BerKawan GNFI Ajak 12 Pemuda Sleman Mengenal Lebih Dekat Dunia Penyiaran di RRI Yogyakarta

Sleman — Sebanyak 12 pemuda-pemudi asal Kabupaten Sleman mengikuti kegiatan BerKawan yang diselenggarakan Kawan Good News From Indonesia (GNFI) bertajuk “Sehari Menjadi Insan Radio: Mengenal Lebih Dekat RRI Yogyakarta”. Kegiatan berlangsung di Lembaga Penyiaran Publik (LPP) RRI Yogyakarta, Rabu (16/9/2026).

Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi generasi muda untuk memperoleh pengalaman langsung sekaligus mengenal profesi dan lingkungan kerja di berbagai bidang. Dalam edisi kali ini, peserta diajak melihat lebih dekat proses kerja di balik produksi dan penyiaran radio.

Wartawan Good News From Indonesia (GNFI), Pierre Rainer mengatakan BerKawan dirancang sebagai pengalaman belajar dengan mempertemukan peserta secara langsung dengan para praktisi.

“Lewat program BerKawan, Kawan GNFI diajak untuk seru-seruan bareng di Sehari Menjadi Insan Radio: Mengenal Lebih Dekat RRI Yogyakarta,” ujar Pierre.

Menurutnya, peserta berkesempatan mengenal dapur penyiaran, melihat operasional studio, serta berdiskusi dengan para profesional RRI Yogyakarta. Pengalaman tersebut memberikan gambaran bahwa sebuah siaran tidak hanya melibatkan penyiar, tetapi juga membutuhkan proses produksi, teknologi, koordinasi, dan kerja sama berbagai pihak.

“Di sini kita bakal mengulik langsung dapur penyiaran, melihat proses operasional studio, dan belajar dari para profesional di RRI Yogyakarta,” tandas Pierre.

Kepala Stasiun RRI Yogyakarta, Taufan Pamungkas Marhaendra Jaya yang pada kesempatan tersebut diwakili oleh Kabag TU LPP RRI Yogyakarta, Nunuk, menyambut kedatangan para peserta BerKawan di lingkungan RRI Yogyakarta.

Dalam sambutannya, pihak RRI Yogyakarta menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh peserta yang hadir dan berharap kunjungan tersebut dapat menjadi pengalaman yang bermanfaat.

“Selamat datang kepada Bapak/Ibu, Mas/Mbak semuanya di RRI Yogyakarta. Kami sangat senang dapat menerima kunjungan dari teman-teman Kawan GNFI,” ujar Nunuk membacakan sambutan Kepala Stasiun RRI Yogyakarta.

Peserta mendapat kesempatan melihat lingkungan studio, mengenal aktivitas produksi dan penyiaran, serta berinteraksi langsung dengan insan RRI. Dari kegiatan tersebut, peserta juga memperoleh wawasan mengenai berbagai bidang dalam dunia radio, mulai dari produksi konten, jurnalistik, penyiaran, pengelolaan program, hingga pemanfaatan teknologi.

Salah satu peserta asal Kota Yogyakarta, Shinta Sigit mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, kunjungan ke RRI memberikan pengalaman berbeda karena peserta dapat melihat langsung proses kerja yang selama ini hanya dikenal melalui siaran.

“Yang menarik adalah kita bisa melihat langsung bagaimana suasana dan proses kerja di dalamnya. Jadi, kita mendapatkan pengalaman dan pengetahuan yang mungkin tidak akan kita dapatkan hanya dengan mendengarkan radio dari luar,” ungkap Shinta.

Ia menilai pengalaman berada langsung di lingkungan RRI memberikan perspektif baru bagi peserta, terutama mengenai berbagai pekerjaan yang berada di balik sebuah program siaran.

Bagi Shinta, kesempatan tersebut menjadi salah satu pengalaman yang menarik dalam kegiatan BerKawan. Peserta dapat mengetahui bahwa produksi sebuah siaran membutuhkan persiapan, koordinasi, kreativitas, serta kerja sama dari berbagai pihak.

Ia pun berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dengan menghadirkan lebih banyak pengalaman yang mempertemukan generasi muda dengan berbagai bidang profesi dan institusi.

Kegiatan “Sehari Menjadi Insan Radio: Mengenal Lebih Dekat RRI Yogyakarta” menjadi pembelajaran berbasis pengalaman bagi para peserta BerKawan. Selain menambah wawasan mengenai dunia penyiaran, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi generasi muda untuk berdiskusi, membangun jejaring, dan mengenal berbagai profesi di bidang media. (Egi Prayoga – KIM DSN NGAGLIK)




Perkuat Kapasitas Pelaku Usaha, Forkom UMKM Condongcatur Hadirkan Pembelajaran Terpadu

Sleman – Forum Komunikasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (Forkom UMKM) Condongcatur mendorong peningkatan kapasitas pelaku usaha melalui pembelajaran terpadu. Materi yang diberikan mencakup pengembangan produk, keterampilan, legalitas usaha, hingga pemanfaatan layanan perbankan.

Pembelajaran tersebut menjadi bagian dari pertemuan rutin anggota Forkom UMKM Condongcatur yang berlangsung Rabu (16/9/2026), pukul – WIB.

“Melalui pertemuan ini, kami berharap anggota memperoleh tambahan ilmu dan pengalaman yang bisa diterapkan dalam menjalankan usaha. Dengan belajar bersama, anggota Forkom UMKM Condongcatur diharapkan semakin berkembang, meningkatkan daya saing, dan mampu naik kelas,” ujar Lien.

Kegiatan yang berlangsung di aula kapanewon tersebut menghadirkan pemilik Legit Naturally, Shanti Trisnawati, pemandu pelatihan keterampilan, Dwi Lestari, narasumber dari Kantor Wilayah Kementerian Hukum Daerah Istimewa Yogyakarta, serta perwakilan Bank Sleman.

Dalam sesi berbagi pengalaman bisnis, Shanti menceritakan perjalanan usahanya yang berawal dari keinginan membuat makanan bebas gluten untuk anaknya yang menyandang autisme. Pengalaman pribadi tersebut kemudian mendorongnya merintis usaha pangan.

Seiring perkembangan usaha, Shanti memperluas ragam produk agar dapat dinikmati masyarakat umum. Salah satu produk unggulan Legit Naturally adalah keripik gudeg yang mengangkat cita rasa kuliner khas Yogyakarta dalam bentuk camilan.

Menurut Shanti, produk Legit Naturally telah masuk ke sejumlah toko oleh-oleh dan hotel. Pengalaman tersebut memberikan gambaran kepada anggota mengenai pengembangan produk dan upaya menjangkau pasar yang lebih luas.

Selain berbagi pengalaman usaha, peserta mengikuti praktik membuat bunga dari tisu bersama Dwi Lestari. Pelatihan tersebut menjadi sarana untuk mengasah kreativitas sekaligus memanfaatkan bahan sederhana menjadi produk kerajinan.

Dari sisi legalitas, Elisabet dan Herlambang dari Kanwil Kementerian Hukum DIY memberikan pemahaman mengenai perseroan perorangan sebagai salah satu pilihan badan hukum bagi pelaku usaha mikro dan kecil.

“Perseroan perorangan memberikan kesempatan bagi pelaku usaha mikro dan kecil untuk memiliki usaha berbadan hukum, dengan pemisahan aset pribadi dan perseroan,” ujar Elisabet.

Ia juga menyampaikan ketersediaan bantuan bagi pelaku usaha yang membutuhkan pendampingan pendaftaran.

“Bagi yang membutuhkan bantuan pendaftaran, silakan datang ke Kantor Wilayah Kementerian Hukum DIY di Jalan Gedongkuning Nomor 146, Yogyakarta, pada Senin hingga Kamis selama jam kerja. Kami siap membantu proses pendaftarannya,” kata Elisabet.

Sementara itu, Bank Sleman menghadirkan Didik Budiantoro dari bagian funding dan Latif Dwi Nur Cahyanto dari bagian kredit UMKM. Keduanya memberikan pemahaman mengenai layanan perbankan yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengelolaan usaha, mulai dari layanan transaksi hingga pembiayaan.

“Kami ingin anggota Forkom UMKM Condongcatur semakin mengenal layanan perbankan yang dapat mendukung pengelolaan usahanya. Selain produk simpanan dan kredit, kami memperkenalkan layanan mobil kas keliling, ATM, notifikasi WhatsApp, serta Virtual Account untuk memudahkan transaksi,” jelas Didik.

Produk yang diperkenalkan meliputi Tabungan Mutiara, Deposito Berlian, kredit UMKM, Kredit Sembada, Kredit Kepisan, serta Kredit Angsuran Emas atau KangMas Sembada.

Pada materi kredit UMKM, peserta memperoleh penjelasan mengenai fasilitas untuk mendukung kebutuhan modal kerja dan investasi sesuai kebutuhan serta kemampuan usaha. Pengajuan kredit melalui tahapan kelengkapan berkas, verifikasi data, survei, dan analisis sebelum pencairan apabila memenuhi persyaratan.

Melalui pembelajaran bersama tersebut, Forkom UMKM Condongcatur berupaya membekali anggota dengan pengetahuan yang dapat diterapkan sesuai tahap perkembangan usahanya, mulai dari memperbaiki produk hingga menata keuangan dan memperkuat legalitas. (Wasana / KIM Depok)




Pertama di Sleman, Forum WKSBM Tingkat Kapanewon Terbentuk di Ngemplak

Sleman – Sebanyak 12 Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat (WKSBM) se-Kapanewon Ngemplak resmi membentuk Forum WKSBM Kapanewon Ngemplak. Forum tersebut menjadi forum WKSBM tingkat kapanewon pertama yang terbentuk di Kabupaten Sleman.

Pembentukan forum berlangsung pada Selasa (15/9/2026) di Kapanewon Ngemplak.  Forum tersebut dihadiri Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Ngemplak Ribut Wahyuni, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kapanewon (TKSK) Ngemplak Suwarni, Perwakilan Forum WKSBM Sleman Tri Yoga Zuliyanto, serta perwakilan 12 WKSBM di Kapanewon Ngemplak.

Ribut Wahyuni mengapresiasi terbentuknya forum tersebut. Menurutnya, WKSBM memiliki peran penting sebagai ujung tombak dalam menangani berbagai persoalan sosial di tingkat masyarakat.

Ia mendorong WKSBM untuk memperkuat sinergi, meningkatkan akurasi pendataan, serta mendorong kemandirian warga. Menurutnya, data yang akurat diperlukan sebagai dasar dalam menentukan langkah dan kebijakan.

“WKSBM bergerak dengan prinsip dari, oleh, dan untuk masyarakat. Karena itu, semangat kebersamaan perlu terus dijaga,” ujarnya.

Menurut Ribut, pembentukan Forum WKSBM tingkat kapanewon diperlukan untuk meningkatkan kapasitas sekaligus memperkuat jejaring antar-WKSBM. Forum tersebut diharapkan menjadi ruang komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi dalam menjalankan program kesejahteraan sosial.

Sementara itu, perwakilan Forum WKSBM Sleman, Tri Yoga Zuliyanto mengatakan WKSBM dapat menjadi wadah untuk mengembangkan potensi masyarakat. Menurutnya, WKSBM yang berjalan baik perlu didukung pengurus yang aktif, program yang nyata, perencanaan yang baik, serta pelaksanaan kegiatan yang akuntabel.

“Administrasi yang tertib dan akuntabilitas juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan WKSBM,” katanya.

Tri menambahkan, keberadaan WKSBM sekaligus menjadi sarana untuk melestarikan nilai-nilai sosial dan budaya lokal, seperti kepedulian, tepa selira, dan gotong royong.

Dengan musyawarah mufakat dan semangat gotong royong, 12 WKSBM se-Kapanewon Ngemplak sepakat membentuk Forum WKSBM Kapanewon Ngemplak. Forum ini menjadi yang pertama terbentuk pada tingkat kapanewon di Kabupaten Sleman. (Giek/KIM Moyudan)




Jelang Pergantian Pamong, Margorejo Matangkan Administrasi Pemerintahan

Sleman — Pemerintah Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, mulai mempersiapkan proses pergantian pamong yang akan berakhir masa jabatannya. Persiapan dilakukan untuk memastikan tahapan administrasi berjalan sesuai ketentuan sekaligus menjaga kelancaran pelayanan kepada masyarakat.

Persiapan tersebut dibahas dalam rapat koordinasi di Ruang Rapat Kalurahan Margorejo, Rabu (16/9/2026). Hadir Lurah Margorejo Abdul Azis Muh Ridwan, Carik, para Kepala Seksi (Kasi), Kepala Urusan (Kaur), Dukuh se-Kalurahan Margorejo, serta staf dan pamong kalurahan.

Kawat Projo Kapanewon Tempel, Sri Lestari turut hadir memberikan arahan terkait administrasi pemerintahan dan tahapan yang perlu dipersiapkan. Koordinasi tersebut mengacu pada Peraturan Bupati Sleman Nomor 27 Tahun 2026 tentang Pelaksanaan Pengisian dan Pemberhentian Pamong Kalurahan.

Salah satu tahapan yang dilakukan adalah menyampaikan pemberitahuan kepada pamong mengenai berakhirnya masa jabatan. Dalam agenda tersebut, pemerintah kalurahan menyerahkan dokumen pemberitahuan kepada pamong yang masa jabatannya akan segera berakhir, di antaranya Dukuh Ngebong dan Dukuh Kemiri.

Lurah Margorejo, Abdul Azis Muh Ridwan mengatakan, pemberitahuan sejak dini memberikan kepastian kepada pamong sekaligus kesempatan untuk menyelesaikan tugas dan administrasi sebelum masa jabatan berakhir.

“Pemberitahuan dini ini merupakan bentuk kepastian hukum sekaligus penghormatan atas pengabdian para pamong. Kami ingin proses pergantian berjalan tertib dan pelayanan kepada masyarakat tetap berlangsung tanpa hambatan,” ujarnya.

Menurutnya, masa persiapan juga dimanfaatkan untuk memastikan berbagai pekerjaan dan dokumen administrasi pemerintahan di tingkat padukuhan dapat diselesaikan dengan baik. Hal tersebut penting untuk menjaga kesinambungan pemerintahan saat terjadi pergantian pamong.

Sri Lestari menegaskan, kesiapan administrasi menjadi bagian penting agar setiap tahapan pergantian pamong berjalan sesuai ketentuan.

“Yang penting semua tahapan dipersiapkan dengan baik dan sesuai ketentuan. Dengan begitu, ketika masa jabatan berakhir, pemerintah kalurahan sudah siap melanjutkan proses berikutnya,” katanya.

Rapat koordinasi sekaligus menjadi forum untuk menyamakan pemahaman jajaran pemerintah kalurahan dan para Dukuh mengenai masa jabatan serta langkah administratif yang perlu dilakukan. Dengan persiapan sejak awal, Margorejo berupaya menjaga tertib administrasi sekaligus memastikan penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan. (SBD/KIM Tempel)




Kekeringan, Empat Padukuhan di Merdikorejo Dapat Bantuan Air Bersih

Sleman — Polsek Tempel bersama Pemerintah Kalurahan Merdikorejo menyalurkan bantuan air bersih kepada warga terdampak kekeringan di empat padukuhan, Selasa (15/9/2026). Bantuan tersebut diberikan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat selama musim kemarau.

Empat wilayah yang menerima bantuan yakni Padukuhan Kantongan B, Soka Binangun, Soka Tegal, dan Bangunrejo. Distribusi air dilakukan dengan menyasar wilayah yang mengalami keterbatasan ketersediaan air bersih.

Kapolsek Tempel Kompol Samiyono mengatakan, penyaluran bantuan merupakan bentuk kepedulian Polsek Tempel bersama jajaran dan Pemerintah Kalurahan Merdikorejo kepada masyarakat yang membutuhkan.

“Polsek Tempel dan jajarannya bersama Kalurahan Merdikorejo bersama-sama membantu masyarakat berkaitan dengan kekurangan air,” kata Samiyono.

Menurutnya, penyaluran bantuan dilakukan dengan menyasar wilayah yang membutuhkan. Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan kebutuhan warga selama menghadapi kondisi kekeringan.

“Kita sama-sama untuk berbagi kepada masyarakat yang membutuhkan air bersih. Mudah-mudahan ini bermanfaat,” ujarnya.

Samiyono juga membuka ruang bagi masyarakat maupun pihak lain yang ingin ikut membantu warga terdampak. Koordinasi dapat dilakukan melalui Bhabinkamtibmas sehingga bantuan dapat diarahkan kepada wilayah yang membutuhkan.

“Kalau masyarakat yang lain mungkin membantu, silakan langsung menghubungi Bhabinkamtibmas. Kemudian dari kami, terima kasih,” katanya.

Sementara itu, Carik Kalurahan Merdikorejo, Yuni Adinurdiyanto menyampaikan apresiasi kepada Polsek Tempel atas perhatian dan bantuan yang diberikan kepada warga.

Menurut Yuni, bantuan air tersebut menjadi dukungan penting bagi masyarakat di wilayah yang sedang menghadapi keterbatasan sumber air bersih.

Pemerintah Kalurahan Merdikorejo berharap distribusi air dapat membantu memenuhi kebutuhan warga sekaligus meringankan dampak kekeringan yang dirasakan masyarakat di sejumlah padukuhan.

Kolaborasi antara aparat kepolisian, pemerintah kalurahan, dan masyarakat menjadi salah satu bentuk respons langsung terhadap persoalan ketersediaan air bersih yang kerap muncul ketika musim kemarau berlangsung. (SBD/KIM Tempel)