Pembuatan Sumur Resapan dan Biopori Jadi Mitigasi Jelang Musim Hujan

Sleman — Musim kemarau panjang diperkirakan segera berakhir. Memasuki musim hujan, masyarakat perlu meningkatkan kesiapsiagaan terhadap berbagai risiko yang dapat muncul, termasuk genangan dan aliran permukaan yang berpotensi memicu erosi.
Salah satu langkah mitigasi yang dapat dilakukan adalah konservasi tanah dan air melalui pembuatan sumur resapan, biopori, rorak, maupun metode lainnya. Namun, penerapan metode tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan karakteristik lahan.
Pengamat dan pemerhati lingkungan sekaligus juri Program Kampung Iklim (ProKlim), Mohammad Kundarto mengatakan pemilihan metode konservasi tanah dan air tidak dapat dilakukan secara seragam. Hal tersebut disampaikannya saat mengunjungi Kampung Iklim di Berbah, Kabupaten Sleman, Kamis (24/9/2026).
“Perlu kebijakan yang mendalam untuk menentukan pilihan metode mana yang sesuai dengan kondisi lingkungan sekitar kita,” ujar Kundarto.
Dosen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UPN Veteran Yogyakarta tersebut menjelaskan, masyarakat selama ini kerap menjadikan biopori sebagai salah satu bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Namun, menurutnya, masih terdapat berbagai metode lain yang dapat diterapkan sesuai kebutuhan, seperti rorak, sumur resapan, biopori jumbo, dan metode lainnya.
“Penggiat lingkungan beberapa waktu lalu pernah ‘latah’ dengan biopori. Apa-apa maunya dibangun biopori dan kemudian menyebutkan berapa jumlah lubang biopori yang sudah dibuat. Padahal, ada berbagai macam metode untuk mengelola konservasi tanah dan air,” jelasnya.
Kundarto menekankan pentingnya memahami fungsi dan penerapan masing-masing metode, terutama dalam kaitannya dengan kemampuan meresapkan air dan mengolah seresah tanaman menjadi kompos.
Menurutnya, biopori ideal diterapkan di kawasan permukiman padat, baik perkotaan maupun perdesaan, terutama pada wilayah yang memiliki keterbatasan lahan terbuka dan mengalami genangan ringan ketika hujan deras.
“Biopori dirancang dengan lubang yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu dalam. Karena itu, kapasitasnya untuk menyerap aliran permukaan maupun menampung sampah organik juga terbatas,” terangnya.
Untuk kawasan yang masih memiliki ruang terbuka dan membutuhkan kapasitas peresapan lebih besar, dapat diterapkan biopori jumbo. Ukuran diameter dan kedalamannya lebih besar dibandingkan biopori biasa, dengan kapasitas yang lebih sesuai untuk menampung aliran air.
Selain itu, terdapat konsep Teba yang memiliki ukuran lebih besar, menyerupai lubang sumur tetapi tidak terlalu dalam. Metode ini lebih difokuskan pada proses pengomposan. Namun, bagian dasar dapat dibiarkan berupa permukaan tanah tanpa lapisan kedap air sehingga tetap memungkinkan air meresap ke dalam tanah.
Sementara itu, rorak lebih sesuai diterapkan pada lahan yang luas, seperti pekarangan rumah di wilayah perdesaan. Rorak juga dapat dibuat di kawasan lereng perbukitan dengan dikombinasikan bersama sistem terasering.
“Rorak di dekat permukiman berfungsi meresapkan air sekaligus menjadi media pengomposan. Sedangkan rorak di lereng perbukitan lebih dominan berfungsi sebagai peresap air dari aliran permukaan yang berlebihan sehingga dapat mengurangi potensi erosi dan longsor,” jelas Kundarto.
Adapun sumur resapan, lanjutnya, tidak disarankan dibangun pada kawasan dengan muka air tanah dangkal, terutama kurang dari satu meter. Kondisi ideal untuk pembangunan sumur resapan adalah pada wilayah dengan kedalaman muka air tanah sekitar tiga meter atau lebih.
“Jika air tanah terlalu dangkal, saluran drainase dapat menjadi pilihan untuk mengurangi genangan. Sumur resapan lebih direkomendasikan pada lahan yang mudah meresapkan air untuk membantu menambah cadangan air tanah,” katanya.
Kundarto menegaskan bahwa pemilihan metode, bahan, dan penerapan konservasi tanah dan air harus didasarkan pada kondisi setempat. Metode yang sesuai pada suatu wilayah belum tentu dapat diterapkan pada wilayah lain karena setiap lahan memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda.
“Pemilihan metode juga harus mempertimbangkan latar belakang serta tujuan pembuatannya. Para penggiat lingkungan perlu berdiskusi bersama secara cermat dan mendalam ketika menentukan metode dan bahan dalam kegiatan konservasi tanah dan air,” pungkasnya. (Kusnadi, KIM Berbah)



