenai berbagai pekerjaan yang berada di balik sebuah program siaran.

Bagi Shinta, kesempatan tersebut menjadi salah satu pengalaman yang menarik dalam kegiatan BerKawan. Peserta dapat mengetahui bahwa produksi sebuah siaran membutuhkan persiapan, koordinasi, kreativitas, serta kerja sama dari berbagai pihak.

Ia pun berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dengan menghadirkan lebih banyak pengalaman yang mempertemukan generasi muda dengan berbagai bidang profesi dan institusi.

Kegiatan “Sehari Menjadi Insan Radio: Mengenal Lebih Dekat RRI Yogyakarta” menjadi pembelajaran berbasis pengalaman bagi para peserta BerKawan. Selain menambah wawasan mengenai dunia penyiaran, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi generasi muda untuk berdiskusi, membangun jejaring, dan mengenal berbagai profesi di bidang media. (Egi Prayoga – KIM DSN NGAGLIK)